ORANG PERCAYA DI KORINTUS : BUKTI KEBODOHAN INJIL

           

26 Ingat saja, saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang. 27Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, 28dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, 29supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah. 30Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita. 31Karena itu seperti ada tertulis: “Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan.”

Sapaan “saudara-saudara di 1:26 menandakan pergeseran pokok pikiran atau paragraf. Paulus tetap membahas tentang injil yang berkontradiksi dengan hikmat dunia, namun kali ini ia memakai pendekatan yang berbeda. Argumen yang dipakai di sini adalah keadaan jemaat Korintus pada saat mereka bertobat. Keadaan mereka waktu itu dianggap sebagai ilustrasi yang tepat untuk membuktikan kebenaran yang sudah disampaikan di 1:18-25.

Bagian ini lebih banyak menyoroti isu kemegahan. Jemaat Korintus yang menyombongkan diri karena keadaan mereka yang berhikmat sebenarnya telah melakukan kesombongan yang ironis. Ketika pertama kali menerima injil, mereka bukan orang yang terhormat. Mengapa sekarang mereka melupakan keadaan yang rendah itu dan mulai memegahkan diri?

Keadaan mereka dulu seharusnya menjadi cerminan injil: dianggap hina oleh dunia, tetapi justru menjadi ambang kemuliaan. Mereka pun dahulu begitu: dipandang rendah oleh dunia, tetapi dimuliakan Allah melalui panggilan yang agung. Sekarang kesombongan mereka adalah sebuah kontras terhadap injil. Hidup mereka sekarang yang mereka anggap lebih berhikmat ternyata semakin jauh dari hikmat yang sejati, yatu Kristus. Hidup mereka tidak lagi menjadi cerminan injil, tetapi musuh injil.

Paulus mula-mula mengingatkan bahwa tidak banyak dari antara mereka dahulu yang tergolong orang-orang terpandang menurut ukuran dunia (1:26). Kalau Allah berkenan memanggil mereka, maka itu pasti berkaitan dengan alasan dalam diri Allah, bukan kebaikan dalam diri mereka. Allah sengaja memilih mereka yang tidak terhormat menurut ukuran dunia waktu itu supaya Allah memalukan mereka yang terhormat (1:27-28). Tujuan lain adalah supaya tidak ada seorang pun yang memegahkan diri atas manusia (1:29). Allah adalah aktor di balik keselamatan kita di dalam Kristus, hikmat yang sesungguhnya (1:30), karena itu sudah seharusnya kita bermegah di dalam Tuhan (1:31).

 

 

26        Terjemahan LAI:TB “ingatlah” kurang mengekspresikan kata Yunani yang dipakai. Kata blepō yang secara hurufiah berarti “melihat” (KJV) dalam konteks ini megandung makna “mempertimbangkan” (RSV/NASB/ESV) atau “memikirkan” (NIV). Tense present yang dipakai (blepete) turut mempertegas maksud Paulus bahwa tindakan “mempertimbangkan” ini harus dilakukan berulang-ulang. Kita perlu terus melihat diri kita dahulu, supaya kita dapat menghargai keadaan kita yang sekarang.

Apa yang harus dipertimbangkan oleh jemaat Korintus? Penerjemah LAI:TB tampaknya mengadopsi terjemahan NIV ketika mereka memilih terjemahan “keadaan kamu ketika kamu dipanggil” (NIV “think of what you were when you were called”). Berbagai versi lain memilih terjemahan yang lebih hurufiah, yaitu “panggilanmu” (KJV/NASB/RSV). Terjemahan ini lebih sesuai dengan teks asli (klēsin hymōn), walaupun maksud dari “panggilanmu” di sini sama dengan “keadaan kamu ketika dipanggil”. Panggilan ini merujuk pada saat mereka bertobat (1:2, 9, 24).

Terjemahan “menurut ukuran manusia” (LAI:TB/NIV “by human standards”) tidak terlalu tegas. Ungkapan Yunani kata sarka dalam ayat ini seharusnya berarti “menurut daging” (KJV/NASB). Pemakaian kata sarx menyiratkan pandangan Paulus bahwa semua hal yang dianggap hebat oleh jemaat Korintus hanyalah hebat secara kedagingan. Ukuran yang dipakai untuk menilai sangat tidak Alkitabiah. Penerjemah RSV mengungkapkan hal ini dengan ungkapan “menurut ukuran duniawi” (according to wordly standards).

Kata “tidak banyak” (ou polloi) menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil saja dari jemaat Korintus yang dapat dikategorikan sebagai orang yang mulia menurut dunia. Penekanan pada jumlah yang kecil ini diungkapkan melalui pengulangan (ou polloi) sebanyak tiga kali. Jumlah yang kecil ini memang sangat berkaitan dengan pokok pikiran yang mau disampaikan Paulus di 1:26-31: jemaat Korintus didominasi oleh orang-orang yang rendah menurut dunia (1:26), namun Allah berkenan memilih mereka (1:27-28).

Jumlah yang kecil ini sesuai dengan petunjuk yang ada di bagian lain dari surat 1Korintus. Pasal 11:17-22 menyinggung tentang orang-orang kaya yang menghina jemaat lain yang miskin. Krispus, Gaius dan Stefanas (lihat tafsiran di 1:14-16) merupakan beberapa nama orang penting di kalangan jemaat Korintus yang juga sukses menurut ukuran dunia. Penyebutan tiga nama ini dan ucapan Paulus di ayat 26 mungkin menyiratkan sebuah sindiran: Krispus, Gaius dan Stefanas yang menurut ukuran dunia hebat ternyata tidak memandang rendah injil, sedangkan mayoritas jemaat lain yang menurut dunia tidak hebat justru memandang rendah injil!

Kehebatan duniawi yang dimaksud Paulus diungkapkan melalui tiga kata: “bijak” (sophos), “berpengaruh” (dynatos) dan “terpandang” (eugenēs). Dua kata pertama dipakai karena berhubungan dengan injil sebagai hikmat (sophia, 1:24, 30) dan kuasa (dynamis, 1:18, 24) Allah. Dua hal inilah yang menjadi ambisi jemaat Korintus, hanya saja mereka mencari hikmat dan kuasa yang duniawi.

Siapa yang dimaksud dengan hoi sophoi, hoi dynatoi dan hoi eugeneis di ayat ini? Kata pertama merujuk pada para pemikir, terutama para filsuf. Kata kedua bisa berarti “kuat” (KJV/NASB), “berpengaruh” (NIV) atau “berkuasa” (RSV), namun kata ini jika diterapkan pada manusia seringkali memiliki arti “punya pengaruh, wewenang atau posisi” (Kis 25:5 “orang yang berwewenang”; Why 6:15). Kata terakhir secara hurufiah berarti “memiliki kelahiran yang baik”. Mereka adalah kaum bangsawan atau berdarah biru (Luk 19:12; Kis 17:11). Makna yang tersirat dalam kata ini adalah terpandang dari sisi keluarga atau keturunan (NIV/RSV “not many were of noble birth”).

Mengapa Paulus memilih tiga kriteria ini? Ia sangat mungkin sedang memikirkan Yeremia 9:23 yang berisi kecaman terhadap tiga golongan manusia yang sombong, yaitu orang yang bijaksana (ho sophos), orang yang kuat (ho ischuros) dan orang yang kaya (ho plousios). Walaupun istilah yang dipakai tidak semuanya identik, tetapi jumlah yang sama memberi petunjuk ke arah itu. Paulus juga sangat mungkin mengubah beberapa istilah di Yeremia 9:23 untuk menyesuaikan dengan situasi sosiologis jemaat Korintus. Dalam konteks budaya kuno waktu itu sophos, dynamos dan eugenēs memang saling berkaitan secara erat. Orang yang berasal dari keluarga terpandang memiliki kesempatan yang besar untuk belajar (menjadi berhikmat dari sisi keilmuan), sehingga orang itu juga memiliki pengaruh/jabatan di masyarakat. Di samping itu, dengan menyebut tiga golongan ini Paulus telah mencakup orang-orang yang dianggap hebat di bidang filsafat, politik dan sosial.

27-28   Dengan memaparkan status mayoritas jemaat Korintus yang rendah menurut ukuran dunia, Paulus sekaligus ingin menonjolkan anugerah Allah dalam memilih mereka. Status mereka yang rendah menunjukkan bahwa pilihan atas hidup mereka tidak didasarkan pada kebaikan atau kelebihan mereka. Mereka sebenarnya tidak layak untuk dipilih, tetapi Allah berkenan memilih mereka (1:21b; 2Tim 1:9). Pola pilihan seperti ini konsisten dengan cara kerja Allah di seluruh Alkitab (bdk. Mat 11:25; Yak 2:5; Ul 7:7).

Di samping itu, pemunculan kata “dipilih” (exelexato) yang berulang-ulang di ayat 27-28 memberi penekanan pada keaktifan dan inisiatif Allah dalam proses pemilihan ini. Bukan mereka yang memilih Allah, tetapi Allah yang memilih mereka (Yoh 15:16). Allah telah memanggil mereka (1:9) untuk menjadi orang-orang kudus (1:2). Allah telah memanggil mereka sehingga mereka dulu dapat melihat Kristus sebagai hikmat dan kekuatan Allah (1:24).

Pilihan berdasarkan anugerah ini memiliki tujuan khusus: memalukan (kataischunē, ayat 27) dan meniadakan (katargēsē) apa saja yang dianggap terhormat oleh dunia. Ketika Paulus memakai kata kataischunō (“memalukan”) ia tidak sedang membicarakan perasaan malu yang subjektif. Orang-orang yang terpandang secara duniawi tentu saja tidak merasakan malu. Mereka justru bangga kalau tidak menjadi orang Kristen. Kata di sini harus dimengerti dari perspektif PL tentang tindakan Allah yang memuliakan orang benar atas musuh-musuhnya (Mzm 6:11; 31:18; 35:4, 26-27). Di tangan Paulus konsep ini ditampilkan dalam nuansa eskhatologis: orang-orang terhormat menurut dunia ini sedang dan pasti akan dipermalukan [di akhir jaman].

Kata katargeō (“meniadakan”) muncul berkali-kali dalam surat 1Korintus, semuanya dalam konteks eskhatologis. Kata ini dipakai beberapa kali dalam surat 1Korintus untuk menunjuk pada hal-hal yang sifatnya sementara dan suatu ketika akan lenyap (2:6; 6:13; 13:8, 10; 15:24, 26). Melalui karya Kristus di dunia jaman akhir sudah dimulai. Jaman ini dengan segala yang ada di dalamnya sedang menuju ketidakadaan (7:31). Melalui penggunaan katargew Paulus bermaksud menegaskan bahwa hal-hal yang dikagumi oleh dunia dan sebagian jemaat Korintus merupakan hal-hal yang tidak kekal. Semua itu pasti akan lenyap.

29        Bagian ini menerangkan tujuan lain dari pilihan bebas Allah yang ditujukan pada orang-orang yang rendah menurut dunia (1:26, 27-28). Allah memilih mereka supaya tidak ada satu manusia (lit. “daging”) pun yang memegahkan diri di hadapan Allah. Kata “memegahkan diri” (kauchaomai) merupakan salah satu kata favorit Paulus. Dari total pemunculan kata ini sebanyak 59 kali di dalam Alkitab, 55 di antaranya muncul dalam tulisan Paulus. Dari 55 kali pemunculan ini, 39 di antaranya ditemukan di surat 1 dan 2 Korintus. Statistik ini mengindikasikan bahwa kesombongan merupakan salah satu masalah utama jemaat Korintus, sehingga Paulus merasa perlu menyinggung hal ini berkali-kali.

Penggunaan kata ini dalam Alkitab menunjukkan bahwa kauchaomai bisa bermakna positif mapun negatif. Kontekslah yang menentukan makna mana yang sedang dimaksudkan oleh penulis Alkitab. Sebagai pedoman, semua tindakan kauchaomai adalah salah (3:21; 4:7; Rom 2:23; 3:27), kecuali yang merefleksikan “kelemahan” dan “kebodohan” Allah (1:31; Rom 5:3; 2Kor 12:9).

Ada beberapa alasan mengapa Paulus merasa perlu menyinggung tentang katachaomai yang negatif di 1:29. Konteks Yeremia 9:23-24 yang sudah disinggung di ayat 27-28 dan akan dikutip lagi di ayat 29-31 membicarakan tentang orang-orang yang bermegah (kauchaomai, LXX) secara keliru. Di samping itu, penggunaan kauchaomai cocok dengan situasi jemaat Korintus yang sedang lupa diri dan menyombongkan status mereka yang baru.

30        Kesombongan jemaat Korintus di ayat 29 merupakan sebuah kontradiksi dengan anugerah Allah. Ayat 30 memberi penekanan bahwa keberadaan jemaat Korintus sangat berhutang pada Allah. Pemunculan frase “oleh Dia” di bagian awal dan diulangi lagi di bagian selanjutnya (“oleh Allah”) menegaskan peranan Allah yang besar. Hal ini semakin menandaskan anugerah keselamatan dari Allah. Bukan hanya Allah memilih tanpa melihat kebaikan apapun dalam diri mereka (1:26-28), tetapi Ia juga yang mengambil inisiatif untuk memanggil mereka ke dalam relasi dengan Kristus (1:30a).

Frase “kamu berada” (hymeis este) dalam teks Yunani juga menyiratkan penekanan: “kamu, kamu sekarang berada” (YLT). Paulus ingin menyatakan bahwa jemaat Korintus termasuk pada orang-orang yang lemah di ayat 26-28 dan tidak boleh bermegah di ayat 29. Keberadaan mereka sekarang di dalam Kristus bukanlah hasil usaha mereka.

Bagian selanjutnya dari ayat 30 mengaitkan Kristus dengan empat kata benda: hikmat (sophia), kebenaran (dikaiosunē), kekudusan (hagiasmos) dan penebusan (apolutrōsis). Para penerjemah berbeda pendapat tentang hubungan antar kata ini. NIV mengusulkan sophia sebagai kata benda utama, sedangkan tiga kata lain hanyalah penjelasan untuk sophia. LAI:TB tampaknya mengikuti usulan ini. Sebagian versi yang lain memperlakukan empat kata ini secara sejajar (KJV/RSV/NASB/ESV).

Dalam hal ini pilihan NIV lebih bisa diterima. Peletakan kata hēmin apo theou (“bagi kita oleh Allah”) setelah kata sophia dan sebelum tiga kata lain seakan-akan menyiratkan bahwa sophia harus diperlakukan secara khusus. Konteks 1:18-31 secara keseluruhan yang berfokus pada masalah hikmat juga meyakinkan kita bahwa sophia di 1:30 adalah kata benda utama. Ayat 24 bahkan secara eksplisit menyebut Kristus sebagai sophia Allah (bdk. 2:-7).

Kristus menjadi hikmat bukan hanya bagi jemaat Korintus, tetapi semua orang percaya. Makna ini terlihat dari perubahan kata ganti “kamu” (kamu berada dalam Kristus Yesus) menjadi “kita” (menjadi hikmat bagi kita). Semua orang percaya – baik yang terpandang menurut dunia maupun tidak – dapat datang kepada Kristus karena Allah telah membuat Yesus menjadi hikmat yang sesungguhnya.

Tiga kata benda lain yang dipakai untuk menerangkan sophia tidak boleh dipahami secara kronologis (secara kronologis seharusnya penebusan – pembenaran – pengudusan). Paulus tidak sedang membicarakan ordo salutis (urutan keselamatan). Penggunaan kata benda (bukan kata kerja) di bagian ini semakin mendukung dugaan bahwa Paulus lebih mementingkan aspek keselamatan daripada urutan keselamatan.

Dikaiosunē (kebenaran) lebih berkaitan dengan status legal kita di hadapan Allah yang sudah dibenarkan melalui kebenaran Kristus (Rom 5:1, 12-21) daripada kebenaran secara etis. Hagiasmos (kekudusan) mencakup aspek posisi (status sebagai orang kudus) maupun etika hidup (1:2; 6:11). Apolutrōsis (penebusan) menekankan pembebasan orang percaya melalui pembayaran Kristus di kayu salib (6:20).

Ketiga hal ini merupakan aspek keselamatan yang kita miliki melalui karya Kristus, hikmat yang sejati. Penjelasan ini sekaligus membedakan konsep sophia Allah (1:21, 24, 30) dengan dunia (1:17, 22). Kristus yang disalibkan adalah hikmat yang sesungguhnya.

31        Jika memang keselamatan kita adalah semata-mata anugerah (Ef 2:8-9), maka kita tidak memiliki tempat untuk memegahkan diri (Rom 4:2). Roma 3:27 “jika demikian, apakah dasarnya untuk bermegah? Tidak ada! Berdasarkan apa? Berdasarkan perbuatan? Tidak, melainkan berdasarkan iman!”. Karena itulah Paulus menutup 1:26-31 dengan mengajarkan bahwa kemegahan kita seharusnya di dalam Tuhan (ayat 31), bukan di hadapan Tuhan (ayat 29).

Untuk mempertegas poin ini, Paulus mengutip firman Allah dari Yeremia 9:24 dalam bentuknya yang lebih ringkas. Seperti sudah disinggung di depan, tidak semua tindakan memegahkan sesuatu (kauchaomai) adalah negatif (1:31; 9:15-16). Paulus pun dalam bagian suratnya yang lain juga memegahkan diri (Rom 5:2; 15:17; Flp 2:16; 2Tes 1:4). Yang paling penting adalah dasar yang kita pakai untuk bermegah. Ketika Paulus bermegah, dia bermegah di dalam Allah (Rom 5:11) atau di dalam Kristus (Rom 15:17; Gal 6:14; Flp 3:3).

Dengan memahami dasar kemegahan yang benar – yaitu Allah yang telah memberi anugerah keselamatan – orang percaya tidak akan menaruh kesombongan pada hal-hal yang dianggap hebat oleh dunia. Sebaliknya, kita akan mampu bermegah atas hal-hal yang oleh dunia dipandang sebelah mata. Kita bermegah dalam penderitaan (Rom 5:3) dan kelemahan (2Kor 11:30; 12:9) kita. Inilah kemegahan yang sejati, bukan seperti kemegahan jemaat Korintus yang didasarkan pada hikmat dunia, pengaruh di bidang politik maupun kehormatan dari sisi sosial.

 

APLIKASI

Kota Korintus sangat diwarnai dengan ambisi terhadap kehormatan diri yang dilihat dari sisi hikmat, kuasa dan garis keturunan. Ketika injil pertama kali diberitakan di sana, orang-orang dari status yang rendah dengan cepat tertarik pada kekristenan karena menawarkan komunitas yang mau menerima orang apa adanya. Semua orang adalah sama: sama-sama berdosa (Rom 1:9-18; 3:23) dan disatukan dalam Kristus (Kol 3:11). Allah memakai perasaan nyaman ini sebagai jembatan untuk menjangkau mereka, sekaligus mengajarkan keunikan kekristenan sebagai sebuah komunitas. Di kala komunitas-komunitas lain berebut kekuasaan dan kehormatan, kekristenan menawarkan komunitas yang menekankan keberdosaan, ketidakmampuan dan kerendahan. Inilah yang menjadi ciri khas kekristenan dan daya tarik pertama bagi orang-orang Kristen di Korintus. Ironisnya, sesudah mereka berhasil mengubah status mereka menjadi lebih baik secara sosial, mereka melupakan keunikan ini. Mereka malu terhadap injil yang berpotensi membuat mereka tampak sangat bodoh, lemah dan rendah di mata dunia.

Orang-orang Kristen modern pun bisa terjebak pada hal yang sama. Salah satu fenomena yang harus dicermati adalah perkembangan teologi yang cukup pesat di Indonesia. Jemaat awam sekarang memiliki akses yang mudah untuk belajar firman Tuhan secara mendalam. Walaupun pada dirinya sendiri situasi ini sangat positif, tetapi dalam beberapa kasus orang cenderung menyalahgunakan hal itu. Mereka yang sudah belajar teologi secara cukup mendalam tergoda untuk memandang remeh para hamba Tuhan yang menyampaikan injil yang terdengar sangat sederhana. Mereka berpikiran bahwa keberhasilan khotbah ditentukan oleh pengetahuan teologi dari pengkhotbah.

Situasi ini di satu sisi bisa membawa akibat positif (para hamba Tuhan menjadi semakin terpacu untuk belajar), namun di sisi lain bisa mengarah pada kesombongan intelektual. Mereka memandang semua hal yang sederhana sebagai kebodohan. Mereka menggantikan injil (karya Allah) dengan teologi (upaya manusia memahami karya Allah). Mereka merasa malu dan kecewa ketika mendengarkan khotbah-khotbah sederhana yang kurang mendalam dan filosofis.

Semua ini harus diwaspadai oleh semua orang Kristen. Kita perlu mengingat kembali keadaan kita pada waktu bertobat. Bukankah kita bertobat karena pemberitaan injil yang sangat sederhana? Bukankah Allah mau mengasihi kita sebelum kita tahu apa-apa tentang teologi? Bukankah hal itu seharusnya membuat kita mampu melihat kasih karunia Allah secara lebih jelas?

Leave a Reply