Pohon Pengetahuan Yang Baik dan Jahat

Kejadian 2:9

Yakub Tri handoko, Th. M.

Salah satu pohon yang ada di Taman Eden disebut dengan istilah pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat. Keberadaan pohon ini telah menimbulkan rasa ingin tahu yang besar. Alkitab hanya memberikan keterangan singkat bahwa buah pohon ini terlihat sangat menarik dan enak untuk dimakan (Kej 3:6). Penjelasan singkat ini jelas tidak bisa membantu kita menebak jenis pohonnya, karena ada banyak buah yang terlihat menarik dan enak untuk dimakan. Tidak jarang kita bertanya dalam hati, “sebenarnya pohon apakah ini?” Apakah ini adalah pohon apel, seperti yang kita sering dengar atau lihat gambarnya di sekolah minggu? Ataukah pohon ini adalah pohon khusus yang ada waktu itu dan sekarang telah punah?

Orang Yahudi maupun Kristen sepanjang jaman telah berusaha menguak misteri ini. Pandangan tradisional mengganggap pohon ini adalah pohon apel. Beberapa lukisan Kristiani yang menggambarkan kejatuhan tampaknya “sepakat” bahwa pohon ini adalah pohon apel. Penafsiran ini kemungkinan besar didasarkan pada kemiripan bunyi dalam bahasa Latin antara kata malus (“jahat”) dan malum (“apel”).

Beberapa rabi Yahudi memberikan dugaan bahwa pohon ini adalah sejenis pohon madu. Dugaan ini juga terkait dengan kesamaan bunyi dalam bahasa Ibrani. Dalam bahasa Ibrani, nama pohon madu tersebut juga bisa memiliki arti lain, yaitu “kehancuran” atau “kerusakan”.

Usulan yang paling populer di kalangan orang Yahudi adalah yang menghubungkan pohon ini dengan pohon ara. Talmud Babilonia Yahudi dan beberapa legenda kuno lain menyamakan pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat dengan pohon ara. Rashi, seorang penafsir Yahudi terkenal yang dijuluki “bapak para penafsir”, memilih pohon ara karena sebagaimana Adam dan Hawa telah berdosa dari pohon ini, maka dari pohon ini pula mereka menutupi akibat dosa tersebut. Usulan ini juga sesuai dengan permainan bunyi dalam bahasa Latin dan Ibrani. Kata Latin peccare (“berdosa”) dianggap memiliki kaitan dengan kata Ibrani pag (buah ara yang belum masak). Alasan lain yang mendukung pandangan ini adalah catatan Alkitab bahwa mereka segera menutupi ketelanjangan mereka dengan daun ara (Kej 3:7). Hal ini menunjukkan bahwa letak pohon ara tersebut adalah yang paling dekat dengan mereka, sehingga mereka bisa dengan cepat menggapai daunnya.

Di antara tiga usulan di atas, usulan mana yang paling tepat? Pandangan pertama dan kedua jelas sangat spekulatif. Kemiripan bunyi tidak selalu menunjukkan bahwa keduanya berhubungan.  Pandangan terakhir lebih masuk akal daripada dua usulan yang pertama. Bagaimanapun, usulan ini tetap hanya sebatas dugaan yang belum pasti kebenarannya. Tindakan manusia mengambil daun pohon ara mungkin disebabkan daun ini adalah yang paling lebar di antara daun pohon lain yang ada di Kanaan. Memang tidak semua jenis pohon ara memiliki daun yang lebar, namun ada pohon ara yang daunnya sangat lebar dan berat. Ada kemungkinan Adam dan Hawa memakai daun ini, walaupun ini hanya sekedar dugaan saja.

Apakah pengambilan daun pohon ara untuk menutupi ketelanjangan mereka menyiratkan bahwa pohon ini terletak di dekat mereka? Jawaban terhadap pertanyaan ini adalah “Ya”. Hal ini didukung oleh fakta bahwa mereka hanya membuat “sesuatu yang dililitkan di pinggang” (hagor). LAI:TB menerjemahkan “cawat”, tetapi terjemahan ini kurang sesuai dengan arti hagor. Dalam Perjanjian Lama kata Ibrani hagor sering dipakai untuk “ikat pinggang” (1Raj 2:5; 2Raj 3:21; Yes 3:24). Dalam konteks Kejadian 3:7, hagor menyiratkan pelilitan daun tersebut ke pinggang. Ini jelas menunjukkan bahwa tindakan menutupi ini dilakukan dengan tergesa-gesa.

Walaupun penjelasan di atas menyiratkan ketergesaan, namun penjelasan ini tidak memberikan bukti yang meyakinkan. Mengapa demikian? Kita tidak tahu di mana posisi Adam pada saat memakan buah itu. Alkitab hanya menjelaskan bahwa Hawa dicobai ular, tanpa menginformasikan di mana posisi Adam pada saat itu, kecuali kita menafsirkan frase “yang bersama-sama dia” di Kejadian 3:6b sebagai rujukan bahwa Adam saat itu ada di samping Hawa. Kalau Adam memang benar-benar di samping Hawa, kita jadi penasaran mengapa Adam tidak terlibat dalam percakapan antara Hawa dan ular. Frase “yang bersamasama dengan dia” kemungkinan besar hanya menunjukkan bahwa Adam adalah teman/pasangan Hawa selama di Taman Eden. Dengan demikian, kita tidak bisa mengetahui dengan pasti di mana posisi Adam pada saat Hawa dicobai dan memakan buah itu.

Kita juga tidak tahu apakah ayat 6a “memberikannya kepada suaminya” menyiratkan Hawa pergi mendapatkan Adam di suatu tempat atau Adam yang saat itu sedang mendatangi Hawa. Seandainya Hawa yang pergi menemui Adam, maka posisi Adam memakan buah itu berbeda dengan posisi waktu terjadi percakapan antara Hawa dan ular. Seandainya Adam yang sedang mendatangi Hawa, maka posisi mereka memakan buah sama dengan posisi pencobaan. Apakah posisi yang sama ini menunjukkan bahwa buah yang dimakan berasal dari pohon ara yang daunnya dijadikan penutup ketelanjangan mereka? Sekali lagi, kita tidak bisa mengetahuinya dengan pasti.

Apa yang bisa kita dapatkan dari penyelidikan di atas? Kita tidak bisa menentukan dengan pasti identitas pohon yang disebut pohon pengetahuan yang baik dan jahat. Seandainya harus memilih salah satu, kita mungkin sebaiknya menebak pohon ini identik dengan sejenis pohon ara. Seandainya tidak harus memilih, kita lebih baik membiarkan hal ini sebagai sebuah misteri. Allah mungkin menciptakan suatu pohon khusus yang Ia beri nama pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, namun pohon itu sekarang tidak ada lagi. Ia juga mungkin memaksudkan pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat sebagai suatu jenis pohon biasa yang sampai sekarang masih kita temui. #

Leave a Reply