Yakub Tri Handoko, Th. M.

 

Yosefus adalah seorang ahli sejarah Yahudi yang hidup pada abad ke-1 M (sekitar 37-100 M), tetapi tulisan-tulisannya seringkali bermanfaat untuk memahami situasi pada masa intertestamental. Dari sisi jenis literatur karya-karyanya cukup beragam, mulai dari autobiografi, tulisan historis sampai apologetis. Semua tulisan ini berguna dalam menjelaskan situasi politik, sosial, ekonomi maupun keagamaan bangsa Yahudi selama masa intertestamental maupun pada abad ke-1 M.

Sebagai seorang tokoh, Yosefus merupakan figur yang unik bagi siapa saja. Ia adalah tokoh terpelajar, imam, pengikut Farisi yang saleh, orang saleh, diplomat yang handal, jendral perang, [dianggap] pengkhianat, penulis dan apologet. Siapakah Yosefus sebenarnya?

Biografi singkat

Sebagian besar data yang kita ketahui tentang kehidupan Yosefus didasarkan pada biografi yang dia tulis. Tulisan ini dikenal dengan nama The Life of Flavius Josephus (biasa disingkat Life). Beberapa aspek kehidupan pribadinya memang dapat kita jumpai di tulisan-tulisannya yang lain, baik Jewish War (biasa disingkat War atau J. W.) maupun The Antiquities of the Jews (biasa disingkat Ant.). Walaupun data dalam tulisan-tulisan yang lain juga sangat bermanfaat, tetapi hal itu bersifat sekunder dan dalam beberapa kasus berbeda dengan yang ada di autobiografi. Karena itu, pembahasan tentang kehidupan Yosefus dalam makalah ini terutama didasarkan pada autobiografinya.

Yosefus (Iwshfos) berasal dari keturunan yang terpandang. Dari garis keturunan ibu, Yosefus memiliki darah bangsawan, karena nenek moyangnya adalah para raja dari dinasti Hashmonean (Life 1 §2). Dari pihak ayah ia termasuk keluarga imam yang terpandang (Life 1 §2). Yosefus bahkan menjelaskan bahwa ayahnya bukan hanya sekadar orang terpandang, tetapi juga terkenal di Yerusalem serta ternama karena kesalehannya (Life 1 §2).

Semua kelebihan di atas membuat Yosefus memiliki semua kesempatan untuk menjadi tokoh yang terpandang juga. Pada usia 14 tahun ia sudah sangat mahir dalam Hukum Taurat, sehingga imam besar dan para pemimpin lain sering berkonsultasi kepadanya seputar interpretasi hukum Yahudi (Life 2 §9; bdk. Luk 2:42, 46-47, 52). Pada usia 16 tahun ia memulai perjalanan relijiusnya dengan mencoba menggabungkan diri dengan beragam aliran keagamaan waktu itu, yaitu Farisi, Saduki dan Esene. Ia melakukan semua ini dengan upaya yang keras (Life 2 §11). Sesudah itu ia bahkan pernah mengikuti gaya hidup asketisisme yang ekstrim (Life 1 §11). Pilihan keyakinan relijiusnya akhirnya dijatuhkan pada aliran Farisi (Life 1 §12).

Pada waktu ia berusia 26 tahun ia dipilih sebagai utusan ke Roma untuk mengupayakan pembebasan beberapa imam yang ditawan di sana pada jaman Felix sebagai prokurator Yudea (Life 3 §13). Melalui providensia ilahi yang ajaib – perlindungan dari bahaya karam kapal dan perjumpaan dengan seorang Yahudi bernama Aliturius yang menjadi pemain teater favorit Kaisar Nero – ia bukan hanya berhasil menyelesaikan misinya, tetapi ia bahkan mendapat banyak hadiah dari Poppea, istri Nero (Life 3 §13-16).

Pengalaman selama di kota Roma menyadarkan dia tentang kebesaran dan kekuatan Kekaisaran Romawi. Pada waktu perang melawan Romawi mulai berkecamuk, ia mendesak orang-orang Yahudi untuk mengurungkan niat tersebut karena sia-sia dan bahkan membawa kerugian bagi bangsa Yahudi sendiri. Roma terlalu kuat bagi mereka, baik secara militer maupun keberuntungan. Bagaimanapun, usaha ini tidak membawa hasil karena mereka terlalu keras kepala (Life 4 §17-19).

Sebaliknya, Yosefus akhirnya tidak bisa melepaskan diri dari gerakan revolusi yang ada (ia mungkin takut dianggap sebagai pemberontak, bdk. Life 5 §20). Bermula sebagai utusan resmi dalam upaya persuasi kepada para perampok yang memiliki banyak senjata dan supaya senjata-senjata mereka diberikan kepada orang-orang yang kompeten dalam peperangan, Yosefus akhirnya menjadi jendral perang di Galilea, walaupun ia tidak pernah memiliki pengalaman perang secara langsung (Life 7 28-29; War 2.20.4-8 §568-584). Sesuai prediksi Yosefus, tentara Yahudi (khusus di kota Yotapata yang dia pertahankan) mengalami kekalahan telak (Life 74 §412). Ia dan 40 pengikutnya melarikan diri di sebuah gua. Tentara Romawi memaksa dia untuk menyerahkan diri dan ia pun berusaha membujuk para pengikut tetapi mereka menolak. Akhirnya disepakati bahwa mereka akan bunuh diri dengan cara membuang undi dan membunuh setap kelipatan 3. Anehnya, yang bertahan sampai akhir adalah Yosefus, sehingga menimbulkan spekulasi bahwa Yosefus sudah mengatur hasil dari undian tersebut. Ia pun menyerahkan diri kepada Romawi (67 M).

Selama menjadi tawanan Jendral Flavius Vespasianus ia menampilkan diri sebagai seorang nabi. Berdasarkan pernyataan kuno tentang munculnya seorang penguasa dunia, ia meramalkan Jendral Vespasianus akan menjadi kaisar Romawi berikutnya (War 3.8.9 §392-408). Ramalan ini pun benar-benar terjadi. Ia pun dibebaskan oleh kaisar yang baru, diberi tempat tinggal di Roma dan bahkan diberi gelar bangsawan sesuai nama keluarga kaisar, yaitu Flavius (Life 76 §423).

Ia selanjutnya menjadi asisten bagi Jendral Titus yang melanjutkan peperangan melawan bangsa Yahudi. Ia bertugas sebagai negosiator dengan para pemberontak dan menjelaskan kebiasaan-kebiasaan Yahudi kepada Jendral Titus sebagai masukan dalam menghadapi bangsa Yahudi. Usaha Yosefus sebagai negosiator – seperti mudah diduga – akhirnya gagal, karena ia sudah terlanjur dianggap sebagai pemberontak/pengkhianat oleh orang-orang sebangsanya. Posisi dia dalam peperangan sangat dilematis, karena baik orang Yahudi maupun Romawi sangat mencurigai dia (Life 75 §416). Peperangan terus berlangsung dan ia harus menyaksikan dengan mata kepala sendiri kehancuran Yerusalem, bait Allah dan pembunuhan tragis di berbagai tempat lain di Israel.

Di luar peperangan yang ia jalani, Yosefus juga aktif dalam menulis. Dalam hal tulis-menulis ini dia memang memiliki banyak keuntungan. Ia berkawan akrab dengan Agrippa II yang juga memberi kesaksian tentang ketepatan catatan Yosefus (Life 65 §364). Ia memiliki kesempatan untuk menggunakan perpustakaan Epaphroditus yang sangat besar (30 ribu buku) maupun arsip-arsip Romawi yang penting. Ia juga pasti memperoleh banyak data historis dari para penguasa Romawi.

Tulisan-tulisan Yosefus

Walaupun Yosefus menyatakan bahwa ia menulis beberapa kitab yang lain, tetapi yang sampai ke tangan kita sekarang hanyalah 4 (empat) kitab.

Jewish War

Ini adalah karya tulis pertama Yosefus yang terdiri dari 7 bagian. Para ahli biasanya berpendapat bahwa kitab ini ditulis antara tahun 75-79 M. Kitab ini dimulai dengan pendudukan Antiokhus (IV) Epifanes atas bait Allah, difokuskan pada perang revolusi Yahudi-Romawi dan diakhiri dengan perayaan kemenangan Vespasianus-Tius di Roma. Sebagian ahli menganggap kitab ini sebagai propaganda Romawi, karena ada beberapa bagian yang mengarah ke sana, misalnya ramalan kuno tentang datangnya penguasa dari timur, kehancuran bait Allah dan pujian terhadap kekuasaan Roma.

Bagaimanapun, para ahli sekarang cenderung melihat kitab ini secara lebih positif. Dalam kitab ini Yosefus memberi petunjuk bahwa ia justru sedang menyerang beberapa catatan yang anti-Yahudi dan pro-Romawi. Melalui kitab ini Yosefus justru ingin menampilkan sisi positif dari bangsa Yahudi. Ia berusaha membuktikan bahwa hanya sebagian kecil orang Yahudi saja yang terlibat dalam pemberontakan. Yang lain adalah pecinta kedamaian. Di samping itu, pemberontakan yang mereka lakukan merupakan ketidaksesuaian dengan ajaran Yudaisme dan telah mengakibatkan hukuman Allah atas diri mereka berupa kehancuran Yerusalem maupun bait Allah.

The Antiquities of the Jews

Antiquities of the Jews ditulis sekitar 93-94 M, 20 tahun sejak kemunculan kitab Jewish War (band. tahun ke-13 dari pemerintahan Domitian, saat Josephus berusia 56 tahun , Ant. 20. 11. 3. §267). Buku ini berisi 20 pasal (bagian) yang menelusuri sejarah orang Yahudi dari saat penciptaan hingga masa ketika Yosefus hidup.

Pendahuluan kitab ini menjelaskan tentang latar belakang penulisan kitab ini. Ada sekelompok orang yang tertarik dengan kebudayaan Yudea yang memaksanya untuk mempersiapkan sebuah catatan tentang konstitusi orang-orang Yudea. Orang-orang itu dipimpin oleh Efaproditus, yang kemungkinan adalah sekretaris kaisar Nero atau seorang ahli tata bahasa yang mati sekitar tahun 97 M. Selain itu dalam pendahuluannya dijelaskan tentang perkembangan dari pondasi filosofis undang-undang orang Yudea tadi. Yosefus menampilkan sedemikian rupa keunikan undang-undang, yakni paling tua dibandingkan dengan undang-undang yang lain, lebih murni secara filosofis, dan jika diaplikasikan secara universal bersifat ekfektif dalam memberikan hukuman bagi kejahatan dan pahala bagi kebaikan.

Yosefus menampilkan imam sebagai wujud dari bentuk aristrokasi senatorial yang tidak mentoleransi adanya bentuk monarki. Dia memulainya dengan kisah penciptaan dan para bapa leluhur yang mengajarkan tentang monoteisme Allah. Hal ini terus berlangsung hingga pemilihan imam-imam oleh Musa yang menjadi dasar aristrokasi mereka. Orang-orang Yudea memang sempat berpindah pada sistim monarki beberapa kali dan itu mencapat puncaknya pada pemerintahan Salomo (menurut Yosefus, sistim monarki lebih tepat diaplikasikan jika pemimpinnya adalah seorang filsuf).  

Sepuluh pasal pertama dari kitab ini menggambarkan persemakmuran yang muncul pertama kali, yaitu rezim yang memicu pembangunan Bait Allah yang pertama hingga saat kehancurannya. Sedangkan sisanya, yaitu sepuluh pasal berikutnya, berisi peristiwa kehancuran Bait Allah yang kedua. Walaupun demikian, dalam keseluruhan kitab ini Yosefus menampilkan efisiensi dari undang-undang orang Yudea tersebut dengan prinsip: hukuman bagi yang melanggarnya dan pahala bagi yang mentaatinya. Sebagai bentuk aplikasi dari tulisannya ini, Yosefus menggambarkan kehidupannya sendiri sebagai akibat langsung dari ketaatan terhadap undang-undang orang Yudea tersebut.         

Life of Flavius Josephus

Kitab ini ditulis pada akhir pemerintahan Kaisar Domitian (93 M). Dalam tulisan ini Yosefus menceritakan latar belakang keluarga, kecakapan dan perjalanan hidupnya sampai keadaannya yang baik dalam beberapa kali pergantian kepemimpinan di Roma. Tujuan penulisan kitab ini tampaknya untuk menunjukkan kredibilitas Yosefus sebagai penulis dan pembelaan diri terhadap tuduhan negatif yang sering ditujukan kepadanya. Dalam penutup kitab ini Yosefus secara eksplisit menyatakan, “and this is the account of the actions of my whole life; and let others judge of my character by them as they please” (Life 76 §430)

Against Apion

Karya yang terdiri dari 2 pasal ini diberi nama Against Apion, walaupun jika dilihat dari isinya hanya seperempat bagian yang menceritakan tentang Apion.  Tokoh lain yang juga menjadi objek bantahan Yosefus adalah Lysimakus, Khaeremon, dll. Mungkin akan lebih tepat jika Josefus menyebutnya sebagai On the Antiquity of the Judeans. Kitab ini merupakan usaha untuk memformulasikan kembali Antiquities of the Jews dalam bentuk yang lebih sistematis. Isinya mencakup tentang sejarah kuno orang Yudea, kemuliaan asal usul orang Yudea, kemurnian garis keturunan iman yang mempertahankan undang-undang bangsa Yudea, keistimewaan moral yang tak ada bandingannya dari undang-undang dan orang-orang Yudea sendiri sebagai sumber awal  nilai yang ada di dunia ini. Jika dilihat dari isinya secara keseluruhan, kelihatannya Yosefus berusaha untuk menyediakan bentuk apologetika pertanggungjawaban bagi orang-orang kafir yang tertarik pada Yudaisme maupun yang meragukan kredibilitas bangsa Yahudi (Ag. Ap. 2.28, 36, 38 §209-210, 261, 282).

Dalam kitab ini terlihat betapa Yosefus sangat mengagumi bangsanya. Gambaran ini berkontradiksi dengan pandangan umum bangsa Yahudi terhadap dia yang dianggap sebagai pengkhianat. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa sekalipun Yosefus gagal menjadi pahlawan militer bagi bangsanya, tetapi tidak demikian dalam hal ideologi.

Problem seputar tulisan Yosefus

Sebelum membahas tentang kontribusi tulisan Yosefus bagi studi Alkitab, ada baiknya kita menyinggung terlebih dahulu beberapa problem seputar keabsahan dari tulisan tersebut. Beberapa ahli sejarah kurang memberikan respek yang tinggi terhadap tulisan Yosefus karena beberapa hal. Yang paling utama adalah ketidakakuratan catatan Yosefus jika dibandingkan dengan bukti arkheologis lain. Salah satu topik yang sering diperdebatkan dalam hal ini adalah detil kisah heroik di Masada. Antara catatan Yosefus dan penemuan arkheologis di Masada terdapat beberapa perbedaan, misalnya detil lokasi maupun kronologi cerita. Berikut ini adalah beberapa contoh konkrit perbedaan yang ada.

 

Tulisan Yosefus Penemuan arkheologi
Semua harta dikumpulkan di satu tempat untuk dibakar Terdapat beberapa tempat pembakaran
Eleazar memerintahkan pengikutnya untuk membakar semua barang kecuali persediaan makanan Beberapa ruangan yang digunakan sebagai gudang makanan juga terbakar
960 orang bunuh diri bersama secara bergantian di satu ruangan Tempat yang ada tidak mungkin menampung 960 orang
Semua orang terlibat dalam bunuh diri ini 25 kerangka tubuh ditemukan di sebuah gua di dekat tebing

Problem di atas tidak sepatutnya meruntuhkan catatan Yosefus secara keseluruhan. Sekalipun Yosefus melakukan kesalahan dalam beberapa detil informasi, tetapi tidak berarti bahwa keseluruhan kisah tersebut adalah karangan Yosefus. Ada beberapa argumen yang mendukung pandangan ini.

  1. Praktik bunuh diri yang dilakukan orang-orang Yahudi selama perang melawan Romawi merupakan fenomena yang umum dan bisa dimengerti. Sebagai kelompok radikal yang menolak pemerintahan kafir, mereka lebih memilih untuk mati daripada menjadi budak orang kafir.
  2. Dalam banyak kasus lain Yosefus secara umum menunjukkan ketepatan dalam hal detil, misalnya ukuran dan geografi.
  3. Secara umum Yosefus memiliki sumber yang memadai: dia saksi mata dalam peristiwa, dia memiliki relasi yang dekat dengan para penguasa (walaupun subjektivitas informasi dari mereka tetap tidak terelakkan), dia mendapat akses ke perpustakaan dan data resmi kerajaan.
  4. Yosefus sendiri menunjukkan sikap yang kritis terhadap para penulis sejarah.

Problem lain seputar tulisan Yosefus berkaitan dengan pemelihara tulisan-tulisannya. Seperti sudah banyak diungkapkan oleh para ahli, manuskrip tulisan Yosefus (kutipan, terjemahan kuno maupun salinan) hanya dipelihara oleh orang-orang Kristen. Tidak ada orang Yahudi yang mau menghargai karya Yosefus, karena ia dianggap sebagai pengkhianat. Problem ini diperparah dengan bukti tekstual tentang penambahan-penambahan (interpolasi) tertentu yang sangat bernuansa Kristiani.

Walaupun problem ini sekilas tampak serius, namun para ahli sekarang semakin bersikap positif. Interpolasi yang dilakukan dalam banyak kasus sangat mudah untuk dideteksi melalui kutipan bapa gereja awal, karakteristik gaya bahasa Yosefus dan perbandingan dengan bagian-bagian lain dalam tulisannya. Di samping itu, interpolasi yang bernuansa Kristiani hanya berkaitan dengan sedikt teks saja.

Problem paling serius bagi orang Kristen mungkin adalah perbedaan antara catatan Yosefus dan Alkitab. Dalam beberapa kasus perbedaan yang ada memang hanya bersifat komplimen, misalnya detil kematian Herodes Agripa I dalam tulisan Yosefus (Ant. 19.8.2 §343-361; bdk. Kis 12:20). Walaupun demikian, ada beberapa catatan yang sulit diharmonisasikan, misalnya sensus Kirenius. Menurut Yosefus sensus di bawah Kirenius diadakan setelah jaman Herodes Arkhealus (Ant. 18.1.1), tetapi Lukas meletakkan peristiwa ini pada masa Herodes Agung (Luk 2:1).

Dalam kasus ini ada banyak kemungkinan cara untuk mengharmonisasikan. Yang paling penting kita perlu mengingat bahwa penggunaan kata prwtos (Luk 2:1) mengindikasikan bahwa Lukas juga mengetahui adanya sensus-sensus lain selama pemerintahan Kirenius. Jumlah sensus yang berkali-kali ini merupakan fenomena yang umum ada waktu itu untuk keperluan pajak. Hal lain yang perlu dicermati adalah ketidakjelasan silsilah gubernur Siria. Ada kemungkinan Kirenius memegang jabatannya lebih dari satu periode.

Pentingnya tulisan Yosefus bagi studi Alkitab

Yosefus meninggalkan karya tulis yang sangat bernilai bagi mereka yang mempelajari Alkitab dengan sungguh-sungguh. Yang paling utama, menyediakan catatan historis tentang masa intertestamental dan situasi abad ke-1 M yang paling komprehensif dan sistematis. Ia menuliskan semuanya secara teratur dan terperinci. Tanpa tulisan Yosefus kita hanya bisa menebak apa yang terjadi pada masa itu berdasarkan kitab 1Makabe, inferensi dari tulisan Apokrifa lain maupun Pseudepigrafa, kutipan dalam tulisan Romawi, sekelumit informasi dari Perjanjian Baru dan penemuan-penemuan arkheologi lain yang berkaitan. Yosefus banyak memberikan informasi seputar geografi, tokoh, tradisi maupun kelompok masyarakat tertentu. Melalui tulisan Yosefus kita bisa merekonstruksi situasi pada masa Alkitab dengan lebih detil dan jelas.

Kedua, memberikan pencerahan terhadap beberapa teks Perjanjian Baru. Mengingat catatan Yosefus tentang tokoh, peristiwa, tempat atau golongan biasanya lebih panjang daripada yang ada di Perjanjian Baru, maka catatan-catatan itu tidak jarang sangat membantu dalam menafsirkan suatu teks. Sebagai contoh, Yosefus menyediakan keterangan yang lebih detil tentang sejarah, keyakinan, sikap dan relasi antara Farisi dan Saduki (Ant. 13.171, 293-298; 18.1.2-18; War 2.8.14). Dari sini kita tahu bahwa Farisi dan Saduki sebenarnya merupakan musuh bebuyutan. Ketika kedua golongan ini bersekutu menjebak Yesus, maka kita mengetahui betapa besarnya kebencian mereka terhadap Yesus, sampai-sampai mereka mau berdamai dengan musuh besar mereka.

Ketiga, memberikan bukti arkheologis yang paling tua. Terlepas dari beberapa problem seputar tulisan Yosefus, karya tulis ini tetap tidak dapat diabaikan. Kitab yang ditulis pada abad ke-1 M ini secara kriteria historis harus diterima validitasnya. Bukan berarti tulisan ini mengandung kebenaran dalam semua yang dikisahkan (tidak ada sejarah yang sempurna dan ojektif), tetapi banyak hal berharga dapat diambil ditemukan dalam karya tulis ini.

Keempat, menunjukkan keberagaman konsep dalam Yudaisme abad ke-1. Hal ini tidak hanya terlihat dari beragam kelompok yang disebutkan Yosefus (Farisi, Saduki, Esenes, Zeaot, dsb.), tetapi juga bagaimana masing-masing kelompok itu berinteraksi. Dari situasi perang yang diceritakan Yosefus terlihat bahwa tidak semua kelompok memiliki sikap yang seragam terhadap perang yang sedang berkecamuk.

Kelima, memberikan sudut penafsiran kitab suci yang lain. Salah satu aspek yang kadangkala kurang mendapat perhatian dari studi tentang Yosefus adalah peranannya sebagai penafsir Alkitab. Tulisannya memang tidak berupa tafsiran atau terjemahan hurufiah dari Alkitab. Bagaimanapun, ketika ia menceritakan ulang kisah-kisah Alkitab maupun memberikan komentar teologis pribadi terhadap peristiwa yang terjadi, ia telah memaparkan konsep teologis yang ia miliki. Para tokoh Alkitab ditampilkan ulang dengan tafsiran tertentu dan maksud tertentu pula sesuai dengan situasi waktu itu dan tujuan penulisan Yosefus. Penekanan dan modifikasi di beberapa bagian menunjukkan bagaimana pandangan Yosefus tentang teks-teks tersebut dan bagaimana ia mengaplikasikan firman Tuhan itu dalam kehidupan praktis yang konkrit.

Keenam, memberi peneguhan terhadap kredibilitas historis Perjanjian Baru. Ada banyak cara tulisan Yosefus telah memberi manfaat dalam memberi dukungan bagi kredibilitas catatan Perjanjian Baru, misalnya ketepatan peristiwa historis tertentu, geografi, gambaran tentang kelompok masyarakat tertentu, tokoh historis, dsb. Yang paling penting dan populer, Yosefus juga memberikan rujukan tentang kekristenan, yaitu tentang kematian Yohanes Pembaptis (Ant. 18.5 §116-119), Yakobus saudara Tuhan Yesus (Ant. 20.9 §200) dan Yesus yang disebut Kristus (Ant. 18.3 §63-64). Rujukan yang terakhir ini disebut Testimonium Flavianus (Kesaksian Flavius). Rujuan ini sangat penting dalam diskusi seputar Yesus Historis (Historical Jesus).

Catatan tentang Yesus tersebar dalam dua versi: pendek dan panjang. Versi yang panjang terdapat dalam terjemahan buku Jewish Wars ke dalam bahasa Rusia kuno. Versi ini sering disebut “Slavonic Josephus” atau “Testimonium Slavianum”. Kita hanya akan menyoroti versi yang pendek saja, karena dalam versi Slavianum terdapat banyak tambahan yang bernuansa Kristiani. Penyelidikan para sarjana mengarah pada satu kesimpulan: versi Slavianum banyak diubah oleh orang Kristen, sehingga tidak bisa dijadikan sebagai sumber yang terpercaya.

Berikut ini adalah versi pendek dari catatan Yosefus tentang Yesus:

Sekitar waktu ini hiduplah Yesus, seorang manusia yang bijaksana, jika ini sungguh-sungguh layak untuk menyebutnya sebagai manusia, karena ia adalah seorang pembuat tindakan-tindakan ajaib dan seorang guru dari orang-orang yang menerima kebenaran itu dengan penuh hasrat. Ia memenangkan banyak orang Yahudi maupun Yunani. Ia adalah Mesias. Pilatus, ketika ia mendengar dia dituduh oleh para pemimpin kita, menghukum dia ke tiang salib, [tetapi] mereka yang pertama-tama telah mengasihi dia tidak berhenti, karena pada hari ketiga dia menampakkan diri kepada mereka kembali dalam keadaan hidup, sebab para nabi Allah telah menubuatkan hal-hal ini dan banyak lagi hal lain tentang dia. Sampai hari ini suku Kristen, yang diberi nama berdasarkan namnya, tidak musnah.   

Keaslian catatan Yosefus di atas telah menjadi fokus perdebatan yang panjang sampai sekarang. Sebagian sarjana berpendapat bahwa seluruh teks tersebut adalah asli, sedangkan yang lain menolak seluruhnya. Sebelum menyelidiki bagian mana yang asli dan bagian mana yang diubah oleh orang Kristen, kita lebih dahulu akan membahas argumentasi dari mereka yang menolak keaslian catatan ini. Secara garis besar argumentasi mereka dapat dibagi menjadi tiga kelompok.

Pertama, dari sisi konteks. Pada bagian 18 dari buku Antiquities of the Jews Josephus sedang mengkritik Pilatus dan/atau para pemimpin Yahudi secara eksplisit. Catatan di atas tampak tidak memenuhi tujuan Josephus karena terlalu implisit dalam menampilkan kesalahan Pilatus dan/atau para pemimpin Yahudi.

Kedua, dari sisi pengkalimatan/ungkapan. Beberapa bagian dari catatan di atas hampir dapat dipastikan merupakan tambahan dari orang Kristen, misalnya:

  1. Jika ini sungguh-sungguh layak menyebutnya sebagai seorang manusia. Ungkapan ini seakan-akan ingin menyiratkan bahwa Yesus adalah Allah. Sebagai seorang Yahudi yang menganut monoteisme dan tidak percaya kepada Yesus, Yosefus tidak mungkin menulis kalimat seperti ini. Kalimat ini mungkin ditambahkan oleh orang Kristen untuk mengoreksi sebutan sebelumnya bahwa Yesus hanyalah seorang manusia yang bijaksana.
  2. Ia adalah mesias. Kalimat ini menunjukkan pengakuan terhadap kemesiasan Yesus (bdk. frase “yang disebut Kristus” dalam tulisan Yosefus sebelumnya), apalagi dalam teks Yunani kata “mesias” (cristos) muncul di awal kalimat sebagai penekanan. Selain itu, “pengakuan” Josephus ini tidak sesuai dengan konsepnya tentang mesias. Bagi Yosefus, mesias yang dijanjikan dalam Alkitab bukan merujuk pada seorang Yahudi, tetapi pada Jendral Vespasianus yang nanti akan menjadi kaisar. Dengan konsep seperti ini dan kedekatannya dengan keluarga Vespasianus, Yosefus tidak mungkin berani mengakui Yesus sebagai mesias, baik secara implisit maupun eksplisit.
  3. Pada hari ketiga dia menampakkan diri kepada mereka kembali dalam keadaan hidup. Sebagai seorang Yahudi, Yosefus mungkin percaya pada kebangkitan orang mati, karena peristiwa seperti itu pernah disinggung beberapa kali dalam Alkitab (1Raj 17:17-24; 2Raj 12:31). Bagaimanapun, ia kemungkinan besar hanya memiliki konsep kebangkitan orang mati di akhir jaman (bdk. Marta di Yoh 11:24). Ia pasti tidak percaya bahwa Yesus bangkit dari kematian. Alasan lain menolak keaslian bagian ini adalah ungkapan “pada hari ketiga” yang sangat bernuansa Kristiani (Mat 16:21; 17:23; 20:19; Luk 9:22; 18:33; 1Kor 15:4).
  4. Para nabi Allah telah menubuatkan hal-hal ini dan banyak lagi hal lain tentang dia. Kalimat ini dapat dipastikan berasal dari orang Kristen. Ungkapan yang dipakai terlihat jelas meniru para penulis PB yang melihat setiap detil hidup Yesus (terutama penyaliban dan kebangkitan-Nya) sebagai penggenapan dari nubuat para nabi. Hal ini semakin diperkuat dengan tambahan “banyak lagi hal lain tentang dia”.

Ketiga, dari sisi bukti eksternal. Para bapa gereja abad ke-2 dan ke-3 mengenal keberadaan tulisan Yosefus, terutama Irenaeus dan Tertulianus, namun mereka tidak pernah mengutip catatan Yosefus di atas. Bapa gereja yang mengutip catatan itu pertama kali adalah Eusebius (abad ke-4). Hal ini tampak sangat janggal jika dikaitkan dengan fakta bahwa bapa gereja awal adalah golongan apologis yang berjuang menentang bidat dan membuktikan kebenaran Kristen. Seandainya catatan Yosefus di atas memang ada waktu itu, mereka pasti akan menyinggung hal ini dalam apologia mereka. Yang paling menyolok adalah bapa gereja Origen yang dua kali menyatakan bahwa Yosefus tidak percaya Yesus sebagai mesias. Seandainya kalimat “Ia adalah mesias” memang ada dalam catatan Yosefus, Origen pasti tidak akan mengatakan seperti itu.

Sebelum menyelidiki keaslian catatan tersebut secara detil, kita harus mengakui lebih dahulu bahwa beberapa argumentasi di atas memang sangat meyakinkan. Kita tidak bisa memungkiri bahwa catatan tersebut mengandung beberapa ubahan/modifikasi dari pihak orang Kristen. Pertanyaannya, apakah beberapa bagian yang diubah tersebut dapat dijadikan alasan untuk menolak keaslian seluruh catatan itu?

Pertanyaan di atas membawa kita pada beberapa argumentasi yang mendukung keaslian catatan tersebut, walaupun tidak setiap kata dalam teks tersebut bisa dipertahankan keasliannya.

  1. Sebutan “seorang manusia yang bijaksana” untuk Yesus pasti asli dari Josephus. Ia juga memakai sebutan ini untuk Salomo (Ant. 8.2.7 §53) maupun Daniel (Ant. 10.11.2 §237). Seandainya bagian ini ditulis oleh orang Kristen, maka ia pasti akan memakai gelar/sebutan yang lebih tinggi untuk Yesus.
  2. Sebutan sebagai pembuat tindakan-tindakan ajaib juga sangat mungkin berasal dari Josephus sendiri. Kata Yunani paradozwn ergwn bisa berarti “tindakan-tindakan ajaib” atau “tindakan-tindakan yang kontroversial”. Jika arti terakhir benar, bagian ini menyiratkan sikap negatif Josephus terhadap Yesus, sehingga bagian ini bisa dipastikan keasliannya. Jika arti pertama yang benar, bagian ini hanyalah pengakuan yang sangat umum pada waktu itu. Beberapa penulis kafir dan para rabi Yahudi juga mengakui kemampuan Yesus mengadakan tindakan ajaib, walaupun mereka melihat hal itu sebagai tindakan magis/sihir. Sifat bagian ini yang netral (atau bahkan negatif) menunjukkan bahwa ini bukan tambahan dari orang Kristen. Seandainya orang Kristen yang menambahkan bagian ini, ia pasti akan memakai sebutan yang lebih khusus untuk tindakan ajaib, misalnya “tanda” (shmeion) atau “mujizat” (dunamis).
  3. Sebutan “seorang guru dari orang-orang yang menerima kebenaran itu dengan penuh hasrat” kemungkinan besar berasal dari Josephus. Kata “dengan penuh hasrat” ({hdonh) memiliki konotasi negatif, karena kata {hdonh sering dipakai dalam arti “kesenangan” (bukan “sukacita”). Dari konotasi arti seperti inilah istilah modern hedonisme (paham yang menekankan kesenangan/pemuasan hawa nafsu) berasal.
  4. Keterangan bahwa Yesus “memenangkan banyak orang Yahudi dan Yunani” tidak mungkin berasal dari orang Kristen. Kata yang dipakai untuk “memenangkan” tidak terlalu spesifik dan bisa diartikan secara positif (“memenangkan”) maupun negatif (“menyeret”). Seandainya berasal dari orang Kristen, maka kata yang dipakai pasti lebih spesifik dan positif. Sekalipun arti kata ini positif, hal itu tetap tidak berasal dari orang Kristen, karena dalam kenyataannya Yesus tidak banyak memenangkan orang Yunani. Ia memang berinteraksi dengan orang Yunani selama pelayanan-Nya (misalnya Yoh 12:20-22), tetapi jumlah mereka yang bertobat tidak banyak.
  5. Kalimat “mereka yang pertama-tama telah mengasihi dia tidak berhenti” merupakan karakteristik Yosefus sehingga dapat dipastikan berasal dari Yosefus. Para penulis kafir lain juga mengakui keberlangsungan kekristenan setelah kematian Yesus. Selain itu, catatan Yosefus memberi kesan bahwa keberlangsungan kekristenan bukan karena kebangkitan Yesus, tetapi kasih para pengikut. Konsep seperti ini kemungkinan besar tidak berasal dari orang Kristen yang biasanya meyakini bahwa keberlangsungan kekristenan adalah karena faktor kebangkitan Yesus.
  6. Penyebutan “suku” untuk “kekristenan” tampak sangat janggal dan tidak mungkin berasal dari orang Kristen sendiri.

Menimbang semua argumentasi dari dua sisi, baik yang menolak maupun yang menerima keaslian catatan Yosefus, kita dapat merekonstruksi seperti apa kira-kira kalimat asli dari Yosefus. Walaupun masih menyisakan ruang untuk diperdebatkan, bagian yang bergaris bawah tampaknya berasal dari Josephus sendiri:

Sekitar waktu ini hiduplah Yesus, seorang manusia yang bijaksana, jika ini sungguh-sungguh layak untuk menyebutnya sebagai manusia, karena ia adalah seorang pembuat tindakan-tindakan ajaib dan seorang guru dari orang-orang yang menerima kebenaran itu dengan penuh hasrat. Ia memenangkan banyak orang Yahudi maupun Yunani. Ia adalah Mesias. Pilatus, ketika ia mendengar dia dituduh oleh para pemimpin kita, menghukum dia ke tiang salib, [tetapi] mereka yang pertama-tama telah mengasihi dia tidak berhenti, karena pada hari ketiga dia menampakkan diri kepada mereka kembali dalam keadaan hidup, sebab para nabi Allah telah menubuatkan hal-hal ini dan banyak lagi hal lain tentang dia. Sampai hari ini suku Kristen, yang diberi nama berdasarkan namanya, tidak musnah.   

Berdasarkan rekonstruksi di atas, kita sekarang akan menarik beberapa konklusi penting seputar kehidupan Yesus. Beberapa konklusi tersebut sama dengan yang kita dapat dari tulisan para sejarahwan kafir lainnya. (1) Yesus melayani pada jaman Pilatus menjadi wali negeri. Berdasarkan konteks tulisan Yosefus, frase “sekitar waktu ini” merujuk pada waktu pemerintahan Pilatus; (2) Yesus dalam pelayanannya mengadakan berbagai tindakan yang luar biasa; (3) Yesus adalah guru yang bijaksana dan diikuti oleh banyak orang; (4) Yesus disalib berdasarkan persetujuan Pilatus atas tuduhan para pemimpin Yahudi (Mat 27:11-14; Mar 15:1-5; Luk 23:1-5; Yoh 18:28-30); (5) kekristenan tidak musnah setelah kematian Yesus.

Leave a Reply