HIKMAT SEJATI DINYATAKAN OLEH ROH

 

            6Sungguhpun demikian kami memberitakan hikmat di kalangan mereka yang telah matang, yaitu hikmat yang bukan dari dunia ini, dan yang bukan dari penguasa-penguasa dunia ini, yaitu penguasa-penguasa yang akan ditiadakan.  7Tetapi yang kami beritakan ialah hikmat Allah yang tersembunyi dan rahasia, yang sebelum dunia dijadikan, telah disediakan Allah bagi kemuliaan kita. 8Tidak ada dari penguasa dunia ini yang mengenalnya, sebab kalau sekiranya mereka mengenalnya,mereka tidak menyalibkan Tuhan yang mulia. 9 Tetapi seperti ada tertulis: “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.” 10Karena kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh, sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah. 11Siapa gerangan di antara manusia yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri manusia selain roh manusia sendiri yang ada di dalam dia? Demikian pulalah tidak ada orang yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri Allah selain Roh Allah. 12Kita tidak menerima roh dunia, tetapi roh yang berasal dari Allah, supaya kita tahu, apa yang dikaruniakan Allah kepada kita. 13Dan karena kami menafsirkan hal-hal rohani kepada mereka yang mempunyai Roh, kami berkata-kata tentang karunia-karunia Allah dengan perkataan yang bukan diajarkan kepada kami oleh hikmat manusia, tetapi oleh Roh. 14Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani. 15Tetapi manusia rohani menilai segala sesuatu, tetapi ia sendiri tidak dinilai oleh orang lain. 16Sebab: “Siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan, sehingga ia dapat menasihati Dia?” Tetapi kami memiliki pikiran Kristus.

 

Dalam bagian sebelumnya Paulus berkali-kali menekankan bahwa injil yang dia sampaikan berkontradiksi dengan hikmat yang diagungkan jemaat Korintus. Dari kacamata hikmat ini injil adalah kebodohan (1:18-25). Penerima (1:26-31) maupun pemberitanya (2:1-5) juga adalah orang-orang yang bodoh menurut ukuran dunia. Oleh karena itu, Paulus memutuskan untuk tidak memberitakan injil dalam hikmat dan retorika duniawi (2:1).

Apa yang ditulis Paulus ini tidak berarti bahwa salib adalah benar-benar kebodohan dalam arti yang sesungguhnya. Allah justru memakai salib untuk menunjukkan kebodohan orang-orang pintar (1:21). Pertobatan orang-orang yang bodoh menurut dunia pun menjadi sarana untuk memalukan dan meniadakan hikmat dunia (1:26-28). Injil jelas bukan konsep yang bodoh. Sebaliknya, Kristus yang disalibkan sebenarnya adalah hikmat (1:24, 30).

Jika salib adalah hikmat, mengapa orang yang berhikmat menganggap itu sebagai kebodohan? 1Korintus 2:6-16 memberikan penjelasan terhadap hal ini. Jawabannya terletak pada dua hal: jenis hikmat yang berbeda (2:6-7) dan cara hikmat tersebut dipahami (2:12-13). Hikmat yang dimaksud Paulus dalam bagian ini bukan secara filosofis atau retoris seperti yang dipikirkan jemaat Korintus, melainkan secara teologis. Hikmat ini tidak dapat dimengerti melalui pergumulan intelektual semata-mata, melainkan oleh pencerahan Roh Allah.

Hikmat sejati di 2:6-16 dipaparkan Paulus secara negatif (dikontraskan dengan hikmat duniawi) maupun positif (tanpa dikontraskan secara eksplisit). Secara negatif hikmat ini bukan dari dunia ini, melainkan dari Allah (2:6-7); bukan apa yang diketahui oleh para penguasa dunia ini, melainkan apa yang diberitahukan Allah (2:8-9); bukan apa yang ditawarkan oleh roh dunia, melainkan apa yang diberikan Roh Allah (2:12); bukan apa yang diajarkan oleh hikmat manusia, melainkan oleh Roh (2:13); bukan apa yang dapat dipahami melalui intelek manusia, melainkan melalui Roh (2:14). Secara positif hikmat ini sudah ditetapkan Allah sebelumnya (2:7), disiapkan Allah (2:9), dinyatakan Allah (2:10) kepada mereka yang dewasa (2:6) dan mengasihi Allah (2:9) serta menerima Roh (2:12). Hanya orang-orang yang rohani dalam arti yang sesugguhnya yang mampu memahami apa yang sudah diberikan Allah pada kita (2:16) dan mereka juga memiliki pikiran Kristus (2:16).

Ketika Paulus mengontraskan orang-orang dunia ini yang tidak memahami hikmat Allah dengan orang-orang yang menerima pencerahan Roh, ia tetap memasukkan jemaat Korintus dalam kategori yang terakhir. Hikmat ini disediakan bagi kita (2:7), karena kepada kita Allah menyatakannya oleh Roh (2:10). Kita menerima roh yang berasal dari Allah sehingga kita tahu apa yang dikaruniakan Allah bagi kita (2:12). Pertobatan jemaat Korintus memang perlu ditegaskan karena hal itu termasuk dalam argumen yang dipakai Paulus untuk membuktikan kekuatan dari kebodohan injil (1:26-31; 2:5). Di samping itu, penegasan ini sekaligus berfungsi untuk mengingatkan jemaat bahwa apa yang mereka lakukan (mengagungkan hikmat duniawi) tidak sesuai dengan status mereka sebagai penerima hikmat ilahi. Jadi, persoalan utama mereka adalah ketidaksesuaian antara status dan cara hidup. Sebagai orang yang diselamatkan melalui hikmat salib seharusnya mereka tidak mengikuti cara pikir dari hikmat dunia yang melawan salib.

Alur berpikir Paulus dalam bagian ini dapat ditelusuri dengan mudah. Ia mula-mula memaparkan keunikan hikmat ini dalam konteks perbedaan antara mereka yang menolak dan menerima (2:6-9). Perbedaan tersebut selanjutnya dijelaskan dari sisi pekerjaan Roh dalam diri orang percaya (2:10-13). Pekerjaan ini membuat perbedaan antara orang-orang tidak rohani yang gagal memahami hikmat ilahi sehingga tidak mampu menilai sesuatu (2:14) dengan mereka yang rohani yang tidak dinilai oleh orang lain (2:15), bahkan memiliki pikiran Kristus (2:16).

Berdasarkan pemahaman ini, struktur teks 2:6-16 adalah sebagai berikut.

Hikmat sejati (2:6-9)

Cara hikmat sejati dinyatakan (2:10-13)

Hikmat sejati membawa perbedaan (2:14-16)

 

6          Kata pertama yang muncul dalam ayat ini adalah kata “hikmat” (sophia). Cara peletakan seperti ini mengindikasikan bahwa Paulus ingin menekankan bahwa dia sungguh-sungguh memberitakan hikmat. Ide penekanan ini dieskpresikan dengan baik dalam terjemahan NIV “we do speak a message of wisdom”, NASB “we do speak wisdom” maupun RSV “we do impart wisdom”.

Kata sophia dalam ayat ini muncul tanpa artikel, sehingga lebih tepat diterjemahkan “sebuah hikmat”. Seandainya Paulus memakai artikel, maka hikmat yang dimaksud adalah “hikmat itu” (hikmat yang diagung-agungkan jemaat Korintus). Tidak adanya artikel di depan sophia menunjukkan bahwa Paulus sedang membicarakan sebuah hikmat yang lain. Berdasarkan konteks yang ada, hikmat yang dimaksud Paulus adalah “Kristus” (1:24-25, 30).

Bagi jemaat Korintus, hikmat yang diberitakan Paulus adalah kebodohan (1:18, 23), karena itu dia cepat-cepat menegaskan bahwa salib Kristus adalah hikmat bagi mereka yang matang (teleioi). Kata teleios bisa berarti “sempurna” (KJV) atau “dewasa” (RSV/NASB/NIV). Dalam konteks 2:6 kata teleios tampaknya berarti “dewasa”, karena mereka yang mengagung-agungkan hikmat duniawi disebut anak kecil (3:1-2). Sebagai tambahan, di 13:11 dan 14:20 kata teleios juga dikontraskan dengan anak kecil.

Siapa yang dimaksud teleioi di ayat ini? Sebagian penafsir berpendapat bahwa Paulus sedang merujuk pada kelompok tertentu dalam jemaat yang lebih rohani daripada mereka yang mengagungkan hikmat dunia. Jika ini diterima, maka 2:6 merupakan sindiran Paulus kepada sebagian jemaat yang menganggap injil sebagai kebodohan. Sesuai dengan konteks yang ada, kita sebaiknya menolak usulan ini. Teleioi harus dipahami sebagai rujukan untuk semua orang percaya. Ada beberapa argumen yang mendukung hal ini: (1) orang-orang yang menerima hikmat ilahi adalah mereka yang mengasihi Allah (2:9) dan menerima Roh (2:12; bdk. 12:1-3), sedangkan semua orang Kristen sudah memenuhi persyaratan tersebut; (2) dua kelompok manusia yang dikontraskan di 2:6-16 adalah orang non-Kristen dan orang Kristen, bukan orang Kristen dewasa dan orang Kristen kanak-kanak; (3) hikmat ilahi yang sedang dibicarakan Paulus hanya ada satu; dan itu merujuk pada Kristus yang tersalib. Berita seperti inilah yang disampaikan pada semua orang Kristen; (4) sebutan “bayi rohani” (3:1-2) lebih banyak berkaitan dengan tindakan mereka daripada status mereka (bdk 3:3).

Melalui penggunaan kata “dewasa” seperti di atas Paulus ingin mengingatkan jemaat Korintus agar mereka pun bersikap seperti status mereka sebagai orang yang dewasa. Jika mereka masih mengagungkan hikmat dunia (bahkan berselisih gara-hara hal itu), maka mereka telah bertingkah-laku seperti anak kecil. Kedewasaan hanya didapat dari hikmat ilahi melalui karya Roh. Kedewasaan seperti ini berbeda dengan kedewasaan dalam tradisi filsafat yang merujuk pada mereka yang sudah mencapai puncak hikmat. Konsep ini juga berbeda dengan agama misteri yang menerapkan kata “dewasa” pada mereka yang sudah memiliki pengalaman mistis tertentu. Semua orang yang memiliki Roh Allah, mengasihi Allah dan menerima hikmat ilahi dalam salib adalah orang-orang dewasa.

Hikmat yang diberitakan Paulus bukanlah hikmat dunia ini atau dari penguasa dunia ini (ayat 6b). Terjemahan “dunia” di ayat ini sebenarnya sedikit kurang tepat. Kata aiōn seharusnya diterjemahkan “jaman ini” (RSV/NASB/NIV). Makna yang tersirat dari kata “jaman ini” adalah kesementaraan. Hikmat seperti ini akan ditiadakan (2:6b; 1:19).

Siapa yang dimaksud dengan “para penguasa dunia ini” (hoi archontes tou aiōnos toutou)? Sebagian penafsir mengidentifikasi mereka sebagai roh-roh jahat, sebagian yang lain melihat para penguasa ini sebagai manusia. Mereka yang memegang pandangan pertama memberikan beberapa argumen sebagai berikut: (1) roh-roh jahat kadangkala dalam tulisan Paulus disebut sebagai penguasa dunia ini (Kol 1:16; Ef 6:12); (2) frase “peguasa dunia ini” (ho archōn tou kosmou toutou) muncul beberapa kali dalam Injil Yohanes untuk iblis (12:31; 14:30; 16:11).

Beberapa bukti berikut ini tampaknya sudah lebih daripada cukup untuk mendukung pandangan bahwa para penguasa di 2:6 adalah manusia, dalam arti orang-orang yang dianggap hebat oleh dunia: (1) 2:8 menyatakan bahwa para penguasa inilah yang menyalibkan Tuhan Yesus. Rujukan ini tampaknya mengarah pada penguasa duniawi (bdk. Luk 23:13, 35; 24:20; Kis 4:27-28; 1Tes 2:14-15); (2) di 1:20 dan 26 Paulus juga menyinggung tentang orang-orang tertentu yang menurut dunia adalah terhormat; (3) ketika Paulus menyebut roh-roh jahat (jamak), ia tidak pernah memakai kata archōntes, tetapi archai (Rom 8:38; Ef 1:21; 3:10; 6:12; Kol 1:16; 2:10, 15); (4) ketika archōn merujuk pada kuasa kegelapan, maka bentuk yang dipakai pasti tunggal (ho archōn), bukan jamak (hoi archōntes) seperti yang kita temukan di 2:6; (5) di Roma 13:3 Paulus memakai bentuk jamak hoi archōntes untuk pemerintah sipil.

Paulus lalu menutup 2:6 dengan penegasan bahwa Baik jaman ini (ho aiōn) maupun penguasanya (hoi archōntes tou aiōnos toutou) akan ditiadakan. Dalam teks Yunani, kata “ditiadakan” (katargoumenōn) memakai bentuk keterangan waktu present (kekinian), sehingga seharusnya diterjemahkan “sedang ditiadakan”. Penerjemah NIV tampaknya peka terhadap keterangan waktu ini, sehingga mereka memberi terjemahan “who are coming to nothing”, kontra LAI:TB). Melalui bentuk tense present ini Paulus ingin menekankan kepastian dari kebinasaan yang akan dialami oleh para penguasa jaman ini. Keterangan waktu yang dipakai di 2:6 sama persis dengan yang kita temukan di 1:18 “sedang binasa”.

7          Kata sambung alla (“tetapi”) di awal ayat ini berguna untuk menampilkan kontras antara hikmat dari jaman ini/para penguasanya dengan hikmat Allah (sophia theou). Paulus menyebutkan tiga ciri dari hikmat Allah. Pertama, hikmat ini adalah rahasia (ayat 7a). LAI:TB meletakkan kata “rahasia” setelah kata “tersembunyi”, padahal dalam teks Yunani kata “rahasia” muncul lebih dahulu. Berpijak pada struktur kalimat ini kita akan membahas kata “rahasia” (mysterion) lebih dahulu. Apa yang dimaksud dengan mysterion di sini? Seperti sudah disinggung dalam pembahasan 2:1, kata mysterion merujuk pada sesuatu yang dulu tidak diketahui, tetapi sekarang dibukakan oleh Allah (2:1; 4:1; 13:2; 14:2; Rom 16:25; Kol 1:26-27; 2:2; 4:3; Ef 1:9; 3:3, 4, 9; 6:19). Berbeda dengan penggunaan kata “misteri” dalam dunia teologi yang biasanya merujuk pada hal-hal yang tidak akan dipahami manusia di dunia ini atau bahkan sampai kekekalan, penggunaan misteri dalam surat-surat Paulus merujuk pada hal yang dapat diketahui secara progresif di dunia ini, karena Allah berkenan menyatakan hal itu (Ef 1:26 “yaitu rahasia yang tersembunyi dari abad ke abad dan dari turunan ke turunan, tetapi yang sekarang dinyatakan kepada orang-orang kudus-Nya”). Yang dimaksud misteri adalah wahyu Allah yang berkaitan dengan salib Kristus (Kol 2:2 “…rahasia Allah, yaitu Kristus”; 4:3 “rahasia Kristus”). Misteri inilah yang dipercayakan Allah kepada Paulus dan para rasul untuk diberitakan (4:1).

Kedua, hikmat ini tersembunyi (ayat 7b). Hikmat Allah bukan hanya bersifat rahasia (dinyatakan secara progresif), tetapi juga tersembunyi. Kata Yunani yang dipakai di ayat ini berbentuk pasif (apokekrymmenēn), sehingga lebih tepat diterjemahkan “disembunyikan”. Berdasarkan tata bahasa Yunani, bentuk pasif di sini disebut divine passive, yang menyiratkan bahwa subjek yang menyembunyikan adalah Allah sendiri. Hal ini sesuai dengan doa Yesus ketika Dia ditolak oleh orang-orang Yahudi di Matius 11:25 “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil”. Bentuk tense perfect pada kata apokekrymmenēn memberi tambahan petunjuk bahwa hikmat Allah tetap tersembunyi dari dulu sampai sekarang. Injil tertutup bagi mereka yang akan binasa (2Kor 4:3).

Bagian selanjutnya dari 2:6-16 (terutama ayat 10-14) menerangkan bahwa menyembunyikan di sini bukan berarti Allah secara aktif menghalangi orang yang sungguh-sungguh mau memahami hikmat-Nya. Ketersembunyian ini terkait dengan hakekat/natur manusia berdosa yang memang dari mulanya tidak mau dan tidak mampu memahami hikmat Allah (2:14). Mereka justru berusaha mencari dan mengagungkan hikmat duniawi, seolah-olah Allah begitu kecil sehingga bisa dimengerti oleh akal manusia.

Kata “misteri” (mysterion) dan “sembunyi” (apokryptō) dalam tulisan Paulus muncul bersamaan beberapa kali. Tiap kali hal ini berhubungan dengan kekekalan sebelum segala sesuatu ada (2:7 “sebelum dunia dijadikan”; Ef 1:9 “dari semula”; 3:9 “telah berabad-abad…menciptakan segala sesuatu”; Kol 1:26 “dari abad ke abad dari turunan ke turunan”). Dengan kata lain, tindakan menyembunyikan ini sudah terjadi sebelum dunia dijadikan. Dalam perjalanan waktu selanjutnya, hikmat ini dibukakan oleh Allah kepada orang-orang tertentu yang Dia sudah tetapkan sejak kekekalan juga (lihat pembahasan selanjutnya di 2:7c).

Ketiga, hikmat ini disediakan bagi kita (ayat 7c). Walaupun hikmat Allah baru dinyatakan secara bertahap dan disembunyikan bagi orang-orang tertentu, namun hikmat itu sejak kekekalan sudah disediakan bagi orang pilihan-Nya (bdk. 1:24). Kata “disediakan” (proorizō) hanya muncul 6 kali dalam PB. Dari semua pemunculan ini, proorizō selalu memiliki arti “menentukan dari kekekalan” (Kis 4:28; Rom 8:29-30; Ef 1:5, 11). Di 2:7c makna ini dipertegas dengan frase pro tōn aiōnōn (secara hurufiah “sebelum jaman-jaman”, NKJV/NASB/RSV “before the ages” atau NIV “before time began”). Kebenaran ini sesuai dengan ajaran Paulus di tempat lain bahwa Allah telah memilih sebagian orang untuk diselamatkan dalam Kristus sebelum dunia dijadikan (Ef 1:4) atau sebelum permulaan jaman (2Tim 1:9).

Tujuan dari penentuan sejak kekekalan ini adalah “untuk kemuliaan kita”. Kemuliaan ini harus dipahami dalam konteks eskhatologis: orang percaya nanti akan dimuliakan (15:40-42; Rom 8:18, 21; 9:23; 1Tes 2:12). Mereka akan menghakimi dunia dan malaikat (6:2-3). Siapa saja yang percaya kepada Tuhan Yesus yang mulia (2:8; Yak 2:1; Flp 2:9-11) pasti akan dimuliakan, yang penting mereka harus mau menderita seperti Kristus (Rom 8:17; 2Kor 4:17). Ketika jemaat Korintus mempercayai salib mereka mungkin akan dianggap sebagai orang bodoh dan kurang diterima oleh masyarakat, namun mereka harus mau menaggung semua itu. Sama seperti Tuhan yang mulia dihina di kayu salib (2:8), demikian pula orang percaya yang ditetapkan untuk kemuliaan harus mengalami kehinaan dan penolakan.

Melalui konsep tentang kemuliaan eskhatologis ini Paulus ingin mengajarkan dua hal penting kepada jemaat Korintus: (1)  rencana Allah untuk menyatakan hikmat-Nya kepada kita adalah tunggal, menyeluruh dan tidak bisa dibatalkan. Allah telah menetapkan (proōrisen) sebelum dunia dijadikan supaya kita menerima kemuliaan kekal. Dari kekal sampai kekal; begitulah sifat rencana Allah; (2) kemuliaan manusia tidak terletak pada kriteria duniawi seperti kemampuan intelektual, status sosial dan faktor kelahiran (bdk. 1:19-20, 26-28). Kemuliaan yang sebenarnya adalah jika kita percaya kepada salib Kristus. Harga kemuliaan ini sangat mahal, karena kemuliaan ini baru bisa kita terima jika Tuhan yang mulia direndahkan di atas kayu salib (2:8b).

8          Ayat ini masih menerangkan hikmat ilahi (2:7a) yang diberitakan kepada mereka yang matang (2:6a). LAI:TB dan beberapa versi Inggris (NIV/RSV) menganggap ayat 8 sebagai induk kalimat yang baru, karena itu mereka meletakkan titik setelah ayat 7. Terjemahan seperti ini tidak sesuai dengan kalimat Yunani di ayat 8. Ayat ini dimulai dengan kata ganti penghubung hēn, yang menyiratkan bahwa ayat ini masih menjelaskan hikmat di ayat 6-7. KJV dengan tepat menerjemahkan kata ganti ini dengan “which” (“yang”), sedangkan NASB mencoba memperjelas arti dengan menambahkan kata “the wisdom which” (“hikmat yang”).

Sesuai dengan tata bahasa di atas, maka ayat 8 merupakan ciri hikmat yang berikutnya. Hikmat Allah tidak diketahui oleh para penguasa jaman ini (bdk. 1:21a). Mengapa mereka tidak mengetahuinya? Paulus sudah menyebut salah satu faktor penyebab (yaitu karena hikmat ini disembunyikan oleh Allah, 2:7) dan ia nanti akan menambahkan dua faktor lagi di bagian selanjutnya (yaitu karena Roh Kudus tidak bekerja dalam hati mereka [2:10], sedangkan mereka adalah manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah [2:14]). Di 2:8 Paulus lebih memilih untuk menguraikan bukti penolakan daripada alasan di balik penolakan tersebut.

Sebagai bukti bahwa mereka tidak dapat mengetahui hikmat Allah adalah tindakan mereka yang menyalibkan Tuhan Yesus. Jika tafsiran tentang “para penguasa dunia ini” di 2:6 diterima, maka mereka yang menyalibkan Yesus adalah para penguasa sipil yang memegang jabatan penting dan berperan dalam proses penyaliban (Herodes, Pontius Pilatus, tua-tua Yahudi dan pemuka agama, Kis 4:27). Apa yang mereka lakukan terhadap Yesus merupakan ironi terbesar dalam sejarah:

  • Mereka berpikir bahwa penyaliban akan merendahkan Yesus, tetapi yang mereka salibkan justru adalah “Tuhan yang mulia” (2:8b). Ironi ini sama dengan “membunuh Pencipta Kehidupan” di Kisah Rasul 3:15.
  • Mereka berpikir bahwa penyaliban akan melenyapkan Tuhan Yesus, tetapi justru mereka sendiri yang akan lenyap (2:6b; 1:18-20).
  • Mereka berpikir bahwa penyaliban akan menggagalkan rencana Allah, tetapi hal itu justru menyatakan rahasia Allah dan menggenapi semua yang Dia tentukan dari semula (2:7; Kis 4:28).

Dari ironi di atas terlihat bahwa mereka telah melakukan hal-hal yang bodoh. Apa yang mereka anggap hikmat dan kemenangan, sebenarnya hanyalah kebodohan dan kekalahan mereka. Begitu pula dengan orang-orang yang memandang ijil sebagai kebodohan.

9          Ayat ini merupakan kontras terhadap 2:8, sekaligus memberikan penjelasan bagi 2:6-7. Mengapa hanya orang-orang tertentu yang dapat melihat salib sebagai hikmat? Sejak kekekalan Allah sudah menetapkan hal tersebut (2:7). Ketetapan ini juga dinyatakan di dalam kitab suci (2:9).

Kutipan di ayat ini menimbulkan banyak kebingungan di kalangan para penafsir, karena tidak ada satu ayat kitab suci pun yang isinya sama dengan kutipan Paulus di ayat ini. Sebaliknya, kitab Yahudi kuno The Ascension of Isaiah justru memuat kalimat yang mirip dengan kutipan tersebut. Para penafsir umumnya berpendapat bahwa orang-orang Yahudi waktu itu sudah terbiasa menggabungkan Yesaya 64:4 dan 65:14 (LXX) sehingga keduanya selalu dipahami secara bersama-sama. Salah satu buktinya adalah kitab The Ascension of Isaiah. Paulus tidak mengutip dari kitab kuno Yahudi ini, tetapi ia berbagai kebiasaan yang sama dengan orang-orang Yahudi pada jamannya. Secara sederhana kita dapat mengatakan bahwa 2:9 merupakan kutipan bebas dari Yesaya

Penyebutan beberapa bagian dalam diri manusia – seperti mata, telinga, hati – merupakan perwakilan dari seluruh aspek kehidupan manusia. Tidak ada satu elemen dalam diri manusia yang mampu memahami hikmat Allah, baik melalui pengalaman (mata), tradisi (telinga) mauun intuisi (hati). Hikmat Allah ini melampaui semua yang mampu dipikirkan manusia. Jalan keselamatan melalui salib berada di luar pemahaman manusia (ayat 9a). Pikiran Allah jauh lebih tinggi daripada pikiran manusia (bdk. 1:25), sejauh langit dari bumi (Yes 55:8-9). Tidak ada manusia pun yang sanggup memahami karya keselamatan Allah, termasuk Paulus sendiri (Rom 11:33-34).

Walaupun melampaui kemampuan manusia, namun hal itu bukanlah mustahil. Allah telah menyediakan hal ini bagi mereka yang mengasihi Dia (ayat 9b). Sama seperti kata “menetapkan” (proorizō) di 2:7 yang bernuansa eskhatologis, kata “menyediakan” (hetoimazō) di 2:9 pun sebaiknya dipahami dalam konteks yang sama. Kata ini dipakai di Matius 25:34 dipakai dalam konteks akhir jaman.

Hikmat Allah disediakan sejak kekekalan sampai kekekalan bagi mereka yang mengasihi Allah. Ungkapan ini tidak berarti bahwa kasih manusia yang menjadi faktor penentu. Yang paling penting adalah isi dari hikmat ilahi ini, yaitu injil (Kristus yang disalibkan). Dua hal ini – kasih dan pengetahuan – tidak dapat dipisahkan (Mat 22:37-40//Mar 12:28-30). Sebagian orang mungkin berpikir bahwa mereka mengasihi Allah, tetapi itu ternyata bukan kasih, karena tidak didasarkan pada pemahaman yang benar (Yoh 16:2; Rom 10:2). Sebaliknya, sebagian orang mengaku memiliki pengetahuan tetapi ternyata miskin kasih (Yoh 5:42). Pendeknya, pengetahuan yang menyelamatkan pasti akan membawa pada kasih terhadap Allah (Yoh 14:23).

Sebagai tambahan, kita tidak boleh memahami bahwa kasih manusia kepada Allah di 2:9 merupakan dasar bagi tindakan Allah yang mau menetapkan (2:7) dan menyediakan (2:9) hikmat bagi mereka. Pilihan ini dilakukan sejak kekekalan, karena itu pasti tidak didasarkan pada tindakan tertentu dari manusia (Rom 9:11). Dalam PB diajarkan beberapa kali bahwa orang percaya bisa mengasihi Allah karena Alah lebih dahulu mengasihi kita. Yohanes 15:16a “bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu”. 1Yoh 4:10 “bukan kita yang mengasihi Allah, tetapi Allah yang lebih dulu mengasihi kita”. Meminjam ungkapan dalam Roma 8:28, “mereka yang mengasihi Dia adalah mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah”.

10        Kata sambung ”karena” di ayat ini menjelaskan alasan mengapa orang yang mengasihi Allah dapat memahami hal yang sebelumnya tidak dilihat, didengar dan diinginkan (2:9). Rahasianya adalah ”karena kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh”. Peletakan kata ”kita” di awal kalimat menunjukkan bahwa Paulus ingin memberikan penekanan (bdk. LAI:TB/ASV/NASB). Dia seakan-akan ingin menegaskan, ”kepada kita, bukan yang lain, Allah telah menyatakannya oleh Roh”. Allah bukan hanya menetapkan (2:7) dan menyediakan (2:9) tetapi Ia juga menyatakan (2:10a) kepada kita.

Kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh. Kata apokalyptō dapat merujuk pada hal-hal yang tersembunyi dan kemudian dibuka (Mat 11:27; 16:17) atau hal-hal yang akan datang (Rom 8:18; 1Kor 3:13). Sesuai konteks 2:6-16, apokalyptō di sini lebih merujuk pada makna yang pertama. Apa yang dulu tersembunyi (2:7), rahasia (2:7) dan tidak pernah terbayangkan oleh manusia (2:9), kini dapat diketahui.

Dalam teks asli, kata ”menyatakan” di ayat 10a tidak memiliki objek (LAI:TB menambah kata ”nya” sebagai objek). Apa yang dimaksud dengan ”nya”? Dari konteks sudah jelas bahwa yang dimaksud Paulus adalah hikmat Allah di 2:6-9. Inilah yang dinyatakan Allah oleh Roh. Bentuk lampau dari kata apokalyptō dan objek tidak langsung ”kepada kita” menyiratkan bahwa tindakan ini merujuk pada momen pertobatan kita. Melalui Roh Kudus orang berdosa dapat mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan (12:3). Saat itulah kita diyakinkan Roh Kudus tentang keberdosaan kita, penghakiman Allah dan pengharapan kita yang baru pada salib Kristus (bdk. Yoh 16:8-11; Rom 8:15-16; Gal 4:6).

Paulus selanjutnya menjelaskan alasan mengapa Allah menyatakan hikmat itu oleh Roh (bdk. kata sambung ”sebab” di ayat 10b), yaitu Roh menyelidiki segala sesuatu, termasuk hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah (ayat 10b). Apa yang dikatakan Paulus di bagian ini merupakan adopsi dari konsep berpikir ”like is known only by like”. Maksudnya, sesuatu daat diketahui oleh yang lain yang sama atau seperti itu. Allah hanya dapat diketahui oleh Roh yang sama-sama adalah Allah. Karena Roh adalah Allah, maka Dia mampu menyelidiki segala sesuatu. Yang dimaksud ”segala sesuatu” di konteks ini adalah semua yang dinyatakan Allah, karena ”segala sesuatu” dikontraskan dengan ”hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah” (bdk. Ul 29:29 ”hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya”). Roh bukan hanya mengetahui apa yang dinyatakan, tetapi juga hal-hal yang tidak dinyatakan oleh Allah. Bentuk kata kerja present tense pada kata ”menyelidiki” (eraunā) mengindikasikan bahwa Roh terus-menerus menyelidiki dalam diri Allah. Apa yang dilakukan oleh Roh dalam ayat ini hanya dapat dilakukan oleh Pribadi yang juga adalah Allah, karena Alkitab beberapa kali menyatakan bahwa tidak ada manusia yang dapat mengetahui pikiran Allah (Yes 55:8-9; Rom 11:33-35).

11        Untuk memperjelas apa yang dia maksud di 2:10b, Paulus memberikan sebuah ilustrasi (2:11). Sebagaimana yang dapat mengerti apa yang ada dalam diri manusia adalah roh manusia itu sendiri, demikian pula tidak ada yang dapat mengerti Allah kecuali Roh Allah. Ilustrasi ini sebaiknya tidak dipahami secara detil, seolah-olah relasi Bapa-Roh sama dengan relasi kita-roh kita. Inti dari ilustrasi ini adalah sederhana: “dalam tingkat manusia, hanya saya yang tahu apa yang saya pikirkan, kecuali saya menetapkan untuk memberitahukan hal itu pada orang lain”. Allah juga begitu. Hanya Roh yang mengetahui pikiran Allah, juga orang-orang yang kepadanya Allah berkenan menyatakan diri.

Selain memperjelas, ilustrasi di atas juga berfungsi untuk menekankan. Pengulangan kata ”selain” di ayat 11 menegaskan bahwa hanya Roh Allah yang dapat mengenal Allah. Hal ini perlu ditegaskan Paulus, karena ada roh lain yang justru menolak hikmat Allah, yaitu roh dunia (bdk. 2:12a). Roh ini bekerja di antara orang durhaka (Ef 2:2) dan mempengaruhi mereka untuk tidak mengakui Yesus sebagai Tuhan (1Kor 12:2-3) dan mengajarkan kesesatan (2Kor 11:4).

Pernyataan Paulus di 2:10-11 merupakan teguran kepada jemaat Korintus yang terjebak pada kesombongan intelektual dan spiritual. Filsafat dunia yang mereka pelajari membuat mereka sombong dan menganggap salib sebagai kebodohan. Pengalaman-pengalaman spiritual yang ”spektakuler” (misalnya bahasa roh) membuat mereka merasa diri lebih rohani daripada yang lain (bdk. 4:8; pasal 12-14). Mereka seharusnya menyadari bahwa siapa saja yang menerima Roh Allah pasti memahami hikmat Allah yang dinyatakan dalam injil. Karena jemaat Korintus sudah menerima Roh Allah (2:7b, 10, 12) – hal ini dibuktikan juga melalui kepemilikan karunia rohani yang melimpah (1:5-7) – mereka seharusnya mempercayai salib, bukan menganggapnya sebagai kebodohan.

12        Kalau di 2:10-11 Paulus lebih banyak menguraikan alasan mengapa hanya mereka yang diberi Roh saja yang bisa memahami hikmat Allah, di 2:12 ia menekankan tujuan dari pemberian Roh tersebut. Penempatan kata ”kami” di awal ayat ini bersifat menekankan: kita – orang yang dewasa dan mengasihi Allah – tidak menerima roh dunia (ayat 12a). Penggunaan ungkapan ”roh dunia” dalam kaitan dengan hikmat yang salah mengindikasikan keyakinan Paulus bahwa di balik keyakinan yang sesat ada intervensi dari roh jahat. Jemaat Korintus yang diperdaya oleh rasul-rasul palsu disebut telah menerima roh yang lain (2Kor 11:4). Di 1Timotius 4:1 Paulus menyebut orang yang murtad sebagai para pengikut roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan. Yakobus menyatakan bahwa hikmat yang tidak benar ”dari dunia, dari nafsu manusia, dari setan-setan (Yak 3:15)”. Senada dengan hal itu, Yohanes menghubungkan kesesatan dengan roh antikristus atau roh dunia yang menyesatkan (1Yoh 4:2-6). Sebagai orang yang tidak menerima roh dunia, jemaat Korintus seharusnya tidak memiliki pola pikir duniawi (bdk. 3:1, 3).

Orang percaya tidak menerima roh dunia, tetapi Roh dari Allah (ayat 12b). Kata ”menerima” (lambanō) memang sering dipakai dalam konteks menerima Roh Kudus atau karunia-karunia Roh (Kis 2:38; 10:47; 19:2; 2Kor 11:4; Gal 3:2, 14; Rom 8:15). Tujuan dari penerimaan Roh Kudus ini adalah supaya kita mengerti ”apa yang dikaruniakan Allah kepada kita”. Dalam teks Yunani, kata ”apa yang dikaruniakan” adalah ta charisthenta. Beberapa versi Inggris dengan tepat menerjemahkan kata ini dengan ”apa yang diberikan secara cuma-cuma” (KJV/NASB/NIV). Kata ini sangat mungkin merujuk secara khusus pada karunia keselamatan: (1) bentuk kata kerja perfect tense pada kata charisthenta mengindikasikan tindakan di masa lampau yang memiliki hasil/akibat sampai sekarang. Ini merujuk pada keselamatan yang kita peroleh pada saat kita percaya dan bertobat; (2) akar kata charisma dipakai Paulus di Roma 6:23 untuk anugerah keselamatan; (3) hikmat yang dibicarakan Paulus di 2:6-16 adalah berita salib (1:18, 24; 2:13-14).

Walaupun ta charisthenta terutama merujuk pada anugerah keselamatan, namun bentuk jamak pada kata ini menyiratkan bahwa Paulus juga memikirkan hal-hal lain yang berkaitan dengan keselamatan (bdk. Rom 8:32 “bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?”). Di 4:7 Paulus menegur jemaat Korintus yang merasa diri hebat dengan mengajarkan bahwa segala sesuatu merupakan pemberian dari Allah. Tidak ada satu pun yang mereka miliki yang tidak berasal dari Allah

Melalui Roh Allah kita mampu mengerti bahwa keselamatan kita diberikan Allah secara cuma-cuma. Tanpa intervensi Roh, kedagingan kita mendorong kita berpikir bahwa keselamatan adalah usaha manusia. Dalam konteks jemaat Korintus, mereka mungkin berpikir bahwa penerimaan keselamatan harus melalui usaha manusia, terutama menurut cara-cara hikmat duniawi. Bagi Paulus, keselamatan murni pekerjaan Allah (Ef 2:8-9).

13        Keyakinan Paulus di 2:10-12 membawa beberapa implikasi penting. Yang pertama, pemberitaan salib harus dilakukan melalui perkataan Roh (2:13). Secara hurufiah, ayat 13 seharusnya diterjemahkan ”dan yang kami katakan, bukan dalam perkataan-perkataan yang diajarkan hikmat manusiawi tetapi yang diajarkan roh, menjelaskan hal-hal rohani dalam perkataan-perkataan yang rohani”. Perdebatan para penafsir terpusat pada frase ”menjelaskan hal-hal rohani dalam perkataan-perkataan yang rohani” (pneumatikois pneumatika synkrinontes). Sebagian memahami pneumatikois sebagai rujukan pada orang yang mendengar injil (LAI:TB/RSV ”kepada mereka yang memiliki Roh”), sedangkan yang lain menganggap pneumatikois merujuk pada media yang dipakai dalam pemberitaan injil (NASB/NIV ”dengan perkataan-perkataan rohani”). Karena ayat 13a membicarakan tentang ”perkataan-perkataan”, maka pneumatikois di ayat 13b sebaiknya dipahami dalam arti yang sama, sebagaimana dinyatakan dalam terjemahan NASB atau NIV. Apa yang disampaikan Paulus di sini sekaligus berfungsi sebagai penjelasan terhadap cara pekabaran injil yang dilakukan Paulus di 2:1-5.

14        Ayat ini menjelaskan implikasi kedua. Jika hikmat Allah hanya dinyatakan melalui Roh Allah, maka orang yang tidak menerima Roh Allah tidak dapat mengenal hikmat Allah (2:14). Ungkapan ”manusia duniawi” sebenarnya berarti ”manusia alamiah” (psychikos anthropos; KJV/NASB), yaitu manusia yang tidak rohani (RSV) atau tidak memiliki Roh (NIV). Mereka bukan hanya terus-menerus tidak menerima (bentuk present ou dechetai), tetapi mereka juga tidak dapat mengetahui (ou dunatai gnonai). Hal ini berarti bahwa mereka tidak memiliki kemauan maupun kemampuan untuk menerima injil.

Mengapa mereka bersikap seperti ini? Ada dua alasan. Mereka menganggap salib sebagai kebodohan (2:14a; bdk. 1:18, 20, 21, 23; 3:19). Sebagai contoh, para filsuf Atena menertawakan Paulus ketika ia mulai menyinggung tentang Kristus yang mati tersalib dan bangkit (Kis 17:18, 32). Prokonsul Galio menganggap pertentang antar orang Yahudi seputar salib merupakan hal sepele yang tidak seharusnya melibatkan dirinya (Kis 18:15). Festus menilai Paulus sebagai orang yang gila (Kis 26:24). Alasan lain adalah karena hal itu hanya dapat dinilai secara rohani (2:14b). Cara berpikir alamiah atau duniawi pasti tidak mampu memahami hal-hal rohani.

15-16   Bagian ini masih melanjutkan implikasi dari kebenaran di 2:10-12. Jika hikmat Allah hanya diketahui melalui Roh, maka hanya orang rohani yang dapat menilai hal-hal rohani dan mereka sendiri tidak dinilai oleh orang lain (2:15-16). Sebagai kontras terhadap manusia alamiah di ayat 14, manusia rohaniah dapat menilai segala sesuatu (ayat 15a). Bukan hanya itu, mereka juga tidak dinilai oleh siapapun juga (ayat 15b). Pernyataan ini merupakan sindiran terhadap sebagian jemaat Korintus yang duniawi dan menganggap orang lain yang menerima salib sebagai orang-orang bodoh.

Mengapa orang-orang yang rohani tidak dapat dinilai oleh mereka yang tidak rohani? Jawabannya ada di 2:16a (bdk. kata sambung ”sebab”). Bagian ini merupakan kutipan dari Yesaya 40:13 ”siapa yang dapat mengatur Roh TUHAN atau memberi petunjuk kepada-Nya sebagai penasihat?”. Lebih spesifik, Paulus sebenarnya mengutip dari versi LXX yang secara hurufiah diterjemahkan ”siapa yang mengetahui pikiran Tuhan dan siapa yang menjadi penasehat-Nya yang mengajar Dia”. Melalui kutipan ini Paulus mengajarkan bahwa orang yang memiliki Roh Allah dalam dirinya tidak membutuhkan nasehat atau penilaian dari orang-orang yang tidak memiliki Roh Allah, karena Roh Allah sendiri yang akan mengajar dan memberitahukan kita segala sesuatu (Yoh 14:26; 1Yoh 2:27). Dalam bagian lain Paulus menegur jemaat Korintus yang membutuhkan penilaian orang dunia untuk menyelesaikan persoalan di antara mereka (6:1).

Kita harus berhati-hati dalam hal ini supaya tidak terjebak pada kesombongan spiritual. Beberapa orang telah salah memahami kebenaran di atas, sehingga mereka memiliki pemikiran yang benar-benar liar dan seringkali mendasarkan pemikiran itu pada pencerahan khusus dari Roh Kudus. Apa yang disampaikan Roh pasti sesuai dengan ajaran Kristus (Yoh 14:26). Mereka yang menerima Roh pasti menunjukkan sikap hidup yang sesuai dengan ajaran para rasul yang bersumber dari ajaran Yesus (7:40b; bdk. 11:23; 15:3-4). Gereja mula-mula yang baru saja mengalam pekerjaan Roh Kudus yang luar biasa pada Hari Raya Pentakosta tetap “bertekun dalam pengajaran rsul-rasul” (Kis 2:42a).

Di akhir 2:16, Paulus menegaskan bahwa kita memiliki pikiran Kristus. Penggunaan sebutan ”Kristus” di sini sangat menarik. Konteks 2:6-16 berbicara tentang pikiran Allah (2:10-11) yang hanya bisa diketahui melalui Roh Allah. Di 2:16a Paulus mengutip versi LXX dari Yesaya 40:13 yang memakai sebutan ”pikiran TUHAN”, sedangkan dalam teks Ibraninya dipakai sebutan ”Roh Tuhan”. Beragam sebutan yang dipakai  (Allah – Roh Allah – Tuhan – Kristus) dengan maksud yang sama seperti ini mengajarkan kesejajaran dan kesatuan antara Bapa, Roh Kudus dan Kristus. Hal ini semakin jelas apabila kita mempertimbangkan prinsip ”like is known only by like” yang sudah disinggung di 2:10.

Memiliki pikiran Kristus tidak boleh dipahami secara mistis, seolah-olah orang percaya sudah memperoleh akses khusus ke pikiran Kristus melalui pengalaman-pengalaman spiritual tertentu. Makna yang ingin disampaikan Paulus sama dengan nasehatnya di Filipi 2:5 supaya jemaat memiliki pikiran dan perasaan yang terdapat dalam Kristus Yesus. Ia lalu menjelaskan bagaimana Kristus rela merendahkan diri dan mati di kayu salib sehingga Ia dimuliakan di atas segalanya (Flp 2:6-11). Begitu pula orang yang memiliki pikiran Kristus (2:16b). Kita harus menerima dan menghidupi salib Kristus (2Kor 5:15; Gal 2:20; Flp 3:10). Jika semua jemaat Korintus memiliki pikiran Kristus (2:16b), maka mereka dengan sendirinya akan memiliki pikiran yang sama pula, seperti yang dinasehatkan Paulus sejak awal (1:10).

APLIKASI

Peranan Roh Kudus dalam pengenalan terhadap Allah belum dipahami oleh jemaat Korintus sebagaimana mestinya. Hal ini dibuktikan dengan sikap mereka yang mengandalkan hikmat dan retorika duniawi. Mereka merasa diri sudah “terlalu matang” sebagai orang Kristen dan mencoba memahami serta mempresentasikan injil menurut cara pandang dunia yang populer waktu itu. Mereka lupa bahwa hal-hal rohani hanya bisa diahami melalui karya Roh Allah. Mereka dibutakan oleh dunia sehingga tidak sadar bahwa mereka sebenarnya justru adalah orang-orang dewasa (2:6), karena Allah sudah menyatakan hikmat kepada mereka (2:10). Mereka sudah ditetapkan Allah (2:7) untuk mengasihi-Nya (2:9) dan untuk memahami hikmat ilahi (2:10) melalui pekerjaan Roh (2:10-11). Tanpa Roh Allah manusia tidak mungkin memahami Allah (2:14). Ilustrasi dari diri kita sendiri pun sudah cukup jelas mengingatkan kita (2:11).

Situasi gereja di jaman sekarang tampaknya tidak terlalu banyak berubah. Sebagian gereja masih terlalu asyik dengan berbagai manuver sekuler untuk mempresentasikan “injil” supaya terkesan lebih menarik. Injil yang menawarkan kerendahan, pengorbanan dan penderitaan digantikan oleh teologi kemakmuran yang dari sisi pemasaran memang lebih menarik konsumen. Injil Kristus tanpa disadari telah diganti dengan injil lain (Gal 1:6). Kekristenan perlahan diidentikkan dengan kemakmuran, kesuksesan, status sosial yang tinggi, dsb. Gereja lupa untuk memberitakan injil yang sesungguhnya, yaitu Kristus yang mati dan bangkit (1Kor 15:3-4). Walaupun terlihat sederhana dan tidak telalu menarik bagi banyak orang yang sudah diracuni oleh filsafat dunia yang menekankan kenyamanan hidup, injil harus tetap diberitakan dengan keyakinan pada kekuatan Roh.

Di sisi lain, sebagian gereja terlena dengan “dunia Roh” yang tidak terkendali. Nubuat, penglihatan, perjalanan rohani menemui Allah, bisikan Roh dan mimpi mulai menggeser posisi penyelidikan firman Tuhan. Di tengah situasi ekstrim seperti ini, ajaran Paulus di 2:6-16 terlihat sangat relevan. Salah satu pekerjaan Roh yang paling sering diabaikan sekarang ini adalah mempertobatkan orang berdosa. Orang Kristen jaman sekarang cenderung membatasi karya Roh Kudus hanya pada mujizat dan pekerjaan ajaib lainnya, padahal karya Roh Kudus yang pertama dan terutama bagi orang percaya adalah pertobatan. Tanpa Roh Kudus tidak ada satu orang berdosa pun yang dapat datang kepada Allah melalui Yesus Kristus.

 

 

Leave a Reply