UCAPAN SYUKUR

4 Aku senantiasa mengucap syukur kepada Allahku karena kamu atas kasih karunia Allah yang dianugerahkan-Nya kepada kamu dalam Kristus Yesus. 5 Sebab di dalam Dia kamu telah menjadi kaya dalam segala hal: dalam segala macam perkataan dan segala macam pengetahuan, 6 sesuai dengan kesaksian tentang Kristus, yang telah diteguhkan di antara kamu. 7Demikianlah kamu tidak kekurangan dalam suatu karuniapun sementara kamu menantikan penyataan Tuhan kita Yesus Kristus.  8 Ia juga akan meneguhkan kamu sampai kepada kesudahannya, sehingga kamu tak bercacat pada hari Tuhan kita Yesus Kristus. 9Allah, yang memanggil kamu kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita, adalah

 

Menurut tata cara penulisan surat kuno waktu itu, setelah bagian pendahuluan surat (identitas penulis, identitas penerima dan salam), penulis surat akan melanjutkan dengan ucapan syukur dan doa-doa untuk kesejahteraan penerima surat.  Paulus juga mengikuti cara ini. Ia mengekspresikan ucapan syukur atas apa yang terjadi dengan jemaat Korintus (1:4-6). Selanjutnya ia mengungkapkan harapan bagi penerima surat (1:7-9). Ucapan syukur Paulus difokuskan pada aspek kekinian (apa yang sekarang ini telah dilakukan Allah melalui Kristus Yesus), sedangkan harapan Paulus bersifat eskhatologis (apa yang akan dilakukan Allah terus-menerus sampai akhir jaman).

Paulus tidak hanya mengikuti pola yang umum, tetapi ia juga mengadakan beberapa perubahan penting. Kalau di surat kuno ucapan syukur dan harapan ditujukan pada dewa-dewa atau dewa tertentu, dalam surat-surat Paulus dua hal ini ditujukan kepada Allah dengan jaminan apa yang telah dilakukan Yesus. Dari pembacaan sekilas terlihat bahwa pendahuluan surat Paulus sangat teosentris (berpusat pada Allah) dan kristosentris (berpusat pada Kristus). Kata “Allah” secara eksplisit muncul 3 kali (1:4, 9), belum termasuk beberapa kata kerja yang secara jelas menunjukkan bahwa subjeknya adalah Allah: memberikan (1:4b), memperkaya (1:5), meneguhkan (1:6, 8), memanggil (1:9). Kata “Kristus” atau “Kristus Yesus” muncul pada setiap ayat, walaupun di 1:5 nama Yesus Krstus secara eksplisit tidak muncul.

Perbedaan lain dengan surat kuno adalah tidak ditemukannya keterangan apapun tentang penulis surat. Penulis surat kuno biasanya menceritakan keadaan dirinya sebelum ia mengharapkan yang baik untuk penerima surat. Paulus tidak memberi keterangan apapun tentang keadaan dirinya. Ia lebih memfokuskan pada anugerah Allah yang sudah diberikan kepada penerima surat dan menafsirkan keadaan penerima surat waktu itu dalam terang janji-janji Allah di masa yang akan datang.

Dari isi detil ucapan syukur, Paulus tampaknya memiliki cara tersendiri dalam menuliskan, sekalipun ia tidak selalu mengikuti cara ini secara tegas setiap waktu. Secara umum ia mengungkapkannya sebagai berikut: (1) aku mengucap syukur; (2) kepada Allah; (3) selalu; (4) untuk penerima surat; (5) alasan ucapan syukur; (6) penjelasan bagi alasan tersebut. Alasan ucapan syukur Paulus selalu dikaitkan dengan situasi khusus penerima, sehingga dengan demikian ucapan syukur ini sekaligus berperan sebagai pengantar ke dalam isi surat. Dalam konteks 1Korintus ia menyinggung melimpahnya karunia rohani yang dimiliki jemaat, terutama perkataan dan pengetahuan. Semua hal ini nanti akan mendapat perhatian dalam isi surat: karunia rohani dibahas di pasal 12-14; perkataan muncul di 1:10-4:21 dan 13:1-14:40; pengetahuan disinggung di 8:1-13 dan 13:1-8.

Beberapa topik lain yang disinggung di bagian ini juga akan mendapat pembahasan di dalam isi surat. Kesaksian tentang Kristus (injil) di 1:6 akan dibicarakan di 2:1-5. Hari kedatangan Tuhan Yesus (1:7-8) muncul berkali-kali di 3:13; 4:3, 5; 5:5; 6:2; 11:26; 15:23, 47, 52; 16:22.

Ada beberapa hal menarik seputar ucapan syukur Paulus di bagian ini. Pertama, ia tetap mengucap syukur atas hal-hal yang disalahgunakan jemaat Korintus dan akhirnya melukai hati Paulus. Seperti diketahui bersama, inti ucapan syukur Paulus terfokus pada melimpahnya karunia rohani yang dimiliki jemaat (1:5a, 7a), terutama perkataan dan pengetahuan (1:5b). Beberapa orang menduga ucapan syukur ini merupakan sindiran, namun kita harus menolak dugaan ini. Tidak ada bukti bahwa di surat-suratnya yang lain Paulus pernah memasukkan sindiran dalam ucapan syukur yang ia ungkapkan. Hal ini juga akan terlihat aneh jika dibandingkan dengan pola surat umum yang memang berisi ucapan syukur, bukan sindiran. Yang paling penting, kita perlu memahami bahwa masalah dalam jemaat Korintus bukanlah melimpahnya karunia rohani. Yang harus disalahkan adalah sikap jemaat terhadap karunia-karunia itu.

Kedua, Paulus tidak memuji jemaat Korintus. Dalam beberapa surat Paulus ia mengucap syukur kepada Allah sekaligus memberikan pujian kepada penerima surat. Jemaat Filipi dipuji karena persekutuan mereka dalam injil yang konsisten (1:5). Jemaat Kolose mendapatkan pujian atas iman dan kasih mereka yang luar biasa (1:4). Begitu pula jemaat Tesalonika mendapat pujian atas kasih dan iman mereka yang terus bertumbuh (1Tes 1:3, 6-8; 2Tes 1:3-4). Paulus memang menyebutkan kelebihan orang-orang Kristen di Korintus sebagai jemaat kharismatik (penuh dengan karunia roh), namun tidak ada kata-kata pujian sama sekali atas usaha atau pertumbuhan rohani yang dialami jemaat. Semua ucapan syukur hanay ditujukan pada Allah dan Kristus. Hal ini sudah pasti disengaja oleh Paulus. Kepada jemaat Korintus yang cenderung mencari kehormatan, Paulus justru tidak mau memberikan pujian supaya mereka tidak semakin jatuh ke dalam pencobaan.

Ketiga, tidak seperti surat-suratnya yang lain, ucapan syukur di surat 1Korintus tidak mencantumkan kasih (Flp 1:9; Kol 1:4; 1Tes 1:3; 2Tes 1:3; Flm 1:5) dan pekerjaan (Flp 1:6; Kol 1:10; 1Tes 1:3; 2Tes 1:11). Dua hal ini memang menjadi kekurangan jemaat. Mereka kaya dalam perkataan, pengetahuan dan berbagai karunia roh, namun miskin dalam kasih dan perbuatan baik. Dalam bagian isi surat Paulus akan menunjukkan bahwa kasih melebihi pengetahuan (8:1; 13:2), perkataan (13:1) maupun karunia yang lain (12:31; 13:8). Di penutup surat ia memberikan nasehat agar semua yang dilakukan jemaat harus dilakukan di dalam kasih (16:14).

Seluruh ucapan syukur di 1:4-9 dikontrol oleh kata kerja “aku mengucap syukur” (eucharistō) di ayat 4. Bagian selanjutnya dari ayat 4 menginformasikan bagaimana sikap Paulus dalam mengucap syukur (selalu) dan apa alasan bagi ucapan syukur ini (kasih karunia Allah dalam Kristus). Ayat 5 merupakan penjelasan yang lebih detil tentang kasih karunia ilahi, yaitu melimpahnya karunia roh. Karunia ini sekaligus berguna sebagai konfirmasi adanya injil di tengah-tengah mereka (ayat 6). Cara Allah meneguhkan injil melalui pemberian karunia roh membuat jemaat Korintus tidak kekurangan suatu apapun selama menanti kedatangan Tuhan (ayat 7). Ayat 8-9 merupakan harapan dan keyakinan Paulus bahwa Allah akan memelihara jemaat hingga tak bercacat di hadapan Tuhan Yesus (ayat 8), karena Allah adalah setia (ayat 9).

Untuk memudahkan pemahaman, alur pemikiran Paulus di 1:4-9 dapat dijelaskan sebagai berikut:

            Paulus mengucap syukur (1:4a)

            Alasan bagi ucapan syukur: kasih karunia (1:4b)

                        Penjelasan detil tentang kasih karunia: berbagai karunia roh (1:5)

                                    Berbagai karunia roh meneguhkan pemberitaan injil (4:6)

                                    Berbagai karunia roh membuat jemaat tidak kekurangan (4:7)

            Harapan Paulus di  masa depan (4:8-9)

                        Allah akan meneguhkan (4:8)

                        Dasar keyakinan: Allah adalah setia (4:9)

 

 

4a        Dari cara Paulus mengungkapkan syukur, kita dapat belajar tentang sikap yang benar dalam mengucap syukur. Di ayat 4 Paulus memakai bentuk present tense untuk kata “mengucap syukur” (eucharistō), yang menunjukkan tindakan terus-menerus. Untuk mempertegas makna ini, Paulus menambahkan kata “senantiasa” (pantote), walaupun dari sisi tata bahasa penambahan ini tidak terlalu diperlukan. Penambahan ini berfungsi untuk memberikan penekanan bahwa mengucap syukur harus menjadi gaya hidup orang Kristen. Selalu mengucap syukur dalam segala keadaan merupakan kehendak Allah bagi kita (1Tes 5:18). Ini bahkan menjadi salah satu ciri orang yang hidup di dalam Tuhan Yesus (Kol 2:7).

Ucapan syukur Paulus tidak dihalangi oleh respon negatif dari orang lain. Di bagian ini Paulus mengatakan bahwa dia mengucap syukur peri hymōn (lit. “tentang kalian” atau “untuk kalian”). Sekilas tidak ada yang istimewa dari hal ini, namun jika kita memahami sikap negatif jemaat Korintus terhadap Paulus, kita dapat melihat ucapan syukur ini sebagai sesuatu yang luar biasa. Di tengah jemaat yang tidak berpihak (1:12), bahkan menyerang dirinya (4:1-21), Paulus masih bisa mengucap syukur untuk keberadaan mereka. Dia tidak hanya mengucap syukur untuk mereka yang masih loyal terhadap dirinya. Dia mengucap syukur untuk mereka semua! Ia memang kadang kala terpaksa memakai kata-kata yang keras (4:21), bahkan sindiran kepada jemaat (4:8), namun ia tetap mengucap syukur atas keberadaan mereka.

4b        Bagian ini menjelaskan alasan bagi ucapan syukur di ayat 4a. Paulus mengucap syukur atas kasih karunia (charis) Allah yang diberikan kepada mereka dalam Kristus Yesus. Sebagaimana kasih karunia dan damai sejahtera di bagian salam (1:3) bersumber dari Bapa dan Tuhan Yesus, demikian pula setiap karunia yang lain (3:10; 15:9-10). Charis hanya diterima bagi mereka yang di dalam Kristus. Tidak heran, ketika membicarakan tentang berbagai karunia rohani (charisma, 12:4-11), Paulus memulai pembahasan dengan pengakuan kepada Yesus sebagai Tuhan (12:1-3). Jadi, melalui kasih karunia orang berdosa dimampukan untuk datang kepada Kristus dan selanjutnya menerima kasih karunia yang lain. Dalam kalimat lain, seluruh kehidupan orang percaya adalah karena kasih karunia (4:7; 15:10).

Apa yang dimaksud dengan charis dalam konteks ini? Dalam teologi Paulus kata charis bisa memiliki beragam arti: keselamatan (Rom 3:24; Ef 2:8-9), panggilan (Rom 1:5) maupun pemberian tertentu (2Kor 8:1, 4). Dalam konteks 1Korintus 1:4-9, kata charis tampaknya merujuk pada karunia rohani (1:5, 7). Dari sini terlihat bahwa karunia-karunia rohani (charisma/charismata) merupakan salah satu bentuk kasih karunia (charis) Allah. Hubungan seperti ini terlihat jelas dari Roma 12:6a “demikianlah kita mempunyai karunia (charismata) yang berlain-lainan menurut kasih karunia (charis) yang dianugerahkan kepada kita”.

Sebagai salah satu bentuk kasih karunia, karunia rohani merupakan pemberian Allah kepada mereka yang tidak layak menerima dan tidak mengupayakan hal itu. Jika mereka layak, maka hal itu bukan kasih karunia, tetapi “hak”. Jika mereka mengupayakan, maka hal itu bukan kasih karunia, tetapi “upah” (bdk. Rom 4:4-5). Penyebutan “karunia rohani” sebagai “kasih karunia” dimaksudkan sebagai teguran kepada jemaat Korintus yang memegahkan diri atas karunia rohani yang mereka miliki (pasal 12-14). Jika mereka menyadari bahwa semua itu adalah kasih karunia, maka mereka tidak akan menyombongkan hal itu (4:7). Berbeda dengan Paulus yang menekankan aktivitas Allah sebagai Pemberi dan natur pemberian sebagai kasih karunia, jemaat Korintus justru menekankan pemberian itu sendiri dan bermegah di atasnya, seolah-olah pemberian itu berasal dari diri mereka sendiri dan mereka pantas menerimanya.

5          Bagian ini merupakan penjelasan detil tentang charis di ayat 4b. Karena charis bisa memiliki beragam arti, maka Paulus merasa perlu memberi keterangan tambahan tentang charis apa yang dia maksud. Sebelum menjelaskan hal ini, dia lebih dahulu menyinggung keadaan jemaat Korintus. Mereka kaya dalam segala hal. Keadaan ini berhutang pada Allah dan Kristus. Bentuk pasif “diperkaya” (eploutisthēte, kontra LAI:TB “menjadi kaya”) menyiratkan Allah sebagai subjek. Bentuk pasif tanpa subjek ini dalam bahasa Yunani biasa disebut pasif ilahi (divine passive), yang mengasumsikan subjek kata kerja yang dimaksud adalah Allah. Dugaan ini diperkuat juga dengan posisi Allah sebagai objek tidak langsung dalam ucapan syukur Paulus (1:4a) maupun penggunaan ungkapan “karunia Allah” (1:4b). Penambahan frase “di dalam Kristus” (1:5a) menggarisbawahi peranan sentral Kristus. Orang percaya bisa menjadi kaya karena Kristus lebih dahulu merelakan kekayaan dengan cara menjadi miskin bagi kita (2Kor 8:9).

Pemilihan kata kerja “diperkaya” dan penambahan frase “dalam segala hal” menyiratkan bahwa charis yang diterima bukan hanya yang disebutkan di 1:5b. Mereka benar-benar memiliki kelebihan lain yang merupakan pemberian Allah juga (bdk. 2Kor 8:7). Kelebihan mereka secara materi pun (2Kor 8:14) termasuk kategori charis yang mereka terima dari Allah (2Kor 8:9). Apapun yang mereka miliki sebenarnya adalah charis (4:7). Hebatnya, mereka memiliki segala hal! Mereka tidak kekurangan apapun (1:7).

Walaupun ada banyak macam karunia rohani (bdk. 12:4-11), Paulus dalam ucapan syukurnya hanya menyebutkan dua di antaranya, yaitu “perkataan” (logos) dan “pengetahuan” (gnōsis). Dua kata ini merupakan kosa kata yang unik dalam konteks Korintus. Kata logos muncul 64 kali dalam tulisan Paulus, 26 di antaranya ditemukan di surat 1 dan 2 Korintus, sedangkan gnōsis muncul 23 kali dengan 16 di antaranya ada di surat 1 dan 2 Korintus. Dalam daftar karunia rohani di pasal 12, logos dan gnōsis bahkan muncul bersamaan (12:8).

Ide tentang perkataan (logos) berkaitan erat dengan beberapa isu yang akan dibahas Paulus di surat ini, yaitu kefasihan retorika (1:17-2:5), bahasa roh dan nubuat (14:1-40). Paulus tidak mau memakai kefasihan retorika berdasarkan hikmat duniawi. Khotbahnya yang tanpa memakai hal-hal seperti itu terbukti efektif (2:1-5), karena Roh Allah yang memampukan manusia memahami hal-hal rohani (2:13) dan Kerajaan Allah memang terdiri dari kuasa, bukan perkataan (4:20). Tentang bahasa roh, Paulus tidak bersikap menentang. Bagaimanapun, jika bahasa roh tidak disertai kasih, maka hal itu sia-sia belaka (13:1-2). Dalam hal ini diam justru lebih baik (14:28). Tentang nubuat, pandangan Paulus lebih positif karena nubuat bukan hanya membangun diri sendiri, tetapi seluruh jemaat (14:1-12). Di samping itu, nubuat bisa dipakai Tuhan untuk membawa orang kafir kepada pertobatan (14:20-25).

Yang dimaksud dengan pengetahuan (gnōsis) adalah pengetahuan tentang berbagai misteri (13:2) maupun pengetahuan teologis tertentu (8:1-6). Pada dirinya sendiri pengetahuan ini tidaklah salah. Bagaimanapun, sama seperti karunia roh yang lain, gnōsis dapat disalahgunakan. Gnōsis perlu disertai dengan kasih supaya tidak menjadi sia-sia (13:2) atau dipakai untuk meruntuhkan orang lain (8:11). Orang percaya tidak boleh menyombongkan gnōsis, karena kita semua belum mencapai gnōsis yang sempurna (13:9, 12).

Penyebutan logos dan gnōsis sebagai fokus ucapan syukur Paulus merupakan hal yang menarik, karena dua jenis karunia inilah yang paling sering disalahgunakan oleh jemaat Korintus. Mereka merasa diri berhikmat dan menganggap injil sebagai kebodohan (bdk. 1:17-18, 25-29; 2:1-4). Mereka yang menganggap diri “berpengetahuan” justru menggunakan hal itu untuk menimbulkan syak di hati orang lain yang masih lemah (8:1, 7). Begitu pula dengan mereka yang diberi karunia bahasa roh telah menganggap diri mereka lebih rohani dan penting daripada orang lain (14:1-40). Dari semua ini kita belajar bahwa kekuatan kita seringkali justru menjadi kelemahan kita.

6          Ucapan syukur Paulus tidak berhenti pada keberadaan karunia-karunia rohani dalam jemaat Korintus. Dia melihat hal ini sebagai bentuk peneguhan bagi kesaksian Kristus. Kata “kesaksian” (to martyrion) beberapa kali dipakai Paulus sebagai sinonim dari pemberitaan injil (2:1; 2Tes 1:10; 2Tim 1:8). Fungsi kata “Kristus” dalam frase “kesaksian Kristus” (to mysterion tou Christou) adalah sebagai objective genitive (menunjukkan objek dari kata yang diterangkan). Sebagian versi (termasuk LAI:TB) dengan tepat dan jelas menerjemahkan to mysterion tou Christou dengan “kesaksian [tentang] Kristus” (NASB/NIV/ESV), sedangkan yang lain memilih terjemahan hurufiah (KJV “kesaksian Kristus”) yang bisa ditafsirkan dalam beberapa cara: kesaksian oleh Kristus, kesaksian milik Kristus atau kesaksian tentang Kristus.

Kata “diteguhkan” (ebebaiōthē) di ayat ini merupakan kosa kata dalam perdagangan legal. Suatu transaksi yang besar pada jaman kuno perlu diteguhkan, misalnya dengan dokumen-dokumen penting, uang muka atau meterai. Pemakaian kata dimaksud untuk menggambarkan keadaan jemaat Korintus yang dipenuhi berbagai karunia sebagai bukti usaha pekabaran injil Paulus tidak sia-sia. Oleh pertolongan Roh Kudus (2:12-14), kesaksian tentang Kristus yang ia beritakan (1:23; 2:1-4; 15:3-4, 11) telah menumbuhkan iman dan akhirnya terciptalah jemaat di Korintus.

Kita harus berhati-hati di sini. Memiliki kemampuan supranatural bukanlah jaminan bahwa seseorang sudah diselamatkan. Saul (1Sam 19:23-24), nabi-nabi palsu (Mat 7:21-23) dan pengikut iblis (Why 13:13-14; 19:20) juga memiliki hal-hal yang supranatural. Beberapa orang yang dari luar termasuk bagian dari orang Kristen dan menikmati karunia-karunia rohani tertentu ternyata adalah orang-orang yang tidak pernah bertobat sungguh-sungguh (Ibr 6:4-9). Kita harus memahami pernyataan Paulus di 1Korintus 1:6 tersebut dalam terang 1Korintus 12. Tanda sejati dari orang Kristen adalah pengakuan terhadap Yesus sebagai Tuhan (12:3), bukan kepemilikan kemampuan rohani tertentu. Walaupun demikian, setiap orang yang sudah diselamatkan pasti memiliki karunia rohani tertentu (bdk. kata “semua orang” atau “tiap-tiap orang” di 12:6, 7, 11). Setiap orang percaya adalah anggota tubuh Kristus yang memiliki fungsi tertentu. Jadi, pemberian karunia kepada seseorang menunjukkan bahwa orang itu sudah menerima injil dan temasuk tubuh Kristus. Dalam kalimat yang sederhana, orang yang memiliki karunia rohani belum tentu diselamatkan, tetapi orang yang sudah diselamatkan pasti memiliki karunia rohani tertentu.

7          Sesuai dengan pola surat umum waktu itu, bagian terakhir dari ucapan syukur biasanya berbentuk doa untuk kebaikan penerima surat. Walaupun doa Paulus di 1:7-9 tidak terlalu eksplisit seperti di beberapa suratnya yang lain (bdk. Rom 1:10; Ef 1:16; Flp 1:9), namun nuansa yang tersirat secara jelas menyatakan harapan Paulus yang positif terhadap jemaat Korintus. Bentuk doa yang tidak eksplisit seperti ini dapat kita temui di beberapa surat Paulus lainnya (misalnya 2Korintus dan Efesus).

Ayat 7 merupakan konklusi dari ucapan syukur Paulus terkait dengan karunia-karunia rohani yang diterima jemaat Korintus. Apa yang dilakukan Allah di ayat 5-6 membuat jemaat Korintus tidak kekurangan suatu karunia pun. Apakah arti ungkapan “tidak kekurangan suatu karunia pun” di ayat ini? Ungkapan ini bisa memiliki beragam makna. Ungkapan ini dapat berarti bahwa: (1) jemaat Korintus memiliki semua jenis karunia rohani yang ada (penekanan terletak pada ketidakadaan satu jenis karunia pun yang tidak ditemui di jemaat Korintus); (2) jemaat Korintus tidak kekurangan karunia rohani jika dibandingkan dengan jemaat yang lain; (3) jemaat Korintus tidak kekurangan karunia rohani jika dibandingkan dengan harapan rata-rata orang Kristen sehubungan dengan karunia rohani.

Berdasarkan pertimbangan tata bahasa, kata hystereō yang diikuti oleh kata depan (seperti dalam ayat ini) biasanya berarti “tidak terbelakang/kalah dengan”, walaupun konstruksi seperti ini juga bisa mengandung makna “tidak kekurangan”. Dalam hal seperti ini, pertimbangan konteks harus dijadikan patokan. Sesuai dengan ayat 5 – terutama frase “dalam segala hal” – kita sebaiknya memilih makna yang pertama. Dengan kata lain, di 1:7a Paulus menegaskan bahwa jemaat Korintus tidak kekurangan suatu jenis karunia rohani apapun. Makna ini tampaknya juga sesuai dengan keberagaman jenis karunia rohani yang dibahas di 12:4-11.

Paulus tidak sedang membandingkan jemaat Korintus dengan jemaat-jemaat lain. Hal itu akan menambah kesombongan mereka. Fakta bahwa mereka tidak kekurangan suatu karunia rohani bukan berarti bahwa jemaat-jemaat lain mengalami kekurangan dalam hal itu. Dalam isi surat nanti Paulus akan mengajarkan bahwa setiap orang percaya pasti memiliki karunia rohani (12:7, 11).

Walaupun jemaat Korintus sangat kaya dalam karunia rohani, mereka tidak boleh hanya memfokuskan hidup pada masa sekarang. Mereka perlu menujukan mata mereka pada pengharapan eskhatologis ketika Tuhan Yesus menyatakan diri kembali kelak (1:7b). Kata apekdechomai (LAI:TB “menanti”) di ayat ini muncul enam kali dalam tulisan Paulus (Rom 8:19, 23, 25; 1Kor 1:7; Gal 5:5; Flp 3:20) dan makna yang tersirat di dalamnya bukan sekadar penantian yang biasa, melainkan penantian dengan penuh semangat (bdk. terutama Roma 8:19 “menanti dengan sangat rindu”, 23 “mengeluh dalam hati sambil memantikan”, 25 “menantikan dengan tekun”). NIV, NASB dan NKJV secara tepat menambahkan kata “eagerly” (dengan penuh semangat/sungguh-sungguh) ketika menerjemahkan apekdechomai di 1:7b.

Penantian yang dilakukan oleh orang percaya bukanlah penantian yang sia-sia atau tidak pasti. Kristus sekarang sudah menjadi Raja dan mengalahkan semua kuasa yang ada, tetapi kekuasaan yang sempurna baru akan dinyatakan kelak (bdk. 15:24-26). Dunia (7:31b) dan penguasa di dalamnya (2:6b) sedang berlalu, meskipun mereka masih tetap ada sampai sekarang. Dalam dunia militer keadaan ini dapat dijelaskan dengan menggunakan istilah “Hari D” (hari kemenangan pada pertempuran yang sangat menentukan) dan “Hari V” (hari berakhirnya semua peperangan”). Orang Kristen berada di antara dua waktu ini, karena itu mereka harus terus berdoa “maranatha” (16:22, dari ungkapan Aram marana tha yang berarti “Tuhan kami, datanglah”)

Mengapa Paulus menghubungkan karunia rohani yang dimiliki jemaat Korintus dengan pengharapan eskhatologis? Apa kaitan antara keduanya? Jawaban bagi pertanyaan ini berhubungan dengan situasi konkrit di Korintus. Jemaat Korintus cenderung melalaikan harapan eskhatologis yang berkaitan dengan pemerintahan Tuhan Yesus secara sempurna di akhir jaman. Mereka lupa bahwa mereka pada akhir jaman akan menghakimi malaikat dan dunia (6:2-3). Mereka bahkan terpengaruh dengan filosofi dunia yang menolak kebangkitan orang mati (15:12). Mereka sangat mungkin berpikir bahwa situasi mereka yang dipenuhi dengan berbagai karunia rohani – terutama bahasa roh –  sudah dianggap sebagai berkat eskhatologis yang terpenting (bdk. Kis 2:17-21), padahal semua karunia rohani itu akan berlalu (13:8-12). Dengan penolakan terhadap konsep kebangkitan orang mati, mereka berpikir bahwa mereka telah sampai pada akhir jaman. Bagi mereka tidak ada lagi yang harus ditunggu. Mereka telah mencapai kesempurnaan. Semua konsep ini sejak awal sudah dikoreksi oleh Paulus dengan menyatakan bahwa keadaan mereka yang penuh karunia rohani harus dikaitkan dengan penantian penyataan Kristus di akhir jaman.

8          Penantian eskhatologis di ayat 7 memiliki tujuan agar jemaat Korintus tidak bercacat pada saat Hari Tuhan (ayat 8). Kata Yunani anenklētos yang dipakai di sini muncul lima kali dalam seluruh PB, semuanya ditemukan di surat Paulus (1:8; Kol 1:22; 1Tim 3:10; Tit 1:6, 7). Makna yang tersirat dari kata ini bukan merujuk pada kesucian moral yang sempurna; jika makna ini yang ingin disampaikan Paulus mungkin akan memakai kata amemptos atau amōmos yang memiliki nuansa moral/relijius yang lebih kental daripada anenklētos. Kata anenklētos harus dipahami sebagai status yang bebas dari tuduhan hukum. Dalam konteks penghakiman terakhir, hal ini menunjuk pada status legal orang percaya yang tidak mungkin digugat oleh iblis (bdk. Rom 8:1, 33).

Frase “Hari Tuhan kita Yesus Kristus” merupakan ungkapan yang menarik untuk diperhatikan. Dalam PL frase ini muncul berkali-kali (Am 5:18-20; Yl 2:31). Sekarang frase ini dipakai dengan sedikit pergeseran arti. Sebutan yang dipakai tetap “Hari Tuhan”, namun “Tuhan” yang dimaksud di sini adalah Yesus Kristus (1:8), karena Yesuslah yang kelak akan menyatakan diri dalam kemuliaan-Nya (1:7).

Mengapa Paulus begitu yakin bahwa mereka akan menghadap Tuhan dalam keadaan bebas dari tuduhan? Bukankah kehidupan rohani mereka sangat menyedihkan: mereka bertingkah laku duniawi (3:1) atau bahkan lebih buruk dari itu (5:1)? Jawabannya terletak pada diri Allah. Ayat 8b menyatakan “Ia akan meneguhkan kamu sampai pada akhirnya”. Subjek dalam kalimat ini (“Ia”) dapat merujuk pada Allah atau Kristus Yesus. Dalam hal ini, kita sebaiknya memilih alternatif yang pertama: (1) Allah adalah subjek dari semua kata kerja pasif di ayat 4-7. Sangat mungkin Allah juga tetap menjadi subjek dari kata kerja di ayat 8; (2) Allah adalah subjek yang meneguhkan berita injil di ayat 6, sehingga Dia juga yang menjadi subjek yang meneguhkan orang percaya di ayat 8; (3) Allah [theos] disebut secara eksplisit di ayat 9 sebagai Pribadi yang setia. Hal ini sejalan dengan apa yang Dia lakukan di ayat 8.

Kunci dari kepastian status eskhatologis orang percaya terletak pada tindakan Allah yang meneguhkan (bebaioō) kita. Pemakaian bebaioō di ayat 6 dan 8 mengindikasikan karya Allah yang konsisten. Dia yang telah meneguhkan (bebaioō) berita injil, Dia juga yang akan meneguhkan (bebaioō) orang percaya terus-menerus. Dia yang telah menguduskan orang percaya pada saat mereka percaya kepada Kristus  (1:30; 6:11), Dia juga yang akan membawa mereka tanpa cela di hadapan Kristus (1:8).

Proses peneguhan ini tidak hanya dilakukan dulu sampai sekarang, tetapi akan tetap dilakukan Allah sampai pada akhirnya (heōs telous). Frase heōs telous di ayat ini dapat berarti “sampai sempurna” atau “sampai akhir”. Konteks 1:4-9 lebih mendukung alternatif kedua. Kata telos di sini lebih berkaitan dengan aspek waktu (merujuk pada “hari Tuhan kita Yesus Kristus”), yaitu saat ketika Tuhan menghakimi semua orang (3:13-15; 5:5).

Walaupun status eskhatologis orang percaya sudah dijamin oleh Allah, namun tidak berarti bahwa orang percaya boleh sembarangan dengan hidupnya. Kita harus memahami bahwa dalam teologi Paulus apa yang Allah lakukan untuk orang percaya menuntut respon tertentu dari orang percaya dalam bentuk kekudusan hidup, misalnya karya penebusan menuntut mereka menguduskan tubuh mereka dari percabulan (6:19-20). Dengan mengingatkan status hukum orang percaya di akhir jaman Paulus justru ingin memotivasi mereka supaya menjauhi segala hal yang tidak sesuai dengan kepastian status itu. Sebagai contoh, tindakan menyeret saudara seiman ke pengadilan duniawi merupakan tindakan yang tidak sesuai dengan status eskhatologis orang percaya sebagai hakim atas dunia dan malaikat (6:1-3).

 9         Ayat 8 telah menjelaskan bagaimana status legal orang percaya di hari penghakiman akan dijamin oleh Allah. Bagaimanapun, kita tetap bertanya-tanya mengapa Allah mau melakukan hal itu. Jawabannya disediakan Paulus di ayat 9, yaitu karena Allah adalah setia. Konsep tentang kesetiaan Allah sangat berhubungan dengan sifat Allah yang tetap memegang janji-janji-Nya (bdk. Ul 7:9). Untuk menekankan konsep ini, Paulus sengaja meletakkan kata pistos (“setia”) di awal ayat 9. Kepastian keselamatan bukan didasarkan pada kepemilikan berbagai karunia rohani, tetapi pada sifat Allah yang setia.

Berdasarkan pemunculan ungkapan “Allah adalah setia” (pistos ho theos) di 1:9 dan 10:13 kita dapat menyimpulkan bahwa kesetiaan ini berhubungan dengan berbagai macam pencobaan yang dialami orang percaya. Iblis akan terus berusaha mencobai dan menjatuhkan orang percaya, sedangkan Allah menyatakan kesetiaan-Nya dalam bentuk mengontrol kekuatan dari pencobaan itu (bdk. Ay 1:12; 2:6) dan memberi jalan keluar.

Lebih jauh Paulus menjelaskan bahwa Allah yang setia ini adalah yang telah memanggil (kaleō) jemaat Korintus kepada persekutuan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus. Kata kaleō mengingatkan kembali pada apa yang dilakukan Allah di 1:1-2 ketika Ia memanggil Paulus sebagai rasul dan memanggil jemaat Korintus untuk menjadi orang-orang kudus. Dari sini terlihat bahwa Allah sangat terlibat dalam kehidupan orang percaya mulai dari awal. Kalau Allah sudah memulai pekerjaan-Nya, maka Dia akan meneruskannya sampai selesai (Flp 1:6). Apa yang dilakukan Allah dahulu pada waktu Ia menyelamatkan kita merupakan bukti yang kuat bahwa Ia setia. Meminjam istilah Paulus di tempat lain, jika Allah sudah mengubah kita dari musuh menjadi anak melalui pengorbanan Anak-Nya yang tunggal, Yesus Kristus, masakan Ia sekarang kekurangan kasih dan akhirnya menghukum kita seolah-olah kita adalah musuh-Nya (Rom 5:9-10)?

Orang percaya tidak hanya dipanggil di dalam Kristus secara status/legal/posisi, tetapi juga di dalam persekutuan (koinōnia) dengan Kristus. Kata koinōnia menunjukkan bahwa panggilan ini bukanlah sesuatu yang statis, tetapi dinamis; bukan hanya secara prinsip tetapi juga praktis, bukan hanya positional tetapi juga relational (2Kor 9:13; Flp 3:10). Persekutuan di dalam Kristus inilah yang menciptakan persekutuan antara orang percaya (Flp 2:1-4). Persekutuan ini juga menuntut orang percaya tidak berkompromi dengan jenis persekutuan yang lain (10:16; bdk. 6:15-17; 2Kor 8:6).

APLIKASI

Ucapan syukur Paulus di 1:4-9 memiliki fungsi lebih banyak daripada ucapan syukur di surat kuno pada umumnya. Dari cara Paulus mengungkapkan hal ini kita dapat mengenal teologi dan prinsip penggembalaan Paulus. Poin yang paling penting adalah kemampuan Paulus untuk mengucap syukur atas berbagai karunia rohani yang dimiliki jemaat Korintus, walaupun hal itu telah disalahgunakan dan sebagai akibatnya, mereka justru merendahkan Paulus.

Sikap di atas memberi pelajaran rohani yang sangat relevan untuk gereja modern. Kita hidup di jaman yang dipenuhi dengan berbagai karunia rohani. Banyak orang Kristen dari aliran Pentakosta dan Kharismatik menggandrungi hal-hal spektakuler seperti ini. Tidak jarang penyalahgunaan karunia terjadi di mana-mana, sama seperti di jemaat Korintus. Mereka yang sering bernubuat, mendapat penglihatan, memiliki karunia kesembuhan dan berbahasa roh seringkali dilihat sebagai orang-orang yang lebih rohani daripada yang lain. Kecenderungan ini melupakan satu fakta penting bahwa karunia roh sangat beragam dan tidak dapat dibatasi pada hal-hal tertentu saja. Ini juga berpotensi mengecilkan keutamaan Allah dalam semua hal tersebut.

Di sisi lain, orang-orang Kristen dari aliran lain bersikap terlalu negatif terhadap fenomena karunia rohani. Bagi mereka karunia rohani sudah tidak terjadi lagi di jaman sekarang atau tidak terlalu penting bagi kehidupan Kristen. Mereka juga menganggap diri lebih berhikmat dan berpengetahuan daripada saudara-saudara seiman dari kalangan Pentakosta/Kharismatik, padahal pengetahuan/hikmat juga termasuk karunia rohani. Dengan demikian mereka melakukan kesalahan yang sama persis dengan mereka yang sedang dijadikan objek kritikan! Seharusnya mereka tetap mengucap syukur atas keberadaan berbagai karunia itu sambil membantu yang lain untuk tetap berfokus pada Pemberi karunia (Allah), bukan pada karunia-karunia itu sendiri.

 

Leave a Reply