Yakub Tri Handoko

PENGANTAR

Surat 1Korintus termasuk salah satu surat Paulus yang menjadi favorit orang-orang Kristen. Hal ini dibuktikan dengan popularitas beberapa teks dalam surat ini. Hampir semua orang Kristen pasti mengetahui keutamaan kasih dalam kekristenan (13:1-13). Konsep tentang tubuh Kristus dengan karunia yang beraneka ragam dibahas secara sangat jelas di surat ini (12:12-31; bdk. Rom 12:3-8). Pentingnya kebangkitan dan bentuk tubuh kebangkitan juga dipaparkan secara panjang lebar di surat ini (15:12-58). Nasehat terkenal “saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia” berasal dari surat ini (15:58).

Dari sisi penggembalaan (pastoral) pentingnya surat 1Korintus tidak dapat disepelekan. Surat ini memberikan gambaran konkrit tentang ketidaksempurnaan gereja sekalipun mereka adalah kumpulan orang-orang kudus (1:2). Problem perpecahan yang sering melanda banyak gereja dibahas secara objektif (tanpa memihak) dan berfokus kepada Allah (1:10-3:23). Dosa perzinahan dikaitkan sedemikian rupa dengan doktrin penebusan Kristus (5:1-13; 6:12-20) sehingga nasehat yang diberikan memiliki bobot yang jauh melebihi nasehat-nasehat moral dan praktis yang sekarang cenderung mendominasi konseling Kristiani. Larangan untuk membawa permasalahan internal gereja ke pengadilan sekuler dan lebih memilih untuk dirugikan (6:1-11) adalah nasehat yang perlu didengungkan ulang sehingga para perebut kekuasaan di dalam gereja dicegah untuk mempermalukan kekristenan dengan tindakan mereka yang meminta tolong orang kafir untuk menyelesaikan masalah di dalam gereja. Ketegasan dalam hal kebenaran dan kepekaan terhadap orang lain dalam masalah-masalah pernikahan (7:1-40) merupakan pedoman yang seimbang untuk menangani berbagai kasus rumah-tangga yang akhir-akhir ini semakin meningkat. Kewajiban suatu jemaat untuk menunjang kebutuhan hidup hamba Tuhan merupakan tradisi yang diangkat dari pertimbangan teologis (9:1-14) dan bukan hanya masalah administrasi. Jika hal ini diperhatikan dengan serius maka gereja akan terhindari dari kesalahan fatal yang sering kali muncul, yaitu memperlakukan hamba Tuhan seperti karyawan sebuah perusahaan. Ketertiban dalam ibadah, baik masalah pakaian (11:2-16) maupun perjamuan kudus (11:17-34) merupakan ajaran yang sangat relevan bagi sebagian gereja modern yang menjadikan ibadah sebagai ajang pamer pakaian maupun yang memandang roti dan anggur sebagai jimat untuk kesembuhan. Konsep tentang keberagaman karunia (12:1-11) dan kesatuan sebagai tubuh Kristus (12:12-31) merupakan peringatan bagi gereja-gereja yang menekankan karunia tertentu dan menjadikan itu sebagai kriteria untuk menilai kerohanian seseorang. Nasehat tentang penggunaan karunia rohani yang teratur dalam ibadah (14:1-33) seharusnya menjadi teguran keras bagi sebagian gereja yang tidak tertib dalam beribadah.

Bagi para hamba Tuhan sendiri, surat 1Korintus merupakan buku panduan yang harus dibaca dan diikuti. Apa yang dialami Paulus merupakan refleksi dari kehidupan hamba Tuhan sepanjang jaman. Bukankah seorang hamba Tuhan kadangkala dibandingkan dengan hamba Tuhan lain (1:12),dihakimi (4:3) maupun dikritik (9:3) oleh jemaatnya sendiri? Apa yang harus kita lakukan ketika suatu gereja mengalami perpecahan dan nama kita disangkut-pautkan dengan keadaan itu (1:12-13)? Bagaimana sikap kita ketika gereja tidak melaksanakan kewajibannya terhadap hamba Tuhan (9:1-18)?

Dari sisi misi surat 1Korintus telah memberikan sumbangsih yang tidak sedikit. Pentingnya keyakinan yang kuat terhadap kekuatan Allah dalam injil (1:18, 24; 2:1-5) merupakan sumber keberanian yang besar bagi para pemberita injil. Konsep tentang “menanam, menyiram dan memberi pertumbuhan” (3:6-7) telah menjaga banyak penginjil dari dosa kesombongan ketika mereka sukses dalam penginjilan dan memberi semangat bagi mereka yang merasa pelayanannya belum memunculkan buah yang konkrit. Prinsip kontekstualisasi – yaitu mengabarkan injil sesuai dengan budaya pendengar – didasarkan pada prinsip hidup Paulus yang mau menjadi segala-galanya bagi semua orang (9:19-23). Prinsip ini sekaligus memberikan batasan yang jelas antara kontekstualisasi di satu sisi dan kompromi atau sinkretisme di sisi lain. Kesediaan Paulus untuk tidak menerima upah dalam pelayanan misi dan justru bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya (9:6, 15-18; Kis 18:2-3) telah menjadi inspirasi dan dorongan yang kuat bagi para pemberita injil di daerah-daerah yang berkekurangan. Nasehat Paulus yang realistis tetapi tegas seputar makan daging persembahan berhala (8:1-13; 10:1-11:1) terus menjadi pedoman bagi orang-orang Kristen untuk mengetahui sejauh mana mereka bisa terlibat dalam suatu masyarakat yang majemuk dari sisi keagamaan.

Dari sisi doktrin surat 1Korintus mengajarkan definisi injil yang benar (15:1-3) dan bagaimana kebenaran itu bertolak belakang dengan prinsip duniawi (1:23). Surat ini juga membahas secara khusus tentang bukti-bukti kebangkitan Kristus (15:1-11) dan pentingnya fakta itu bagi iman Kristen (15:12-34). Natur tubuh kebangkitan juga dibahas paling mendalam di surat ini (15:26-40).

Penulis

Di antara semua surat Paulus, 1Korintus merupakan salah satu yang otentisitasnya jarang (tidak pernah) dipersoalkan. Bukti eksternal dari tulisan bapa-bapa gereja di akhir abad ke-1 maupun awal abad ke-2 (Klemen dari Roma, Polikarpus, Ignatius, Klemen dari Aleksandria dan Tertulianus) dianggap sangat tua  dan jelas. Di samping itu, tidak pernah ditemukan catatan kuno apapun yang menentang otoritas surat 1Korintus. Bukti internal di dalam teks juga meneguhkan bahwa surat ini memang berasal dari Paulus sendiri. Begitu kuatnya bukti yang tersedia sampai-sampai teolog liberal pun tidak berani meragukan konsep tradisional bahwa Paulus adalah penulis dari surat ini.

Kota Korintus

Kota Korintus kuno yang sangat makmur telah dihancurkan oleh orang-orang Romawi pada tahun 146 sM. Penduduk laki-laki dibunuh, sedangkan perempuan dan anak-anak dijual sebagai budak. Seluruh kekayaan penduduk dijadikan barang rampasan. Selanjutnya orang-orang Romawi mengeluarkan larangan untuk membangun kembali kota ini. Kekuatan militer yang dimiliki orang-orang Romawi menjamin bahwa larangan itu tidak akan dilanggar oleh siapa pun juga.

Seiring dengan berjalannya waktu Yulius Kaisar pada tahun 29 sM memutuskan untuk membangun kembali Kota Korintus dan menjadikannya sebagai koloni Romawi. Kota ini lalu menjelma menjadi salah satu kota penting dalam kekaisaran Romawi. Kota ini dipilih sebagai domisili prokonsul (wakil langsung dari dewan perwakilan/senat Romawi; kedudukan ini dapat disamakan dengan gubernur) dan ibukota dari provinsi senatorial Akaya (Kis 18:19).

Kota Korintus yang baru didiami oleh banyak orang dari berbagai latar belakang etnis dan budaya yang berbeda. Tidak dapat diragukan, sebagian besar dari penduduknya adalah orang-orang Romawi (termasuk para tentara yang sudah pensiun), sehingga kota ini dianggap aman dan diberi hak istimewa tertentu sebagai wilayah yang bernuansa Romawi. Tidak heran kota ini dimonitor oleh senat Romawi, bukan oleh kaisar.

Data historis yang ada menunjukkan bahwa kota ini juga dihuni oleh para mantan budak yang berasal dari kota Roma. Penemuan sebuah prasasti kuno di Kota Korintus membuktikan bahwa sejak dahulu kota itu juga didiami oleh sejumlah besar orang Yahudi dengan rumah ibadat mereka (Kis 18:4). Orang-orang Yunani pun tidak ketinggalan turut menghuni kota baru yang nyaman ini. Mereka tentu saja tetap membawa budaya Hellenis (Yunani) mereka dalam bentuk bahasa Yunani Koine sebagai bahasa persatuan, filsafat, keagamaan, teater dan stadion olah raga. Kemajemukan ini juga tergambar dalam kemajemukan jemaat Korintus. Jemaat terdiri dari orang-orang berpendidikan dan terhormat maupun sebaliknya (1:26), orang Yahudi maupun non-Yahudi (7:18-19), budak maupun orang merdeka (7:21-22), kaya maupun miskin (11:22).          

Walaupun kota ini penduduknya sangat majemuk dan dalam taraf tertentu tetap mempertahankan budaya masing-masing, tetapi sebagai sebuah koloni yang langsung diperintah oleh prokonsul Romawi kota ini sangat dipengaruhi oleh hukum, budaya dan keagamaan Romawi. Beberapa penulis kuno bahkan menyebut Korintus sebagai miniatur Roma. Beberapa prasasti publik dan uang koin kuno yang berhasil ditemukan di Korintus menunjukkan bahwa bahasa Latin merupakan bahasa yang dipakai dalam hal-hal yang formal. Sebuah kuil di bagian barat yang dipersembahkan untuk keluarga kaisar semakin mempertegas kesan Romawi di Kota Korintus. Beberapa nama orang yang disebut dalam Surat 1Korintus sangat bernuansa Romawi – seperti Krispus dan Gaius (1:14), Stefanas, Fortunatus dan Akhaius (16:17) – dan merupakan salah satu bukti pengaruh Romawi yang kuat bagi penduduk Korintus.

Popularitas Kota Korintus yang semakin naik sebenarnya sudah dapat ditebak sejak awal. Kota ini terletak di jalur yang sangat strategis. Kota Korintus terletak di genting tanah (isthmus) yang menghubungkan Peloponis dengan daerah-daerah Yunani lainnya. Letak yang dekat dengan pelabuhan Lekhaeum di sebelah utara (Teluk Korintus) dan Kenkrea di sebelah timur (Teluk Saronik) membuat Kota Korintus sebagai penghubung perdagangan antara barat dan timur. Jalur ini sekaligus menjadi alternatif bijaksana bagi para pelaut untuk menghindari kondisi perairan sekitar Peoponis yang rawan dengan badai. Situasi ini dengan cepat mengubah Kota Korintus menjadi sebuah kota metropolitan yang makmur. Banyak penduduk yang kaya-raya, walaupun orang-orang miskin juga tetap ada. Kesenjangan sosial yang sangat tinggi antara orang kaya dan orang miskin merupakan salah satu fenomena umum di Kota Korintus, sebagaimana dicatat oleh beberapa penulis sejarah kuno waktu itu. Kesenjangan ini tidak jarang menjurus pada penindasan dan penghinaan terhadap orang miskin.

Kemajuan kota pada gilirannya mempengaruhi cara berpikir orang-orang Korintus tentang nilai-nilai kehidupan. Kebanggaan atau kemuliaan merupakan nilai hidup yang paling penting. Status sosial merupakan segala-galanya bagi mereka. Ada beragam faktor yang dianggap menentukan status sosial seseorang, misalnya jenis pekerjaan, kekayaan, pengetahuan/pendidikan, kemurnian relijius, posisi keluarga dan kelompok etnis. Ambisi untuk mencapai status sosial yang terhormat direalisasikan melalui berbagai cara: pengadaan hiburan pribadi, dukungan dana untuk pertandingan maupun festival tertentu, peranan penting dalam suatu ibadah tertentu, demonstrasi retorika dan pengetahuan filsafat.

Pencitraan sosial yang berlebihan ini tanpa terelakkan telah menciptakan perpecahan dan sentimen kelompok. Suatu kelompok berusaha merangkul sebanyak mungkin pengikut melalui kekayaan dan kemampuan retorika mereka, sementara kelompok yang lain meresponi itu dengan tindakan yang sama. Tidak jarang para pengikut seorang orator menjelek-jelekkan pengikut dari aliran lain. Situasi ini semakin memperkuat kesan bahwa kehormatan, kebanggaan dan kemuliaan secara sosial adalah segala-galanya. Orang rela mengorbankan dan melakukan apa pun untuk memperoleh kemegahan duniawi ini.

Sebagian penafsir mengingatkan supaya kita tidak membayangkan Kota Korintus yang baru dengan gambaran kota yang lama. Sebagaimana sudah sering disinggung dalam berbagai buku, kota yang lama  seringkali diidentikkan dengan percabulan. Kata kerja korinthiazō sudah menjadi istilah teknis dan populer untuk “berbuat cabul”. “Perempuan Korintus” merupakan ungkapan pengganti untuk para pelacur. Berbagai patung tanah liat berbentuk alat kelamin yang dipersembahkan untuk dewa obat Asklepius turut menegaskan kesan cabul dari kota ini. Ratusan kuil pelacuran dalam penyembahan kepada dewi cinta Afrodit (dalam bahasa Latin disebut “Venus”) merupakan bukti lain betapa perzinahan tidak dapat dipisahkan dari keberadaan kota lama.

Walaupun kita tidak bisa mengetahui secara pasti seberapa besar karakteristik kota lama yang masih dipertahankan oleh penduduk yang baru, namun tidak berlebihan bila kita menduga bahwa perzinahan masih merupakan salah satu karakteristik dari Kota Korintus yang baru. Posisinya sebagai kota pelabuhan dan tempat pertemuan orang dari berbagai tempat serta budaya sangat memungkinkan kota ini menjadi kota yang cenderung bebas dari sisi moralitas.

Situasi kota seperti dijelaskan di atas membawa pengaruh yang tidak sedikit bagi jemaat Kristen di sana. Kekristenan tidak muncul dalam sebuah kehampaan. Kekristenan merupakan salah satu bagian integral dari suatu jalinan sosial-kultural. Walaupun orang-orang Kristen dipanggil untuk menggarami dan menerangi dunia (Mat 5:13-16), tetapi mereka kadangkala justru meleburkan diri dalam kenajisan dunia. Itulah yang terjadi dengan penduduk Korintus.

Ciri khas penduduk Korintus yang sangat berambisi untuk mendapatkan kehormatan sosial merupakan nilai hidup yang sangat bertentangan dengan kekristenan. Kota Korintus mengajarkan bahwa kebesaran seseorang terletak pada seberapa besar kuasa yang ia dapatkan, sedangkan salib Kristus mengukur kebesaran berdasarkan seberapa besar seseorang mau melepaskan kuasa yang ia miliki. Prinsip duniawi mengajarkan bahwa memperoleh hak adalah segalanya, sedangkan kekristenan mengajarkan bahwa melepaskan hak merupakan tindakan yang terpuji (9:12-18). Bagi orang-orang Korintus kemegahan berkaitan dengan kemampuan, sedangkan injil justru melihat kemegahan terletak pada kesadaran diri untuk mengakui ketidakmampuan kita dan perlunya menyandarkan diri pada Allah (1:27-29). Bagi orang Korintus status sebagai tokoh atau pemimpin adalah pencapaian hidup yang penting, sedangkan dalam kekristenan para pemimpin tidak lebih daripada sekadar hamba (3:5) yang tidak boleh dijadikan dasar kemegahan (3:21). Ketika Paulus menasehati jemaat untuk meniru hidupnya, hal itu pun hanya sejauh Paulus sendiri telah meneladani Kristus (4:16-17; 11:1). Begitu kontrasnya dua nilai kehidupan ini sehingga tidak heran berita salib dianggap sebagai suatu kebodohan (1:18, 22-23).

Sayangnya tidak semua jemaat Korintus hidup berpadanan dengan injil. Mereka lebih tertarik dengan prinsip hidup duniawi. Mereka menyukai cara berpikir dunia (1:20; 2:12; 3:19). Hikmat (dari filsafat) dan kemampuan retorika dianggap sebagai hal yang paling penting (1:18-31; 2:1-5). Sama seperti para pengikut orator sekuler waktu itu, jemaat Korintus pun saling menjatuhkan kelompok lain dan menganggap pemimpin favorit mereka sebagai orator yang lebih hebat daripada pemimpin yang lain. Kuasa injil (1:24) melalui pekerjaan Roh Kudus (2:6-16) mulai dilupakan. Bagi mereka berita injil terlalu sederhana (bahkan terkesan bodoh), sebab tidak memenuhi kriteria sebagai “hikmat”.

Keinginan untuk memiliki status sosial yang terhormat juga membuat jemaat sangat rentang terhadap bahaya perpecahan. Mereka ingin menonjolkan kelompok mereka sendiri. Perpecahan ini berkaitan dengan isu seputar hikmat atau pengetahuan (1:10-11, 17-18; 2:6; 8:1-2, 7, 10), perbedaan etnis (8:9-11), perbedaan jenis kelamin (11:2-16), kesenjangan ekonomi (11:17-22) dan perbedaan karunia rohani (12:1-14:40. Dalam situasi perpecahan seperti ini, tidak mengherankan apabila kita menemukan dua pandangan yang sangat ekstrim dan berkontradiksi muncul bersamaan dalam jemaat. Sebagian meremehkan dosa seksual (5:1-3; 6:12-13), sedangkan yang lain menganggap seks (bahkan dalam konteks suami-isteri) sebagai dosa (7:1-5).  

Krisis kasih dan kesatuan di atas merupakan tantangan besar bagi Paulus yang mencoba menerapkan prinsip kesetaraan sebagai tubuh Kristus (12:12-27) dan keutamaan kasih (13:1-13). Ajaran Paulus tentang perlunya mengekang kebebasan kita demi kepentingan orang lain (8:9, 13; 9:19, 22b; 10:24) pasti terlihat sangat aneh bagi jemaat Korintus yang sudah terpengaruh oleh prinsip dunia waktu itu.

Keinginan untuk diterima dan dihargai dalam suatu kelompok sosial juga menyebabkan sebagian jemaat melakukan tindakan kompromi terhadap dosa tertentu (5:9-11). Mereka juga rela meleburkan diri dalam kelompok sosial tertentu sekalipun hal itu membahayakan iman mereka, misalnya berpartisipasi aktif dalam perjamuan makan di kuil (8:1; 10:1-22). Mereka mengadopsi cara-cara duniawi dalam menyelesaikan masalah (6:1-11). Pemikiran duniawi pun diterima karena dianggap lebih rasional (15:12). Pergaulan ini akhirnya merusak kebiasaan yang baik (15:33). Pendeknya, mereka tidak mau kehilangan respek dan penerimaan dari kelompok mereka sendiri, karena bagi mereka status sosial adalah segalanya.

Pengaruh lain dalam bidang sosial berkaitan dengan isu moralitas. Fakta bahwa dosa percabulan dengan pelacur dan perkawinan antar keluarga (incest) mampu mempengaruhi orang Kristen di Korintus (5:1-13; 6:12-20) menunjukkan betapa kuatnya godaan seksual dan kemerosotan moral yang ada di Kota Korintus. Bahaya percabulan yang dikuatirkan Paulus di 7:2a kemungkinan juga berhubungan dengan situasi konkrit di Korintus (faktor eksternal), walaupun dosa seksual tetap melibatkan kelemahan dalam diri seseorang (faktor internal).

Semua penjelasan di atas seharusnya menjadi pelajaran rohani bagi orang-orang Kristen modern. Kita memang tidak mungkin hidup di luar dunia ini (5:10). Kita akan selalu bersentuhan dengan orang-orang yang tidak percaya (5:10; 10:27). Kita bahkan dipanggil untuk peka terhadap budaya orang lain demi pemberitaan injil (9:19-23).

Bagaimanapun, fakta di atas bukanlah ijin untuk menjadi sama dengan dunia (Rom 12:2). Kita tetap harus memahami keunikan posisi kita di dalam Kristus. Kebenaran di dalam injil sangat bertentangan prinsip dunia (1:23). Hikmat yang kita terima bukanlah hikmat dunia (2:6-9). Hidup kita berpusat pada Allah karena Dialah Pemilik dari segala sesuatu (1:31; 3:23), sedangkan hidup orang-orang yang tidak percaya terpusat pada kemegahan diri mereka sendiri (1:29; 3:18-21). Cara kita menilai orang lain juga berbeda, yaitu tidak didasarkan pada status sosial orang tersebut (1:26-28). Penghargaan kita terhadap tubuh yang sudah ditebus oleh Kristus di atas kayu salib (6:19-20) mengambil arah berlawanan dengan prinsip dunia yang mengejar kepuasan badani.

Jika kita tidak memahami identitas kita yang baru di dalam Kristus, maka kita pasti akan meleburkan diri dengan dunia. Problem terbesar bagi jemaat Korintus bukanlah mereka berada di dalam dunia, tetapi banyak hal duniawi yang justru berada di dalam jemaat. Mereka bahkan melakukan tindakan yang menurut ukuran dunia pun tidak bisa dibenarkan (5:1). Pendeknya, mereka tidak pergi menjangkau dunia (Yoh 17:15-19), sebaliknya dunia yang masuk ke dalam kehidupan mereka.

Pelajaran rohani lain yang perlu kita renungkan adalah tentang penganiayaan dan penerimaan oleh dunia. Manakah yang lebih berbahaya bagi gereja: penolakan atau penerimaan dunia? Dua hal di atas pada dirinya sendiri tidak ada yang lebih baik atau buruk daripada yang lain. Semua tergantung pada respon orang percaya. Paling tidak, kasus jemaat Korintus yang duniawi menyadarkan kita bahwa penerimaan oleh dunia bisa menjadi sesuatu yang berbahaya. Jemaat Korintus tampaknya tidak mengalami penolakan atau penganiayaan dari pihak luar. Mereka memanfaatkan keberadaan pengadilan duniawi untuk menyelesaikan perkara internal dalam jemaat (6:1-8). Mereka bergabung dengan orang kafir dalam ibadah di kuil (8:10). Mereka diundang ke rumah orang kafir untuk sebuah perjamuan (10:27). Orang kafir tampaknya juga kadangkala mengunjungi ibadah orang Kristen (14:23-24). Semua kemudahan ini ternyata memberi dampak buruk bagi jemaat Korintus. Ketika mereka diterima oleh dunia, pada akhirnya dunia pun diterima oleh mereka. Atau, sebaliknya, karena mereka menerima dunia, maka dunia bisa menerima mereka juga.

Fenomena seperti ini di kemudian hari terulang kembali. Ketika agama Kristen mulai diakui sebagai agama resmi oleh Kaisar Konstantin pada abad ke-4 M, kekristenan justru mengalami penurunan dari sisi kualitas. Jumlah orang Kristen memang meningkat secara drastis, tetapi noda kekafiran juga mulai menggantikan ciri khas kekristenan mula-mula. Keadaan ini terus berlanjut seiring dengan semakin kuatnya kuasa politik yang dimiliki oleh gereja. Benarlah sebuah pepatah bijak yang mengatakan bahwa penganiayaan oleh dunia seringkali lebih membangun kekristenan daripada kemudahan dan penerimaan.      

Paul dan jemaat Korintus

Paulus pertama kali memberitakan injil di Korintus dalam perjalanan misinya yang kedua (perjalanan pertama dicatat di Kisah Rasul 13:1-14:28). Kedatangan ke kota Korintus (Kis 18) merupakan kelanjutan dari pelayanan Paulus di Filipi dan Tesalonika yang penuh dengan bahaya dan penolakan (Kis 16:13-17:15). Kotbah terakhir di Atena juga mendapatkan lebih banyak penolakan, sekalipun Tuhan masih memberikan beberapa orang yang meresponi berita injil (Kis 17:32-34). Tidak heran ketika Paulus datang ke Korintus, ia datang dalam ketakutan dan kelemahan (1Kor 2:3).

Selama di kota tersebut Paulus dibantu oleh Priskila dan Akwila yang juga berprofesi sama sebagai pembuat tenda (Kis 18:1-3). Paulus harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya (1Kor 9:6). Keadaan ini tidak menghalangi semangat Paulus dalam memberitakan injil. Ia bahkan menganggap pelayanan tanpa upah sebagai upah yang sebenarnya (1Kor 9:15-18).

Seperti kebiasaan Paulus di berbagai tempat, ia memulai pekerjaan misi di Korintus dengan cara mengunjungi rumah ibadat Yahudi, karena di sana ia bisa menjangkau orang-orang Yahudi sekaligus orang-orang Yunani yang memeluk agama Yahudi (Kis 18:4). Setelah Timotius dan Silas datang dari Makedonia Paulus bisa sepenuhnya memberitakan injil, mungkin karena kedua orang itu membawa pemberian-pemberian dari jemaat di wilayah Makedonia (2Kor 11:7-9).

Seiring dengan meningkatnya pelayanan Paulus, demikian pula penolakan yang ia terima. Terlepas dari beberapa buah pelayanan yang ia lihat (Kis 18:8), ia juga menerima perlakuan negatif (Kis 18:6, 12-17), sehingga Tuhan secara khusus perlu menguatkan hati Paulus (Kis 18:9-10). Munculnya nama “Galio” sebagai prokonsul (LAI:TB “gubernur”) Akhaya (Kis 18:12) memudahkan kita untuk mengetahui tahun pasti dari pelayanan Paulus di Korintus. Menurut penemuan sebuah prasasti, Galio diangkat menjadi prokonsul pada tahun 51 – 52 M. Perlawanan yang orang-orang Yahudi yang makin meningkat dan ketidakpedulian Galio (Kis 18:17) akhirnya memaksa Paulus untuk meninggalkan Korintus. Setelah melayani di sana selama tiga tahun (Kis 19:8, 10; 20:31), Paulus akhirnya melanjutkan pekerjaan misi ke tempat lain (Kis 18:18-19).

Keputusan Paulus untuk tinggal cukup lama di Korintus kemungkinan dimotivasi oleh beberapa faktor: (1) Kota Korintus merupakan tempat yang ideal untuk memberitakan suatu keyakinan, karena banyak orang dari berbagai tempat berkumpul di kota ini. Menurut beberapa penulis kuno kota ini sudah terbiasa dengan keberagaman budaya, agama dan filsafat. Ungkapan Paulus bahwa banyak orang mempercayai allah dan tuhan menurut definisi mereka sendiri (8:5) merupakan salah satu contoh dari keberagaman agama yang ada. Keterbukaan orang-orang kafir terhadap kekristenan atau hal-hal yang baru merupakan kesempatan besar untuk meneruskan pekabaran injil di sana; (2) para pendatang baru merupakan target misi yang relatif terbuka untuk hal-hal baru, sebab mereka kehilangan keterikatan dengan budaya lama dan belum mampu membentuk ikatan sosial yang baru di kota yang besar seperti Korintus; (3) Kota ini juga memberi peluang yang sangat besar bagi pekerjaan Paulus sebagai pembuat tenda, sehingga Paulus tetap bisa menghidupi dirinya sendiri. Ia bisa membuat tenda untuk para turis yang mengikuti pertandingan Isthmian atau untuk layar dari para pelaut; (4) Kota Korintus memiliki komunitas Yahudi yang cukup besar seiring dengan keputusan Kaisar Klaudius untuk mengusir semua orang Yahudi dari Kota Roma (Kis 18:1).   

Dari kisah tersebut dapat disimpulkan bahwa Paulus adalah orang pertama yang dipakai Tuhan untuk mendirikan jemaat Korintus. Posisi istimewa ini juga disinggung Paulus dalam surat 1Korintus. Peranan Paulus adalah menanam benih (3:6) dan meletakkan pondasi yang kuat, yaitu Yesus Kristus (3:10-11). Tidak berlebihan kalau ia menyebut diri sebagai bapa rohani mereka (4:15). Pertobatan mereka merupakan salah satu bukti kerasulan Paulus (9:1-2).

Sekalipun Paulus sangat berjasa bagi jemaat Korintus, namun sikap jemaat terhadap dia tidak selalu positif. Mereka membandingkan Paulus dengan rasul-rasul lain (1:12). Mereka menghakimi (4:3-5) dan mengkritik (9:3) bapa rohani mereka sendiri. Walaupun Paulus sudah meresponi hal ini dengan adil (3:5-7), rendah hati (3:22; 4:9) dan lemah-lembut (4:14-15, 21), tetapi relasinya dengan jemaat Korintus tampaknya tetap buruk.

Pertentangan tersebut terlihat masih belum mencapai taraf serius dan frontal. Hal ini dapat kita ketahui dari sebagian jemaat yang masih memberi dukungan pada Paulus (1:12-13). Mereka pun masih mau menanyakan pendapat Paulus tentang beberapa hal (7:1).

Mengapa mereka bersikap demikian terhadap Paulus? Ada banyak faktor yang melatarbelakangi. Masing-masing kelompok yang tidak menyukai Paulus memiliki alasan tersendiri. Pertama, kehadiran dan kehebatan retorika Apolos. Setelah Paulus meninggalkan Korintus, pelayanan di sana digantikan oleh Apolos (Kis 19:1) yang terkenal dengan kepandaiannya dalam kitab suci maupun retorika (Kis 18:24, 28). Jika dinilai dari sisi retorika, khotbah Paulus memang tidak seberapa bagus, karena tidak disampaikan dalam hikmat perkataan (1:17b; 2:1) dan dipenuhi kelemahan dan kegentaran (2:3).

Walaupun Apolos dan Paulus tidak memiliki problem relasi sama sekali (1Kor 16:12; bdk. 3:8-9), namun kelebihan Apolos dianggap memenuhi selera jemaat yang sangat mengagungkan retorika dan hikmat duniawi. Ditambah dengan semangat hidup yang ambisius terhadap kehormatan diri sendiri dan kelompok, jemaat Korintus memanfaatkan perbedaan dua rasul tersebut sebagai sumber pertikaian. Bagi mereka yang sudah tidak suka dengan Paulus, kehebatan Apolos adalah senjata yang efektif untuk merendahkan Paulus. Paulus dianggap lemah secara retorika (2Kor 10:10).

Kedua, keengganan Paulus untuk menerima tunjangan hidup. Paulus beberapa kali menegaskan bahwa ia tidak menerima tunjangan apapun dari jemaat Korintus (9:15-18; 2Kor 11:7-12; 12:13). Ia memilih untuk bekerja sendiri (Kis 18:2-3) atau didukung oleh jemaat lain (2Kor 11:8).

Sikap di atas ternyata menimbulkan masalah. Sekilas hal ini tampak aneh di telinga orang modern. Jika kita melihat ini secara sosiologis, maka kita akan menemukan alasan yang masuk akal. Waktu itu memberi bantuan dana bagi perkembangan suatu ajaran melalui para pengkhotbahnya merupakan kebanggaan tersendiri. Para pengkhotbah keliling, baik dari kalangan filsuf maupun tokoh agama, memang didukung oleh orang-orang yang mereka layani (bdk. 9:4, 6, 11-12, 14). Mereka bahkan sangat menggantungkan diri pada pemberi bantuan. Ketika Paulus menolak untuk didukung secara finansial, ia dianggap menutup kesempatan jemaat Korintus untuk membanggakan diri. Bukan hanya menutup kesempatan, tetapi juga merendahkan mereka, karena dalam kenyataannya Paulus bersedia menerima dukungan materi dari jemaat lain (2Kor 11:7-8). Di samping itu, penolakan ini dimanfaatkan jemaat Korintus untuk meragukan kapasitas Paulus sebagai pengkhotbah. Mereka beranggapan bahwa seandainya Paulus benar-benar seorang pengkhotbah ulung, maka ia seharusnya juga menerima tunjangan, sama seperti para pengkhotbah yang lain. Pekerjaan sebagai pembuat tenda waktu itu seringkali dipandang sebagai pekerjaan yang rendah secara sosial (4:10-13; 2Kor 11:9, 27), sehingga hal ini semakin mempertegas gambaran negatif bahwa Paulus tidak seperti pengkhotbah hebat yang disanjung banyak orang.

Kita tidak mengetahui secara pasti mengapa Paulus menolak menerima tunjangan dari jemaat Korintus. Ia hanya menjelaskan bahwa ia tidak mau pekabaran injil terhambat gara-gara hal tersebut (9:12b). Alasan di balik penolakan ini pasti bukan pertimbangan ekonomis (jemaat Korintus terlalu miskin untuk memberi), sebab Paulus sendiri mau menerima bantuan dari jemaat lain yang miskin (2Kor 8:2; 11:9; Flp 4:14-20) dan jemaat Korintus ternyata berlebihan secara materi (2Kor 8:13-14). Ini mungkin hanya sekadar kebiasaan Paulus dalam pemberitaan injil (1Tes 2:9; 2Tes 3:7-9; 1Kor 4:12), namun kita bertanya-tanya mengapa ia mau menerima tunjangan dari tempat atau orang lain. Walaupun penolakan Paulus mungkin didorong oleh alasan yang beragam, tergantung pada masing-masing jemaat, tetapi dalam kasus jemaat Korintus penolakan ini kemungkinan besar berkaitan dengan ambisi mereka untuk membanggakan diri melalui bantuan yang diberikan.

Ketiga, konsep tentang kerohanian yang salah. Beberapa ayat menunjukkan bahwa jemaat Korintus merasa diri lebih baik daripada Paulus, karena itu mereka merasa berhak untuk menghakimi dia (4:3; 9:3). Semua ini berakar dari konsep tertentu yang salah, sebagaimana terlihat dari pemakaian ungkapan “jika seorang menyangka bahwa ia….” (3:18; 8:2; 14:37). Salah paham ini berhubungan dengan hikmat, pengetahuan dan kerohanian. Tidak heran, Paulus sering menyinggung tentang masalah kemegahan atau kesombongan rohani (1:31; 3:21; 4:6, 7, 18; 5:2).

Salah satu istilah yang dipakai oleh sebagian penafsir untuk menggambarkan orang-orang yang salah konsep ini adalah pneumatikoi (14:37, “orang yang rohani”). Mereka menganggap diri memiliki hikmat dan pengetahuan yang khusus serta berada dalam tahap kerohanian yang sangat tinggi. Mereka merasa sudah hidup pada penggenapan eskhatologis yang sempurna. Mereka mengaku bisa berkata-kata dalam bahasa malaikat (13:1) dan mengetahui segala rahasia (13:2). Mereka menganggap diri sudah menjadi raja (4:8). Penekanan Paulus bahwa dia juga mendapat perintah dari Tuhan (7:25; 14:37) atau memiliki Roh Allah (7:25b, 40) mrupakan upaya Paulus untuk menentang konsep kerohanian yang cenderung mistis ini.

Begitu “tingginya” tingkatan rohani mereka, sampai-sampai sebagian dari mereka menganggap bahwa apapun yang mereka lakukan dengan tubuh mereka (materi) tidak akan berpengaruh pada kerohanian. Tubuh dianggap sebagai materi yang tidak bernilai sama sekali (6:13). Karena itulah mengapa sebagian jemaat justru bangga dengan dosa percabulan (5:1-2). Mereka juga mudah terpengaruh dengan ajaran yang menolak kebangkitan orang mati maupun kebangkitan tubuh (15:12). Sebagai orang yang “rohani”, mereka merasa memiliki kebebasan penuh untuk melakukan apapun (6:12; 10:23). Mereka dengan sombong menganggap persekutuan dengan orang kafir di kuil tidak akan mempengaruhi kerohanian mereka (10:12, 20-22). Kepada mereka yang merasa diri rohani Paulus menyebut mereka sebagai bayi rohani dan masih duniawi (3:1-3).

Keempat, tuduhan terhadap ajaran dan hidup Paulus. Beberapa kesalahpahaman yang terjadi tampaknya berkaitan dengan ajaran atau tindakan Paulus. Mereka hanya mengutip suatu gagasan Paulus secara sembarangan dan memakai itu untuk membenarkan konsep atau tindakan mereka (bdk. Rom 3:8). Konsep “segala sesuatu diperbolehkan” (6:12; 10:23) mungkin merupakan penyalahgunaan ajaran Paulus tentang kebebasan Kristiani (Kol 2:20-22). Sikap menjauhi hubungan seks dalam rumah tangga (1:1-5) mungkin dipicu oleh gaya hidup Paulus yang tidak mau menikah (7:7). Demikian pula dengan kebiasaan makan di kuil (10:1-22) yang didasarkan pada tindakan Paulus yang dianggap kompromis (9:19-23; 10:30), sehingga Paulus perlu menjelaskan alasan (10:24, 31-33) dan situasi detil (10:25-29) yang membuat dia terkesan tidak konsisten.   

Tempat dan tahun penulisan

Berbeda dengan surat modern yang selalu mencantumkan tempat dan tanggal penulisan, surat kuno tidak mengikuti pola ini. Begitu pula dengan Surat 1Korintus. Paulus tidak memberikan keterangan eksplisit di mana dan kapan ia menulis surat ini. Para penafsir perlu menyelidiki setiap bagian dari surat ini untuk menemukan petunjuk yang berguna. Semua petunjuk ini selanjutnya dikaitkan dengan Kisah Rasul yang mencatat kronologi pelayanan misi Paulus.

Hampir semua penafsir setuju bahwa Paulus menulis surat 1Korintus ketika ia masih ada di Efesus. Sesuai dengan pasal 16:5-9, Paulus masih ingin menghabiskan waktu di Efesus karena ada banyak kesempatan di sana. Ia memang sudah merencanakan untuk mengunjungi jemaat Korintus lagi (4:19a; 16:2-7), namun untuk sementara ia hanya bisa mengutus Timotius untuk melayani mereka (4:17; 16:10-11).

Berdasarkan analisa di atas, Paulus pasti menuliskan surat 1Korintus pada waktu ia melayani di Efesus selama sekitar 3 tahun (Kis 19:8, 10, 22) dan bukan pada saat kunjungan singkatnya pertama ke Efesus (Kis 18:19-20). Kemungkinan besar surat ini ditulis pada masa-masa terakhir pelayanan Paulus di Efesus.

Dugaan di atas mendapat dukungan dari kesesuaian isi surat 1Korintus dan catatan Kisah Rasul. Ketika Paulus tiba ke Efesus untuk kedua kalinya dan menetap di sana (Kis 19:1, 8, 10), Apolos sedang melayani di Korintus (Kis 19:1). Jika surat 1Korintus ditulis ketika Apolos sudah tidak melayani lagi di Korintus (1Kor 16:12), maka surat ini tidak mungkin ditulis pada awal pelayanan Paulus di Efesus. Dukungan lain didapat dari rencana Paulus untuk mengunjungi Korintus ketika ia melintasi Makedonia (1Kor 16:6) dalam perjalanan menuju Yerusalem (1Kor 16:1). Rencana ini sesuai dengan rencana yang ia pikirkan pada tahun ke-3 pelayanannya di Efesus (Kis 19:21). Pengiriman Timotius untuk mendahului Paulus juga mengarah pada waktu yang sama (Kis 19:22; 1Kor 4:17; 16:10-11).         

Jika pendapat di atas diterima, maka kita dapat menyimpulkan bahwa jarak waktu antara akhir pelayanan Paulus pertama di Efesus dan penulisan surat 1Korintus adalah empat tahun. Sekitar satu tahun pertama dihabiskan Paulus untuk perjalanan dari Korintus ke Kenkrea dan Efesus (Kis 18:18-19), singgah sebentar di Efesus (Kis 18:19-21), pergi ke Kaisarea dan Anthiokia (Kis 19:22) dan pelayanan keliling di daerag Galatia dan Frigia (Kis 19:23). Tiga tahun berikutnya merupakan masa pelayanan di Efesus yang penuh dengan keberhasilan (Kis 19:1, 8, 10, 22). Jika Paulus meninggalkan Korintus tidak lama setelah Galio menjadi prokonsul (bdk. Kis 18:12, 17-18) pada tahun 51 – 52 M, maka surat 1Korintus ditulis antara tahun 54 – 55 M.

Selama rentang waktu empat tahun ini, pelayanan di Korintus diisi oleh Apolos (1:12; 3:6; Kis 19:1) dan Petrus (1:12; 9:5). Setelah keduanya pergi dari sana, kepemimpinan sangat mungkin dilanjutkan oleh beberapa pemimpin lokal setempat yang kurang dewasa (3:16-17). Lemahnya kepemimpinan inilah yang memicu munculnya berbagai masalah dalam jemaat. Mereka terpengaruh oleh pemikiran filsafat kafir yang merendahkan injil (1:18-3:23) dan menolak kebangkitan (15:12). Mereka mengalami krisis kasih, baik dalam kaitan dengan isu kepemimpinan (1:12-13), harta (6:1-11), kesenjangan sosial (11:17-34) maupun perbedaan karunia rohani (12:1-14:40). Mereka bahkan tidak menghargai kerasulan Paulus (1:12-13; 4:1-3; 9:1-3). Mereka juga terjebak pada tindakan yang tidak bermoral: perkawinan antar anggota keluarga (5:1-13) dan perzinahan dengan pelacur (6:12-20). Yang lebih parah, beberapa dosa tersebut sudah berlangsung sangat lama, misalnya perzinahan antar keluarga. Tentang hal ini Paulus sebenarnya sudah mengirimkan surat pertama (biasa disebut surat Korintus A), namun mereka salah memahami surat ini (5:9-11) dan tetap berkompromi dengan dosa percabulan itu, bahkan bangga dengan hal itu! (5:1-2).

Tujuan penulisan

Paulus memang tidak sejelas Lukas (Luk 1:1-4) atau Yohanes (Yoh 20:30-31) dalam menginformasikan tujuan penulisan. Walaupun demikian, pembaca yang teliti pasti tidak akan menemui kesulitan untuk menangkap maksud Paulus. Surat 1Korintus memberikan petunjuk yang cukup jelas tentang latar belakang mengapa Paulus perlu menulis surat kepada jemaat Korintus. Dari latar belakang inilah kita dapat mengetahui tujuan penulisan surat 1Korintus.

Surat ini ditulis dengan tujuan untuk menyelesaikan berbagai masalah yang sedang terjadi dalam jemaat Korintus. Paulus mengetahui semua masalah itu berdasarkan laporan lisan dari keluarga Kloë (1:11) maupun surat-surat yang dikirimkan jemaat kepadanya (7:1); kemungkinan surat-surat ini dibawa oleh Stefanas, Fortunatus dan Akhaikus (16:17). Tidak tertutup kemungkinan ketiga orang ini juga memberikan laporan lisan tambahan kepada Paulus.

Sebagai respon terhadap semua laporan itu, Paulus menulis sebuah surat sebagai jawaban. Ia juga mengirimkan Timotius untuk membantu mereka (4:17; 16:10-11). Ia sendiri menegaskan bahwa jika Tuhan menghendaki ia akan mengunjungi mereka secara langsung (4:19-21; 16:5-7).

Kita tidak dapat mengetahui apakah penulisan surat 1Korintus dan pengiriman Timotius ke Korintus benar-benar menyelesaikan semua persoalan. Jika dilihat dari isi surat 2Korintus, kita tahu bahwa beberapa masalah masih terus berlangsung (bahkan tampaknya menjadi lebih parah!), misalnya sikap negatif jemaat terhadap otoritas Paulus. Jemaat lebih memihak pada para pemimpin yang sebenarnya adalah para rasul palsu (2Kor 11:4, 13-15). Mereka membanding-bandingkan Paulus dengan para rasul palsu itu (2Kor 11:5-6, 12; 12:11). Mereka bahkan menuduh Paulus memiliki cara hidup (2Kor 10:2) dan motivasi yang salah dalam pelayanan (2Kor 12:16-17). Begitu parahnya keadaan di atas, sampai-sampai Paulus akhirnya memutuskan untuk mengubah rencana semula (1Kor 16:8-9; bdk. 2Kor 1:15) dan langsung mendatangi mereka dalam sebuah kunjungan yang disebut “kunjungan yang menyakitkan” (2Kor 2:1). Kunjungan ini merupakan konfrontasi secara langsung dengan mereka, sebagaimana sudah diisyaratkan Paulus di 1Korintus 4:21.

Masalah lain yang tidak tuntas adalah kemegahan yang salah. Mereka masih menyanjung orang-orang yang memegahkan hal-hal duniawi (2Kor 5:12; 11:18), misalnya pengalaman mistis dalam dunia roh (2Kor 11:4; bdk. 12:1-6) dan status sosial (2Kor 12:21b-22). Sebagai respon terhadap hal ini Paulus kembali mengingatkan untuk bermegah di dalam Tuhan (2Kor 10:17; bdk. 1Kor 1:31). Ia juga mengajarkan bahwa dasar kemegahan yang sejati adalah kelemahan kita, karena kelemahan itu akan menunjukkan kekuatan Allah (2Kor 11:30; 12:5, 9-10).

Jenis literatur

Cara kita mengenali jenis literatur (biasa disebut “genre”; baca: janra) suatu tulisan akan mempengaruhi cara kita menafsirkan tulisan itu. Jika kita sudah mengenali suatu tulisan sebagai sebuah puisi, maka kita pun akan menafsirkan isi di dalamnya dengan sebuah kerangka pemikiran bahwa tulisan itu harus ditafsirkan sebagai puisi, bukan sebagai cerita historis atau keterangan ilmiah. Hal yang sama terjadi pada tulisan-tulisan lain, termasuk yang ada di dalam Alkitab.

Apakah jenis literatur surat 1Korintus? Pertanyaan ini sekilas tidak perlu diberikan karena jawabannya sudah terlalu jelas. Kita semua sudah mengetahui bahwa 1Korintus adalah sebuah surat. Walaupun demikian, jawaban ini masih terlalu umum: apakah 1Korintus merupakan surat formal atau pribadi? Bagaimana dengan usulan beberapa teolog yang menganggap 1Korintus merupakan tulisan retoris kuno?

Petunjuk dalam teks mengarah pada jenis surat pribadi. Beberapa karakteristik surat pribadi kuno terlihat jelas dalam 1Korintus: rencana perjalanan (16:5-6), nama-nama orang (total 14 nama, 1:14, 16; 16:10, 12, 17), rujukan pada peristiwa tertentu yang khusus (1:14-16; 2:1-4). Sebagai sebuah surat pribadi 1Korintus memiliki tujuan khusus pada waktu yang khusus dan berkaitan dengan situasi yang khusus pula. Banyak informasi dalam surat ini, baik yang eksplisit maupun implisit, sama-sama diketahui oleh Paulus dan penerima surat. Sayangnya, hal tersebut mungkin tidak terlalu jelas bagi mereka yang tidak mengetahui keadaan konkrit di Korintus, karena 1Korintus memang merupakan surat pribadi.

Usulan beberapa teolog bahwa 1Korintus adalah tulisan retoris sebaiknya ditolak, sebab tidak ada kemiripan yang esensial. Paulus memang menggunakan beberapa sarana retoris dalam pembahasannya di beberapa tempat, namun tidak terikat dengan cara-cara yang formal. Retorika ini hanyalah salah satu cara untuk menyampaikan suatu maksud di bagian tertentu, tetapi bukan kerangka pikir utama dalam keseluruhan 1Korintus. Cara Paulus menulis terlihat sangat pribadi dan tidak formal. Ia hanya mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran dan hatinya, walaupun latar belakang kehidupannya yang luas dan pengetahuannya tentang retorika kuno sedikit banyak membantu dia dalam mengungkapkan sesuatu.    

Karakteristik penulisan

Memahami karakteristik penulisan surat 1Korintus akan menolong kita dalam penafsiran. Ada beberapa karakteristik penting yang perlu kita ketahui. Pertama, transisi dari satu topik ke topik lain. Seperti sudah dijelaskan sebelumnya, surat 1Korintus merupakan jawaban terhadap beragam masalah yang muncul dalam jemaat Korintus. Paulus kadangkala memberikan jawaban yang pendek, tetapi kadangkala sangat panjang. Isu tentang perkawinan antar keluarga (5:1-13), sengketa hukum (6:1-11), perzinahan (6:12-20) dan perkawinan (7:1-40) dibahas secara singkat, sedangkan pertikaian dalam jemaat (1:10-3:23; 4:1-21), makan daging persembahan berhala (8:1-11:1), perbedaan karunia rohani (12:1-14:40) diberi perhatian yang panjang lebar. Bagaimana kita dapat mengetahui kapan Paulus sedang berpindah ke topik yang baru? Ada banyak cara untuk mengetahui hal ini, sebagaimana akan dijelaskan secara detil pada bagian tafsiran. Salah satu yang menonjol adalah pemakaian frase peri de (“sekarang tentang”, 7:1, 25; 8:1; 12:1; 16:1, 12) untuk memulai sebuah topik yang baru. Transisi lain dapat diketahui dari konklusi suatu pembahasan yang mengulangi ide-ide utama dalam pembahasan tersebut. Sebagai contoh, 1:10-3:23 merupakan satu kesatuan karena pertikaian atas nama pemimpin muncul di bagian awal (1:10-13) maupun kesimpulan (3:22-23). Begitu pula dengan isu makan daging persembahan berhala yang mulai muncul di 8:1 dan tetap dibahas di 10:1-31. Dasar nasehat untuk tidak menimbulkan syak di hati orang lain juga muncul di bagian awal (8:9-13) dan akhir (10:32-33).

Kedua, pengutipan kalimat jemaat Korintus yang selanjutnya akan dibahas oleh Paulus. Hampir semua penafsir sepakat bahwa dalam surat 1Korintus Paulus sering mengutip perkataan jemaat Korintus. Beberapa contoh yang jelas tentang hal ini antara lain ungkapan “segala sesuatu adalah halal bagiku” (6:12; 10:23), “adalah baik bagi laki-laki kalau ia tidak kawin” (7:1), “kita semua memiliki pengetahuan” (8:1), “tidak ada berhala di dunia dan tidak ada allah lain selain Allah yang esa” (8:4). Persoalannya bagi kita adalah dalam naskah kuno tidak ada pemakaian tanda petik dua sebagai tanda kutipan. Kita harus memperhatikan konteks dengan teliti untuk menemukan apakah suatu kalimat merupakan perkataan jemaat Korintus atau Paulus.

Ketiga, pola pembahasan A-B-A. Sebagian teolog mengalami kesulitan untuk memahami beberapa bagian pembahasan yang terkesan tidak sistematis. Paulus memulai suatu topik dengan pembahasan tertentu lalu menyinggung topik lain dan akhirnya kembali ke topik pertama. Ada beberapa contoh tentang hal ini, yang paling jelas adalah tentang makan daging persembahan berhala. Isu ini secara eksplisit dibahas di pasal 8 dan 10, sedangkan pasal 9 tidak menyinggung daging persembahan berhala sama sekali. Tidak ada kata “daging”, “illah” atau “kuil” yang muncul di pasal 9. Hal ini mendorong sebagian orang untuk menganggap pasal 9 sebagai sisipan yang terpisah dari keseluruhan isu.

Anggapan yang salah ini berawal dari ketidaktahuan tentang karakteristik pembahasan Paulus di surat 1Korintus. Paulus memang kadangkala memakai pola A-B-A. Dalam bagian “A” yang pertama ia memberikan kerangka pikir yang mendasar dan umum tentang suatu topik. Di bagian “B” ia sedikit menjelaskan salah satu aspek dari “A” sekaligus mengaitkannya dengan topik lain. Di bagian “A” terakhir ia memberikan jawaban konkrit sebagai aplikasi dari prinsip umum di bagian sebelumnya.

Dalam konteks makan daging persembahan berhala, Paulus mula-mula memberikan prinsip umum yang harus diperhatikan setiap orang Kristen, yaitu tidak boleh menggunakan kebebasan atau hak kita secara sembarangan tanpa memperhatikan kepentingan orang lain (8:9-13). Setelah itu ia memberikan contoh tentang dirinya sendiri yang mau melepaskan hak sebagai rasul untuk ditunjang secara materi (9:15-18). Contoh lain adalah kesediaan Paulus untuk menjadi segala-galanya bagi semua orang sekalipun ia bebas dari semua orang (9:19-23). Di bagian terakhir Paulus memberikan jawaban konkrit tentang makan daging persembahan berhala: kalau makan di kuil tidak boleh (10:1-24), kalau makan daging yang dijual di pasar tidak apa-apa (10:25-26), kalau diundang makan di rumah orang lain tidak apa-apa (10:27), kecuali menimbulkan syak di hati orang lain (10:28-29).

Problem teks

Jika dibandingkan dengan surat-kuno kuno lain, surat-surat Paulus lebih panjang. 1Korintus secara khusus merupakan salah satu surat yang sangat panjang. Hal ini memunculkan dugaan dari beberapa teolog bahwa surat ini merupakan kombinasi dari beberapa surat yang akhirnya digabungkan menjadi satu. Sebagian menduga penggabungan ini dari awal dilakukan oleh Paulus, sedangkan yang lain lebih memilih pengikut Paulus di kemudian hari yang melakukan penggabungan itu.

Beberapa faktor lain yang dijadikan dukungan untuk pandangan ini antara lain: (1) frase “dengan semua orang di segala tempat, yang berseru kepada nama Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Tuhan mereka dan Tuhan kita” (1:2) dianggap sebagai tambahan yang dilakukan oleh seorang editor supaya surat 1Korintus (yang dipercaya sebagai kumpulan beragam surat) terkesan memiliki nilai universal; (2) beberapa bagian dipandang sebagai sisipan yang tidak berhubungan dengan konteks di sekitarnya, misalnya pasal 9, pasal 13; (3) topik yang dibahas dalam surat ini dianggap terlalu beragam, sehingga lebih cocok dipandang sebagai kumpulan surat yang mula-mula terpisah satu dengan lainnya; (4) surat Paulus kepada jemaat Korintus yang hilang (5:9) diyakini sebenarnya tidak hilang, karena turut dimasukkan ke dalam salah satu bagian surat 1Korintus.

Banyak cara sudah diusulkan para teolog untuk menjelaskan bagian-bagian mana yang dulu terpisah dan mengapa satu demi satu akhirnya digabungkan. Menariknya, tidak ada satu usulan pun yang mendekati kemiripan. Setiap teolog memiliki dugaan sendiri-sendiri. Bagaimana sebaiknya kita meresponi upaya para teolog ini?

Hal pertama yang harus dipertimbangkan adalah salinan tertua dari surat 1Korintus tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa surat ini adalah sebuah kumpulan surat yang terpisah. Hampir semua bagian (kecuali 9:3, 14:15, 15:16) dapat ditemukan pada beberapa salinan kuno di abad ke-2. Jika 1Korintus merupakan surat-surat terpisah yang dikumpulkan seorang editor, maka paling tidak kita berharap ada salinan dari beberapa bagian yang terpisah itu yang berdiri sendiri. Walaupun kesaksian dari salinan kuno ini tidak memiliki bobot apa-apa jika yang mengumpulkan surat-surat menjadi 1Korintus adalah Paulus sendiri (sejak pertama dikirimkan memang sudah dalam bentuk kumpulan surat), tetapi salinan ini seyogyanya memberi peringatan kepada kita untuk tidak terlalu berspekulasi.

Pertimbangan lain adalah usulan para teolog yang sangat berbeda. Perbedaan yang ada terlalu banyak untuk disederhanakan. Sampai sekarang pun tidak ada satu usulan yang diterima sebagai pandangan mayoritas. Hal ini menyiratkan bahwa teori penggabungan surat-surat ini adalah usaha yang sangat spekulatif. Tidak ada bukti dalam teks yang memadai untuk dijadikan patokan. Usulan apapun yang diajukan pasti memiliki keberatan serius. Jauh lebih bijaksana jika kita menerima surat ini apa adanya sebagai satu surat yang ditulis Paulus dari awal sampai akhir pada satu kesempatan untuk satu keadaan khusus.

Kita juga perlu menyadari bahwa teori penggabungan didasarkan pada dugaan-dugaan tertentu yang muncul dari kesalahpahaman terhadap isi surat 1Korintus (teori penggabungan merupakan dugaan yang didasarkan pada dugaan yang lain). Frase “dengan semua orang di segala tempat, yang berseru kepada Nama Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Tuhan mereka dan Tuhan kita” (1:2) tidak perlu ditafsirkan sebagai tambahan. Paulus memang perlu menekankan keterkaitan dan kesamaan antara jemaat Korintus dengan jemaat-jemaat di tempat lain, karena jemaat Korintus merasa diri sebagai jemaat spesial dengan karunia rohani yang spesial juga. Paulus menegur jemaat Korintus bahwa apa yang sedang mereka lakukan tidak sesuai dengan kebiasaan seluruh jemaat di tempat-tempat lain (11:16). Dalam beberapa kesempatan Paulus bahkan menggarisbawahi bahwa apa yang dia sampaikan berlaku untuk semua jemaat di setiap tempat, melalui ungkapan “seperti yang kuajarkan di mana-mana dalam setiap jemaat” (4:17) atau “ketetapan yang kuberikan kepada semua jemaat” (7:17).

Dugaan lain yang tidak berhasil dibuktikan secara memuaskan oleh para penganut teori penggabungan adalah keberadaan surat Korintus yang hilang (5:9, biasa disebut Korintus A). Paulus hanya menyinggung isi surat ini secara sekilas, sehingga kita mengalami kesulitan untuk menyamakan ini dengan bagian tertentu dalam surat 1Korintus atau 2Korintus. Beberapa usulan sudah diberikan para teolog tetapi tidak ada satu pun yang konklusif. Lebih baik kita menerima keteranan Paulus di 5:9 apa adanya, yaitu sebelum 1Korintus memang sudah ada surat lain yang dikirimkan. Keberadaan surat ini sampai sekarang tidak diketahui. Alasan di baliknya juga merupakan misteri bagi kita.

Berkaitan dengan beberapa bagian surat 1Korintus yang dianggap sisipan kita sebaiknya menghindari spekulasi sebisa mungkin. Artinya, dugaan adanya sisipan hanya boleh diambil setelah penyelidikan teks yang mendalam memang tidak berhasil memunculkan keterkaitan yang logis dan mulus antara bagian yang diperdebatkan dengan konteks sekitarnya. Dalam pembahasan detil nanti kita akan melihat bahwa bagian-bagian yang diduga sebagai sisipan ternyata memiliki keterkaitan yang lebih jelas daripada yang biasa dipikirkan. Bagian itu merupakan bagian penting dala keseluruhan pembahasan suatu topik.

Kanonisasi

Sama seperti surat-surat umum Paulus pada umumnya, surat 1Korintus dengan cepat diakui otoritasnya dalam gereja mula-mula. Marcion pada pertengahan abad ke-2 mengakui surat-surat Paulus sebagai apostolikon (rasuli), termasuk di antaranya adalah surat 1Korintus. Peneguhan juga diberikan dalam Kanon Muratorian (menjelang akhir abad ke-2). Terlepas dari sikap gereja mula-mula yang cenderung memberi penghormatan khusus dan cepat terhadap tulisan Paulus, surat 1Korintus sendiri menuntut untuk diterima sebagai perintah Tuhan (14:37b “apa yang kukatakan (lit. “kutuliskan”, lihat KJV/NASB/RSV/NIV) kepadamu adalah perintah Tuhan”).

Teologi

Surat 1Korintus merupakan respon Paulus terhadap beragam persoalan praktis dalam jemaat. Hal ini menimbulkan kesan bahwa surat ini lebih bersifat praktis daripada teologis. Bagian yang dianggap paling teologis mungkin hanya pasal 15 yang secara khusus membahas tentang kebangkitan Kristus dan orang percaya.

Pengamatan di atas tidak sepenuhnya salah. Surat ini memang surat pastoral (penggembalaan), bukan kitab pegangan doktrinal. Walapun demikian, kita tidak boleh meremehkan nilai teologis dari surat ini. Ketika Paulus mengupas isu-isu praktis, ia selalu menyoroti semua itu dari perspektif teologis, misalnya ia mengaitkan perzinahan dengan penebusan Kristus (6:12-20). Kebiasaan ini bahkan dapat ditemui di semua surat Paulus. Tidak ada pemisahan yang jelas antara hal doktrinal dan praktis. Semua yang praktis harus dilandasi dengan doktrin; semua yang doktrinal harus teraplikasi dalam kehidupan praktis.

Selain pertimbangan ini, kita pun harus memahami bahwa Paulus memiliki kerangka pikir teologis tertentu yang melatarbelakangi apa yang dia tuliskan. Setiap ide dalam pikirannya tidak muncul dalam kehampaan. Kerangka pikir inilah yang tercermin dalam beragam topik yang ia bahas. Sebagai contoh, konsep eskhatologis Paulus memainkan peranan penting dalam pembahasan seputar kritikan jemaat terhadap Paulus (4:1-5), sengketa hukum (6:1-3) maupun pernikahan (7:25-31).

Apa saja konsep teologis yang penting dalam surat 1Korintus? Pertama-tama adalah eskhatologi. Bagi Paulus kematian dan kebangkitan Yesus Kristus merupakan titik balik dari suatu jaman yang baru: jaman akhir. Pemberian berbagai karunia rohani dari Roh Kudus (1:5) adalah bukti bahwa jaman akhir sudah dimulai (bdk. Kis 2:15-21; 2Kor 1:22; Ef 1:14). Apa yang sebelumnya merupakan rahasia ilahi, sekarang sudah dinyatakan di dalam Kristus (2:7-8). Kerajaan Allah sudah datang dengan kuasa (4:20). Pendeknya, eskhatologi adalah kekinian.

Walaupun kita sudah berada di jaman akhir, tetapi akhir jaman sendiri belum terjadi. Kita masih menantikan kedatangan Kristus (1:7). Kerajaan Allah masih ada di depan (6:9-10). Melalui perjamuan kudus kita memberitakan kematian Kristus sampai Ia datang (11:26). Kita pun masih diberi sarana pewahyuan melalui nubuat dan penafsiran bahasa roh karena yang sempurna belum datang (13:9-12). Eskhatologi masih berada di depan.

Dengan demikian eskhatologi adalah kekinian dan masa depan (biasa disebut dengan istilah realized eschatology). Baik hidup sekarang maupun hidup yang akan datang semua kita punya (3:22). Hidup orang Kristen berada di tengah ketegangan ini: di satu sisi kita sudah di jaman akhir, namun kita masih belum sampai di akhir jaman. Orang Kristen akan mati (3:22; 11:30), tetapi kematian tidak akan mengalahkan kita (15:53-55).

Kesadaran terhadap hal ini sangat mempengaruhi kehidupan praktis orang Kristen. Karena hikmat dunia akan binasa, maka kita tidak sepatutnya mengandalkan hikmat seperti itu (1:19-20, 27-28; 2:6b). Karena di akhir jaman kita akan menghakimi malaikat dan dunia, maka tidak sepantasnya orang Kristen melibatkan orang kafir untuk mengadili perkara di antara mereka (6:1-3). Karena Tuhan akan membangkitkan tubuh kita, maka kita harus menjaganya dari semua kenajisan (6:14). Karena dunia dan segala isinya akan berlalu, maka kita tidak boleh terlalu terikat dengan hal-hal dunawi (7:29-31). Sebaliknya, kita harus berfokus pada perkara-perkara Tuhan (7:32-35). Karena ada jaminan kebangkitan di akhir jaman, maka kita mau mempertaruhkan nyawa bagi Kristus (15:32) dan bekerja dengan giat bagi-Nya (15:58).

Konsep telogis yang kedua adalah teologi salib. Di tengah kehidupan majemuk di Kota Korintus tidak ada yang lebih mendesak bagi orang Kristen selain menunjukkan keunikan identitas mereka melalui cara berpikir yang berpusat pada salib. Teologi salib menawarkan sesuatu yang sangat berbeda dengan apa yang ditawarkan oleh dunia pada waktu itu, sehingga teologi salib seharusnya menjadi keunikan dan kebanggaan orang percaya. Salib mungkin dipandang sebagai kelemahan dan kebodohan, tetapi bagi orang Kristen salib adalah kekuatan dan hikmat yang sejati (1:18; 22-24). Yesus yang direndahkan melalui kematian di atas kayu salib justru adalah Tuhan yang mulia (2:8).

Salib tidak hanya mengubah cara berpikir orang percaya tentang nilai kehidupan, tetapi salib sekaligus mengubah gaya hidup mereka. Karakteristik utama dari gaya hidup ini adalah kekudusan. Melalui penebusan Kristus orang percaya dimurnikan seumpama roti yang tidak beragi (5:7-8). Kita disucikan, dikuduskan dan dibenarkan di dalam Kristus sehingga kita memiliki kehidupan yang sangat kontras dengan kehidupan yang lama (6:11). Kita telah ditebus dengan harga yang mahal dan disatukan dengan Kristus, karena itu kita tidak boleh memiliki ikatan dengan hal-hal yang najis (6:15, 17, 20).

Paulus tidak segan-segan untuk menjauhkan orang yang tegar tengkuk dari tengah-tengah jemaat (5:2, 11). Tuhan pun bertindak keras terhadap orang-orang yang bertindak sembarangan di dalam gereja. Banyak di antara mereka yang sakit atau mati (11:30). Paulus tidak lupa memberi peringatan tegas agar pergaulan dunia yang buruk tidak mempengaruhi orang-orang Kristen (15:33).

Karakteristik lain dari gaya hidup yang berpusat pada salib adalah kerendahhatian. Ketika orang-orang Korintus terlalu asyik meninggikan kemampuan dan kehormatan diri sendiri, pemberitaan salib mengarahkan manusia pada kesadaran tentang ketidakmampuan mereka (1:26-29). Kehebatan retorika bukan hal yang utama; kuasa Roh di dalam kelemahan manusia adalah segala-galanya (1:18; 2:1-5). Para pemimpin tidak sepatutnya mencari kehormatan dari orang lain, sebaliknya mereka harus memandang dirinya sebagai para pelayan yang tidak terlalu penting (3:5-7; bdk. Mat 20:26-27; Luk 22:26). Kemenangan bukan didapat ketika kita berhasil mendapatkan sesuatu dari orang lain, tetapi ketika kita rela kehilangan segalanya demi orang lain (6:7). Dalam konteks budaya Korintus, sikap mau mengalah ini pasti dikategorikan sebagai simbol kelemahan. Di sisi lain, dari perspektif Kristiani kekuatan yang sejati adalah kekuatan untuk tidak menggunakan kekuatan. Orang yang memiliki kelebihan tertentu tidak sepatutnya menjadikan kelebihan itu sebagai sarana untuk mendapatkan perhatian dari orang lain. Ia tidak membutuhkan kelebihan lain (12:24a). Justru orang-orang yang tidak memiliki kelebihanlah yang seharusnya diberi perhatian khusus (12:22-23).

Konsep teologis lain yang tidak kalah penting adalah gereja. Surat 1Korintus memberikan porsi yang terbanyak untuk pembahasan tentang gereja dibandingkan semua surat Paulus yang lain. Beberapa aspek gereja yang disinggung dalam surat ini antara lain gambaran gereja sebagai bait Allah dan tubuh Kristus, kekudusan gereja, gereja secara individu dan komunal, ketertiban ibadah dan sakramen.

Gambaran tentang gereja sebagai bait Allah (3:16-17) merupakan sesuatu yang unik jika dilihat dari sisi situasi Korintus waktu itu yang dikelilingi dengan berbagai kuil. Dengan menyebut gereja sebagai bait (kuil) Allah Paulus bermaksud menampilkan gereja sebagai salah satu alternatif bagi orang-orang Korintus. Bukan hanya sebuah alternatif, tetapi alternatif yang unik dan jauh lebih baik. Berbeda dengan beberapa kuil kafir yang menawarkan ibadah yang tidak bermoral, gereja adalah bait Roh Kudus. Kekudusan adalah karakteristik dari bait yang satu ini. Kehadiran Roh Kudus di tengah-tengah gereja (3:16b) juga menunjukkan perbedaan dengan kuil-kuil lain yang hanya dihiasi dengan berhala-berhala yang material dan bisu. Penyataan Allah yang luar biasa dalam ibadah melalui nubuat atau penafsiran bahasa roh (14:24-25) juga menampilkan kontras yang kentara dengan situasi ibadah kafir. Begitu pentingnya keberadaan gereja sebagai bait Allah sampai-sampai Allah memastikan akan membinasakan siapa saja yang membinasakan bait ini (3:17).

Gereja juga digambarkan sebagai tubuh Kristus (10:17; 11:29; 12:12-26). Melalui gambaran ini Paulus ingin menggarisbawahi dua poin penting yang ada di dalam gereja: kesatuan dan keberagaman. Terlepas dari perbedaan latar belakang yang ada, semua orang percaya adalah satu di dalam Roh (12:4-6, 11, 13). Perbedaan status sosial merupakan hal yang tidak memiliki makna apapun (7:17-24). Perbedaan karunia rohani hanyalah untuk satu tujuan yang sama, yaitu pembangunan tubuh Kristus (12:7). Semua orang saling membutuhkan (12:21) dan merasakan (12:26).

Kesatuan ini bukan berarti meniadakan keberagaman. Masing-masing anggota tetap memainkan peranan yang berbeda dan memiliki status sosial yang berbeda pula. Yang penting adalah kesatuan, bukan keseragaman. Allah menciptakan keberagaman bukan supaya disamakan, namun supaya saling memperhatikan (12:25).

Selain dua gambaran penting tentang gereja Paulus juga mengajarkan tentang konsep kekudusan gereja. Orang-orang percaya adalah orang-orang kudus (1:2), walaupun tindakan mereka kadangkala justru lebih buruk daripada orang dunia (5:1). Dua macam kekudusan ini – biasa disebut kekudusan posisional dan progresif – bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Sebaliknya setiap orang percaya harus melewati tahapan tersebut hingga nanti mengalami kekudusan secara sempurna (kekudusan final). Orang percaya sudah dikuduskan (1:2; 5:7-8; 6:11) dan harus menuju pada kekudusan (1:2, 8). Bagaimanapun, dalam realita kehidupan kita, kejatuhan dosa merupakan pengalaman semua orang percaya (Yak 3:2). Kita bahkan bisa jatuh pada dosa yang begitu serius sehingga layak untuk dikenakan disiplin gereja, tetapi pada akhirnya Allah akan mengubahkan dan menyelamatkan kita (5:4-5). Perubahan inilah yang menjadi bukti bahwa seseorang sudah dikuduskan dan diselamatkan dalam Kristus. Jika seseorang masih terus menyukai dan hidup di dalam dosa, maka hal itu membuktikan bahwa ia belum dikuduskan dalam Kristus dan tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Allah (6:9-10).     

  Paulus juga menunjukkan keterkaitan antara gereja secara individu dan komunal. Keterkaitan ini ditampilkan melalui penerapan konsep yang sama. Sebagai contoh, tubuh setiap individu orang Kristen adalah bait Roh Kudus (6:19), sama seperti kumpulan orang percaya disebut sebagai bait Roh Allah (3:16). Demikian pula konsep tentang tubuh Kristus muncul dalam konteks tubuh jasmani orang Kristen (6:15) maupun relasi antar anggota (12:27).

Aspek gereja yang lain yang mendapat perhatian serius dalam surat 1Korintus adalah ketertiban ibadah. Ibadah harus berlangsung dengan sopan dan teratur (14:40). Allah tidak menghendaki kekacauan, melainkan damai sejahtera (14:33). Secara hurufiah ayat ini berbunyi “Allah bukanlah Allah kekacauan, tetapi Allah damai sejahtera”. Terjemahan hurufiah ini menyiratkan bahwa ketertiban dalam ibadah bersumber dari sifat Allah sendiri. Ketertiban dalam ibadah bukanlah milik aliran gereja tertentu. Ini harus menjadi karakteristik semua jemaat di segala tempat.

Ibadah di gereja Korintus menunjukkan ketidaksesuaian dengan sifat Allah di atas. Sebagian perempuan tidak memperlihatkan penampilan yang pantas sebagai seorang wanita (11:2-16). Mereka berdoa tanpa memakai kerudung, yang menurut budaya waktu itu melambangkan kesopanan dan perbedaan dengan laki-laki. Sebagian perempuan berbicara terlalu banyak di dalam pertemuan ibadah (14:34-35). Orang-orang kaya menghina jemaat lain yang miskin dengan cara memakan roti dan anggur secara sembarangan dan tidak mau berbagi dengan yang lain (11:20-23).

Aspek gereja yang terakhir yang perlu diperhatikan adalah sakramen. Akar kata “baptis” muncul 9 kali dalam surat 1Korintus (1:13-17; 10:2; 12:13; 15:29), meskipun tidak semua pemunculan ini merujuk pada sakramen baptisan air (10:2; 12:13). Perjamuan kudus dibahas secara khusus di 11:17-34. Walaupun Paulus tidak bermaksud memberi paparan teologis tentang sakramen (dua sakramen ini disinggung dalam kaitan dengan masalah praktis yang sedang terjadi dalam jemaat), bagaimanapun ia telah memperkaya konsep tentang sakramen. Khusus untuk perjamuan kudus, 11:17-34 merupakan teks Alkitab terpanjang yang membahas topik ini.

Sehubungan dengan baptisan, Paulus memandangnya bukan sebagai sesuatu yang sangat penting, walaupun ia sendiri tetap melakukan baptisan dalam pelayanannya (1:14, 16; bdk. Kis 16:15, 33; 18:8; 19:3, 5). Ia tidak bermaksud mengecilkan makna baptisan. Baptisan adalah perintah Tuhan Yesus (Mat 28:20) dan Paulus sendiri diperintahkan Tuhan untuk dibaptis segera sesudah ia bertobat (Kis 22:16; 9:18). Sikap ini lebih banyak didorong oleh situasi jemaat Korintus yang tampaknya memberi penekanan berlebihan terhadap baptisan. Mereka menganggap baptisan pada dirinya sendiri dan hamba Tuhan yang melakukan baptisan memiliki kuasa mistis tertentu (1:13-15). Praktik baptisan bagi orang mati (15:29) memberi dukungan terhadap dugaan ini, terlepas dari bagaimana teks ini ditafsirkan.

Penekanan pada sakramen yang berlebihan tersebut direspon Paulus dengan menunjukkan bahwa pemberitaan tentang salib jauh lebih penting daripada baptisan (1:17). Baptisan hanyalah tanda pertobatan, sehingga baptisan harus didahului dengan pertobatan (Kis 2:38, 41; 8:12, 36-38; 13:24). Baptisan adalah lambang bahwa orang-orang percaya mengambil bagian dalam kematian Kristus (Rom 6:3). Baptisan yang tidak disertai penerimaan injil yang sungguh-sungguh akan menjadi baptisan yang tanpa makna (Kis 8:13, 18-23).

Di pasal 10:2-3 Paulus menyejajarkan baptisan dan perjamuan kudus dengan pengalaman bangsa Israel di padang gurun. Mereka dipelihara Tuhan begitu rupa, tetapi bukan berarti pengalaman itu adalah jaminan keamanan. Banyak di antara mereka yang akhirnya dihukum Tuhan dengan kematian (10:5). Demikian pula dengan jemaat Korintus. Baptisan dan perjamuan yang mereka alami tidak boleh dijadikan dasar untuk kenyamanan rohani yang palsu, apalagi kesempatan untuk hidup di dalam dosa tanpa kekuatiran. Kematian yang menimpa sebagian jemaat akibat kecerobohan dalam melakukan perjamuan kudus (11:30) dapat disamakan dengan kematian bangsa Israel di padang gurun (10:5).

Sehubungan dengan perjamuan kudus, Paulus memberi gambaran yang terkesan kurang formal dibandingkan dengan perjamuan kudus di gereja-gereja modern. Perjamuan kudus waktu itu tidak berbeda dengan sebuah perjamuan makan biasa. Ketika Yesus memerintahkan perjamuan kudus, perintah ini juga diberikan pada saat perjamuan makan (Mat 26:20-29//Luk 22:14-20). Gereja mula-mula juga memecahkan roti dalam suasana makan biasa (Luk 24:35; Kis 2:42, 46). Jemaat Korintus pun mempraktikkan hal yang sama (10:16b).

Suasana kurang formal dalam perjamuan kudus bukan berarti bahwa orang percaya boleh memandang remeh perjamuan ini. Perjamuan ini harus menjadi perjamuan yang kudus. Perjamuan menjadi bukti ketaatan kita pada perintah Tuhan Yesus (11:23-25). Dalam perjamuan kita memberitakan kematian Kristus (11:26), sehingga perjamuan kudus dapat dilihat sebagai firman Tuhan atau injil yang divisualisasikan. Untuk itu setiap jemaat harus melakukan perjamuan kudus ini secara tepat dengan cara menguji diri sendiri (11:28, 31), mengakui tubuh Kristus (11:29) dan melakukan dengan cara yang layak (11:27). Kegagalan untuk mengikuti persyaratan akan mendatangkan hukuman serius (11:29-30).

Struktur kitab

Struktur surat 1Korintus relatif tidak menimbulkan banyak perdebatan di kalangan penafsir, walaupun perbedaan detil tetap muncul di sana sini. Hampir semua teolog sepakat bahwa surat ini terdiri dari beragam topik. Topik-topik ini merupakan isu yang dimunculkan oleh jemaat dalam surat-surat mereka (7:1) atau isu yang didengar Paulus dari orang lain (1:11). Paulus sering berpindah dari satu topik ke topik berikutnya.

Topik yang dibahas Paulus secara umum sudah cukup jelas: perselisihan dalam jemaat (1:10-3:23), perselisihan melawan Paulus (4:1-21), percabulan dalam keluarga (5:1-13), sengketa hukum (6:1-11), perzinahan dengan pelacur (6:12-20), perkawinan (7:1-40), daging persembahan berhala (8:1-11:1), penampilan wanita dalam ibadah (11:2-16), perjamuan kudus (11:17-34), karunia rohani (12:1-14:40), kebangkitan (15:1-58), pengumpulan uang untuk orang-orang kudus di Yerusalem (16:1-11), Apolos (16:12). Yang tidak terlalu jelas adalah bagian mana yang termasuk “apa yang didengar Paulus” dan bagian mana yang termasuk “apa yang dituliskan jemaat”.

Sebagian teolog memahami 7:1 sebagai titik transisi antara apa yang didengar Paulus (1:10-6:20) dan apa yang jemaat Korintus tanyakan lewat surat (7:1-16:12). Sebagian teolog melihat dua bagian ini muncul secara bergantian: laporan lisan (1:10-6:20), pertanyaan tertulis (7:1-11:1), laporan lisan (11:2-34), pertanyaan tertulis (12:1-14:40), laporan lisan (15:1-58), pertanyaan tertulis (16:1-12). Usulan yang terakhir ini lebih konsisten dengan pemakaian frase peri de sebagai permulaan topik yang tertulis (kecuali 7:25 dan 16:12 yang biasanya tetap dianggap menyatu dengan topik sebelumnya) dan didukung oleh 11:18 yang menunjukkan bahwa isu di 11:18-34 diketahui Paulus dari laporan lisan (kecuali Paulus juga mengetahui isu ini lewat surat mereka).

Terlepas dari bagaimana kita mengelompokkan topik-topik yang ada, struktur surat 1Korintus dapat dijelaskan sebagai berikut:

Pendahuluan surat (1:1-3)

Ucapan syukur (1:4-9)

Perselisihan di dalam gereja (1:10-4:21)

Perselisihan antar jemaat (1:10-3:23)

Bentuk perselisihan: favoritisme pemipin (1:10-17)

Salib berkontradiksi dengan himat dunia (1:18-2:5)

Kebodohan injil (1:18-25)

Kebodohan penerima injil (1:26-31)

Kebodohan pemberita injil (2:1-5)

Hikmat sejati dinyatakan oleh Roh (2:6-16)

Perselisihan sebagai tanda keduniawian (3:1-4)

Konsep yang benar tentang pemimpin (3:5-17)

Pemimpin adalah pelayan (3:5-9)

Semua pemimpin harus berhati-hati dalam membangun (3:10-15)

Peringatan bagi yang membinasakan bait Allah (3:16-17)

Konklusi: yang terpenting adalah Allah (3:18-23)

Perselisihan jemaat melawan Paulus (4:1-21)

Hamba Allah dan penghakiman (4:1-5)

Para rasul sebagai teladan hikmat salib (4:6-13)

Nasehat untuk meneladani Paulus (4:14-21)

Percabulan dalam keluarga (5:1-13)

Masalah: perkawinan dengan ibu tiri dan kesombongan jemaat (5:1-2)

Solusi: diusir dari antara jemaat (5:3-5)

Argumen: analogi Paskah (5:6-8)

Penjelasan terhadap kesalahpahaman (5:9-13)

Sengketa hukum (6:1-11)

Hal yang memalukan gereja (6:1-6)

Kekalahan dari penuntut (6:7-8)

Peringatan bagi yang melakukan ketidakadilan (6:9-11)

Perzinahan dengan pelacur (6:12-20)

Konsep yang salah dan jawaban Paulus (6:12-14)

Argumen menentang percabulan dengan pelacur (6:15-20)

Perkawinan (7:1-40)

Persoalan: seks diangap dosa  (7:1)

Orang yang sudah menikah (7:2-24)

Suami-isteri: tidak boleh saling menjauhi (7:2-5)

Duda dan janda: lebih baik tetap sendiri, tapi kawin juga tidak apa-apa (7:6-9)

Suami-isteri Kristen: tidak boleh bercerai (7:10-11)

Pasangan campur: tidak boleh cerai, kecuali inisiatif dari non-Kristen (7:12-16)

Prinsip utama: tinggal dalam keadaan ketika bertobat (7:17-24)

Orang yang belum menikah (7:25-38)

Lebih baik hidup sendiri (7:25-28)

Alasan untuk lebih memilih hidup sendiri (7:29-35)

Keyakinan untuk menikah dan tidak menikah (7:36-38)

Kesimpulan: ikatan pernikahan adalah seumur hidup (7:39-40)

Daging persembahan berhala (8:1-11:1)

Dasar kehidupan Kristiani: kasih, bukan kebebasan atau pengetahuan (8:1-13)

Teladan Paulus: tidak menggunakan kebebasan atau hak demi orang lain  (9:1-27)

Jawaban detil seputar makan daging persembahan berhala (10:1-22)

Makan di kuil (10:1-24)

Makan daging yang dijual di pasar (10:25-26)

Makan di rumah orang kafir (10:27-11:1)

Penampilan perempuan dalam ibadah (11:2-16)

Pelecehan terhadap perjamuan Tuhan (11:17-34)

Karunia rohani (12:1-14:40)

Kriteria dasar: Yesus sebagai Tuhan (12:1-3)

Keberagaman dan kesatuan karunia-karunia rohani (12:4-11)

Kebersamaan dan saling ketergantungan (12:12-31)

Yang lebih penting dari karunia: kasih (13:1-13)

Perbedaan antara nubuat dan bahasa roh (14:1-19)

Kelebihan nubuat dibandingkan dengan bahasa roh (14:20-25)

Keteraturan ibadah dalam hal penggunaan karunia dan berkata-kata (14:26-40)

Kebangkitan orang percaya (15:1-58)

Dasar: kebangkitan Yesus Kristus (15:1-11)

Konsekuensi dan kepastian kebangkitan orang percaya (15:12-34)

Kebangkitan tubuh (15:35-49)

Perubahan radikal dan kemenangan di akhir jaman (15:50-58)

Pengumpulan uang untuk jemaat di Yerusalem (16:1-11)

Pengaturan pengumpulan uang (16:1-4)

Rencana perjalanan (16:5-11)

Kedatangan Apolos (16:12)

Penutup surat (16:13-24)

Nasehat-nasehat terakhir (16:13-18)

Salam terakhir (16:19-24)

 

Leave a Reply