SALIB BERKONTRADIKSI DENGAN HIKMAT DUNIA

Setelah menegaskan bahwa pemberitaan injil yang ia lakukan bukan melalui hikmat perkataan (sophia logou, 1:17b), Paulus lalu memberikan alasan detil mengapa injil tidak bisa disampaikan dengan cara demikian. Kalau di 1:17b ia hanya mengungkapkan akibat yang ditimbulkan (kuasa injil akan menjadi sia-sia) dari pemberitaan injil menurut hikmat perkataan, sekarang ia lebih menyoroti alasan di balik sikap itu. Ia ingin menunjukkan bahwa injil berkontradiksi dengan hikmat dunia. Menggabungkan keduanya adalah tindakan yang tidak berhikmat.

Porsi pembahasan yang sangat besar untuk topik sophia (1:18-2:5) mengarahkan kita untuk melihat topik ini sebagai akar masalah dari semua perselisihan yang dibahas di 1:10-4:21. Ketertarikan terhadap hikmat dan retorika dunia telah membutakan jemaat sehingga mereka mereka menjadi sombong. Mereka memandang injil sebagai kebodohan. Mereka ingin menambahkan sophia logou pada injil supaya injil menjadi lebih menarik.

Untuk menanggapi persoalan ini Paulus berusaha membuktikan bahwa pemberitaan injil sungguh-sungguh tidak memerlukan sophia logou dari dunia. Mula-mula ia menjelaskan hakekat injil (1:18-25). Berita injil sangat berkontradiksi dengan hikmat dunia. Walaupun injil adalah hikmat (sophia, 1:24), tetapi pengertian hikmat di sini berbeda dengan konsep menurut dunia (bdk. 2:6-7). Injil pada dasarnya memang tidak menarik bagi orang-orang berdosa, karena berseberangan dengan harapan mereka yang keliru.

Paulus juga memberikan bukti konkrit dari kuasa injil, sekalipun tidak diberitakan menurut sophia logou. Bukti ini adalah pertobatan jemaat Korintus (1:25-31). Mereka dahulu bukanlah orang-orang yang berhikmat, tetapi toh mereka dulu juga bisa percaya kepada injil. Kalau Allah mau memilih orang-orang yang rendah seperti mereka, mengapa mereka sekarang justru ingin menjadi orang-orang yang tinggi? Bukti ini sekaligus menjadi teguran atas kesombongan mereka.

Masih berkaitan dengan poin yang disampaikan di 1:25-31, pada bagian terakhir Paulus mengingatkan mereka tentang cara ia memberitakan injil pertama kali di tengah-tengah mereka (2:1-5). Menurut ukuran filsafat dan retorika dunia waktu itu cara berkhotbah Paulus tampak sangat rendah. Berbeda dengan para filsuf keliling yang sangat percaya diri, Paulus justru merasa takut dan gentar. Kalau para filsuf mengandalkan kefasihan bicara dan metode persuasi tertentu, Paulus memilih untuk tidak bersandar pada prinsip maupun metode retorika. Hasilnya? Jemaat Korintus bisa ada dengan pertolongan kuasa Roh!

 

INJIL : KEBODOHAN YANG BERHIKMAT

1KORINTUS 1:18-25

  

18 Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.  19Karena ada tertulis: “Aku akan membinasakan hikmat orang-orang berhikmat dan kearifan orang-orang bijak akan Kulenyapkan.” 20Di manakah orang yang berhikmat? Di manakah ahli Taurat? Di manakah pembantah dari dunia ini? Bukankah Allah telah membuat hikmat dunia ini menjadi kebodohan? 21Oleh karena dunia, dalam hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hikmatnya, maka Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil.  22Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat, 23tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan, 24tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah. 25Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia.

Kata sambung “sebab” (gar) di awal ayat 18 mengindikasikan bahwa 1:18-25 memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan bagian sebelumnya. Bagian ini merupakan penjelasan terhadap apa yang sudah disinggung di 1:10-17. Secara khusus, bagian ini menjelaskan 1:17b “itupun bukan dengan hikmat perkataan supaya salib Kristus tidak dikosongkan kuasanya”. Hubungan ini terlihat dari kata “perkataan” (logos) yang muncul di ayat 17b (“hikmat perkataan”) dan ayat 18a (NASB/RSV “perkataan salib”; LAI:TB “pemberitaan salib”).

1:18-25 banyak menyinggung tentang “kebodohan”. Kata “bodoh” muncul di bagian awal (1:18) dan akhir (1:25). Kata ini juga dapat ditemukan berkali-kali di bagian lain (1:20, 21, 23). Penyelidikan yang seksama akan menolong kita untuk memahami bahwa fokus utama dalam bagian ini adalah memaparkan sebuah kontradiksi: injil di mata dunia adalah kebodohan, tetapi di mata Allah injil adalah hikmat Allah. Siapa yang menolak injil gara-gara menganggap injil sebagai kebodohan adalah orang-orang yang bodoh. Sebaliknya, mereka yang percaya kepada kebodohan injil adalah orang-orang yang menerima hikmat sejati.

Struktur pemikiran Paulus di bagian ini agak sulit untuk diikuti. Ia memulai dengan pembedaan antara orang yang akan binasa dan yang diselamatkan (1:18). Pembedaan ini sangat menentukan perspektif mereka terhadap injil: apakah injil merupakan kebodohan atau kekuatan? Selanjutnya Paulus mengutip Kitab Yesaya untuk menerangkan alasan bagi pernyataan sebelumnya (1:19-20). Sesudah memberikan alasan, Paulus lalu menerangkan bahwa cara kerja Allah sangat berseberangan dengan tuntutan dunia (1:21-24). Akhirnya, Paulus menutup pembahasan ini dengan sebuah kalimat ironis yang mengontraskan Allah dan manusia: kebodohan Allah lebih besar hikmatnya daripada manusia dan kelemahan Allah lebih kuat daripada manusia (1:25).

 

18        Dalam ayat ini Paulus menjelaskan bahwa pemberitaan (logos) tentang salib adalah kebodohan bagi yang mereka binasa (tois apollumenois). LAI:TB menerjemahkan kata Yunani ini dengan “mereka yang akan binasa”, seolah-olah kebinasaan mereka bersifat futuris. Terjemahan ini sebenarnya kurang sesuai dengan tata bahasa Yunani yang dipakai. Bentuk present tense pada kata apollumenois menyiratkan bahwa orang-orang ini sedang berada dalam kebinasaan. Beberapa versi Inggris dengan tepat memilih terjemahan “those who are perishing” (NIV/NASB/RSV). Kata yang sama persis juga muncul di 2Korintus 4:3 “jika injil yang kami beritakan masih tertutup juga, maka ia tertutup untuk mereka yang akan (lit. “sedang”) binasa”.

Setelah menjelaskan hal tersebut, Paulus menyatakan keyakinannya tentang keselamatan jemaat Korintus. Hal ini tersirat dari kata ganti “kita” di 1:18b. Paulus tidak mengatakan “bagi mereka yang diselamatkan” (bdk. 1:18a “bagi mereka yang binasa”), tetapi “bagi kita yang diselamatkan”. Bentuk present tense sōzomenois yang dipakai di ayat ini menunjukkan bahwa keselamatan orang percaya merupakan sesuatu yang sedang terjadi. Orang percaya sudah diselamatkan di dalam Kristus Yesus. Di ayat-ayat selanjutnya Paulus menerangkan bagaimana keselamatan ini bisa terjadi, yaitu melalui perkenanan (1:21) dan panggilan Allah (1:24).

Bagi yang sedang diselamatkan, injil adalah kekuatan Allah (1:18b, 24). Keselamatan orang percaya merupakan bukti dari kekuatan injil. Kekuatan ini pula yang meyakinkan Paulus bahwa pemberitaan injil tidak perlu (dan tidak boleh) dilakukan dengan kekuatan hikmat perkataan manusia (1:17b; 2:1-5). Hikmat manusia tidak akan menambah kekuatan apapun pada injil.

Pemakaian kata dynamis (“kekuatan”) harus dipahami dalam konteks keselamatan (Roma 1:16 “injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya”), bukan mujizat kesembuhan atau hal lain yang spektakuler. Pemakaian ini sekaligus mengingatkan kita bahwa mujizat terbesar dalam hidup kita adalah keselamatan orang berdosa. Kita dahulu adalah orang-orang yang sedang binasa karena dibutakan oleh ilah jaman ini (2Kor 4:3-4) dan dikuasai oleh natur yang rusak (Ef 1:1-3), namun Allah berkenan memanggil kita dengan panggilan yang kuat. Kekuatan ini akan menjadi sia-sia (1:17b) apabila injil diubah sesuai dengan hikmat dunia dan disampaikan dengan bersandar pada retorika dunia.

19        Keyakinan Paulus di 1:18 didasarkan pada firman Tuhan (bdk. kata sambung “karena” di awal 1:19). Seperti biasanya, Paulus memulai kutipan firman Allah dengan kata “ada tertulis” (gegraptai). Kata gegraptai muncul 63 kali dalam seluruh tulisan Paulus. Melalui pengutipan ini Paulus menegaskan bahwa firman Tuhan merupakan argumen yang sudah sangat kuat. Dia tidak perlu berbantah-bantah atau memberi bukti-bukti lain di luar Alkitab. Allah telah berfirman, semua telah diputuskan.

Kutipan yang diambil dari Yesaya 29:14 ini sangat relevan dengan situasi yang dihadapi jemaat Korintus. Pada jaman Yesaya, ketika bangsa Yehuda menghadapi ancaman dari bangsa Babel, mereka tidak mau bersandar pada kekuatan Tuhan walaupun Tuhan sudah mengatakan bahwa dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatan mereka (Yes 30:15). Mereka justru memilih untuk mengikuti pemikiran mereka sendiri dengan cara mengikuti dewa-dewa kafir dan meminta bantuan dari bangsa Mesir (Yes 30:1-2). Mereka bahkan menganggap diri lebih berhikmat daripada Allah (Yes 29:16). Allah sudah menegur tindakan ini dengan menyatakan bahwa hikmat-Nya tidak terbatas dan jauh melampaui siapapun (Yes 40:12-14, 25). Allah menyatakan bahwa para pembesar Zoan dan penasehat Mesir adalah orang yang bodoh semata-mata. Perkataan Allah ini kemudian menjadi kenyataan. Bangsa Yehuda tetap kalah dan dibuang selama 70 tahun.

Apa yang ditulis oleh Yesaya memiliki penggenapan yang eskhatologis. Salib merupakan pemutarbalikan prinsip-prinsip duniawi. Yesus yang direndahkan di kayu salib akhirnya justru dimuliakan. Allah selalu merendahkan orang-orang yang menganggap dirinya berhikmat (bdk. 1:29; Ams 16:18). Sebaliknya, Allah justru seringkali memakai orang-orang yang dianggap bodoh atau lemah oleh dunia (1:27-28; Mat 11:25). Yesus sendiri mengajarkan bahwa yang berbahagia adalah mereka yang dianggap kurang beruntung oleh dunia: miskin, lapar, haus, berduka dan teraniaya (Mat 5:12).

20        Masih menggunakan teks-teks dari Kitab Yesaya sebagai dasar (19:11-12; 33:18), Paulus di ayat ini memberikan serangkaian pertanyaan retoris. Pertanyaan ini tidak boleh dianggap sebagai tantangan Paulus kepada jemaat Korintus. Dia menyadari bahwa sebagian besar jemaat adalah orang-orang yang lemah dan bodoh menurut dunia (1:26). Dia hanya menyadarkan jemaat Korintus bahwa semua orang yang dianggap berhikmat menurut ukuran dunia ternyata tidak mampu bertahan.

Para penafsir berbeda pendapat tentang identitas tiga golongan yang disebut di ayat 20a: orang-orang berhikmat (sophos), ahli Taurat (grammateus) dan para pembantah (suzētētēs). Grammateus jelas merujuk pada ahli Taurat (kontra NIV “scholar”), karena hampir semua pemunculan kata ini di PB selalu menunjuk pada salah satu golongan pemimpin agama Yahudi, walaupun kata ini juga pernah dipakai untuk pejabat pemerintahan (Kis 19:35). Perdebatan di kalangan penafsir biasanya berkaitan dengan golongan pertama dan terakhir. Mayoritas penafsir memahami sophos sebagai para pemikir (filsuf) Yunani, sedangkan suzētētēs merupakan rujukan umum untuk semua orang yang suka berdebat (KJV/RSV/NASB/ESV). NIV menerjemahkan suzētētēs dengan filsuf, mungkin dengan pertimbangan bahwa perdebatan biasa terjadi dalam lingkungan para filsuf.

Tiga golongan ini memiliki kesamaan. Mereka semua adalah orang-orang yang ahli. Mereka semua menggunakan keahlian itu untuk mencari kebenaran berdasarkan hikmat dunia. Mereka pun membanggakan status yang mereka miliki. Berita salib jelas tidak memenuhi harapan dan kriteria kebenaran yang  mereka sudah dirikan.

Paulus selanjutnya menutup rentetan pertanyaan retoris di ayat 20a dengan pertanyaan inti: “bukankah Allah telah membuat hikmat dunia ini menjadi kebodohan?”. Penggunaan ungkapan “hikmat dunia” (sophia kosmou) di ayat ini bukan hanya menunjukkan jenis hikmat yang duniawi, tetapi juga kesementaraan dari hikmat ini. Hal ini tersirat dari ungkapan “para pembantah dunia ini” di ayat 20a. Kata “dunia” di bagian ini memakai kata aiōn yang secara hurufiah berarti “jaman”. Dengan demikian Paulus ingin menegaskan bahwa orang-orang berhikmat menurut ukuran dunia termasuk pada “jaman ini” yang sedang menuju kehancuran (bdk. 7:31). Apa yang dianggap berhikmat ternyata hanyalah kebodohan.

Pernyataan Paulus di sini tidak boleh dianggap sebagai kritikan terhadap penggunaan rasio manusia. Yang dipersoalkan bukanlah hikmat, tetapi hikmat duniawi. Inti masalah terletak pada jenis hikmat. Semua kebenaran adalah kebenaran Allah, baik kebenaran di dalam alam (nature) maupun kitab suci (scripture). Pertanyaannya, apakah manusia sudah menemukan kebenaran yang sejati di dalam dua hal ini?

21        Di ayat ini Paulus memberikan alasan (kata sambung “karena”) mengapa hikmat dunia menjadi kebodohan. Hikmat dunia ini tidak dapat menolong orang untuk mengenal Allah (ayat 21a). Seberapa pun kepandaian manusia, hal itu tidak menjamin bahwa dia mengenal Allah, karena pengenalan terhadap Allah hanya dimungkinkan oleh karya Roh Kudus (2:6-16). Di bagian suratnya yang lain Paulus memberi contoh tentang hal ini. Walaupun manusia sebenarnya dapat mengenal Allah melalui ciptaan-Nya (Rom 1:19-20), tetapi mereka justru menindas kebenaran tersebut (Rom 1:18). Mereka terjebak pada berbagai kebodohan, yaitu penyembahan berhala dan dosa-dosa (Rom 1:21-31). Orang-orang Yahudi yang mengenal Taurat ternyata tidak memiliki pengetahuan tentang Allah dan merasa mampu mendirikan kebenaran mereka sendiri (Rom 10:2-3).

Pengenalan Allah yang dibicarakan Paulus bukan sekadar pengetahuan intelektual yang abstrak seperti dalam filsafat Yunani. Pengenalan ini mencakup aspek relasi. Alkitab mengajarkan bahwa pengetahuan tentang Allah seharusnya membawa manusia untuk memuliakan Dia (Rom 1:21). Tanpa relasi, pengenalan Allah tidak berarti.

Semua ini terjadi “dalam hikmat Allah” (en tē sophia tou theou). Hikmat dalam frase ini jelas memiliki makna yang berbeda dengan hikmat di bagian sebelumnya (1:17, 19-20), karena hikmat ini adalah hikmat Allah. Hikmat Allah menyebabkan hikmat manusia menjadi kebodohan. Maksud Paulus dalam hal ini adalah bahwa Allah sangat berhikmat untuk tidak membiarkan hikmat manusia sebagai kunci pengenalan terhadap dirinya. Dia membiarkan manusia tinggal dalam kebodohan jalan mereka sendiri (Kis 14:16; 17:30; Rom 1:24; 11:32). Mereka seharusnya memiliki bukti yang cukup, namun Allah membuat mereka tidak memahami apa yang mereka lihat (Yes 6:9-10; 29:9-10). Jika Allah secara otormatis dapat dikenal melalui hikmat manusia, maka manusia lebih hebat dari Allah dan pengenalan itu hanya untuk sebagian orang saja yang memiliki kualitas hikmat yang tinggi. Tidak! Allah bertindak penuh hikmat ketika Ia menyembunyikan diri dalam pencarian hikmat manusia. Justru di dalam salib Kristus Allah membuat orang berhikmat dan orang bodoh menjadi sama-sama bodoh. Mereka membutuhkan hikmat Allah melalui Roh (2:6-14) supaya tidak tinggal tetap dalam kebodohan itu.

Alasan lain mengapa hikmat dunia telah dijadikan kebodohan adalah keselamatan dari orang-orang yang percaya pada kebodohan pemberitaan injil (ayat 21b). Identitas orang-orang yang diselamatkan ini memang tidak dijelaskan Paulus di ayat ini, tetapi ayat-ayat selanjutnya menunjukkan bahwa orang-orang ini adalah mereka yang dianggap bodoh dan  lemah oleh dunia (ayat 25-27). Bagaimana mungkin orang yang berhikmat malah tidak mengenal Allah sedangkan yang bodoh justru percaya kepada Dia? Kuncinya terletak pada kata “Allah berkenan menyelamatkan”. Ungkapan Allah “berkenan” (eudokēsen) dalam Alkitab – terutama dalam tulisan Paulus – merujuk pada ketetapan Allah yang berdaulat (Gal 1:15; Kol 1:19; 2Pet 1:17; Ef 1:5, 9). Di ayat 24 dijelaskan lebih lanjut bahwa perkenanan Allah ini berhubungan dengan kerelaan Allah memanggil orang-orang pilihan (bdk. Rom 8:29-30; Ef 1:4; 2Tim 2:9).

Konsep iman di ayat 21b bukanlah sekedar persetujuan intelektual belaka. Jika hanya sekedar keputusan rasio, maka tidak ada orang yang mau percaya pada kebodohan pemberitaan injil. Iman di sini berarti penyerahan hidup. Jemaat Korintus yang terjebak pada hikmat duniawi dan mulai berani menghakimi injil sebenarnya telah melupakan satu fakta yang penting: mereka dulu diselamatkan melalui iman, bukan terutama pergumulan rasio atau kepuasan intelektual.

Penggunaan kata “pemberitaan” (kērygma) di bagian ini juga memiliki makna penting. Dalam dunia retorika dan diskusi filsafat waktu itu seorang filsuf tidak akan memakai kata kērygma untuk mendiskripsikan aktivitas mereka. Seorang kēryx (“orang yang bertugas memberitakan”) bukan seorang pemikir yang menganalisa maupun menemukan satu kebenaran lalu menyampaikannya dengan persuasif. Tugas kēryx hanya menyampaikan apa yang sudah didengar dari orang yang mengutus dia. Peranan ini jelas sangat kontras dengan para orator dan filsuf kuno waktu itu. Bagaimanapun, Paulus tetap lebih memilih kērygma untuk menggambarkan pemberitaan injil.

22        Karakteristik bangsa Yahudi dalam mencari kebenaran dapat diringkas dalam satu kalimat: kebenaran dibuktikan dengan tanda (Mat 11:38-39; Mar 8:11; Luk 11:16; Yoh 6:30). Mentalitas seperti ini memang sangat wajar menjadi bahaya bagi suatu bangsa yang berkali-kali mengalami perbuatan tangan Tuhan yang hebat. Bagi mereka kebenaran dari sesuatu adalah secara pengalaman (empiris). Sayangnya, mereka sendiri telah menentukan apa yang dapat dikategorikan sebagai tanda, sehingga ketika Allah sudah memberi tanda mereka tetap tidak mampu mencerna itu sebagai sebuah tanda. Yesus pernah menegur para pemimpin mereka yang ahli membedakan cuaca tetapi tidak mampu membedakan tanda jaman (Mat 16:2-3). Jaman baru melalui kedatangan Mesias tidak mereka ketahui.

Di sisi lain, orang-orang Yunani hampir dapat diidentikkan dengan satu kata: “hikmat” (bdk. Kis 17:21). Pergumulan intelektual untuk mempelajari dan memahami segala sesuatu merupakan ciri khas bangsa Yunani. Karakteristik ini juga menjadi kebanggaan mereka, sehingga mereka menganggap bangsa-bangsa lain adalah orang-orang yang kurang terpelajar. Sayangnya, orang-orang yang pandai ini telah salah mendefinisikan hikmat. Dalam upaya mencari hikmat, mereka terlebih dahulu membatasi arti kata hikmat. Ketika Allah menyatakan hikmat yang sesungguhnya melalui salib, mereka melihat ini sebagai kebodohan.

23        Walaupun manusia pada jaman Paulus menuntut tanda dan hikmat, Allah tidak mau kompromi. Jalan keselamatan tetap harus melalui salib. Inilah yang diberitakan oleh Paulus. Ungkapan “Kristus [Mesias] yang disalibkan” menurut kacamata dunia waktu itu merupakan dua kata yang saling kontradiktif dan tidak bisa digabungkan. “Mesias” mengandung makna kemenangan, kekuatan dan kemuliaan, sedangkan “salib” menyiratkan kehinaan, kelemahan dan kekalahan.

Bagi orang Yahudi yang selalu menuntut tanda ajaib, konsep tentang Mesias yang disalib merupakan batu sandungan (lit. “skandal”). Mereka mengharapkan mesias yang perkasa dan mampu menyelamatkan mereka dari tangan bangsa Romawi (bdk. Kis 1:6). Menurut mereka, kematian Yesus di kayu salib menunjukkan bahwa Dia tidak mampu menyelamatkan diri-Nya sendiri, apalagi mau menyelamatkan bangsa Yahudi (Mar 15:30-31). Lebih jauh, kematian di atas kayu salib merupakan bukti bahwa orang itu terkutuk di hadapan Allah dan manusia (Ul 21:23; Gal 3:13).

Apa yang menjadi kelebihan bangsa Yahudi – yaitu pengalaman historis dengan berbagai mujizat – telah menjadi kelemahan mereka. Mereka berusaha membatasi dan mendefinisikan kebesaran Allah sesuai dengan pengalaman tersebut. Standar kebenaran inilah yang menghalangi mereka untuk menerima karya Allah dalam bentuk mesias yang tersalib.

Di mata orang-orang Yunani, berita salib sebagai kebodohan. Sebagian dari mereka mungkin mempercayai konsep seorang dewa yang menjadi manusia (walaupun sebagian dari mereka – terutama di kalangan filsuf – menganggap hal ini sebagai mitos), namun konsep yang mereka pegang berbeda dengan inkarnasi Yesus. Dewa yang menjadi manusia tidak mungkin mengalami kematian. Di samping itu, kematian di atas kayu salib hanya dikhususkan bagi para penjahat yang biadab. Bagaimana bisa Allah menjadi manusia, mati dan dengan cara disalib? Semua ini jelas sulit diterima oleh orang Yunani.

Sama seperti bangsa Yahudi, orang-orang Yunani juga telah mengubah kelebihan mereka dalam hal pergumulan intelektual menjadi sumber kelemahan. Kalau bangsa Yahudi dapat disamakan dengan empirisme (kebenaran berdasarkan pengalaman), bangsa Yunani sangat dekat dengan rasionalisme (kebenaran berdasarkan rasio). Penekanan pada aspek rasio membuat mereka sulit memahami Allah. Mereka berpikir bahwa inkarnasi dan salib Kristus adalah bentuk lain dari mitos tradisional yang bodoh dan harus ditinggalkan. Sebagian penafsir berpendapat bahwa kata “kebodohan” (mōria) memiliki makna lebih dari ketidakmampuan intelektual. Kata ini lebih ke arah kegilaan.

24        Apakah itu berarti bahwa pemberitaan injil adalah perkataan kosong dan hanya merupakan konsep yang tidak rasional? Sama sekali tidak! Di ayat ini Paulus menegaskan bahwa injil adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah. Bagaimana bisa? Ya, injil adalah kekuatan dan hikmat Allah bagi yang dipanggil oleh Allah, baik orang-orang Yahudi maupun non-Yahudi, terlepas dari kerangka berpikir dari dua golongan manusia ini. Kalau Allah memang memanggil seseorang, maka orang itu pasti akan mempercayai injil. Dengan demikian, bagi orang seperti itu injil adalah kekuatan dan hikmat Allah.

Kata “terpanggil” (klētos) berasal dari kata dasar kaleō yang dalam konteks keselamatan di surat Paulus selalu berarti “memanggil [secara efektif]”. Panggilan ini bukan sekadar pemberitaan atau tawaran injil. Panggilan ini adalah panggilan internal dalam diri orang berdosa yang memampukan mereka untuk beriman kepada Yesus Kristus (1:2, 9). Jadi, mereka yang diselamatkan (1:18) adalah mereka yang sebelumnya telah percaya (1:21); mereka yang percaya (1:21) adalah mereka yang sebelumnya telah dipanggil (1:24).

Pernyataan di 1:24 berguna untuk menggarisbawahi kegagalan manusia. Kita mungkin bertanya-tanya, “mengapa Allah tidak memberi tanda pada bangsa Yahudi dan menyatakan hikmat pada orang Yunani sehingga mereka semua bisa percaya?” Melalui ayat ini Paulus menegaskan bahwa sumber masalah terletak pada diri manusia. Allah sudah memberikan tanda (kuasa) dan hikmat melalui Kristus, tetapi mereka menolak-Nya. Di sini Paulus tidak sedang menampilkan Kristus dalam perspektif hikmat dunia (filsafat). Kristus adalah benar-benar hikmat yang sejati (1:24, 30; 2:6-7). Kesombongan intelektual manusialah yang membuat hikmat ini tampak sebagai sebuah kebodohan. Mereka memang manusia duniawi yang tidak dapat memahami hal-hal rohani (2:14). Hanya melalui kasih karunia Allah yang memberikan panggilan internal dalam diri manusia maka orang berdosa dimampukan untuk percaya.

25          Terjemahan LAI:TB untuk ayat ini (“yang bodoh dari Allah…yang lemah dari Allah…) berpotensi untuk mengaburkan makna yang ada. Kita tidak bisa mengetahui dengan jelas apa yang dimaksud dengan “yang bodoh” dan “yang lemah”. Kita pun mengalami kesulitan mengetahui fungsi kata “dari” dalam terjemahan LAI:TB. Pendeknya, terjemahan LAI:TB dapat memberi kesan bahwa Paulus sedang membicarakan orang-orang pilihan Allah yang dianggap bodoh dan lemah oleh dunia.

Terjemahan hurufiah dari ayat ini adalah “sebab kebodohan Allah adalah lebih berhikmat daripada manusia dan kelemahan Allah adalah lebih kuat daripada manusia”. Dari terjemahan ini terlihat bahwa Paulus tidak lagi membandingkan orang-orang pilihan dengan manusia duniawi, tetapi membandingkan Allah dan [semua] manusia. Allah jauh lebih berhikmat dan kuat daripada manusia. Jangankan membandingkan hikmat Allah dan hikmat manusia, kebodohan Allah pun sudah jauh lebih hebat daripada semua kepandaian manusia. Jangankan membandingkan kekuatan Allah dengan manusia, kelemahan Allah pun sudah jauh melebihi semua kekuatan manusia. Salib merupakan bukti betapa kekuatan dan hikmat manusia telah dipermalukan oleh Allah. Dalam hal ini pertanyaan ilahi di Yesaya 29:16 perlu untuk didengungkan sekali lagi: “Betapa kamu memutarbalikkan segala sesuatu! Apakah tanah liat dapat dianggap sama seperti tukang periuk, sehingga apa yang dibuat dapat berkata tentang yang membuatnya: “Bukan dia yang membuat aku”; dan apa yang dibentuk berkata tentang yang membentuknya: “Ia tidak tahu apa-apa”?”

APLIKASI

Budaya Korintus yang sangat mengagungkan filsafat dan retorika merupakan ancaman bagi kekristenan. Jemaat tergoda untuk memandang injil sebagai sesuatu yang bodoh dan tidak menarik. Untuk membuat injil terlihat menarik, jemaat lalu memberitakannya menurut filsafat dan prinsip retorika waktu itu. Cara ini dari luar mungkin mampu membuat banyak orang tertarik, tetapi tindakan ini justru berkontradiksi dengan hakekat injil. Injil sudah merupakan kuasa dan hikmat Allah. Akar masalah bukan terletak pada injil, tetapi natur manusia yang sombong. Mereka mau duduk di kursi hakim dan mulai menghakimi Allah yang mereka letakkan di kursi terdakwa. Benar atau salah, berhikmat atau bodoh, kuat atau lemah, semua bergantung pada penilaian mereka.

Persoalan yang sama terulang lagi mulai jaman pencerahan (enlightenment) sekitar abad ke-18 sampai sekarang. Rasio diletakkan sebagai hakim dan firman Tuhan sebagai terdakwa. Semua yang tidak memenuhi kriteria kebenaran yang didirikan orang-orang waktu itu dianggap sebagai mitos. Semua yang supranatural ditolak. Alkitab tidak ubahnya seperti buku kuno biasa yang dipenuhi banyak kesalahan. Mereka yang berusaha membela kekristenan cenderung memakai cara berpikir kontemporer yang filosofis supaya Alkitab bisa tetap diterima. Mereka membedakan antara firman yang tertulis (bisa salah) dan firman yang mengena dalam hati kita (tidak bisa salah). Berbagai kisah mujizat ditafsirkan dengan cara yang baru, yaitu melalui demitologisasi (mengupas semua ornament kultural yang dipenuhi berbagai mitos untuk menemukan kebenaran yang universal dan kekal). Allah pun ditampilkan dalam konsep Deisme (paham ini mengajarkan bahwa Allah hanya menciptakan alam semesta dengan hukum alam di dalamnya, tetapi setelah itu Ia tidak campur tangan sama sekali) supaya keberadaan Allah dan penolakan terhadap mujizat dapat berjalan beriringan.

Apakah hasil dari semua upaya manusia yang tampak “berhikmat” ini? Kekristenan terus mengalami kemunduran! Tepatlah yang dikatakan oleh Paulus bahwa pemberitaan injil menurut hikmat dunia hanya akan mengosongkan kuasa injil (1:18). Oleh karena itu, gereja harus kembali pada esensi injil yang benar (15:3-4), walaupun hal itu tampak kuno, sederhana dan tidak relevan dengan tuntutan jaman. Gereja perlu berkata seperti Paulus “aku tidak malu terhadap injil” (Rom 1:16a, LAI:TB “aku memiliki keyakinan yang kokoh terhadap injil”).

 

Leave a Reply