PERSELISIHAN DI DALAM GEREJA: ANTAR ANGGOTA JEMAAT DAN MELAWAN PAULUS

1Korintus 1:10-4:21 mungkin merupakan salah satu bagian yang cukup dikenal oleh banyak orang Kristen. Ungkapan Paulus bahwa “apa yang tidak pernah dilihat oleh mata dan didengar oleh telinga dan yang tidak pernah timbul dalam hati manusia: semua disediakan Allah bagi mereka yang mengasihi Dia” (2:9), “ia menanam, Apolos menyiram, Tuhan yang memberi pertumbuhan” (3:6) atau “tidak tahukah kamu bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” (3:16) pasti sudah akrab di telinga kita. Beberapa teks lain (1:18, 22; 27-28; 2:14; 3:2, 15, 17) juga sering kita dengar dikutip atau dibahas dalam khotbah.

Popularitas bagian tersebut bagi orang Kristen sangat bisa dipahami. Isu perselisihan merupakan masalah yang dapat kita temukan dengan mudah di berbagai gereja. Kita pun dalam tingkat pribadi sering mengalami perselisihan. Ketika membaca 1:10-4:21 orang secara wajar akan mendapati bahwa bagian ini menyentuh situasi mereka secara langsung, walaupun akar perselisihan yang ada mungkin berbeda.

Walaupun bagian ini tidak asing bagi kita, namun bukan berarti bahwa bagian ini mudah untuk dipahami. Ada beragam pertanyaan mendasar yang seringkali muncul dalam benak kita. Apakah akar masalah yang sebenarnya dalam perselisihan ini? Apakah ini murni dipicu oleh isu favoritisme pemimpin rohani atau ada isu lain yang lebih mendasar? Apakah ini bersifat teologis atau personal? Apakah seluruh 1:10-4:21 membahas satu isu yang sama ataukah bagian ini terdiri dari perikop-perikop kecil yang tidak telalu berkaitan satu dengan yang lain?

Deretan pertanyaan di atas masih dapat diperpanjang. Dalam bagian ini kita tentu saja tidak perlu membahas setiap pertanyaan yang mungkin timbul sehubungan dengan 1:10-4:21. Jawaban detil untuk setiap pertanyaan itu akan ditemukan di bagian tafsiran. Pada bagian ini cukuplah bagi kita untuk membahas kesatuan dari 1:10-4:21 dan mencoba menyelidiki akar masalah yang sebenarnya.

Kesatuan 1:10-4:21 dapat ditunjukkan dengan mudah. Nama Paulus dan Apolos muncul secara konsisten hampir di setiap bagian (1:12; 3:4-6, 22; 4:6). Nuansa perselisihan masih terus menggema, dari 1:10 sampai 4:21. Ide tentang kesombongan pun disinggung berkali-kali (1:29-31; 3:21; 4:7).

Dari pembacaan yang akurat terhadap 1:10-4:21 muncul kesan bahwa favoritisme pemimpin bukanlah akar masalah yang utama. Sebaliknya, favoritisme pemimpin hanyalah gejala atau akibat konkrit. Akar masalah harus dicari di tempat lain. Hal ini dibuktikan dengan absennya pembahasan tentang favoritisme pemimpin di 1:18-2:16. Jika kita mengasumsikan favoritisme pemimpin sebagai akar masalah, maka kita pasti akan mengalami kesulitan untuk melihat kesatuan antara bagian di 1:10-4:21.

Tugas menemukan akar masalah di 1:10-4:21 bukan pekerjaan mudah. Sebagian penafsir melakukan kesalahan yang disebut “cara pembacaan-cermin”. Artinya, apapun yang disangkal Paulus berarti dinyatakan oleh jemaat; apapun yang dinyatakan Paulus berarti ditentang jemaat. Jadi, Paulus diletakkan dalam posisi yang tidak pernah memiliki kesamaan apapun dengan jemaat. Apapun yang dia tulis selalu ditujukan untuk mengoreksi pandangan jemaat.

Untuk mengetahui akar masalah secara lebih tepat dan melihat semua aspek masalah secara lebih komprehensif, kita perlu memperhatikan beberapa ide yang sering muncul dan berusaha menemukan kaitan antar ide tersebut. Ada beberapa poin penting yang perlu mendapat perhatian khusus:

Perselisihan ini berkaitan dengan para pemimpin. Pemunculan tiga nama pemimpin rohani yang pernah melayani di jemaat Korintus (Paulus, Apolos, Kefas) dari awal sampai akhir 1:10-4:21 (lihat 1:12; 3:4-6, 22; 4:6) membuktikan bahwa perselisihan ini (1:10-12; 3:3-4; 3:21) memang berhubungan dengan para pemimpin tersebut, terutama Paulus dan Apolos. Hal ini bukan berarti merekalah yang menjadi penyebab dalam perselisihan ini. Gambaran yang positif tentang Apolos (3:5-9) dan desakan Paulus agar dia mau mengunjungi jemaat Korintus lagi (16:12) memberi bukti yang tidak terbantahkan tentang hal ini.

Perselisihan ini berkaitan dengan hikmat (sophia). Kata sophia (hikmat), sophos (orang berhikmat) atau kata sejenis yang memiliki akar kata sama muncul berkali-kali di 1:10-4:21. Dari total pemunculan sebanyak 44 kali dalam seluruh tulisan Paulus, 28 di antaranya ditemukan di 1Korintus. Lebih menarik lagi, 26 dari 28 penggunaan ini kita temukan di pasal 1-3. Sophia muncul di 1:17, 19, 20, 21, 22, 24, 30; 2:1, 4, 5, 6, 7, 13; 3:19, sedangkan sophos ada di 1:19, 20, 25, 26, 27; 3:10, 18, 19, 20. Data ini sudah lebih daripada cukup untuk meyakinkan kita bahwa perselisihan yang terjadi berhubungan dengan hikmat, apapun bentuk konkrit dari hikmat ini.

Perselisihan ini berkaitan dengan kesombongan. Ide tentang kemegahan (1:29-31; 3:21; 4:7) dan kesombongan (4:6) cukup sering kita jumpai di 1:10-4:21. Keangkuhan ini sangat mungkin terkait dengan isu hikmat (3:18-21) dan favoritisme pemimpin (4:6).

Perselisihan ini berkaitan dengan Paulus secara khusus. Keterlibatan Paulus dalam perselisihan bukan hanya terlihat dari fakta bahwa sebagian jemaat adalah golongan Paulus (1:12) atau yang lain justru menghakimi dia (3:3), melainkan juga dari beberapa petunjuk yang lain. Paulus secara khusus menegaskan bahwa ia tidak disalibkan bagi jemaat atau jemaat dibaptis dalam namanya (1:13). Paulus dalam beberapa kesempatan berusaha untuk memberikan pembelaan berdasarkan pelayanannya dahulu di Korintus (1:17-18; 2:1-5). Lebih jelas lagi, kesombongan jemaat secara khusus diarahkan pada Paulus (4:6, 18).

Empat poin ini sangat membantu kita untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas dan pasti tentang perselisihan yang sedang dibahas di 1:10-4:21. Empat poin ini pasti saling terkait satu dengan yang lainnya dan membentuk isu yang tunggal. Berdasarkan keterkaitan yang ada, akar masalah yang sebenarnya terletak pada isu tentang hikmat. Dari sinilah hal-hal lain muncul dan menambah rumit situasi. Berikut ini adalah salah satu usulan untuk menerangkan kronologi perkembangan perselisihan yang dibahas di ada.

  1. Pada waktu Paulus pertama kali melayani di Korintus jemaat menerima kesederhanaan injil, walaupun tidak disampaikan menurut ukuran hikmat retorika dunia (2:1-5). Kesederhanaan injil ini sesuai dengan status sosial mereka yang sederhana (1:26).
  2. Pada suatu saat jemaat mulai terpesona dengan kehebatan sophia dan retorika para filsuf keliling. Hal ini memberikan pengaruh yang sangat besar. Mereka mulai menilai segala sesuatu dari kaca mata hikmat dunia ini (hē sophia tou kosmou).
  3. Dari perspektif yang baru ini, berita injil tampak sebagai sebuah kebodohan (1:18, 23). Jemaat Korintus telah menganggap diri sebagai orang yang berhikmat (sophos, 3:18).
  4. Cara pemberitaan injil yang dilakukan Paulus juga mulai dikecam karena tidak sesuai dengan kriteria hikmat dan retorika dunia (1:18; 2:1-5).
  5. Selanjutnya, figur Paulus sendiri akhirnya turut direndahkan (4:18), apalagi ia tidak mau menerima tunjangan (9:15-18) sama seperti para filsuf keliling pada umumnya.
  6. Jemaat lebih menyukai Apolos daripada Paulus (3:21; 4:6) karena kefasihan bicara Apolos (Kis 18:24, 28) dianggap lebih memuaskan perspektif mereka yang baru tentang sophia. Apolos sendiri tidak memberikan andil dalam kekeruhan suasana yang terjadi (bdk. 16:12).
  7. Sebagian jemaat yang lain tetap mendukung Paulus (1:12-13), walaupun alasan di balik itu tidak terlalu jelas: mereka mungkin benar-benar menghormati Paulus atau sekadar memanfaatkan nama Paulus untuk menandingi kelompok lain yang sudah memilih Apolos.

Seandainya kita menerima penjelasan di atas, kita bukan hanya mampu memandang seluruh bagian 1:10-4:21 sebagai sebuah jalinan yang erat, namun kita juga mendapatkan pencerahan untuk mengetahui mengapa Paulus meletakkan isu perselisihan ini di bagian paling awal. Beberapa aspek dari perselisihan di 1:10-4:21 (misalnya favoritisme antar pemimpin dan penekanan pada retorika) memang tidak muncul lagi di pasal 5-16, namun aspek-aspek yang lain tetap masih dapat kita telusuri di pasal 5-16. Sebagai contoh, dosa kesombongan masih disinggung lagi di 5:2 dan 8:1. Ide tentang hikmat juga muncul di 6:5 ketika Paulus secara ironis menunjukkan tindakan jemaat yang melibatkan orang kafir untuk menyelesaikan perkara internal di antara mereka sebagai bukti bahwa di antara mereka tidak ada orang yang berhikmat.

Persoalan di 1:10-4:21 yang kompleks tetapi saling berkaitan turut menentukan cara Paulus dalam menyelesaikan isu ini. Ia pertama-tama memberitahukan sumber berita yang dia terima dan memberikan gambaran singkat tentang masalah yang terjadi (1:10-17). Selanjutnya ia menyatakan bahwa injil dan hikmat duniawi merupakan dua hal yang saling bertentangan (1:18-2:5), sehingga tidak mungkin dicampuradukkan. Keberhasilan pekabaran injil bukan bergantung pada hikmat perkataan, tetapi Roh Kudus, karena tanpa Roh Kudus manusia tidak mungkin memahami hikmat yang sesungguhnya (2:6-16). Mulai 3:4 Paulus membahas peranan para pemimpin (3:4-17), namun sebelumnya ia perlu memberikan teguran bahwa perselisihan merupakan bukti bagaimana jemaat masih terikat dengan keduniawian (3:1-3). Sebagai konklusi bagi perpecahan antar jemaat, Paulus menyimpulkan bahwa kesombongan atas manusia merupakan kebodohan, karena segala sesuatu pada akhirnya adalah milik Allah (3:18-23). Terakhir, Paulus memakai seluruh pasal 4 untuk menanggapi kritikan jemaat terhadap dirinya secara khusus (4:1-21).

PERSELISIHAN ANTAR JEMAAT DALAM BENTUK FAVORITISME PEMIMPIN

1KORINTUS 1:10-17

10Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir. 11 Sebab, saudara-saudaraku, aku telah diberitahukan oleh orang-orang dari keluarga Kloe tentang kamu, bahwa ada perselisihan di antara kamu. 12 Yang aku maksudkan ialah, bahwa kamu masing-masing berkata: Aku dari golongan Paulus. Atau aku dari golongan Apolos. Atau aku dari golongan Kefas. Atau aku dari golongan Kristus. 13 Adakah Kristus terbagi-bagi? Adakah Paulus disalibkan karena kamu? Atau adakah kamu dibaptis dalam nama Paulus? 14 Aku mengucap syukur bahwa tidak ada seorangpun juga di antara kamu yang aku baptis selain Krispus dan Gayus, 15 sehingga tidak ada orang yang dapat mengatakan, bahwa kamu dibaptis dalam namaku. 16Juga keluarga Stefanus aku yang membaptisnya. Kecuali mereka aku tidak tahu, entahkah ada lagi orang yang aku baptis. 17 Sebab Kristus mengutus aku bukan untuk membaptis, tetapi untuk memberitakan Injil; dan itupun bukan dengan hikmat perkataan, supaya salib Kristus jangan menjadi sia-sia.

Bagian ini merupakan awal dari isi atau tubuh surat. Dengan demikian bagian ini dapat dikatakan sebagai transisi dari ucapan syukur ke tubuh surat, sebagaimana ditunjukkan dengan kata sambung de di awal ayat 10. Secara khusus bagian ini berfungsi sebagai pengantar dari isu perselisihan di 1:10-4:21.

Transisi dari ucapan syukur ke isu pertama dari sekian banyak isu yang dibahas Paulus di sini sebenarnya berjalan cukup mulus. Paulus menggunakan kata sambung de (1:10). Sayangnya, transisi ini menjadi kabur dalam banyak versi, karena kata de diterjemahkan dengan “sekarang” (KJV/NASB). Sebagian versi bahkan tidak menerjemahkan kata ini sama sekali (NIV/RSV/ESV). Para penerjemah LAI:TB dengan tepat memilih terjemahan yang lebih umum untuk de, yaitu “tetapi”. Terjemahan ini berguna untuk menunjukkan kontras antara 1:10-17 dengan bagian sebelumnya (1:4-9), terutama 1:9. Semua orang percaya telah dipanggil kepada persekutuan (koinōnia) dalam Yesus (1:9). Persekutuan ini seharusnya menjadi dasar bagi persekutuan di antara sesama jemaat. Karena itu pula Paulus memberikan nasehat supaya bersatu dengan dasar “demi nama Tuhan kita Yesus Kristus” (1:10).

Cara Paulus memulai topik perselisihan di 1:10-17 menunjukkan bahwa ia adalah seorang yang berhikmat. Hal pertama yang dia lakukan adalah memberikan nasehat (1:10). Terlepas dari bentuk maupun penyebab perselisihan, semua orang Kristen perlu diberi nasehat agar bersatu. Nasehat ini didasarkan pada nama Yesus, karena nama inilah yang membuat jemaat Allah menjadi komunitas yang unik: orang-orang Kristen adalah orang yang menyerukan nama Yesus Kristus (1:2). Paulus juga memberitahukan secara jelas sumber berita yang ia terima (1:11) supaya masing-masing kelompok tidak saling mencurigai. Selanjutnya Paulus tidak mau langsung mengupas inti masalah (bdk. 1:18-2:16), sebaliknya ia memulai dengan bentuk konkrit dari perselisihan yang terjadi, yaitu favoritisme pemimpin (1:12). Melalui pertanyaan retoris di 1:13 ia menunjukkan bahwa perselisihan tersebut merupakan sesuatu yang tidak logis. Dengan ide tentang baptisan di 1:13 sebagai transisi, Paulus lalu menutup pembahasan dengan menyatakan bahwa yang terpenting dalam pelayanannya bukanlah baptisan (1:14-16), tetapi pemberitaan injil (1:17). Injil inilah yang selanjutnya akan menjadi fokus pembahasan di 1:18-24.

 

10        Sapaan “saudara-saudara” (adelphoi) di ayat ini merupakan sesuatu yang menarik. Walaupun perselisihan yang ada cukup serius dan ditujukan untuk menyerang Paulus, namun dia tetap mampu menyebut semua jemaat Korintus sebagai saudara seiman. Sapaan ini bahkan diulang lagi di 1:11 untuk menunjukkan kesungguhan Paulus. Sapaan ini muncul 21 kali dalam seluruh surat 1Korintus (ini hampir mencapai 30% dari total penggunaan sapaan adelphoi di seluruh tulisan Paulus). Ketika terjadi perselisihan, Paulus memilih untuk lebih mengedepankan posisinya sebagai saudara seiman daripada sebagai rasul (bdk. 1:1). Melalui sapaan ini Paulus ingin mengajarkan bahwa persaudaraan di dalam Kristus tidak akan dapat dibatalkan oleh apapun juga, termasuk oleh perbedaan pendapat yang ada di antara mereka.

Sebelum mengutarakan isi nasehat, Paulus lebih dahulu menyatakan dasar dari nasehat itu. Ia tidak menyandarkan pada otoritasnya sebagai rasul maupun hal-hal yang bersifat pragmatis lainnya (misalnya untung-rugi yang akan dialami atau jasa-jasa Paulus bagi mereka). Dasar nasehatnya adalah teologis, yaitu “demi nama Tuhan Yesus Kristus”. Ungkapan semacam ini merupakan salah satu cara yang dipakai Paulus untuk memberi penekanan pada apa yang dia katakan (1Tes 5:27; 2Tes 3:6, 12). Di samping untuk penekanan, ungkapan ini juga menyiratkan bahwa apa yang akan dikatakan didasarkan pada karya Kristus Yesus. Semua orang ercaya memiliki persekutuan di dalam Kristus (1:9) karena menyerukan Nama yang sama (1:2). Sama seperti nasehat Paulus untuk bersatu di Filipi 2:1-11, nasehat di 1Korintus 1:10 didasarkan pada realita rohani di dalam Kristus (bdk. Flp 2:1-2 “karena di dalam Kristus ada….karena itu…”). Dari sini terlihat bahwa Paulus memang selalu mengajak jemaat untuk berpola pikir Kristosentris. Tanpa karya Kristus, maka tidak akan ada kesatuan dalam arti yang sesungguhnya. Kesatuan di luar Kristus hanyalah kesamaan tujuan yang saling menguntungkan, sedangkan di dalam Kristus keuntungan bila perlu harus dikorbankan demi kesatuan (6:6-7).

Paulus tidak memberikan nasehat untuk sebagian jemaat saja – terutama yang membela dia – namun untuk semua jemaat. Hal ini terlihat dari kata Yunani pantes di 1:10 (LAI:TB tidak menerjemahkan kata ini). Sesuai teks Yunani yang ada, ayat 10 seharusnya diterjemahkan “…dalam nama Yesus Kristus, supaya kamu semua…” (KJV/RSV/NASB/NIV/ESV). Di mata Paulus, siapa pun yang terlibat dalam perpecahan pasti telah melakukan kesalahan (3:3-4), karena itu semua perlu dinasehati.

Apa isi nasehat Paulus? Apakah nasehat yang diberikan bersifat memihak atau menguntungkan salah satu pihak? Dia ternyata memberi nasehat yang objektif. Semua nasehat yang diberikan berpusat pada kesatuan, sebagaimana tersirat dari pengulangan kata “yang sama” di ayat 10b (terjemahan LAI:TB tidak terlalu jelas). Struktur kalimat berdasarkan terjemahan hurufiah dari teks Yunani berikut ini akan menolong untuk melihat ide kesatuan secara lebih jelas.

Tetapi aku menasehati supaya

    A      kalian semua mengatakan hal yang sama

            B          tidak  ada perpecahan di antara kalian

    A’    sebaliknya, kalian diikatkan dalam pikiran yang sama dan pandangan yang sama

Sekarang mari kita selidiki isi nasehat Paulus satu per satu. Pertama, supaya mereka seia-sekata (1:10b). Menurut teks aslinya (to auto legēte), nasehat ini sebaiknya diterjemahkan “supaya kamu terus-menerus mengatakan/berkata hal yang sama” (ASV/KJV), karena kata kerja legēte dalam bentuk present tense (menyiratkan tindakan yang terus-menerus). Peletakkan “hal yang sama” (to auto) di depan legēte menunjukkan penekanan. Terjemahan dalam beberapa versi yang lebih modern menyiratkan bahwa to auto legēte mengandung makna persetujuan (NIV/NASB/RSV “you agree [with one another]”).

Kedua, supaya tidak ada perpecahan di antara mereka (1:10c). Perbedaan pendapat mungkin – bahkan pasti – ada. Jemaat Korintus berasal dari latar belakang etnis, sosial dan ekonomi yang berbeda. Mereka bahkan masih memiliki perbedaan-perbedaan yang lain (jenis karunia roh, tingkat kerohanian, usia). Semua perbedaan ini sah-sah saja, sejauh hal itu tidak sampai menimbulkan perpecahan.

Kata schisma (LAI:TB “perpecahan”) merupakan kata yang melandasi istilah modern “schism” dalam bahasa Inggris. Tidak seperti konsep modern yang selalu mencerminkan perpecahan kelompok, dalam Alkitab kata schisma sebenarnya tidak selalu berbentuk partai-partai yang bertentangan. Makna dasar yang tersirat adalah “robekan” (Mat 9:16//Mar 2:21) dan makna ini dapat merujuk pada perbedaan konsep yang tajam (Yoh 7:40-43; 9:16; 10:19-21). Seberapa parah bentuk konkrit dari schisma yang terjadi sangat ditentukan oleh konteks di mana kata ini dipakai. Dalam konteks 1:10-4:21 schisma sudah mengambil bentuk perpecahan antar kelompok (1:12), bahkan sudah dilandasi oleh iri hati (3:3).

Bentuk jamak schismata di 1:10 mempersiapkan pembaca kepada beragam bentuk perpecahan yang akan dibahas. Pemunculan kata schisma sebanyak 3 kali di surat 1Korintus mengarah pada dugaan ini. Perpecahan bisa berkaitan dengan pengetahuan/hikmat (1:10), perbedaan status ekonomi (11:18) maupun jenis karunia rohani (12:25).

Ketiga, supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir (1:10d). Bagian ini agak sulit untuk diterjemahkan karena beberapa kata yang dipakai memiliki arti yang beragam. Terjemahan LAI:TB dalam hal ini tidak banyak membantu sebab terkesan tidak mengikuti secara ketat tata bahasa Yunani yang dipakai. Kata kerja pasif katērtismenoi berasal dari kata dasar katartizō yang bisa berarti “mengatur” (Mat 4:21), “memulihkan” (Gal 6:1), “melengkapi” (2Tim 3:17; Ibr 13:21), “menyiapkan” (Ibr 11:3) atau “menyempurnakan” (2Kor 13:11; 1Tes 3:10). Dalam literatur lain katartizō secara hurufiah dipakai untuk tindakan medis dalam bentuk operasi tulang, sedangkan secara figuratif dipakai untuk memperbaiki relasi yang sudah rusak. Karena makna kata katartizō sangat luas, tidak heran versi Inggris juga memberi terjemahan yang berlainan di 1Korintus 1:10: “disempurnakan” (NASB), “disatukan” (RSV) atau “disatukan dengan sempurna” (KJV/NIV).  Sesuai dengan konteks 1:10-17, katērtismenoi sebaiknya diterjemahkan “supaya dikembalikan pada tempatnya” dalam arti “disatukan”.

Bagian selanjutnya dari 1:10d menerangkan aspek kesatuan. Mereka perlu disatukan dalam nous yang sama dan gnōmē yang sama. Kata nous lebih menyoroti cara berpikir, bukan isi pikiran. Paulus menasehatkan orang percaya agar jangan memiliki cara berpikir (nous) orang-orang non-kafir yang sia-sia (Ef 4:17). Sebaliknya, orang percaya harus terus-menerus mengalami perubahan nous (Rom 12:2; Ef 4:23) dan memiliki nous Kristus (1Kor 2:16). Cara berpikir yang dimaksud adalah cara berpikir sebagai manusia rohani (2:6-16), bukan manusia duniawi (3:1-3).

Kata gnōmē muncul 5 kali dalam tulisan Paulus. Dari semua pemunculan ini, 4 di antaranya muncul di surat Korintus dan selalu memiliki arti “pendapat” atau “penilaian” (1:10; 7:25, 40; 2Kor 8:10). Penggunaan gnōmē bersamaan dengan nous mungkin dimaksudkan untuk menegaskan bahwa baik cara berpikir (nous) maupun isi pikiran (gnōmē) jemaat Korintus harus menunjukkan kesatuan.

Jika orang percaya harus mengatakan hal yang sama dan disatukan dalam cara berpikir serta penilaian yang sama, apakah Paulus menganggap bahwa persatuan harus didasarkan pada kesamaan? Paulus pasti tidak memikirkan kesatuan dalam arti keseragaman. Hal itu akan bertentangan dengan ajaran tentang perlunya keberagaman dalam jemaat (12:12-27). Di bagian lain dari surat 1Korintus Paulus pun membuka ruang bagi perbedaan pendapat sekalipun ia memiliki pendapat sendiri yang dia anggap paling ideal (7:26-28, 36-39).

Pertanyaan seperti di atas dapat dijawab dengan mudah apabila kita menyadari persoalan khusus yang dibahas di 1:10. Perpecahan ini bukan hanya melibatkan pengultusan pemimpin, tetapi berkaitan dengan isu “hikmat”. Sebagian jemaat menganggap diri pandai menurut ukuran dunia dan menganggap injil sebagai sebuah kebodohan. Untuk menghadapi situasi ini, Paulus memerintahkan agar mereka memiliki kesatuan. Hal ini berarti bahwa dalam hal “injil”, semua orang percaya harus memiliki pandangan yang sama (bdk. Gal 1:8-9). Kesamaan ini juga dapat diaplikasikan pada hal-hal lain yang dianggap mendasar, misalnya keteladanan hidup di dalam Kristus (4:17) dan ketertiban dalam ibadah (11:16). Pendeknya, dalam hal-hal yang pokok kita harus sama, dalam hal-hal yang tidak pokok boleh berbeda, dalam segala hal adalah kasih.

11        Ayat ini menjelaskan bagaimana Paulus mengetahui isu perpecahan yang ada dalam jemaat Korintus. Dia diberitahukan oleh orang-orang dari keluarga Kloe (1:11a). Merekalah yang menginformasikan kepada Paulus tentang apa yang sedang terjadi (bentuk pasif edēlōthē, LAI:TB “diberitahukan”). Paulus tidak mencari tahu, karena tindakan ini dapat menimbulkan kesalahpahaman dan memperkeruh situasi, karena Paulus juga dilibatkan dalam pertikaian yang terjadi.

Yang memberitahu Paulus adalah orang-orang dari keluarga Kloe. Kata “orang-orang” sebenarnya tidak muncul di teks Yunani, tetapi makna itu memang dapat dibenarkan dari tata bahasa yang ada  Dalam teks Yunani istilah yang dipakai adalah tōn Chloēs (lit. “milik Kloe”). Istilah seperti ini bisa merujuk pada anggota keluarga (bdk. Yoh 21:2) atau hamba (bdk. Flp 4:22) Kloe. Kemungkinan terakhir tampaknya lebih tepat karena anggota keluarga biasanya disebutkan di bawah nama ayah (laki-laki), sedangkan Chloē adalah nama perempuan.

Para penafsir berdebat tentang identitas Kloe. Terlepas dari data yang sangat terbatas untuk mengenal Kloe secara lebih jauh, penyebutan Kloe di 1:11 menyiratkan beberapa hal tentang dirinya: (1) ia adalah seorang perempuan (hal ini diketahui dari namanya); (2) ia adalah figur yang cukup dikenal oleh jemaat Korintus, sehingga Paulus merasa tidak perlu memberi penjelasan tambahan tentang dirinya. Paulus hanya menyebut “Kloe”; (3) ia adalah orang yang bisa dipercaya, sehingga layak disebutkan sebagai sumber berita; (4) ia sendiri tidak berada di Korintus. Orang-orangnya yang melaporkan kondisi jemaat Korintus kepada Paulus; (5) dengan demikian ia tidak termasuk dalam anggota salah satu kelompok. Seandainya ia atau orang-orangnya termasuk jemaat Korintus, bukankah hal itu berpotensi menambah masalah yang ada karena mereka mungkin termasuk pada salah satu pihak yang bertikai (apalagi kalau mereka termasuk golongan Paulus)?; (6) ia juga bukan utusan Korintus, karena hal ini tidak sesuai dengan 16:17-18; (7) ia adalah orang kaya, sehingga memiliki orang-orang lain yang tinggal di rumahnya dan sering melakukan perjalanan bisnis dari Efesus ke Korintus dan sebaliknya.

Setelah menyebutkan sumber berita (11a), Paulus lalu menjelaskan inti berita itu (ayat 11b). Dalam jemaat Korintus ada perselisihan (eris). Melalui kata ini kita tahu bahwa schisma (1:10) berbentuk eris (1:11b), bahkan eris yang dilandasi  iri hati (3:3). Kata eris di PB hanya muncul di tulisan Paulus, terutama dalam daftar hal-hal negatif yang harus dihindari oleh orang Kristen (Gal 5:20; Rom 1:29; 13:13; Flp 1:15; 1Tim 6:4; Tit 3:9).

Bentuk jamak erides yang digunakan di 1:11 (NASB/NIV “quarells”) menyiratkan keberagaman konflik yang jemaat Korintus alami, walaupun di 1:12 Paulus hanya menyinggung satu konflik, yaitu seputar favotirisme pemimpin.  Mereka mengalami konflik secara legal (6:1-11), konflik antara yang kuat dan lemah imannya (8:1-13), antara laki-laki dan perempuan (11:1-16), yang kaya dan miskin (11:17-34), konflik seputar karunia roh (pasal 12-14).

12        Perselisihan yang melibatkan nama pemimpin diungkapkan dalam kalimat “aku dari golongan Petrus, Apolos, Kefas dan Petrus”. Dalam teks Yunani sebenarnya tidak ada kata “dari golongan”. Teks hanya menulis “I am of…” (saya + adalah + nama pemimpin dalam bentuk genitif). Bentuk genitif dalam bahasa Yunani memiliki banyak arti. Dalam konteks 1:12 bentuk genitif mungkin berarti “milik” (RSV) atau “pendukung” (NIV/ESV). Mana yang benar di antara dua kemungkinan ini akan dibahas di 1:13. 1:12 hanya menginformasikan kelompok-kelompok yang ada.

Golongan Paulus. Terkait dengan favoritisme kepada Paulus, kita tidak mengetahui secara pasti apakah para pendukungnya ini memang sangat (berlebihan?) menghormati Paulus atau mereka hanya sekadar menggunakan nama Paulus untuk menyerang kelompok lain yang memang tidak menyukai Paulus. Rujukan pada “kuasa” baptisan berdasarkan nama hamba Tuhan yang membaptis (1:13-16) mengarah pada kesimpulan bahwa para pendukung Paulus tidak sungguh-sungguh mengenal Paulus dan ajarannya. Dengan demikian mereka kemungkinan hanya memakai nama Paulus untuk kepentingan mereka belaka, tanpa mengasihi maupun menghormati Paulus. Dugaan ini tidak berarti kalau tidak ada jemaat yang benar-benar loyal kepada Paulus. Sebaliknya, kita mengasumsikan bahwa kalau mereka benar-benar loyal kepada dan memahami Paulus, maka mereka kemungkinan tidak akan terjebak pada perselisihan yang ada. Siapapun identitas dari kelompok ini, Paulus tetap melihat ini sebagai sebuah kesalahan/dosa (1:13; 3:3).

Golongan Apolos. Dari pemunculan nama Apolos yang cukup sering di surat ini (3:4-9, 22; 4:6a) dan sikap sebagian orang yang membanggakan Apolos atas Paulus (4:6b) kita tahu bahwa kelompok ini memainkan peranan penting dalam perselisihan yang ada. Pengetahuan kitab suci dan kefasihan bicara Apolos (Kis 18:24-28) dianggap memenuhi ambisi jemaat terhadap hikmat dan retorika.

Sebagian penafsir bahkan beranggapan bahwa Apolos benar-benar terlibat dalam masalah yang ada. Latar belakang dari Aleksandria (salah satu kota yang terkenal dengan filsafat), pengetahuan dan kefasihan bicara Apolos dipandang sebagai bukti kuat bahwa ialah yang pertama kali mempegaruhi jemaat untuk melihat kekristenan dalam konteks filsafat Yunani. Anggapan ini memang tidak bisa diabaikan sepenuhnya, tetapi petunjuk dalam teks tidak memberi dukungan kepada pandangan ini. Jika Apolos benar-benar memperkenalkan kekristenan seperti itu, maka kita berharap Paulus akan menegur hal itu dengan keras, sebagaimana ia menegur Petrus yang berpotensi mengaburkan injil (Gal 2:11-14). Fakta bahwa Paulus berpandangan positif terhadap Apolos (3:4-9; 16:12) dan lebih banyak mengarahkan teguran pada jemaat Korintus menunjukkan bahwa Apolos tidak terlibat dalam perselisihan yang ada. Sebagai tambahan, jika kita memahami kata ganti “kami” di 1:23 (“kami memberitakan Kristus yang disalibkan”) sebagai rujukan pada Apolos juga, maka kita mendapat tambahan dukungan. Jadi, Apolos hanyalah korban yang dimanfaatkan jemaat, bukan pelaku pertikaian.

Golongan Kefas. Nama “Kefas” (Kēphās) merupakan bentuk adaptasi nama Aramik ke dalam bahasa Yunan) dan merupakan kebiasaan Paulus untuk memakai nama ini ketika ia menyebut Simon Petrus (3:22; 9:5; 15:5; Gal 1:18; 2:9, 11, 14). Tidak ada catatan eksplisit bahwa Petrus pernah menggembalakan jemaat Korintus. Kemungkinan besar ia tidak pernah melayani jemaat dalam kurun waktu yang lama, karena namanya tidak dimasukkan Paulus dalam kategori yang orang yang menyiram di Korintus (bdk. 3:6). Satu-satunya catatan yang sering diperbincangkan adalah 9:5 yang menyinggung Petrus sebagai pengkhotbah keliling yang ditemani oleh isterinya dan yang didukung oleh jemaat yang disinggahi. Jika Paulus menyebut namanya di 9:5, kemungkinan ia pernah berkunjung beberapa waktu di Korintus. Walaupun 9:5 sendiri tidak memberi bukti 100% bahwa Petrus pernah ke Korintus, namun kemungkinan untuk itu tetap terbuka lebar. Di ayat ini Paulus secara khusus menyebut nama Petrus, walaupun Petrus sebenarnya sudah termasuk ke dalam kategori “rasul-rasul lain”. Penyebutan ini pasti memiliki alasan tertentu.

Bagaimana Petrus bisa memiliki pengaruh yang cukup besar dalam jemaat Korintus? Sebagian jemaat mungkin bertobat melalui pelayaan Petrus dan dibaptis olehnya. Kemungkian lain, beberapa orang yang sudah dilayani Petrus di tempat lain kemudian pindah ke Korintus. Mengingat data yang tersedia sangat terbatas, kita tidak dapat memastikan mana yang benar. Dua pilihan ini bahkan bisa sama-sama benar (golongan Petrs terdiri dari para petobat melalui perlayanan Petrus ditambah sebagian yang datang dari luar Korintus).

Golongan Kristus. Kelompok ini adalah yang paling sulit untuk diterangkan: (1) apakah kelompok ini sungguh ada?; (2) mengapa Kristus disejajarkan dengan para rasul?; (3) bukankah tergolong pada Kristus adalah sesuatu yang benar?; (4) bukankah semua kelompok lain juga percaya kepada Kristus? Berdasarkan struktur men…de…de…de… (di satu sisi…[Paulus]…di sisi lain…[Apolos]…di sisi lain…[Kefas]…di sisi lain…[Kristus]) sebaiknya kita menganggap golongan Kristus sebagai salah satu kelompok yang turut bertikai. Mereka adalah jemaat yang merasa diri lebih rohani daripada mereka yang mengagungkan manusia; kesombongan rohani ini menyebabkan mereka merasa diri eksklusif dan akhirnya menciptakan kelompok tersendiri. Mereka turut mengobarkan api perselisihan, tetapi mereka bersembunyi di balik nama Kristus. Mereka seolah-olah tidak setuju dengan pertikaian yang ada, namun mereka mengambil keuntungan di dalamnya.

13        Dalam ayat ini Paulus mengekspresikan tegurannya dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan retoris. Pertanyaan ini tidak memerlukan jawaban dari jemaat Korintus, karena jawabannya sudah jelas. Paulus hanya memakai ini untuk memberikan kesan yang lebih mendalam daripada sekadar teguran biasa. Dia berusaha menunjukkan kepada jemaat betapa cara berpikir dan sikap mereka sebenarnya sangat tidak masuk akal. Pada saat yang sama dia ingin mengingatkan bahwa mereka telah bertindak yang berlawanan dengan apa yang mereka ketahui.

Teguran pertama berkaitan dengan Kristus yang tidak dapat dibagi-bagi (ayat 13a). Pertanyaan “apakah Kristus terbagi-bagi?” merupakan bagian yang paling sulit dimengerti di antara tiga pertanyaan di ayat ini. Apakah maksud Paulus dengan pertanyaan ini? Mayoritas penafsir biasanya memahami “Kristus” di sini sebagai sinonim  (lebih tepat metonim) untuk gereja (bdk. 12:12), sedangkan bentuk pasif “dibagi-bagi” (dari kata dasar merizō) dipahami dalam arti memotong. Jika ini diambil, maka Paulus di sini sedang menegur bahwa tindakan mereka memecah gereja sama dengan memecah Kristus.

Pandangan ini memiliki kelemahan serius. Jika ini yang dimaksud Paulus, maka dia sedang berpihak pada mereka yang termasuk golongan Kristus (1:12). Mereka pasti setuju dengan maksud Paulus. Mereka tidak memecah Kristus. Mereka justru menjadikan Kristus sebagai figur utama dalam golongan mereka, walaupun dengan motivasi yang salah.

Kita lebih baik memahami kata kerja merizō dalam arti membagi untuk seseorang atau mendistribusikan. 1Korintus 7:17 “hendaklah tiap-tiap orang tetap hidup seperti yang telah ditentukan (merizō) Tuhan baginya”. 2Korintus 10:13 “di dalam batas-batas daerah kerja yang dipatok (merizō) Allah bagi kami”. Roma 12:3 “sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman yang dikaruniakan (merizō) Allah kepada kamu masing-masing”. Jika arti ini diterima, maka pertanyaan “apakah Kristus dibagi-bagi?” merupakan teguran bagi semua yang terlibat, tetapi secara khusus bagi golongan Kristus. Mereka tidak dapat mengklaim bahwa Kristus hanya dibagi untuk mereka. Kristus bukan milik sebagian orang, sebaliknya Kristus adalah pemilik semua jemaat (bdk. 3:23a “tetapi kamu adalah milik Kristus”).

Teguran kedua berkaitan dengan keutamaan Kristus dibandingkan para pemimpin rohani (ayat 13b). Penggunaan nama Paulus di bagian ini harus dipahami sebagai representasi dari seluruh pemimpin rohani. Ini merupakan strategi Paulus untuk tidak menimbulkan kesan negatif atau ofensif terhadap pemimpin yang lain. Dia sekalius ingin memberi penakanan bahwa dirinya sendiri pun tidak pantas diagungkan. Melalui pertanyaan “apakah Paulus disalibkan bagi kamu?” dan “apakah kamu dibaptis dalam nama Paulus?”, Paulus ingin mengajarkan bahwa para pemimpin rohani tidak layak menerima loyalitas yang tertinggi, apalagi disamakan dengan Kristus. Jemaat tidak boleh mengultuskan pemimpin rohani.

Pertanyaan “apakah Paulus disalibkan bagi kamu?” sekilas seperti pertanyaan remeh yang tidak perlu ditanyakan (11:24; 15:2; Rom 5:8; 8:32; 14:15; 2Kor 5:14-15; Gal 1:4; Kol 1:24). Jelas Paulus tidak disalib bagi mereka (dia sendiri masih hidup pada saat menulis pertanyaan ini!). Melalui pertanyaan ini Paulus sebenarnya sedang mengingatkan mereka tentang implikasi dari salib Kristus bagi perselisihan yang sedang terjadi. Kata “salib” maupun “disalibkan” relatif jarang muncul dalam tulisan Paulus (total hanya 18 kali) dan semua pemunculan ini ditemukan dalam konteks perselisihan (1:13, 17, 18, 23; 2:2; 2Kor 13:14; Gal 2:19; 3:1; 5:11; 6:12, 14; Ef 2:16; Flp 2:8; 3:18; Kol 1:20; 2:14). Ada tiga poin penting: (1) kesatuan di dalam salib Kristus; (2) Kerendahhatian Kristus; (3) keutamaan Kristus. Salib Kristus bukan hanya mendamaikan Allah dengan manusia (Kol 1:20), tetapi juga antara manusia (Ef 2:16). Segala sesuatu disatukan di dalam Dia (Kol 1:20). Kepada jemaat Filipi yang sedang berselisih (Flp 2:1-4; 4:2), Paulus menasehatkan mereka untuk meneladani kerendahhatian Kristus (Flp 2:5) yang mau mati di atas kayu salib (Flp 2:5). Kristus yang direndahkan akhirnya diberi nama di atas segala nama (Flp 2:8-9). Kristuslah yang harus diletakkan di tempat tertinggi, bukan para rasul. Mereka tidak boleh memberikan loyalitas atau hidup mereka untuk pemimpin rohani, betapa pun mereka sangat hebat atau berjasa dalam pelayanan.

Pertanyaan “apakah kamu dibaptis dalam nama Paulus?” memiliki makna yang sama dengan pertanyaan sebelumnya. Dalam teologi Paulus, baptisan merupakan lambang dari kematian orang percaya bagi dosa dan kehidupan mereka yang baru bagi Kristus (Rom 6:2-6; Kol 2:12-13). Mereka yang telah dibaptis dalam nama Yesus (bdk. Mat 28:19-20) harus memberikan loyalitas hidup mereka kepada Allah. Baptisan bukan hanya melambangkan pertobatan, tetapi penyerahan diri kepada Tuhan. Mereka adalah milik Kristus (3:23).

Sebagian besar sarjana menduga bahwa jemaat Korintus memiliki konsep yang salah terhadap baptisan. Mereka tidak memahami makna baptisan yang sebenarnya. Bagi mereka baptisan memiliki kuasa tertentu pada dirinya sendiri (bdk. 15:29). Jika baptisan memiliki kekuatan tertentu, maka mereka yang membaptis juga pasti memiliki kuasa tertentu pula. Kesalahpahaman seperti inilah yang sedang dikoreksi Paulus. Yang paling penting bukanlah si pembaptis, tetapi nama yang di dalamnya kita dibaptis, yaitu nama Yesus Kristus. Kita yang dibaptis dalam nama Kristus wajib memberi loyalitas kepada Kristus.

14-16   Bagian ini merupakan penjelasan Paulus tentang isu baptisan di ayat 13b. Ketika jemaat berselisih dan mengagungkan para hamba Tuhan yang membaptis mereka, Paulus bersyukur bahwa dia hanya membaptis sedikit orang (1:14a). Seandainya dia membaptis lebih banyak orang, maka potensi konflik yang ditimbulkannya juga menjadi lebih besar. Akan ada lebih banyak orang yang mungkin menggunakan hal itu untuk mengultuskan dirinya (bdk. 1:15 “sehingga tidak ada yang mengatakan bahwa kamu dibaptis dalam namaku”).

Ungkapan “aku mengucap syukur” (ayat 14a) tidak boleh dipahami sesuai budaya kita yang kadangkala sekadar memiliki arti “beruntung”. Beberapa versi dengan jelas menambahkan “kepada Allah” (KJV/NASB/ESV), sedangkan yang lain tetap tanpa tambahan ini (LAI:TB/NIV/RSV). Perbedaan terletak pada kata tō theō (“kepada Allah”) yang ada di beberapa  salinan Alkitab tetapi tidak ada di salinan yang lain. Terlepas dari isu ini (frase tō theō tampaknya asli, karena kebiasaan Paulus adalah memakai frase ini sesudah eucharistō, lihat Rom 1:8; 1Kor 14:18; Flp 1:3; Kol 1:3; 1Tes 1:2; 2:13; Flm 1:4), kita tetap memiliki bukti yang cukup bahwa ucapan syukur Paulus di 1:14a bukan hanya memiliki arti “beruntung”, namun memang ditujukan kepada Allah: latar belakang keagamaan Paulus yang sangat teosentris dan pemunculan kata eucharistō tō theō (“aku mengucap syukur kepada Allah”) di 1:4.

Paulus lalu menjelaskan siapa saja yang dia baptis (14b-17). Nama pertama yang dia sebut adalah Krispus (ayat 14b). Walaupun nama ini cukup umum pada waktu itu, namun kemungkinan besar Krispus di sini adalah kepala rumah ibadat Yahudi di Korintus yang bertobat pada waktu Paulus memberitakan injil di sana (Kis 18:8). Ini diperkuat dengan tidak adanya keterangan apapun tentang Krispus, yang menunjukkan bahwa dia dikenal secara baik oleh jemaat Korintus. Jika dugaan ini benar, maka Krispus adalah salah seorang petobat pertama. Dia juga seorang yang kaya, karena sebutan “kepala rumah ibadat” biasanya diberikan masyarakat keada orang yang memberikan kontribusi materi yang sangat besar bagi pendirian sebuah rumah ibadat.

Nama berikutnya adalah Gayus (ayat 14b). Nama yang seharusnya dilafalkan “Gaius” ini juga cukup umum pada waktu itu. Alkitab mencatat beberapa Gaius: dari Makedonia (Kis 19:29), dari Derbe (Kis 20:4), dari Korintus (1Kor 1:14), penerima surat 3Yohanes (3Yoh 1:1). Para sarjana umumnya sepakat bahwa Gaius di 1:14 adalah Gaius di Korintus yang menjadi tuan rumah selama Paulus berada di sana dan menulis surat kepada jemaat di Roma (Rom 16:23). Jika ini benar, maka dia juga adalah seorang yang kaya.

Nama terakhir adalah Stefanas (LAI:TB “Stefanus”, ayat 16). Kalau Krispos dan Gaïus adalah nama Romawi, Stephanās adalah nama Yunani. Sesuai dengan tulisan dalam bahasa Yunaninya, nama ini seharusnya diterjemahkan “Stefanas” dan dibedakan dari “Stefanus” yang dalam bahasa Yunaninya memakai Stephanos (bdk. Kis 6:5, 8, 9, 12, 15; 7:2, 55, 59; 8:1, 2; 11:19; 22:20). Semua versi Inggris juga membedakan dua nama ini (Stephanas dan Stephen). Stefanas adalah salah seorang pemimpin jemaat Korintus yang diutus untuk menyerahkan surat-surat jemaat kepada Paulus (16:15-17). Dia adalah petobat baru (1:15a), orang yang kaya (1:15b) dan terpandang (1:16).

Kita tidak mengetahui dengan pasti apakah nama-nama yang disebut Paulus di 1:14-16 terlibat dalam perselisihan. Jika kita memakai Stafanas sebagai parameter, mereka tampaknya tidak terlibat. Stefanas adalah salah seorang pemimpin jemaat dan diutus oleh jemaat yang sedang berselisih untuk mengantar surat kepada Paulus. Jika dia tidak berada dalam posisi yang netral, maka dia kemungkinan besar tidak akan diutus untuk mewakili seluruh jemaat. Di samping itu, Paulus tampaknya sangat menghargai kepemimpinan Stefanas (16:16).

17        Setelah mengucapkan syukur bahwa dia hanya membaptis sedikit orang (1:14-16), Paulus kemudian menjelaskan fokus pelayanannya (ayat 17). Pernyataan Paulus bahwa Kristus tidak mengutus dia untuk membaptis (1:17a) tidak boleh ditafsirkan seolah-olah Paulus dilarang membaptis: ia sebelumnya sudah menyebutkan siapa saja yang ia baptis (1:14-16); Amanat Agung (Mat 28:19-20) memasukkan baptisan sebagai salah satu bagian penting dalam pekabaran injil. Pernyataan ini juga tidak boleh dipandang sebagai bentuk bahwa Paulus besikap negatif terhadap baptisan. Roma 6:3-7 menunjukkan bahwa ia memiliki konsep yang mendalam tentang baptisan.

Pernyataan Paulus di ayat 17a hanya menandaskan bahwa Dia adalah rasul yang tugas utamanya bukan membaptis, karena itu ia tidak banyak melakukan baptisan. Ungkapan ini bukan berarti bahwa ada rasul yang dipanggil secara khusus untuk membaptis. Paulus hanya ingin mengajarkan bahwa yang paling penting bukanlah baptisan, tetapi injil. Baptisan hanyalah tanda bahwa seseorang telah menerima injil dengan sungguh-sungguh. Baptisan tidak menentukan keselamatan, tetapi diperlukan sebagai tanda bahwa seseorang sudah diselamatkan melalui iman (dinyatakan secara visual melalui baptisan).

Bagian terakhir ayat 17b menjelaskan bagaimana pemberitaan injil – yang merupakan tugas utama Paulus – dilakukan. Ia merasa perlu menjelaskan hal ini karena perselisihan dalam jemaat dipicu oleh konsep mereka yang salah tentang hikmat (sophia), sehingga mereka menganggap inji sebagai kebodohan (1:18). Injil tidak disampaikan dalam “hikmat perkataan” (sophia logou). Berdasarkan pembahasan yang panjang lebar di 1:18-2:16 kita menduga ungkapan sophia logou berasal dari jemaat Korintus. Paulus sedang mengoreksi hal ini. Di bagian selanjutnya Paulus akan menerangkan bahwa injil adalah sophia (1:24; 2:6-7) dan logos (1:18, LAI:TB “pemberitaan”), tetapi bukan dalam pengertian seperti yang dipahami oleh jemaat Korintus.

Para penafsir berdebat tentang cakupan makna dalam ungkapan sophia logou. Apakah sophia logou merujuk pada isi atau cara atau dua-duanya? Dari pembahasan selanjutnya yang membahas tentang isi (1:18-31) maupun cara (2:1-5) injil disampaikan, kita memiliki alasan kuat untuk memahami sophia logou dalam konteks ini mencakup isi maupun cara. Di antara dua aspek ini, aspek isi (hikmat) adalah yang paling penting, sedangkan aspek cara (perkataan) hanyalah penjelasan saja.

Paulus mengatakan bahwa injil tidak ia sampaikan dalam sophia logou (1:17b; 2:1). Tujuannya adalah supaya salib Kristus tidak sia-sia. Terjemahan “sia-sia” di sini dipakai untuk kata Yunani kenoō yang secara hurufiah berarti “dikosongkan”. Mengingat Paulus di 1:18-2:5 banyak membicarakan tentang kuasa, kita memiliki alasan untuk menafsirkan di 1:17 dalam arti “dikosongkan dari kuasanya” (RSV/NIV). Inji dalam dirinya sendiri adalah kuasa Allah (1:18, 24; Rom 1:16-17) yang menyelamatkan orang percaya melalui kuasa Roh (2:4-5). Kita tidak dapat menambah apapun pada kuasa injil, sebaliknya kita justru mengosongkan kuasa itu jika kita bersandar pada hikmat dunia dan retorika manusia.

Kita tidak boleh melihat 1:17b sebagai dukungan untuk meremehkan homiletika (ilmu tentang berkhotbah) yang mengajarkan cara menyampaikan khotbah yang teratur dan menarik. Paulus berbicara dalam konteks yang khusus dengan pemahaman tentang sophia serta logos yang khusus pula. Yang ditentang oleh Paulus adalah sophia dan logos yang ada dalam pikiran jemaat Korintus, yaitu filsafat dunia yang melawan injil dan retorika dunia yang menyandarkan keberhasilan pada metode persuasi. Kita boleh (harus!) mempelajari homiletika sejauh kita tidak beranggapan bahwa homiletika adalah pengganti (substitusi) bagi konsep injil yang benar dan persandaran yang penuh pada kuasa Roh.

APLIKASI

Perselisihan dalam jemaat Korintus merupakan pengaruh negatif dari semangat Kota Korintus yang sangat mengutamakan keagungan manusia. Menjadi anggota dari suatu kelompok yang terhormat atau dekat dengan orang-orang tertentu yang dihargai dalam suatu komunitas merupakan kebanggaan tersendiri bagi penduduk Korintus. Semangat ini pula yang membuat satu kelompok memusuhi kelompok yang lain. Para pemimpin yang dikultuskan pun sangat menikmati suasana seperti ini. Mereka merasa dianggap penting, dihormati dan dibutuhkan.

Semua kebobrokan dunia ini merasuk dalam kehidupan jemaat Korintus. Mereka mencoba mendirikan nilai diri di atas kebesaran nama pemimpin rohani. Para pemimpin dimanfaatkan untuk memenuhi ambisi duniawi mereka. Mereka terjebak pada kebanggaan kelompok dan saling memusuhi.

Persoalan di atas tidak jauh berbeda dengan apa yang dihadapi oleh gereja-gereja modern. Banyak perselisihan dalam gereja dipicu oleh pengaruh-pengaruh duniawi. Perebutan kekuasaan, kebanggaan jika dikultuskan banyak orang serta konsep kesuksesan pelayanan yang bersifat materialistis seringkali menjadi awal pertikaian dalam gereja. Di satu sisi mereka yang memberikan sumbangan besar (istilah ini sendiri memberi kesan seolah-olah mereka dibutuhkan oleh gereja!) ingin diberi penghormatan dan kuasa yang besar pula. Dengan kekuatan uang mereka berusaha meyakinkan banyak orang (termasuk hamba Tuhan) bahwa keberlangsungan dan keberhasilan pelayanan bergantung pada mereka. Di sisi lain para hamba Tuhan dan aktivis tidak ketinggalan memanfaatkan “kebutuhan” gereja terhadap diri mereka (seolah-olah kalau tidak ada mereka maka semua aktivitas dan pelayanan gerejawi akan berada dalam masalah besar!).

Orang-orang duniawi seperti ini pula yang akhirnya memasukkan semua prinsip dunia ke dalam pelayanan. Gereja dibuat semenarik mungkin. Apa yang mendasar bagi kekristenan dianggap kuno. Khotbah diatur sedemikian rupa agar berkenan di hati banyak orang dengan cara memuaskan telinga mereka. Ketika perbedaan pendapat muncul, mereka memberi siraman kebencian dan kecurigaan sehingga dengan cepat berkobar menjadi permusuhan sengit dalam jemaat. Mereka yang memegang kuasa dalam gereja berlomba untuk memperbesar kuasa mereka dengan cara menghasut banyak orang ke pihak mereka.

Bukankah hal di atas sudah menjadi fenomena umum dalam gereja modern? Bukankah semua pemegang kuasa seharusnya seperti Paulus yang mengarahkan semua orang kepada Kristus dan kehidupan yang berpadanan dengan injil? Untuk melakukan semua ini diperlukan kerendahhatian dan perubahan konsep dari semua pihak. Kebesaran orang Kristen adalah ketika kita merasa kecil dan karena itu mau melayani orang lain, sama seperti Kristus mau direndahkan di salib sehingga Ia pada akhirnya dimuliakan di atas segalanya.

Leave a Reply