PENDAHULUAN SURAT

 

1Dari Paulus, yang oleh kehendak Allah dipanggil menjadi rasul Kristus Yesus, dan dari Sostenes, saudara kita, 2kepada jemaat Allah di Korintus, yaitu mereka yang dikuduskan dalam Kristus Yesus dan yang dipanggil menjadi orang-orang kudus, dengan semua orang di segala tempat, yang berseru kepada nama Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Tuhan mereka dan Tuhan kita. 3Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu.

 

Pendahuluan surat kuno memiliki pola dasar [Dari] A [kepada] B, salam. Dengan kata lain, surat kuno dimulai dengan nama penulis, nama penerima dan salam. Cara penulisan seperti ini berbeda dengan cara modern yang meletakkan nama pengirim di akhir surat.

Paulus memang mengikuti pola dasar ini, tetapi ia melakukan beberapa perubahan yang lebih panjang dan bernuansa Kristiani. Ia biasanya menjelaskan siapa dirinya melaui beberapa sebutan yang dia anggap perlu ditekankan dalam relasinya dengan penerima surat atau yang sesuai dengan isi surat. Sebagai contoh, kepada jemaat Galatia yang meragukan kerasulannya, Paulus menyebut diri “seorang rasul, bukan karena manusia, jga bukan oleh seorang manusia, melainkan oleh Yesus Kristus dan Allah, Bapa” (Gal 1:1). Kepada jemaat Roma yang belum pernah dia kenal secara langsung (Rom 1:9-10; 15:22-24), Paulus menyebut diri sebagai “dipanggil menjadi rasul dan dikhususkan untuk memberitakan injil Allah” (Rom 1:1), lalu ia memakai tiga ayat untuk menjelaskan injil yang dia beritakan (Rom 1:2-4). Dengan demikian bagi Paulus identitas pengirim berfungsi lebih daripada sekadar pemberitahuan tentang siapa yang mengirim surat itu. Begitu pula dengan pendahuluan surat 1Korintus, sebagaimana akan dipaparkan dalam bagian tafsiran.

Paulus juga mengadakan perubahan pada identitas penerima surat. Ia menyebut mereka dengan ungkapan Kristiani tertentu. Ungkapan yang dipilih kadangkala sangat sederhana dan hanya menunjukkan tempat domisili mereka (Gal 1:2b). Dalam kesempatan lain ia memakai beberapa sebutan sekaligus, misalnya jemaat di Roma disebut “yang dikasihi Allah, yang dipanggil dan dijadikan orang-orang kudus” (Rom 1:7a). Penerima surat kadangkala seluruh jemaat lokal tertentu (Gal 1:2b), kadangkala ditambah pemegang jabatan tertentu dalam jemaat (Flp 1:1), tidak jarang ditujukan pada komunitas Kristen yang lebih luas (1Kor 1:2; 2Kor 1:1).

Pada bagian salam, Paulus menggunakan dua kata yang selalu dia pakai dalam surat-suratnya (1Kor 1:3; 2Kor 1:2; Gal 1:3; Ef 1:2; Flp 1:2; Kol 1:2; 1Tes 1:1; 2Tes 1:2; 1Tim 1:2; 2Tim 1:2; Tit 1:4; Flm 1:3), yaitu kasih karunia (charis) dan damai sejahtera (eirēnē). Sebagian rasul lain juga menggunakan dua kata ini dalam pendahuluan surat mereka (1Pet 1:2; 2Pet 1:2; 2Yoh 1:3; Yud 1:2; Why 1:4). Satu-satunya perkecualian adalah Yakobus, saudara Tuhan Yesus, yang secara konsisten memakai salam pendek chairein (Yak 1:1; Kis 15:23) yang lebih umum ditemukan dalam surat-surat kuno lainnya (bdk. Kis 23:26).

1          Dalam ayat ini terdapat dua nama sebagai pengirim surat, yaitu Paulus dan Sostenes. Masing-masing nama ini memiliki sebutan tersendiri yang berbeda, karena relasi keduanya dengan jemaat Korintus juga berbeda. Paulus adalah rasul, sedangkan Sostenes hanyalah saudara seiman. Peletakan keterangan “yang oleh kehendak Allah dipanggil menjadi rasul Yesus Kristus” sebelum nama Sostenes dan penggunaan kata sambung “dan” (kai) untuk memisahkan keduanya adalah disengaja dengan maksud untuk menegaskan bahwa Sostenes bukanlah rasul.

Paulus memang berhati-hati dalam memberi keterangan tentang dirinya atau teman sekerjanya. Ketika nama Paulus muncul bersama nama lain, Paulus kadangkala tidak memberikan keterangan apapun, sehingga beberapa nama tersebut bisa diletakkan secara berdampingan (1Tes 1:1; 2Tes 1:1). Pada kesempatan berbeda ia memilih suatu sebutan yang bisa diterapkan pada dirinya atau rekan sekerjanya, misalnya ia memakai keterangan “hamba-hamba Kristus Yesus” untuk dirinya dan Timotius (Flp 1:1). Dalam pendahuluan surat 1Korintus ia memakai sebutan yang berbeda untuk dirinya maupun Sostenes. Keputusan ini pasti didorong oleh pertimbangan tertentu. Ia ingin menekankan otoritas kerasulannya kepada jemaat Korintus, karena mereka memang sedang meragukan hal tersebut: sebagian jemaat lebih menyukai rasul lain (1:12), jemaat Korintus menghakimi (4:1-5) dan menguji (9:1-23; bdk. 2Kor 11:7-9) kerasulan Paulus. Pada masa sesudahnya pun mereka justru lebih mempercayai rasul-rasul palsu (2Kor 11:4-5, 21). Dalam isi surat Paulus nanti akan memberikan bukti bagi kerasulannya (4:1-3, 15; 9:1-3; 2Kor 3:2-3; 12:12); di pendahuluan surat ia hanya menyatakan statusnya saja beserta beberapa keterangan tambahan.

Paulus. Banyak orang sering salah memahami nama “Paulus”. Nama ini dianggap sebagai nama baru yang dimiliki Saulus setelah dia bertobat. Hal ini tentu saja tidak tepat. Ada beberapa bukti yang bertentangan dengan anggapan umum seperti ini. Sebagai seorang Yahudi yang memiliki kewarganegaraan Romawi (Kis 16:37; 21:39; 22:25) dan lahir di diaspora (Kis 22:3), Paulus memiliki nama Yahudi (Saulus) maupun Latin (Paulus). Nama Latin “Paulus” secara hurufiah berarti “kecil”. Apakah nama ini berkaitan dengan postur tubuh Paulus yang menurut tradisi memang kecil, kurang elok dan tidak meyakinkan (bdk. 2:3; 2Kor 10:10))? Kita tidak bisa memastikan, walaupun kemungkinan ke arah sana tetap terbuka.

Setelah pertobatannya (Kis 9) nama “Saulus” juga tetap dipakai (Kis 11:25, 30; 12:25; 13:1, 2, 4, 7, 9). Ketika dia menjelaskan kisah pertobatannya di hadapan orang-orang Yahudi, Paulus tetap memakai nama “Saulus” (Kis 22:7, 13). Demikian pula ketika dia menceritakan kisah itu di depan Raja Herodes Agripa (Kis 26:14) yang menguasai budaya Yahudi (Kis 26:3a).

Nama “Paulus” baru dipakai secara konsisten setelah Paulus bersama Barnabas diutus untuk memberitakan injil kepada orang-orang non-Yahudi (Kis 13:7, 9, 13, 16, 42, 43, 45, 46, dst). Pengubahan penyebutan ini hanya merupakan salah satu strategi pekabaran injil yang dilakukan Paulus. Dalam istilah modern di bidang pekabaran injil strategi ini disebut kontekstualisasi injil. Paulus sendiri selalu berusaha menyesuaikan diri dengan budaya orang lain – tanpa harus berkompromi – supaya orang lain lebih terbuka terhadap injil (9:19-22).

Dalam pendahuluan surat 1Korintus Paulus memberi penekanan pada statusnya sebagai rasul (apostolos). Dalam PB, kata apostolos bisa merujuk pada status (jabatan) dan fungsi. Dua belas murid Tuhan Yesus (Mat 10:2//Luk 6:13) dan beberapa orang tertentu (misalnya Paulus dan Barnabas, Kis 14:14; Rom 1:1; bdk. 1Kor 15:5-7) merupakan rasul dalam arti status dan fungsi, walaupun aspek yang pertama jauh lebih dominan. Di sisi lain, semua orang percaya adalah rasul secara fungsi, yaitu orang yang diutus (kata Yunani untuk “mengutus” adalah apostellō, bdk. Yoh 13:16). Di Filipi 2:25 Epafroditus disebut sebagai apostolos jemaat Filipi. Beberapa orang yang dipercaya dalam pengumpulan bantuan untuk orang-orang kudus di Yerusalem disebut sebagai apostoloi (bentuk jamak dari apostolos) jemaat-jemaat (2Kor 8:23).

Ketika Paulus menyebut diri sebagai apostolos di 1Korintus 1:1 ia lebih memikirkan sebutan apostolos dari sisi status atau jabatan, karena hal itulah yang sedang dipersoalkan oleh jemaat Korintus. Hal ini tidak berarti bahwa ia meniadakan makna fungsi dari sebutan apostolos. Ia sendiri mengakui bahwa Kristus mengutus (apostellō) dia untuk memberitakan injil. Walaupun demikian, makna apostolos dari sisi status atau jabatan tetap lebih mendapat penekanan di sini.

Paulus tidak berhenti sampai pada sebutan apostolos. Ia berusaha menjelaskan status ini melalui beberapa keterangan tertentu yang saling berkaitan dan meneguhkan satu dengan lainnya. Walaupun dalam taraf tertentu keterangan-keterangan ini saling tumpang-tindih, namun hal itu memang dimaksudkan sebagai bentuk penekanan.

Pertama, kerasulannya adalah panggilan. Ia menggambarkan dirinya sebagai orang yang terpanggil (klētos). Dalam teks Yunani kata ini diletakkan dalam urutan pertama setelah nama Paulus. Posisi seperti ini menunjukkan bahwa aspek kerasulan ini adalah yang sangat penting. Aspek ini berkaitan dengan peristiwa panggilan khusus yang diterima Paulus ketika dia dalam perjalanan menuju Damsyik (Kis 9:1-18). Panggilan ini digambarkan dalam isi surat sebagai kelahiran bayi yang lebih cepat daripada seharusnya (15:8).

Aspek ini perlu ditegaskan oleh Paulus karena dia tidak termasuk saksi mata dari kehidupan Yesus maupun orang yang dipanggil Yesus untuk menjadi pengikut-Nya, padahal menjadi saksi mata dan dipanggil Yesus merupakan salah satu persyaratan untuk menjadi rasul (bdk. Kis 1:21-22). Melalui tambahan keterangan “dipanggil” (klētos) Paulus ingin menyatakan bahwa dia pun sebenarnya sama seperti 12 rasul lain, yaitu sama-sama menerima panggilan langsung dari Tuhan Yesus (Luk 6:13; Kis 9:6, 15-16). Dia pun layak disebut sebagai saksi mata, walaupun dia hanya menyaksikan Tuhan yang bangkit.

Kedua, dia adalah rasul Kristus Yesus. Ungkapan “rasul Kristus Yesus” dapat dipahami dalam dua cara. Jika frase “Kristus Yesus” (Christou Iēsou) di sini berfungsi sebagai possesive genitive (kasus genitif yang menunjukkan kepemilikan), maka ungkapan ini berarti “rasul milik Kristus Yesus”. Jika berfungsi sebagai subjective genitive (kasus genitif yang menunjukkan pelaku tindakan), maka berarti “rasul [yang diutus] oleh Kristus Yesus”. Dari dua alternatif ini, kemungkinan yang terakhir tampaknya yang paling sesuai, sekalipun makna yang pertama juga pasti termasuk di dalamnya. Makna ini lebih sesuai dengan keterangan “terpanggil” yang sudah kita bahas sebelumnya maupun “oleh kehendak Allah” yang sebentar akan kita pelajari.

Apakah maksud Paulus menjelaskan bahwa dia adalah rasul oleh Kristus Yesus? Ungkapan ini tampaknya dimaksudkan untuk menekankan bahwa Paulus memiliki tugas kerasulan yang khusus dari Kristus Yesus, yaitu memberitakan injil. Dalam 1:17 dia menyatakan “sebab Kristus mengutus aku bukan untuk membaptis, tetapi untuk memberitakan Injil”. Seorang rasul memiliki dan berhak menjabat beragam tugas, namun Paulus mengetahui dengan pasti bahwa panggilannya yang terutama dan khusus adalah memberitakan injil (bdk. Kis 9:15-16).

Ketiga, kerasulannya terjadi melalui kehendak Allah. Penjelasan ini sekilas hanya mengulang penjelasan sebelumnya, namun ungkapan “oleh kehendak Allah” di sini memiliki penekanan yang berbeda. Kalau ungkapan “dipanggil” (klētos) lebih menyoroti aspek proses, ungkapan “oleh kehendak Allah” (dia thelēmatos theou) lebih pada instrumen dari panggilan tersebut. Kehendak Allah adalah segalanya bagi Paulus. Allah yang memanggil Paulus, bukan sebaliknya. Gambaran panggilan ilahi seperti bayi yang lahir secara prematur (15:8) mempertegas ide bahwa Paulus sebenarnya masih belum mau percaya kepada Tuhan Yesus, apalagi menjadi rasul Allah. Gambaran ini juga mengandung makna ketidaklayakan (15:9-10). Kasih Kristuslah yang menguasai dia (2Kor 5:14-15).

Kebenaran ini juga diungkapkan Paulus di beberapa kesempatan yang lain. Kepada jemaat Galatia yang juga meragukan kerasulan dan ajarannya, Paulus menegaskan bahwa kerasulannya bukan berasal dari manusia (Gal 1:16-17). Panggilan kerasulannya berasal dari Allah sendiri yang sejak dari dalam kandungan telah memilih dia (Gal 1:15).

Mengapa Paulus perlu menyatakan bahwa inisiatif kerasulannya melalui kehendak Allah? Hal ini kemungkinan besar terkait dengan kecurigaan sebagian orang terhadap Paulus. Dia kadangkala dicurigai hanya ingin menyenangkan hati manusia (9:19-23; bdk. Gal 1:10), terutama melalui ajarannya tentang anugerah yang dianggap membuka peluang yang besar bagi kebebasan manusia dan dosa (bdk. Rom 3:8).

Dengan menyatakan bahwa kerasulannya bersumber dari inisiatif Allah, Paulus ingin memberitahu jemaat di Korintus bahwa dia sendiri sebelumnya tidak menginginkan untuk menjadi rasul, apalagi mencari keuntungan materi bagi diri sendiri (9:12, 15, 18; 2Kor 11:7-9). Tidak ada keuntungan materi yang bisa diharapkan dari status sebagai rasul, apalagi jika hal itu dibandingkan dengan resiko yang harus ia tanggung (15:32; 2Kor 11:23-28).

Sostenes. Sama seperti beberapa suratnya yang lain (2Kor 1:1; Flp 1:1; Kol 1:1; 1Tes 1:1; 2Tes 1:1; Fil 1:1), dalam 1Korintus 1:1 Paulus juga menyebutkan nama rekan sekerjanya. Kali ini nama yang disebut adalah Sostenes. Siapakah Sostenes di sini? Mengapa dia disebut dalam pembukaan surat ini?

Sostenes kemungkinan besar adalah sekretaris Paulus yang menuliskan surat 1Korintus. Hal ini tersirat dari kata ganti “kami” yang muncul beberapa kali dalam surat ini (1:18-31; 2:6-16; 4:16). Penjelasan bahwa bagian salam ditulis oleh Paulus sendiri (16:21) menyiratkan bahwa bagian lain ditulis oleh Sostenes di bawah pengawasan Paulus.

Kemungkinan lain, Sostenes adalah rekan kerja yang bersama-sama Paulus pada saat surat ini ditulis. Penyebutan beberapa nama orang di pendahuluan surat Paulus memang kadangkala menunjukkan siapa saja yang sedang bersama Paulus. Sebagai contoh, dalam surat-suratnya kepada jemaat Tesalonika Paulus menyebut nama Timotius dan Silwanus (1Tes 1:1; 2Tes 1:1). Kita tidak mungkin berpikir bahwa surat itu ditulis secara bergantian antara Timotius dan Silwanus. Penyebutan ini hanya menginformasikan rekan kerja yang bersama Paulus. Dalam kasus 1Korintus, kebenaran dari kemungkinan ini sangat ditentukan oleh waktu kedatangan Timotius ke Korintus (4:17). Jika ia sudah diutus ke sana sebelum surat ini ditulis, maka Sostenes kemungkinan besar memang satu-satunya rekan kerja yang bersama Paulus pada saat surat ini ditulis. Jika Timotius diutus sebagai pembawa surat ini sekaligus, maka pada saat menulis surat Paulus masih ditemani Sostenes dan Timotius, sehingga pendapat kedua ini gugur.

Di antara dua alternatif di atas, yang pertama lebih memiliki bukti positif. Sostenes adalah sekretaris Paulus ketika menulis surat 1Korintus. Bagaimanapun, Paulus pasti memiliki alasan lain ketika menyebutkan nama Sostenes, karena di suratnya yang lain dia tidak menyebutkan nama sekretarisnya (di surat Roma ia tidak menyertakan nama Tertius [1:1] sekalipun Tertius adalah penulis surat itu [16:22]).

Terlepas dari sedikitnya data Alkitab yang ada, Sostenes di sini tampaknya lebih tepat dilihat sebagai mantan kepala rumat ibadat orang Yahudi di Korintus ketika Paulus pertama kali mengabarkan injil di sana (Kis 18:17). Tradisi gereja mendukung dugaan ini. Di samping itu, pemakaian artikel ho di depan kata “saudara” (ho adelphos, lit. “the brother”) menyiratkan bahwa jemaat Korintus pasti sudah mengenal Sostenes. Sostenes yang disebut di sini adalah orang tertentu yang dikenal jemaat Korintus sekalipun pada waktu itu ada banyak orang dengan nama Sostenes.

Satu-satunya keraguan terhadap dugaan ini bersumber dari absennya keterangan yang eksplisit tentang pertobatan Sostenes. Jika dibandingkan dengan kasus Krispus, seorang kepala rumah ibadat Yahudi yang lain, pertobatan Krispus tampak lebih kentara (1:14; Kis 18:8). Sostenes mungkin mengalami pertobatan beberapa saat setelah peristiwa pemukulan terhadap dirinya terjadi atau sikapnya yang positif terhadap Paulus sudah merupakan bukti bahwa ia adalah orang Kristen. Bagaimanapun, ia adalah seorang Kristen, sebagaimana tampak dari sebutan “saudara” (adelphos) di bagian selanjutnya.

Jika Sostenes pengirim surat ini (1:1) adalah kepala rumah ibadat Yahudi yang bertobat melalui pelayanan Paulus di Korintus (Kis 18:17), Paulus mungkin memiliki alasan lain mengapa ia perlu mencantumkan nama Sostenes di pendahuluan surat. Selain karena Sostenes terlibat langsung dalam penulisan surat sebagai sekretaris, Paulus merasa perlu menyebut namanya sebagai salah satu contoh bukti dari kekuatan injil yang dia beritakan (bdk. 1:22-23) dan otentisitas kerasulannya (bdk. 9:1-2).

Penyebutan Sostenes sebagai “saudara” bukanlah sekedar sapaan formalitas. Sebutan ini sering kali dipakai sebagai persamaan kata “orang Kristen” (5:11). Saudara adalah orang untuknya Kristus mati (8:11). Jadi, sebutan ini memiliki makna rohani di dalamnya. Tidak semua orang layak disebut sebagai “saudara”. Yang layak disebut sebagai “saudara” adalah mereka yang sama-sama menyebut Allah sebagai Bapa melalui pekerjaan Roh Kudus dan karya Kristus (Rom 8:14-17//Gal 4:6). Begitu pentingnya persaudaraan di dalam Kristus sampai-sampai mereka yang berdosa kepada saudara seiman dianggap berdosa kepada Kristus (8:11-12).

2          Setelah Paulus menjelaskan identitas penulis (1:1), sekarang dia memberikan penjelasan tentang identitas penerima suratnya (1:2). Yang menarik dari bagian ini adalah absennya kata-kata pujian tentang kehebatan Kota Korintus, padahal surat kuno cenderung mencantumkan hal itu jika surat tersebut ditujukan pada seseorang yang berdomisili di kota terkenal. Ini menunjukkan bahwa bagi Paulus yang penting adalah jemaat Korintus, bukan tempat mereka tinggal.

Seperti sudah dibahas di depan, penjelasan tentang penerima surat juga dipilih Paulus sedemikian rupa sehingga berhubungan dengan isi surat yang akan disampaikannya. Memang ada beberapa sebutan yang bersifat umum (dapat dijumpai di surat-surat Paulus yang lain), tetapi dalam konteks jemaat Korintus sebutan-sebutan itu tetap memiliki makna yang khusus dan relevan dengan situasi mereka.

Sebutan pertama untuk orang-orang percaya di Korintus adalah jemaat Allah (hē ekklēsia tou theou, 1:2a). Sekilas kita mungkin menganggap diskripsi ini sebagai sesuatu yang biasa saja. Penyelidikan yang lebih teliti ternyata menunjukkan bahwa Paulus memiliki maksud tertentu mengapa dia memakai penjelasan seperti ini. Dalam dua suratnya sebelum surat 1Korintus Paulus memakai diskripsi “jemaat Tesalonika dalam Allah” (the church of the Thessalonians in God, 1Tes 1:2; 2Tes 1:1). Dalam 1Korintus 1:2 Paulus memilih “jemaat Allah di Korintus” (the church of God in Corinth, lihat juga 2Kor 1:1).

Melalui diskripsi “jemaat Allah” Paulus ingin menyatakan bahwa jemaat di Korintus adalah milik Allah. Mereka adalah jemaat Allah yang diperoleh dengan darah-Nya sendiri (Kis 20:28 “his own blood”, KJV/NASB/NIV/ESV; kontra RSV/LAI:TB “darah Anak-Nya”). Hal ini memang perlu ditegaskan Paulus karena mereka seringkali berpikir bahwa mereka milik rasul tertentu (1:12), padahal rasul-rasul itu hanyalah para pekerja saja (3:5-7). Ibarat sebuah bangunan, para rasul hanyalah pekerjanya, sedangkan pemilik bangunan adalah Allah (3:9).

Gereja juga bukan milik orang atau kelompok tertentu di dalam gereja, betapapun pentingnya posisi orang itu dalam suatu gereja. Dalam konteks Korintus, orang penting ini adalah mereka yang memberi dukungan material besar bagi keberlangsungan gereja. Mereka “boleh” mengaku sebagai pemiliki segala sesuatu (3:21-22), namun segala sesuatu adalah tetap milik Allah (3:21-23).

Sebutan “jemaat milik Allah” juga membedakan perkumpulan orang-orang percaya (5:1-5; 11:18; 14:23) dengan perkumpulan yang lain di Kota Korintus. Gereja bukanlah organisasi buatan manusia untuk memelihara tradisi atau ibadah tertentu. Gereja bukanlah kumpulan yang ditentukan oleh aspirasi dan nilai manusiawi. Gereja harus berfokus pada Allah, karena Dialah yang empunya gereja.

Maksud lain yang ingin disampaikan Paulus melalui sebutan hē ekklēsia tou theou adalah keberadaan gereja sebagai kontinuitas dari umat Allah yang lama di PL. Sebutan ini berasal dari konsep “jemaat Allah” di PL (Bil 16:3; 20:4; Ul 4:10; 23:1; 1Taw 28:8). Dalam Septuaginta (LXX) kata ekklēsia memang sering dipakai sebagai rujukan untuk bangsa Israel (Ul 4:10; 9:10; 18:16; 31:30; 1Sam 17:47; 1Raj 8:14), beberapa bahkan secara eksplisit memakai ungkapan ekklēsia tou theou (Hak 20:2). Dalam kutipan PL di PB, umat Israel juga disebut ekklēsia (Kis 7:38; Ibr 2:12). Makna ini disinggung oleh Paulus di surat 1Korintus ketika ia menyebut orang-orang Israel pada jaman Musa sebagai “nenek moyang kita” (10:1) yang memiliki makanan maupun minuman rohani yang sama dari Kristus (10:3-4).

Sebutan lain untuk orang percaya di Korintus adalah “dikuduskan dalam Kristus Yesus” (1:2b). Kata “dikuduskan” (hēgiasmenois) di bagian ini memakai perfect tense yang menunjukkan aktivitas yang sudah terjadi di masa lampau tetapi hasilnya masih ada sampai sekarang. Melalui penggunaan tense ini Paulus ingin mengingatkan jemaat Korintus bahwa pengudusan yang dilakukan Kristus (1:30; 6:11) bukanlah sesuatu yang tidak memiliki pengaruh atau sekadar dimaksudkan sebagai akhir dari sebuah proses pengudusan. Pengudusan adalah sebuah proses yang sudah dikerjakan Kristus dan harus terus-menerus dikerjakan.

Penegasan seperti ini perlu dilakukan oleh Paulus, karena jemaat Korintus memiliki konsep tentang spiritualitas yang salah. Mereka lebih menyukai hal-hal yang tampak spektakuler. Mereka melihat orang yang memiliki karunia bahasa roh sebagai orang yang rohani (pasal 12-14). Mereka menyukai berbagai penglihatan yang sebenarnya sering kali menyesatkan (bdk. 7:40; 2Kor 11-12). Di tengah situasi seperti ini Paulus menyatakan bahwa yang paling penting adalah kekudusan hidup. Buah Roh (Gal 5:21-22) lebih penting daripada karunia roh (1Kor 12:1-11).

Implikasi dari posisi jemaat sebagai orang-orang yang dikuduskan melalui penebusan Kristus Yesus ada banyak: (1) kekudusan mereka bukanlah sesuatu yang mereka usahakan, sama seperti kerasulan Paulus juga bukan hasil usaha Paulus; (2) mereka dikhususkan (ini aspek lain dari arti kata “kekudusan”) untuk tujuan yang berpusat pada Kristus; (3) tidak ada satu orang pun yang berhak menyombongkan diri dengan mengatakan bahwa mereka lebih rohani/kudus daripada orang lain. Semua adalah karya Kristus.

Sebutan lain untuk orang percaya adalah terpanggil sebagai orang-orang kudus (klētois hagiois, 1:2c). Sekilas penjelasan ini tampak seperti pengulangan yang tidak diperlukan. Ternyata Paulus memiliki maksud lain dengan memilih ungkapan ini. Ungkapan ini bersumber dari Keluaran 19:5-6 (bdk. 1Pet 2:9) ketika bangsa Israel dipanggil sebagai bangsa yang kudus. Dalam PL maupun berbagai tulisan Yahudi lain, ungkapan “bangsa yang kudus” menyiratkan eksistensi sebuah umat yang telah ditebus dan harus memiliki perbedaan hidup dengan bangsa kafir. Jadi, ungkapan “terpanggil sebagai orang-orang kudus” merujuk pada status khusus yang dimiliki jemaat Korintus di antara orang-orang kafir, sedangkan ungkapan “dikuduskan dalam Kristus Yesus” lebih terfokus pada prosesnya.

Sebagai jemaat (ekklēsia) Allah yang terpanggil sebagai orang-orang kudus, mereka harus membedakan diri dengan ekklēsia sekuler. Mereka terikat pada norma hidup yang mencerminkan kekudusan (3:17; 6:1-2, 19; bdk. Im 19:1-2; Kel 19:5-6; 22:31). Kekudusan ini bukan hanya harus tampak dalam kehidupan pribadi orang percaya (6:19-20), tetapi juga dalam kehidupan bersama sebagai gereja (5:1-13). Kekudusan ini harus menjadi upaya yang terus menerus sampai Kristus datang (1:8). Karena itu, gaya hidup jemaat Korintus yang tidak berbeda dengan kumpulan orang kafir (3:3-4; 5:1; 6:1-2) merupakan sesuatu yang ironis dan penyangkalan terhadap status ini.

Selain memberikan sebutan-sebutan khusus untuk orang-orang percaya di Korintus (jemaat Allah, dikuduskan Kristus Yesus, terpangil sebagai orang-orang kudus), Paulus juga menjelaskan kesatuan jemaat Korintus dengan orang-orang percaya di tempat lain. Kesatuan ini ditunjukkan melalui frase “dengan semua orang di segala tempat, yang berseru kepada nama Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Tuhan mereka dan Tuhan kita” (1:2d).

Sebagian penafsir berpendapat bahwa frase ini merupakan tambahan untuk “jemaat Allah di Korintus”, sehingga frase ini merupakan petunjuk bahwa surat 1Korintus ditujukan pada penerima yang lebih luas (bukan hanya jemaat Korintus). Di sisi lain, sebagian penafsir meyakini bahwa frase ini menerangkan “dikuduskan dalam Kristus Yesus” dan “terpanggil sebagai orang-orang kudus”, sehingga frase ini hanya menyiratkan bahwa orang-orang kudus bukan hanya jemaat Korintus, tetapi semua orang percaya di segala tempat. Jika pendapat ini diterima, maka surat 1Korintus tetap harus dipahami sebagai surat yang khusus untuk jemaat di Korintus.

Pendapat terakhir ini lebih masuk akal. Pembahasan Paulus berkaitan dengan situasi khusus dalam jemaat Korintus. Apa yang ditulis memang masih bisa bermanfaat bagi jemaat-jemaat lain, namun beberapa bagian pasti tidak begitu relevan bagi mereka. Sebagai tambahan, dasar kesatuan antara jemaat Korintus dan jemaat-jemaat lain yang ingin dibangun Paulus bukanlah sama-sama penerima surat 1Korintus, melainkan kesamaan status di dalam Kristus.

Jemaat-jemaat lain disebut sebagai orang-orang yang memanggil nama Tuhan Yesus Kristus. Ungkapan “memanggil nama Tuhan” merupakan cara lain untuk merujuk pada tindakan bertobat atau menjadi orang Kristen (Kis 2:21; 9:14, 21; 22:16; Rom 10:12). Pemakaian istilah “nama” (onoma) di sini tidak boleh dipahami hanya sebatas sebutan, sebab nama mencerminkan karakter (Kel 3:13-14; Mzm 9:11). Pemakaian gelar “Tuhan” (kyrios) menunjukkan dominasi dan kepemilikan (6:19-20; 7:22). Kristuslah yang memiliki jemaat (3:23a). Jika digabungkan, memanggil nama Tuhan memiliki makna penyerahan diri di bawah kekuasaan dan kepemilikan Yesus Kristus atas dasar sifat-sifat ilahi yang Dia miliki. Dalam istilah lain, “mempercayakan diri sepenuhnya untuk dikuasai Pribadi yang karakter-Nya dapat dipercayai”.

Tambahan “di segala tempat” dan “Tuhan mereka dan Tuhan kita” menguatkan ide tentang kesatuan gereja secara universal. Ungkapan “di segala tempat” (en panti topō) tidak boleh ditafsirkan “di setiap tempat di muka bumi tanpa terkecuali”. Masih banyak tempat yang penduduknya belum mengakui Yesus sebagai Tuhan. Arti yang terkandung di dalam ungkapan ini adalah di setiap tempat berkumpul bagi orang Kristen. Melalui ungkapan ini Paulus ingin mengajarkan bahwa yang penting bukanlah tempat berkumpul, tetapi apa yang dilakukan dalam perkumpulan itu, yaitu memanggil nama Tuhan. Keberadaan jemaat di kota besar seperti Korintus tidak akan membawa nilai tambah apapun.

Makna yang ingin disampaikan melalui ungkapan “Tuhan kita dan Tuhan mereka” adalah pengakuan tentang ke-Tuhanan Yesus sebagai karakteristik orang Kristen. Orang Kristen adalah orang-orang yang meyakini Yesus sebagai satu-satunya Tuhan (8:6). Praktik ibadah orang Kristen mungkin memiliki beberapa kesamaan dengan agama lain, tetapi yang menjadi pembeda adalah pengakuan kepada Yesus sebagai Tuhan (12:1-3). Salah satu ciri ibadah gereja mula-mula adalah seruan “Maranatha” yang berarti “Tuhan kami, datanglah” (16:22). Pemberitaan injil terdiri dari proklamasi bahwa Yesus adalah Tuhan (2Kor 4:5).

Paulus sengaja menekankan hal ini untuk menunjukkan bahwa jemaat Korintus adalah hanyalah bagian kecil dari gereja universal yang sangat besar. Sebagai potongan puzzle kecil di dalam gambar yang sangat besar, jemaat Korintus seharusnya memahami kesamaan esensial antara mereka dengan jemaat yang lain. Mereka tidak boleh merasa diri lebih baik atau hebat dibandingkan jemaat-jemaat yang lain. Mereka tidak boleh memandang diri mereka begitu unik atau istimewa. Kebebasan Kristiani bukan berarti kebebasan mutlak yang tidak memperhatikan orang lain (6:12; 10:23).

Pemahaman seperti itu sangat relevan dengan situasi dalam jemaat Korintus. Beberapa teks menunjukkan bahwa mereka telah terjebak pada “eksklusivitas Kristen” yang salah. Ketika mereka mempertanyakan hidup dan ajaran Paulus, Paulus menegaskan bahwa ajaran yang dia sampaikan kepada jemaat Korintus adalah ajaran yang sama yang dia beritakan di mana-mana (4:17). Ketika jemaat Korintus menganggap bahwa aturan ibadah bukanlah hal yang penting, Paulus membantah dengan mengatakan bahwa apa yang mereka lakukan tidak pernah dijumpai dalam ibadah orang Kristen lainnya (11:16). Ketika jemaat Korintus merasa diri memiliki “pengetahuan”, Paulus melontarkan pertanyaan sindiran yang tajam untuk menegur mereka bahwa firman Tuhan tidak dimulai dari mereka dan bukan hanya mereka saja yang layak menerima firman itu (14:33, 36). Ketika mereka lebih mempercayai filsafat dunia yang menolak kebangkitan orang mati (15:12), Paulus menyatakan bahwa kebangkitan Kristus adalah ajaran dalam tradisi Kristen mula-mula (15:1-3). Tindakan Paulus mengirim Timotius untuk melayani  mereka (4:17; 16:10) merupakan langkah praktis untuk menunjukkan bahwa kehidupan jemat Korintus dapat dimonitor oleh hamba Tuhan dari tempat lain karena semua jemaat adalah sama-sama milik Allah.

Sikap jemaat Korintus yang eksklusif merupakan sebuah ironi. Mereka seharusnya memiliki pola hidup yang berbeda dengan dunia, namun mereka justru menjadi sama dengan dunia. Mereka seharusnya sama dengan jemaat-jemaat lain, namun ternyata mereka malah memiliki pandangan dan gaya hidup yang berbeda.

Paulus mungkin memiliki maksud lain lagi ketika dia menegaskan bahwa jemaat Korintus adalah bagian dari gereja universal. Dia sangat mungkin memaksudkan hal ini sebagai pengantar bagi nasehatnya kepada jemaat Korintus untuk membantu orang-orang kudus di Yerusalem (bdk. 16:1-11; 2Kor 8:1-9). Dengan kesadaran bahwa sebuah gereja lokal adalah bagian dari gereja universal, maka gereja tersebut dimotivasi untuk saling berbagi dan menguatkan.

3          Sebagaimana surat kuno pada umumnya, Paulus menutup pendahuluan suratnya dengan sebuah salam untuk para penerima surat. Dalam hal ini Paulus memodifikasi salam yang lazim digunakan oleh orang-orang pada waktu itu dengan sebuah salam yang lebih bernuansa Kristiani. Salam yang lazim digunakan waktu itu hanya memakai satu kata, yaitu chairein (“salam”, bdk. Kis 15:23; 23:26; Yak 1:1), sedangkan Paulus mengubah salam umum ini menjadi salam Kristiani yang memerlukan 12 kata.

Usaha Paulus untuk memodifikasi salam di atas menunjukkan bahwa bagi Paulus salam merupakan sesuatu yang sangat penting. Memberikan salam bukan hanya sekedar formalitas dalam sebuah surat (jika hanya formalitas belaka maka Paulus pasti akan memakai salam yang lebih lazim). Memberi salam merupakan pengungkapan harapan yang baik untuk penerima salam. Dalam seluruh suratnya terlihat bahwa Paulus sangat menghargai arti sebuah salam di antara sesama orang Kristen. Dia memerintahkan orang-orang Kristen untuk saling memberi salam (Rom 16:16; 1Kor 16:20; 2Kor 13:12). Dia sendiri juga banyak memberikan salam kepada orang lain atau sebuah jemaat lokal (band. Rom 16:1-15).

Modifikasi salam yang dilakukan Paulus bukan hanya menunjukkan bahwa tindakan memberikan salam merupakan sesuatu yang penting, namun juga mengindikasikan bahwa salam Kristiani memiliki keunikan tersendiri. Alkitab memang memberikan perintah untuk memberikan salam yang bersifat umum dan hanya merupakan bagian dari budaya Yahudi (Mat 5:47; band. 1Sam 10:4; 13:10; 25:6, 14; 2Sam 6:20; 2Raj 4:29; Mat 26:49). Bagaimanapun, Alkitab juga mengajarkan bahwa ada salam yang unik dan tidak secara otomatis layak diterima oleh orang yang mendengarkan salam itu (Mat 10:12-13). Paulus sendiri menyatakan bahwa kasih karunia dan damai sejahtera hanya akan turun atas orang-orang yang sungguh-sungguh menerima kebenaran injil yang sejati (Gal 6:16). Dengan konsep seperti ini pula Yohanes melarang jemaat untuk memberikan salam kepada para antikris yang mengajarkan kesesatan (2Yoh 1:10-11). Dari dua macam salam ini terlihat bahwa orang Kristen diperintahkan untuk memberikan salam umum kepada semua orang sebagai bagian dari budaya dan salam Kristiani kepada sesama orang percaya. Salam yang kedua inilah yang dimaksud Paulus dalam setiap salam pembuka di semua suratnya.

Tidak seperti salam pada umumnya, Paulus (dan mayoritas penulis PB) memakai dua kata yang kental dengan nuansa Kristiani. Kata pertama yang dipakai adalah kata charis (“kasih karunia”). Kata ini dipakai untuk menggantikan kata chairein yang biasa dipakai orang-orang pada waktu itu. Pentingnya kata charis bagi Paulus dapat dilihat dari posisinya di awal kalimat (secara hurufiah 1:3 dapat diterjemahkan “kasih karunia bagi kalian dan damai sejahtera…”). Ketika Paulus ingin mengakhiri surat ini ia sekali lagi mengatakan “kasih karunia (charis) Tuhan Yesus menyertai kamu” (16:23).

Paulus tentu saja tidak sekedar mengganti kata chairein dengan kata lain yang bunyinya mirip. Dia memiliki maksud teologis tertentu ketika ia memakai kata charis, karena kata ini merupakan salah satu kosa kata favorit Paulus. Dalam surat-suratnya Paulus sangat sering memakai kata ini. Dari 155 kali pemunculan kata ini di PB, 100 di antaranya ditemukan dalam tulisan Paulus.

Sebagian penafsir membatasi arti charis hanya pada kasih karunia keselamatan. Sekalipun arti ini memang yang paling penting, namun kita sebaiknya tidak membatasi arti kata ini. Ada beberapa alasan untuk ini: (1) kata charis di 1:4 – pemunculan paling dekat – berhubungan dengan keselamatan maupun karunia rohani; (bdk. 1:4-5); (2) dalam tulisan Paulus kata charis dipakai dalam beragam konteks. Kata ini kadangkala digunakan dalam konteks pelayanan atau jabatan tertentu (Rom 1:5; 12:3; 15:15; 1Kor 3:10), keselamatan (Rom 3:24; 4:16; 5:2, 15, 17, 20, 21; 6:1; 11:5-6), karunia rohani (Rom 12:6), kemampuan tertentu (1Kor 15:10), dsb; (3) dalam surat 1Korintus kata charis dipakai dalam beragam arti juga sebagaimana yang akan dijelaskan kemudian; (4) kata charis dikaitkan dengan kata “damai sejahtera” yang dalam konsep berpikir orang Yahudi juga memiliki arti luas mencakup semua aspek kehidupan (lihat pembahasan selanjutnya).

Dari arti kata charis yang sangat luas di atas kita dapat melihat bahwa semua aspek kehidupan orang Kristen merupakan kasih karunia Allah. Semua yang kita miliki adalah pemberian cuma-cuma dari Allah. Semua diberikan Allah kepada kita sekalipun kita tidak layak untuk menerima semua itu.

Dalam konteks jemaat Korintus, salam seperti ini pasti memiliki makna yang mendalam. Jemaat Korintus tampaknya mengalami kesulitan untuk menghargai kasih karunia Allah. Mereka telah menjadi sombong secara intelektual, padahal mereka dulu adalah orang-orang yang tidak terpandang menurut dunia (1:25-31). Mereka membanding-bandingkan para pemimpin mereka, padahal pelayaan para pemimpin sebenarnya adalam kasih karunia (3:10). Mereka merasa diri lebih baik dan tidak membutuhkan Paulus, sehingga Paulus perlu memberikan pertanyaan retoris sebagai refleksi bagi mereka “Sebab siapakah yang menganggap engkau begitu penting? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya?” (4:7). Paulus sendiri sangat memahami arti kasih karunia ketika dia mengatakan “tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang” (15:10). Berdasarkan konsep anugerah ini Paulus memberanikan diri mendorong jemaat Korintus berpartisipasi dalam upaya membantu jemaat di tempat lain. Dia akan mengirim orang-orang terpercaya untuk membawa pemberian (charis) jemaat Korintus ke Yerusalem (16:3).

Salam kedua yang digunakan Paulus adalah eirēnē (“damai sejahtera”). Ungkapan yang merupakan tipikal salam Yahudi ini merupakan terjemahan dari kata Ibrani shalom (1Sam 25:5-6; Dan 10:19; Yak 2:16). Berbeda dengan orang-orang Yunani yang melihat eirēnē hanya sebagai “ketidakadaan perang”, orang Yahudi memahami kata ini secara lebih luas, merujuk pada kesejahteraan hidup, baik jasmani maupun rohani, baik dalam kehidupan pribadi maupun masyarakat. Dari pemahaman seperti ini kita dapat melihat bahwa melalui salam pembuka dalam suratnya Paulus berharap agar jemaat Korintus mengalami sejahtera secara menyeluruh.

Arti umum dari kata eirēnē di atas tidak menghilangkan arti eirēnē sebagai ketidakadaan perang. Dalam teologi Paulus, eirēnē sering dipakai untuk perdamaian antara Allah dan umat-Nya (Rom 5:1). Paulus juga memakai kata ini untuk perdamaian antar orang Kristen (Rom 14:19). Dalam surat 1Korintus, kata eirēnē juga dipakai dalam konteks relasi antar jemaat (7:15; 14:33; 16:11).

Salam seperti ini tentu saja sangat relevan bagi jemaat Korintus. Mereka sedang berselisih dan terjebak pada favoritisme pemimpin (pasal 1-3). Mereka bahkan menyerang Paulus (pasal 4). Perselisihan mereka mencakup aspek legal yang melibatkan orang-orang kafir (pasal 6). Pertengkaran seputar masalah daging persembahan berhala juga muncul (pasal 8-10). Dalam ibadah pun mereka juga mengalami disharmoni antara orang kaya dan orang miskin (pasal 11). Karunia rohani yang seharusnya dipakai untuk membangun seluruh jemaat pun dapat dijadikan pemicu pertengkaran (pasal 12-14).

Dengan meletakkan “damai sejahtera” setelah “kasih karunia” Paulus ingin mengajarkan bahwa damai yang sejati hanya dapat muncul dari kasih karunia Allah. Kasih karunia adalah sumber kehidupan orang percaya, sedangkan damai sejahtera adalah hasil dari hidup yang didasarkan pada kasih karunia. Jemaat dapat hidup berdamai dengan orang lain kalau mereka lebih dahulu mendapat kasih karunia Allah dalam bentuk perdamaian dengan Bapa. Perdamaian yang sejati inilah yang memampukan jemaat untuk mengasihi orang lain.

Salam bagi orang Kristen bukan sekedar basa-basi. Salam juga bukan kata-kata sakti yang memiliki kekuatan dalam dirinya sendiri. Salam bukan bersumber dari kekuatan orang yang menyampaikan salam. Kuasa salam terletak pada diri Allah (dalam hal ini dari Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus). Allahlah yang menjadi sumber dan penentu realisasi dari yang disalamkan (diharapkan). Allah Bapa memberikan kasih karunia dan damai melalui karya penebusan Yesus Kristus.

Yang menarik dari 1:3b ini adalah pemunculan frase “Yesus Kristus”. Frase ini sebelumnya telah muncul sebanyak tiga kali (1:1-2). Dari frekwensi pemunculan ini terlihat bahwa cara pandang Paulus adalah sangat Kristosentris (berpusat pada Kristus). Semua berkat rohani yang diterima oleh orang Kristen hanya berasal dari Bapa melalui Yesus Kristus (1:4).

Pemunculan Bapa dan Kristus sebagai sumber kasih karunia dan damai sejahtera tidak boleh disepelekan. Keduanya (bersama Roh Kudus) muncul lagi sebagai sumber dari semua karunia rohani (12:4-6). Pemunculan “Allah” dan “Yesus Kristus” secara bergantian di 1:1-3 juga turut mempertegas kesatuan di antara keduanya. Keduanya adalah sama-sama Allah dan Tuhan (8:6).

 

APLIKASI

Jemaat Korintus melalaikan satu hal yang sangat penting: status mereka di hadapan Allah. Apa yang terjadi di tengah-tengah mereka membuktikan bahwa mereka tidak memahami kalau gereja adalah milik Allah, dikuduskan dalam Kristus dan dipanggil sebagai orang-orang kudus. Konsep mereka tentang gereja (ekklēsia) lebih banyak ditentukan oleh perkumpulan-perkumpulan sekuler pada waktu itu. Gereja dianggap milik sebagian pemimpin. Gereja perlu mengikuti gaya hidup duniawi supaya tetap diterima oleh mereka.

Ketika sebuah gereja tidak memahami identitas dirinya di hadapan Allah, maka ia pasti akan menciptakan identitas diri yang keliru yang didasarkan pada kriteria yang salah pula. Pada gilirannya mereka akan terjebak pada kesombongan (menganggap diri baik). Mereka bahkan menempatkan diri di atas orang lain dan memandang diri sendiri sebagai sebuah kumpulan yang eksklusif.

Jika kita mengamati kehidupan bergereja di jaman modern ini, kita pun dengan mudah akan menemukan masalah yang sama. Gereja dipandang lebih secara organisatoris daripada secara teologis. Memanfaatkan prinsip-prinsip manajemen memang tidak salah, namun memperlakukan gereja sebagai sebuah perusahaan atau organisasi buatan manusia merupkan kesalahan yang tidak dapat ditolerir. Ketika gereja hanya diihat sebagai organisasi manusia atau perusahaan, maka prinsip utama yang mendasari semua aktivitas gereja adalah prinsip untung-rugi dan kekuasaan. Orang kaya, pemegang jabatan dan aktivis seringkali tergoda untuk mencari kehormatan diri sendiri dan berebut jabatan dan pengaruh. Situasi seperti ini pasti pada gilirannya akan menciptakan pola hidup duniawi di kalangan jemaat sehingga mereka mengabaikan status mereka sebagai orang-orang kudus.

Sikap eksklusif masing-masing gereja yang bisa ditemukan dengan mudah dewasa ini merupakan bukti lain bahwa kehilangan identitas sejati di dalam Allah akan menghasilkan identitas diri yang salah. Satu aliran membanggakan karakteristik dan kelebihan mereka, begitu pula dengan aliran lain. Mereka lupa bahwa segala sesuatu berasal dari Allah. Dialah yang patut menjadi kebanggaan kita.

Sudah waktunya gereja benar-benar menjadi gereja. Gereja bukan kumpulan orang yang membawa agenda dan ambisi pribadi. Gereja bukan sekadar organisasi yang kering dan berfokus pada aspek administrasi belaka. Gereja adalah milik Allah dan harus diatur berdasarkan prinsip-prinsip dari Sang Pemilik. Jika ini yang terjadi, maka jemaat pasti akan dimampukan untuk berjalan dalam kekudusan, sebagaimana status mereka di dalam Kristus dan tujuan dari panggilan ilahi bagi mereka.

 

Leave a Reply