KEBODOHAN ALLAH : KHOTBAH PAULUS

1Demikianlah pula, ketika aku datang kepadamu, saudara-saudara, aku tidak datang dengan kata-kata yang indah atau dengan hikmat untuk menyampaikan kesaksian Allah kepada kamu. 2Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus,yaitu Dia yang disalibkan. 3Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar. 4Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh, 5supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah.

Kata sambung kagō (lit. “dan aku”) di 2:1 mengindikasikan keterkaitan bagian ini dengan bagian-bagian sebelumnya (LAI:TB “demikian pula”). Walaupun masih berkaitan, namun 2:1-5 merupakan paragraf yang baru. Hal ini ditandai dengan sapaan “saudara-saudara” (adelphoi) di awal ayat 1. 1Korintus 2:1-5 merupakan penjelasan terakhir yang mendukung pernyataan Paulus bahwa injil dan hikmat duniawi saling berkontradiksi sehingga tidak mungkin disatukan.

Kata sambung kagō sekaligus mengalihkan fokus pembahasan kepada diri Paulus sebagai pengkhotbah. Kalau di 1:18-25 Paulus memfokuskan pembahasan pada inti injil (yaitu salib Kristus) dan di 1:26-31 pada hasil injil (keberadaan jemaat Korintus), sekarang di 2:1-5 ia lebih menyoroti para pemberita injil. Atau dengan ungkapan lain, 1:18-25 tentang kebodohan injil, 1:26-31 tentang kebodohan penerima, 2:1-5 tentang kebodohan pemberita.

Dalam hal ini ia memberi contoh dirinya sendiri pada waktu pertama kali datang ke Korintus. Dia ingin mengingatkan jemaat Korintus bahwa dia dulu pada waktu melayani di Korintus termasuk kategori pengkhotbah bodoh jika diukur menurut ilmu retorika kuno. Dia bahkan sengaja (2:2 “aku telah memutuskan) tidak mau memberitakan injil dengan bersandar pada ilmu retorika kuno.

Struktur perikop ini didasarkan pada pemunculan kagō di ayat 1 dan 3, sehingga kata ini membagi 2:1-5 menjadi dua bagian: ayat 1-2 dan 3-4. Ayat 5 kita sendirikan karena bagian ini secara jelas menunjukkan tujuan dari dua bagian sebelumnya. Di ayat 1-2 Paulus menyinggung isi khotbahnya, sedangkan di ayat 3-4 ia lebih menyoroti cara khotbah. Dua hal ini tidak memenuhi persyaratan sophia logou (1:17; 2:1). Bagaimanapun, Paulus tetap tidak mau mengikuti keinginan pendengar, karena ia memiliki tujuan khusus, yaitu supaya iman mereka bukan pada hikmat manusia, melainkan pada kuasa Allah (ayat 5).

Dengan demikian struktur 2:1-5 dapat dijelaskan sebagai berikut:

Isi khotbah yang tidak sesuai hikmat (2:1-2)

Cara khotbah yang tidak sesuai dengan hikmat (2:3-4)

Tujuan: iman bergantung pada kekuatan Roh, bukan perkataan manusia (2:5)

1          Pengulangan kata “aku datang” (erchomai) sebanyak dua kali di ayat 1a (“ketika aku datang, aku tidak datang…”) memiliki makna yang penting. Paulus sebenarnya cukup memakai satu kali saja, tetapi dia memutuskan untuk mengulang hal ini karena dia ingin menekankan pelayanannya yang dulu di kota Korintus. Kedatangan yang dimaksud di sini adalah kedatangan Paulus pertama kali di kota Korintus sebagaimana dicatat dalam Kisah Rasul 18:1-18.

Ketika Paulus pertama kali datang ke Korintus, dia tidak datang “dengan kata-kata yang indah dan dengan hikmat” (ayat 1b). Terjemahan LAI:TB di ayat ini memiliki beberapa kelemahan. Terjemahan “indah” di sini tidak tepat. Kata Yunani hyperochē berkaitan dengan ide “memiliki sesuatu di atas atau secara berlebihan” (1Tim 2:2), sehingga seharusnya diterjemahkan “superior” (NASB/NIV), “hebat” (KJV) atau “tinggi” (RSV). Selain itu, para penerjemah LAI:TB mengasumsikan bahwa kata sifat hyperochē hanya menjelaskan kata benda logos (LAI:TB “kata-kata yang indah”), padahal hyperochē seharusnya menjelaskan kata benda sophia (“hikmat”) juga.  Kelemahan lain dari terjemahan LAI:TB adalah penggunaan “kata-kata” untuk menerjemahkan kata Yunani logos. Sesuai dengan konteks yang ada, logos di sini lebih mengarah pada perkataan (KJV/NASB “speech”; NIV “eloquence”), bukan kata-kata (RSV “words”). Jika semua penjelasan ini digabungkan, maka ayat 1b seharusnya diterjemahkan “dengan superioritas perkataan atau (superioritas) hikmat”.

Dua hal yang disebut Paulus dalam ayat ini – yaitu perkataan (logos) dan hikmat (sophia) – merupakan karakteristik utama seorang orator yang ulung menurut ilmu retorika waktu itu. Kata logos lebih mengarah pada bentuk (cara penyampaian), sedangkan sophia lebih ke arah isi (kualitas logika dan jangkauan pengetahuan). Seorang orator harus mampu memberikan materi yang menunjukkan pikirannya yang tajam dan pengetahuannya yang luas. Dia juga harus mampu menyampaikan materi tersebut dengan cara yang menarik dan memukau pendengar.

Pernyataan Paulus di ayat ini tidak berarti bahwa dia adalah orang yang tidak berpengetahuan atau tidak dapat menyampaikan sesuatu dengan jelas. Khotbahnya di depan para filsuf di Atena (Kis 17:21-34) membuktikan kehebatan pengetahuan Paulus. Festus pun mengakui kehebatan Paulus selama dia mendengar khotbahnya. Dia berseru “Engkau gila Paulus! Ilmumu yang banyak itu membuat engkau gila” (Kis 26:24). Yang dimaksud Paulus di 1Korintus 2:1 (juga 1:17) adalah bahwa dia tidak mau menjadikan semua kriteria retorika tersebut sebagai sesuatu yang penting. Dia tidak mau menyandarkan pemberitaannya pada kemampuan retorika. Bagi dia yang paling penting adalah berita, bukan pemberita atau cara memberitakannya.

Paulus sadar bahwa dia sedang menyampaikan kesaksian Allah (ayat 1c). Kata “menyampaikan” di sini dalam teks Yunani adalah katangellō. Versi Inggris dengan tepat menerjemahkan kata ini dengan “mendeklarasikan” (KJV) atau “memproklamasikan” (NASB/NIV/RSV). Makna utama yang terkandung dalam kata ini adalah “membuat sesuatu diketahui oleh publik”. Tidak heran, kata ini tidak selalu melibatkan komunikasi verbal dalam bentuk khotbah. Roma 1:8 “telah tersiar kabar (katangellō) tentang imanmu di seluruh dunia”. 1Korintus 11:26 “sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan (katangellō) kematian Tuhan sampai Ia datang”. Melalui kata katangellō ini Paulus ingin menjelaskan kepada jemaat Korintus bahwa sekalipun dia tidak berkhotbah di depan banyak orang seperti yang yang biasa dilakukan orator ulung waktu itu, namun berita yang dia sampaikan di rumah atau rumah ibadat Yahudi akhirnya tetap diketahui oleh publik dan hal ini tidak dicapai melalui superioritas perkataan atau superioritas hikmat.

Apa yang disampaikan Paulus adalah kesaksian (martyrion) Allah. Dalam beberapa salinan Alkitab kuno, kata yang dipakai bukan martyrion (“kesaksian”), tetapi mystērion (“misteri”). Para penafsir modern umumnya menganggap salinan mystērion lebih sesuai dengan naskah asli. Editor teks Yunani yang paling modern dan terpercaya (NA27 dan UBS4) juga berpendapat bahwa kata mystērion lebih asli. Pendapat ini tampaknya sangat bisa diterima karena didukung oleh salinan yang lebih tua dan sesuai dengan konteks yang ada (kata muncul lagi di 1Korintus 2:7)

Kata mystērion muncul 28 kali dalam seluruh Perjanjian Baru, 21 di antaranya ditemukan dalam tulisan Paulus. Dari pemunculan kata ini dapat disimpulkan bahwa mystērion merujuk pada sesuatu yang dahulu tertutup tetapi perlahan dibuka oleh Allah seiring dengan karya keselamatan yang dinyatakan secara progresif. Misteri sudah ada sejak kekekalan dalam rencana Allah (2:7), tetapi realisasinya berhubungan dengan sejarah penebusan yang dinyatakan Allah (Rom 11:25; 16:25; 1Kor 2:1, 7; 4:1; 13:2; 14:2; 15:51; Ef 1:3; 3:3, 4, 9; 5:32; 6:19; Kol 1:26, 27; Kol 2:2; 4:3; 2Tes 2:7; 1Tim 3:9, 16).

Penggunaan kata mystērion di sini mengandung dua poin penting: (1) tujuan ilahi hanya bisa dinyatakan oleh Allah (2:10-13; Mat 13:11, 17; Rom 16:25-26), karena itu hikmat manusia tidak mampu menemukannya (1:21; 2:8, 14); (2) yang paling penting dalam pemberitaan injil adalah karya Allah, bukan kefasihan bicara dan pengetahuan pengkhotbah.

2          Dalam teks Yunani, ayat ini dimulai dengan kata ou (“tidak”). Peletakan kata ou di awal kalimat mengindikasikan penekanan. Paulus sungguh-sungguh memutuskan untuk tidak mengetahui apapun. Pernyataan ini tidak berarti bahwa Paulus benar-benar buta tentang keadaan kota Korintus. Pernyataan ini harus dipahami sebagai kontras antara Paulus dan para orator kuno. Para orator biasanya menyelidiki apa yang ingin diketahui oleh calon pendengar mereka. Hal ini dilakukan agar materi yang disampaikan dapat diterima dan menyenangkan pendengar mereka.

Paulus tidak mau mempraktikkan kebiasaan para orator di atas. Bagi dia yang paling penting bukan apa yang pendengar ingin ketahui, tetapi apa yang mereka harus ketahui. Sikap tidak mau memuaskan telinga pendengar seperti ini memang sudah menjadi prinsip pelayanan Paulus sejak awal (bdk. 1Tes 2:1-10; Gal 3:1). Dia tidak mau menyenangkan telinga pendengar dengan mengorbankan berita yang sangat penting (Gal 1:10; 1Tes 2:5-6). Bagi Paulus yang paling penting adalah Kristus yang tersalib (2:2b), walaupun berita ini merupakan batu sandungan dan kebodohan bagi pendengarnya (bdk. 1:23). Berita inilah yang selalu disampaikan Paulus di mana saja dan kepada siapa saja (Kis 13:26-42).

3          Kata Yunani egenomēn (dari kata ginomai) dapat berarti “aku datang” (LAI:TB/NIV “I came to you”) atau “aku bersama-sama” (KJV/NASB/RSV “I was with you”). Dari dua alternatif ini, alternatif ke-2 tampaknya lebih tepat. Ketika membicarakan tentang kedatangan dan kehadiran Timotius ke Korintus di 16:10, Paulus membedakan kata kerja erchomai (“datang”) dan ginomai (“berada”). Jika terjemahan “aku bersama-sama” diterima, maka 2:3 merujuk pada Kisah Rasul 18:11-18 ketika Paulus tinggal bersama-sama dengan jemaat Korintus selama sekitar dua tahun. Dengan demikian kita bisa mengatakan bahwa 2:1-2 membahas kedatangan, sedangkan 2:3-4 tentang keberadaan Paulus yang mengikuti kedatangan itu.

Selama kebersamaan dengan mereka ini, Paulus berada dalam berbagai keterbatasan. Dia dalam kelemahan, ketakutan dan kegentaran. Dalam teks Yunani, frase “dalam…dalam….dalam….” diletakkan di depan kata kerja egenomēn untuk memberikan penekanan. Bukan hanya cara berkhotbah Paulus yang tidak sesuai ilmu retorika kuno, namun kehadirannya pun dipenuhi dengan berbagai keterbatasan.

Keterbatasan Paulus yang pertama adalah kelemahan (astheneia). Kata astheneia seringkali dipakai untuk kelemahan secara fisik (Mat 8:17; Luk 5:15; Yoh 5:5; Kis 28:9; Gal 4:13). Dalam beberapa kasus kata ini juga dipakai dalam konteks penganiayaan, misalnya kelemahan Paulus di 4:10 dijelaskan dalam konteks penganiayaan (bdk. 4:11-13). Kita tidak mengetahui secara pasti apakah astheneia merujuk pada penyakit fisik atau penganiayaan (luka/cacat akibat penganiayaan) atau kelemahan yang lain, karena Kisah Rasul 18:1-18 tidak menceritakan apapun tentang kelemahan fisik Paulus. Paulus mungkin saja memikirkan dua arti tersebut, ditambah dengan kondisi fisik Paulus sendiri yang menurut tradisi kurang menarik (wajah, ukuran tubuh dan bentuk kaki Paulus tampak tidak normal). Sebagian penafsir memilih untuk tidak membatasi astheneia pada kelemahan fisik. Dalam konteks 1Korintus 2:3 kata ini merujuk pada segala sesuatu yang bisa merusak keagungan dan kehormatan seseorang di mata orang lain, misalnya keputusan untuk bekerja keras sebagai pembuat tenda, ketidakmauan untuk menggunakan prinsip retorika dan hikmat, kondisi fisik tertentu yang tidak meyakinkan sebagai seorang orator, dsb.

Keterbatasan yang lain adalah “ketakutan dan kegentaran” (phobos dan tromos). Dua kata ini sebaiknya digabung, karena keduanya sinonim dan seringkali dipakai secara bersamaan dalam Alkitab (LXX, Kel 15:16; Yes 19:16; 2Kor 7:15; Flp 2:12; Ef 6:5). Para penafsir berbeda pendapat tentang phobos dan tromos yang dialami Paulus. Banyak usulan sudah dikemukakan.  Yang jelas ketakutan ini tidak berhubungan dengan ketakutan terhadap orang-orang Yahudi (Kis 18:9-10), karena 2:3 berbicara tentang pelayanan Paulus selama kurang-lebih dua tahun (bukan pada saat pertama kali datang). Para sarjana umumnya melihat ketakutan ini secara lebih luas: Paulus gentar dengan tugas pemberitaan injil di kota metropolis seperti Korintus. Orang-orang waktu itu cenderung hanya menerima pengkhotbah yang dapat menghibur mereka, sedangkan Paulus dari segi penampilan fisik dan kemampuan tidak memenuhi persyaratan itu. Kalau para orator kuno waktu itu berbicara dengan penuh percaya diri, semangat persaingan dengan orator lain dan hati yang congkak, Paulus tidak memiliki semua itu. Kelemahan dan kegentarannya sesuai dengan injil yang dia beritakan: dipandang rendah dan lemah oleh dunia.

4          Di ayat ini Paulus menegaskan bahwa pemberitaannya tidak disampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan (ayat 4a). Kata peithois (“meyakinkan”) hanya muncul sekali di seluruh Alkitab. Berdasarkan penggunaan kata ini di luar Alkitab, kata peithois dapat memiliki makna positif (“persuasif”, NIV/NASB), netral (“masuk akal”, RSV) atau negatif (“memikat”, KJV), tergantung pada konteks. Dari konteks yang ada, peithois di 3:4a tampaknya bermakna negatif.

Kita tidak boleh memahami bahwa khotbah Paulus kurang meyakinkan. Yang sedang menjadi sorotan adalah jenis persuasi yang dipakai. Paulus tidak memakai persuasi secara hikmat duniawi yang mengandalkan kefasihan dan kepandaian pembicara. Sebaliknya, kekuatan khotbah Paulus terletak pada keyakinannya terhadap kekuatan Roh (ayat 4b). Terjemahan “keyakinan” sebenarnya tidak terlalu tepat mengekpresikan kata Yunani yang dipakai. Kata apodeixis yang hanya muncul sekali dalam Alkitab ini memiliki arti “bukti” (2Mak 4:20) atau “demonstrasi” (4Mak 3:19). Kata apodeixis merupakan istilah teknis dalam dunia retorika kuno untuk merujuk pada sebuah konklusi yang tidak terbantahkan atau proses berpikir yang luar biasa. Melalui pemakaian kata ini Paulus ingin menegaskan bahwa ia pun memiliki bukti yang meyakinkan, namun bukti ini bukan ditemukan pada prinsip-prinsip retorika, melainkan pada kekuatan Roh. Paulus bukan sekedar yakin, tetapi dia sudah melihat atau membuktikan sendiri kekuatan Roh Kudus dalam khotbahnya.

Kekuatan Roh dalam konteks ini bukanlah mujizat tertentu (kesembuhan, pengusiran setan, dsb), walaupun kerasulan Paulus juga diteguhkan melalui hal-hal tersebut (2Kor 12:12). Jika ia memaksudkan berbagai mujizat, maka ia pasti akan memakai bentuk jamak “kuasa-kuasa” (dynameis) atau “tanda-tanda” (sēmeia). Di samping itu, Paulus sebelumnya sudah menjelaskan bahwa pemberitaan injilnya berkontradiksi dengan harapan Yahudi yang menuntut tanda maupun Yunani yang mencari hikmat (1:22-23). Tidak mungkin ia memikirkan mujizat-mujizat sebagai bukti pemberitaan injilnya.

Yang dimaksud Paulus dengan apodeixis dari kekuatan Roh adalah pertobatan orang-orang Korintus (1:26-28; 9:1b-2; 1Tes 1:5-6). Hal ini didukung oleh konteks 2:6-14 yang menekankan pentingnya Roh dalam pemahaman seseorang tentang hal-hal rohani. Pertobatan adalah mujizat terbesar, karena orang yang mati dalam dosa dan memusuhi Allah dapat diubah menjadi orang yang mengasihi Dia. Jadi, bagi Paulus bukti dari sebuah pemberitaan tidak terletak pada persuasi retoris melainkan pada perubahan hidup para pendengar. Iman bukan didasarkan pada seberapa menghibur dan meyakinkan si pembicara, tetapi pada kuasa Allah yang mengubah para pendengar.

5          Kata sambung “supaya” (hina) mengindikasikan bahwa ayat ini adalah tujuan dari prinsip pelayanan Paulus di ayat 1-2 dan 3-4. Dia tidak mau iman jemaat Korintus bergantung pada (lit. “berada dalam”) hikmat manusia. Dia ingin iman mereka bergantung pada kekuatan Allah. Dengan memahami kebenaran ini, jemaat Korintus akan terhindar dari bahaya memegahkan diri sendiri atau para pemimpin mereka. Mereka seharusnya bermegah di dalam Tuhan (1:31), karena mereka adalah milik Allah (3:22-23). Pertobatan mereka tidak ditentukan oleh kefasihan dan kepandaian pemberita injil, melainkan oleh kekuatan Allah.

Pernyataan di 2:5 bukan menentang penggunaan rasio dalam iman Kristen. Rasio diciptakan oleh Allah dan dipakai untuk mengenal Dia (Mat 22:37), namun iman lebih dari sekadar persetujuan intelektual. Iman adalah hasil pekerjaan Roh dalam diri kita. Rasio berguna bukan untuk menumbuhkan iman (pertobatan), melainkan untuk menguji apakah suatu iman memiliki pembenaran atau tidak.

APLIKASI

Di tengah tuntutan dunia yang memandang mujizat dan hikmat sebagai hal yang sangat penting, Paulus justru memutuskan untuk memberitakan injil apa adanya. Bagi dia hakekat salib harus tergambar dalam isi dan cara pemberitaan. Kelemahan salib harus tercermin di dalam kelemahan khotbah Paulus: isinya tidak menarik, begitu pun dengan cara penyampaiannya. Dari kacamata dunia mungkin khotbah Paulus tidak menarik, apalagi meyakinkan. Bagaimanapun, Allah telah memberi bukti yang jelas bagi efektivitas pemberitaan injil yang seperti itu, yaitu perubahan hidup dari para pendengar melalui kuasa Roh.

Prinsip khotbah seperti di atas sekarang semakin sulit untuk ditemukan. Situasi ini sebenarnya pernah dinubuatkan Paulus ketika ia memberitahu bahwa pada jaman akhir banyak orang akan mengumpulkan guru-guru untuk memuaskan telinga mereka (2Tim 4:3). Di sebagian gereja berita injil sudah mulai digantikan dengan yang lain. Injil yang berisi kematian dan kebangkitan Kristus (15:3-4) sudah diganti dengan teologi kemakmuran yang menawarkan gaya hidup materialistik. Kekuatan Roh dalam hal pertobatan mulai digeser posisinya dan diganti dengan berbagai mujizat kesembuhan supaya orang luar tertarik dengan kekristenan. Gaya khotbah yang berpusat pada teks (mempelajari teks secara mendalam) mulai ditinggalkan dan diganti dengan khotbah yang membuat jemaat terhibur dengan kefasihan bicara dan ilustrasi yang lucu. Kalau kita mau jujur maka kita harus mengakui bahwa sebagian pengkhotbah modern (mayoritas?) cenderung memenuhi tuntutan pendengar daripada menyampaikan kemurnian injil.

Leave a Reply