Yakub Tri Handoko, Th. M.

Asal usul manusia telah menjadi bahan perdebatan di segala jaman. Alkitab menjelaskan bahwa manusia diciptakan oleh Allah. Berbagai tulisan kuno Babilonia dan Mesir juga menegaskan hal yang sama, meskipun cara penciptaan yang ditulis sedikit bervariasi. Isu ini menjadi semakin populer bagi orang modern seiring dengan berkembangnya teori evolusi, yang dipelopori oleh Charles Darwin lewat bukunya Origin of the Species pada tahun 1859. Pemegang teori ini memang memiliki pandangan yang sedikit beragam, namun secara umum teori evolusi bisa dipahami sebagai pandangan yang menyatakan bahwa manusia berasal dari suatu proses evolusi yang panjang, dimulai dari zat yang paling sederhana sampai terbentuknya makhluk yang sangat kompleks yang disebut “manusia”.

Keberadaan zat hidup pertama ini biasanya dipahami sebagai hasil dari sebuah peristiwa alam yang kebetulan dan tiba-tiba. Proses yang diperlukan untuk evolusi ini bisa memakan waktu berjuta-juta tahun. Bagaimana kita sebagai orang Kristen meresponi hal ini? Benarkah bumi sudah berusia jutaan tahun? Benarkah manusia merupakan hasil evolusi yang panjang? Isu tentang usia bumi akan dibahas tersendiri pada waktu kita mempelajari silsilah di Kejadian 5 dalam hubungannya dengan perhitungan geologis. Bagian ini hanya akan menganalisa teori evolusi berkaitan dengan “penciptaan” manusia.
Banyak orang secara sadar atau tidak sadar cenderung bersikap berat sebelah pada waktu membandingkan Alkitab dengan ilmu pengetahuan. Mereka seringkali melihat kebenaran Alkitab sebagai sebuah kebenaran yang subjektif dan sulit dibuktikan, sedangkan penemuan ilmu pengetahuan sifatnya objektif, tanpa prasangka dan bisa dibuktikan. Kecenderungan ini tentu saja tidak bisa dibiarkan begitu saja. Dalam hidup ini banyak hal yang kita terima begitu saja sebagai sebuah kebenaran tanpa kita perlu mengujinya terlebih dahulu. Coba pikirkan pertanyaan ini: “Mengapa kita berani menyetir mobil/sepeda motor di jalanan tanpa kuatir kita akan mengalami kecelakaan?” Bukankah keberanian tersebut disebabkan keyakinan kita bahwa pengendara lain adalah orang yang tidak terganggu kejiwaannya, memiliki kemampuan mengendarai dengan baik dan memahami peraturan lalu lintas? Semua keyakinan ini tidak pernah kita buktikan sebelumnya, tetapi kita menerimanya begitu saja. Begitu pula dengan dunia ilmu pengetahuan dan teologi. Ilmu pengetahuan mengasumsikan adanya keteraturan gejala alam. Sama seperti teologi, ilmu pengetahuan juga memiliki ruang tertentu yang menuntut kepercayaan atau iman dari orang yang menerima kebenaran tersebut.
Bagaimana dengan teori evolusi? Sebelum menganalisa secara detil, kita perlu mewaspadai kesalahan istilah yang begitu sering kita gunakan. Paham evolusi sebenarnya tidak layak disebut sebagai “teori”, karena pandangan ini belum terbukti secara ilmiah. Paham ini lebih tepat disebut sebagai sebuah hipotesa (dugaan ilmiah yang masih memerlukan pembuktian). Lebih jauh daripada itu, hukum alamiah dan penemuan modern ilmu pengetahuan justru bertentangan dengan paham evolusi. Tidak heran, sebagian besar pakar ilmu pengetahuan yang ateis (tidak percaya adanya Tuhan) sekarang bahkan mencari solusi lain untuk menjelaskan misteri keberadaan manusia.

Berikut ini adalah beragam argumen yang membuktikan bahwa hipotesa evolusi bukanlah sebuah kebenaran, bahkan menurut kaca mata ilmu pengetahuan sekalipun. Pertama, manipulasi data fosil. Sejak pandangan evolusi bergulir para ahli semakin giat mencari berbagai fosil dengan harapan menemukan “mata rantai yang hilang” yang bisa menjelaskan transisi dari binatang ke manusia atau dari suatu tahapan evolusi ke tahapan yang lain. Setelah berjalan puluhan dekade, mata rantai yang hilang itu tidak pernah ditemukan. Sebagian dari mereka terpaksa memanipulasi data dan melebih-lebihkannya supaya mendapatkan rekonstruksi kerangka makhluk hidup kuno yang mendukung evolusi. Berikut ini adalah beberapa “penipuan” ilmiah sehubungan dengan keberadaan fosil-fosil yang diduga sebagai mata rantai yang hilang.
1. Manusia Piltdown: hasil rekayasa rekonstruksi yang menggabungkan sebuah rahang kera dengan tengkorak manusia, kemudian diberi warna yang sama.
2. Manusia Jawa: para ahli modern menolak istilah ini. Mereka meyakini bahwa yang terjadi sebenarnya hanyalah seorang manusia dan kera ditemukan di tempat yang sama. Fosilfosil keduanya kemudian direkonstruksi menjadi “manusia Jawa purba” yang dipercaya menjadi mata rantai dari binatang ke manusia.
3. Manusia Peking: alat-alat dan tulang-tulang manusia ditemukan di dekat kera-kera yang otaknya dimakan manusia (orang di daerah tersebut memang memiliki kebiasaan memakan otak kera).
4. Lucy: ia diklasifikasi ulang sebagai salah satu jenis kera yang sudah punah.
5. Ramapithecus: sebuah rahang dan geligi-geligi yang akhirnya dinyatakan bukan berasal dari manusia, melainkan dari orang utan.

Kedua, kemustahilan mutasi gen yang positif. Ilmu pengetahuan mengakui adanya mutasi gen akibat suatu radiasi atau gejala alam lainnya. Gen yang mengalami perubahan kadangkala diwariskan pada keturunan berikutnya. Walaupun mutasi gen memang sungguhsunggguh terjadi, namun kita tidak boleh melupakan bahwa mutasi sebagian besar bersifat negatif (merusak). Dari sekian ribu mutasi yang diselidiki, hanya beberapa saja yang berguna (positif) bagi spesies yang bersangkutan. Pandangan evolusi mengasumsikan adanya ribuan mutasi positif dan berkesinambungan yang terjadi secara kebetulan. Dugaan ini jelas tidak bisa dibenarkan secara ilmiah. Kemungkinan bagi terjadinya hal ini hampir mendekati tidak mungkin. Mutasi yang dipikirkan penganut evolusi menuntut adanya suatu bumi yang sempurna, padahal kenyataannya keadaan bumi tambah kurang kondusif dan berpotensi lebih besar untuk menghasilkan mutasi gen yang merusak.
Ketiga, bantahan dari sisi entropi – hukum kedua termodinamika. Entropi menyatakan bahwa alam semesta cenderung berubah dari keadaan yang teratur menjadi tidak teratur, misalnya per memelar, gas membuyar. Diperlukan masukan energi untuk mengembalikannya ke suatu keadaan teratur, misalnya energi untuk membelitkan per dan mengumpulkan gas. Evolusi mengasumsikan terbentuknya keteraturan dari kekacauan secara acak. Evolusi menyiratkan bahwa manusia terbentuk dari hasil miliaran penyimpangan hukum entropi. Hal ini jelas sangat dilebih-lebihkan dan membutuhkan “iman” yang sangat besar untuk mempercayainya. Satu-satunya kemungkinan bagi evolusi adalah dengan menganggap adanya waktu yang tidak terbatas, sehingga memungkinkan terjadinya segelintir kebetulan yang sangat langka. Anggapan seperti ini jelas tidak tepat. Para ilmuwan mengetahui bahwa matahari sedang terbakar habis. Jika ada waktu yang tidak terbatas, matahari dan semua bintang lain akan terbakar habis dan pada jaman modern ini kita tidak akan sempat merasakan sinarnya.

Bantahan paling kuat terhadap evolusi datang dari penemuan di bidang biokimia. Berdasarkan penemuan biokimia modern, tubuh manusia merupakan perpaduan jutaan sel yang sangat kompleks, jauh lebih kompleks daripada yang dipikirkan Charles Darwin, David Hume maupun orang sejaman mereka. Pada waktu itu mereka hanya memahami sel-sel sebagai gumpalan protoplasma. Kini para ilmuwan modern semakin menyadari bahwa satu sel terdiri dari rangkaian DNA dan RNA yang sangat banyak dan rumit. Untuk membentuk suatu substansi tubuh yang paling kecil dibutuhkan keserasian DNA/RNA yang sangat banyak. Selanjutnya, untuk memfungsikan substansi tersebut diperlukan jutaan kombinasi lain yang teratur. Lebih lagi, untuk melakukan suatu tindakan yang “paling sederhana” sekalipun, misalnya melihat suatu objek, diperlukan jutaan kombinasi sel-sel dalam sistem kerja yang tertentu. Menurut seorang ilmuwan yang bernama Howard Morowitz jumlah kemungkinan bagi terjadinya evolusi dari sisi biokimia adalah 1 di antara 10100.000.000.000. Ini sama saja dengan memenangkan 1,4 juta undian secara berturut-turut. Apakah masuk akal? Tentu saja tidak!

Selain itu, rangkaian DNA yang membentuk suatu sel manusia ternyata memiliki pola yang berbeda antara satu orang dengan yang lain. Perbedaan ini semakin terlihat jelas apabila suatu DNA binatang dibandingkan dengan DNA manusia. Untuk mengubah DNA suatu makhluk hidup menjadi DNA makhluk hidup lain yang lebih berkembang diperlukan jutaan kemustahilan.
Sekarang mari kita renungkan pembentukan satu DNA saja dalam suatu sel. Sebuah mata rantai DNA baru bisa terbentuk apabila ratusan asam amino yang berjenis sama saling mengikatkan diri dalam suatu pola tertentu. Apabila terjadi satu kesalahan saja dalam ikatan tersebut (asam amino lain ikut terlibat dalam ikatan itu), maka DNA yang dimaksud tidak akan terbentuk. Kalau untuk membentuk satu rangkaian DNA saja sudah begitu kompleks, bagaimana proses pembentukan tubuh manusia? Sekali lagi, untuk menerima “kebenaran” evolusi, kita harus memiliki iman yang paling besar yang bisa mengalahkan kemustahilan yang paling besar juga. #

Leave a Reply