PERPECAHAN : BUKTI SIKAP HIDUP YANG TIDAK ROHANI

 

1Dan aku, saudara-saudara, pada waktu itu tidak dapat berbicara dengan kamu seperti dengan manusia rohani, tetapi hanya dengan manusia duniawi, yang belum dewasa dalam Kristus.  2Susulah yang kuberikan kepadamu, bukanlah makanan keras, sebab kamu belum dapat menerimanya. Dan sekarangpun kamu belum dapat menerimanya. 3Karena kamu masih manusia duniawi. Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi? 4Karena jika yang seorang berkata: “Aku dari golongan Paulus,” dan yang lain berkata: “Aku dari golongan Apolos,” bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi yang bukan rohani?

 

Bagian ini secara eksplisit menyinggung tentang perpecahan, sama seperti 1:10-17. Beberapa kata atau ide yang sama juga muncul di dua bagian ini, misalnya kata eris (“perpecahan”, 1:11; 3:3) dan favoritisme pemimpin (1:12; 3:4). Dengan demikian kita mengetahui bahwa 3:1-4 masih melanjutkan topik tentang perpecahan di antara jemaat yang sudah dibahas Paulus sejak 1:10. Kalau di pasal 1:10-17 Paulus hanya memberi nasehat supaya bersatu dan di 1:18-2:16 ia lebih menyoroti tentang inti persoalan – yaitu seputar “hikmat” – maka mulai 3:1 Paulus memfokuskan pembahasan pada perpecahan itu sendiri. Secara khusus di 3:1-4 Paulus memberikan teguran kepada jemaat Korintus untuk menunjukkan bahwa sikap mereka yang bertikai tidak sesuai dengan orang yang sudah menerima Roh Allah (2:12).

Sebagian penafsir menduga bahwa di 3:1-4 Paulus bukan hanya memberikan teguran, tetapi ia sekaligus memberikan pembelaan terhadap sebagian jemaat yang menganggap khotbahnya tidak berhikmat dan dengan demikian tidak cocok untuk mereka yang sudah dewasa. Jika dugaan ini benar, maka 3:1-4 merupakan jawaban yang ironis: mereka menganggap diri dewasa namun kenyataannya mereka masih anak-anak (3:1-2); “kedewasaan” mereka membuat mereka berselisih, padahal perselisihan itu membuktikan bahwa mereka tidak dewasa (3:3-4). Mereka seharusnya menyadari bahwa semua orang yang menerima Kristus yang tersalib adalah orang-orang dewasa (2:6).

Transisi dari 2:6-16 ke 3:1-4 dibangun di atas ide “rohani”. Orang rohani adalah mereka yang memiliki Roh Allah (1:12). Jemaat Korintus seharusnya tergolong pada kelompok orang-orang rohani karena mereka sudah menerima Roh dan percaya kepada injil (2:7b, 10, 12). Mereka adalah orang-orang dewasa (hoi teleioi, 2:6), bukan manusia duniawi (psychikoi anthrōpoi, 2:14). Bagaimanapun, sikap hidup mereka yang bertikai menunjukkan sebaliknya. Mereka terlihat seperti bayi-bayi rohani (nēpioi, lit. “bayi-bayi”, 3:1; LAI:TB “yang belum dewasa”) dan orang-orang duniawi (sarkinoi anthrōpoi, 3:1, 3).

Alur pemikiran Paulus dalam bagian ini tidak terlalu sulit untuk diikuti. Ia memulai dengan penjelasan bahwa jemaat Korintus dulu adalah manusia duniawi (3:1-2a), karena itu ia tidak dapat berbicara kepada mereka seperti kepada orang yang rohani. Dia hanya memberikan susu kepada mereka karena mereka belum siap dengan makanan keras. Keadaan ini ternyata masih berlangsung sampai sekarang (3:2b-3a). Mereka masih duniawi. Apa buktinya? Mereka berselisih satu sama lain (3:3b) dan mengultuskan para peimpin (3:4)!

 

1-2a     Seperti telah disinggung sebelumnya, sebagian jemaat Korintus bukan hanya lebih mengidolakan pemimpin lain dibandingkan Paulus, tetapi mereka juga menyerang integritas Paulus sebagai rasul. Mereka menganggap bahwa kotbah Paulus tidak disampaikan dengan cara-cara yang “berhikmat” (2:1-5). Mereka juga memandang apa yang disampaikan Paulus sebagai berita yang terlalu sederhana dan layak dikategorikan sebagai “susu” (3:1-2). Mereka secara tidak langsung menuntut agar Paulus memberikan sesuatu yang lebih lagi, yang cocok bagi mereka yang sudah “berhikmat”. Kesombongan intelektual ini merupakan salah satu kelemahan jemaat Korintus yang menonjol (bdk. 8:1).

Serangan seperti di atas mendorong Paulus untuk memberikan pembelaan. Upaya untuk membela diri ini terlihat dari beberapa petunjuk yang ada di pasal 3:1-4. Paulus memakai kata ganti “aku” (3:1-4), padahal di 2:6-16 dia memakai kata ganti “kami” (2:6-7, 13, 16). Kata ganti “aku” ini sebelumnya dipakai di 2:1-5 yang menyinggung tentang cara pemberitaan injil Paulus yang dianggap tidak berhikmat. Petunjuk lain dapat dilihat dari kata “dan aku” (kagō) di 3:1. Ungkapan seperti ini dalam bahasa Yunani menyiratkan penekanan, sekaligus mengingatkan kita pada kagō di 2:1 dan 2:3. Melalui ungkapan ini Paulus seakan-akan ingin secara khusus memfokuskan pada dirinya, bukan pada para pemberita injil secara umum (bdk. “kami” di 2:6-16). Sebagai tambahan, sapaan “saudara-saudara” (adelphoi) di 3:1 juga sebelumnya muncul di 2:1, sehingga semakin mempertegas keterkaitan antara 3:1-4 dengan 2:1-5. Jadi, apa yang disampaikan di 3:1-2a merupakan pembelaan Paulus yang lain setelah 2:1-5.

Sapaan “saudara-saudara” di 3:1 – sama seperti di 1:10, 26; 2:1 – mengekspresikan sisi kelembutan dalam diri Paulus. Sapaan ini juga mengungkapkan keyakinannya bahwa jemaat Korintus adalah orang-orang yang sudah diselamatkan (1:2; 2:7b, 10, 12). Jadi, yang menjadi persoalan bagi jemaat Korintus bukanlah status mereka, namun sikap hidup yang tidak sesuai dengan status tersebut.

Sapaan adelphoi dalam konteks 3:1 sekaligus menunjukkan kedekatan Paulus dengan jemaat Korintus. Kali ini sapaan adelphoi merupakan bentuk solidaritas Paulus. Ia bukan hanya “saudara” bagi jemaat. Ia juga seperti “ibu” yang memberikan susu kepada bayinya (3:1; bdk. 1Tes 2:7; Gal 4:19). Di tempat lain ia nanti menggambarkan relasinya dengan jemaat seperti bapa dan anak (4:15).

Kelembutan, keyakinan dan kedekatan Paulus tidak menjadi halangan bagi Paulus untuk bersikap tegas terhadap jemaat Korintus. Ia tetap memberikan teguran yang keras kepada mereka. Teguran itu diungkapkan melalui beberapa sebutan.

Pertama, bukan orang-orang rohani. Ungkapan “aku tidak dapat berbicara kepada kamu seperti dengan manusia rohani” menyiratkan bahwa jemaat tidak dapat diperlakukan seperti orang rohani. Dengan kata lain, tingkah laku mereka seperti orang yang tidak rohani. “Tidak rohani” di sini bukan berarti bahwa mereka tidak memiliki Roh Kudus dalam diri mereka. Di 2:12 Paulus mengatakan, “kita tidak menerima roh dunia, tetapi roh yang berasal dari Allah”. Di 12:3 ia mengajarkan bahwa orang yang mengaku Yesus sebagai Tuhan pasti dalam dirinya sudah ada pekerjaan Roh Kudus. Walaupun mereka disebut bayi-bayi di ayat ini (LAI:TB “yang belum dewasa”), tetapi toh mereka adalah bayi-bayi di dalam Kristus (3:1). Dalam surat-suratnya yang lain Paulus pun mengajarkan bahwa dalam diri orang percaya sudah ada Roh Kudus (Rom 8:9; Gal 3:2-3; Tit 3:5-7). Seandainya Paulus menganggap bahwa jemaat Korintus tidak memiliki Roh Kudus, maka dia pasti akan menyebut sebagai “psychikos” (2:14, LAI:TB “manusia duniawi”) yang tidak mau dan tidak mampu menerima injil. Sebutan “tidak rohani” di sini berarti bahwa mereka – sekalipun memiliki Roh Kudus dalam diri mereka – tidak berpikir dan berperilaku sebagai orang-orang yang memiliki Roh Kudus.

Teguran ini merupakan sebuah ironi. Jemaat Korintus menganggap diri sebagai orang-orang yang telah rohani karena telah melewati tahapan dasar kekristenan dan sekarang sedang sibuk dengan tahapan lain yang lebih tinggi melalui pencarian hikmat. Mereka merasa sebagai orang yang lebih rohani. Kenyataannya, mereka sebenarnya memang sudah rohani, tetapi pada saat Kudus bekerja dalam diri mereka waktu mereka menerima injil, bukan pada saat mereka memperoleh hikmat duniawi. Ketika mereka menjadikan hikmat dunia sebagai patokan kerohanian, mereka justru menjadi tidak rohani. Mereka yang dipenuhi dengan berbagai karunia Roh – terutama perkataan dan pengetahuan (1:5) – ternyata memilih perkataan dan pengetahuan duniawi yang membuat mereka tidak rohani.

Kedua, sarkinos (3:1). LAI:TB menerjemahkan kata sarkinos dengan “manusia duniawi”. Terjemahan ini terlalu umum dan sedikit membingungkan, karena di 2:14 juga dipakai sebutan “manusia duniawi”, tetapi kata Yunani yang dipakai di sana berbeda. Di 2:14 Paulus memakai kata psychikos, sedangkan di 3:1 menggunakan  sarkinos (lit. “bersifat daging”). Jadi, bagaimana kita memahami arti kata sarkinos di 3:1? Kata ini lebih merujuk pada manusia yang dikuasai oleh kedagingan (sarx). Dalam Roma 7:14 Paulus menyebut dirinya “bersifat daging” (sarkinos) dalam arti terjual di bawah kuasa dosa (bdk. Rom 8:5-7; Gal 5:16). Keadaan ini jelas kontras dengan orang yang rohani (bdk. 3:1 “…tidak dapat…manusia rohani…tetapi…manusia duniawi…”). Orang rohani pikirannya dikuasai pikiran Kristus (2:16b), orang yang bersifat daging dikuasai oleh naturnya yang rusak. Jadi, jemaat Korintus bukanlah manusia psychikos (karena mereka sudah menerima Roh), melainkan manusia sarkinos (hidup dikuasai oleh daging). Mereka memang tidak seburuk orang kafir yang tidak percaya, namun hidup mereka tidak lebih baik daripada orang-orang itu.

Ketiga, nēpios (3:1-2a). LAI:TB menerjemahkan kata ini dengan “belum dewasa”, padahal arti sebenarnya adalah “bayi” (semua versi Inggris). Gambaran tentang anak kecil di sini agak sulit untuk dipahami karena Paulus seringkali memakai sebutan “anak-anak” secara positif untuk orang-orang yang bertobat melalui pemberitaan injil yang ia lakukan (4:14-16; 2Kor 6:13; Gal 4:19; Flp 2:22; 1Tes 2:7, 11; Flm 10), walaupun kata yang dipakai dalam hal ini adalah teknon, bukan nēpios. Penggunaan kata nēpios di 13:11 juga tidak terlalu negatif: kanak-kanak bertingkah laku seperti kanak-kanak, begitu pula dengan orang dewasa.

Berdasarkan konteks 3:1 kita sebaiknya memahami nēpios secara negatif. Sebutan ini adalah teguran. Lebih jauh, teguran ini menciptakan sebuah ironi. Jemaat merasa sebagai orang yang “dewasa”, karena itu mencari makanan yang keras dari fisafat dunia. Kenyataannya, mereka sebenarnya memang sudah dewasa ketika dahulu mampu memahami injil (2:6). Kini ketika mereka menganggap ajaran Paulus sebagai susu untuk anak kecil, mereka justru menjadi anak kecil yang tidak bisa membedakan makanan. Mereka lebih menyukai makanan keras yang tidak bergizi daripada susu yang sangat penting untuk pertumbuhan mereka.

Bagaimanapun Paulus menegur mereka secara keras sebagai bayi-bayi rohani, namun bagian terakhir 3:1 tetap menyiratkan status mereka yang sebenarnya. Mereka tetap “di dalam Kristus” (en christō). Frase  en christō sudah muncul beberapa kali di pasal 1. Allah membuat jemaat berada di dalam Kristus (1:30). Mereka dikuduskan di dalam Kristus (1:2). Mereka pun menerima berbagai karunia Allah di dalam Kristus (1:4).

Pasal 3:2a hanya menerangkan sebutan yang terakhir sebagai nēpios, sedangkan sebutan sebagai orang yang bersifat daging (sarkinos) akan disinggung lagi di 3:3-4. Mengingat mereka dulu adalah bayi rohani di dalam Kristus, maka Paulus tidak dapat memberikan makanan keras kepada mereka. Ia hanya memberi mereka susu (3:2a).

Pernyataan ini dipahami sebagian berpendapat bahwa dari dulu jemaat Korintus hanya siap menerima pengajaran-pengajaran dasar Kristen, bukan yang bersifat lanjutan (bdk. Ibr 5:11-14). Dari sejak awal pelayanan di Korintus Paulus hanya bisa menyampaikan ajaran-ajaran dasar kekristenan. Dengan demikian, 3:1-2 dipahami sebagai teguran dan nasehat supaya mereka mengganti jenis makanan rohani mereka. Mereka seharusnya sudah menikmati makanan keras.

Tafsiran ini – meskipun populer – mulai ditinggalkan para penafsir modern. Selama 18 bulan di Korintus (Kis 18:11), Paulus tidak mungkin hanya mengajarkan hal-hal yang mendasar. Kita juga perlu mengingat bahwa konteks pembicaraan di 1Korintus 1-3 adalah tentang salib (injil). Apakah salib termasuk kebenaran dasar? Ternyata di 2:6 Paulus menyebut salib sebagai hikmat yang sesungguhnya bagi orang yang sudah dewasa. Jadi, salib bukanlah ajaran dasar. Tidak ada kebenaran lain yang lebih tinggi dan penting daripada salib (15:3-4)!

Di samping itu, kontras antara susu dan makanan keras di 3:1-2 harus dipahami dalam konteks perbandingan antara injil (hikmat ilahi) dengan hikmat dunia. Jemaat melihat injil sebagai susu dan hikmat dunia sebagai makanan keras. Pandangan seperti inilah yang ingin dikritik oleh Paulus. Dalam konteks seperti ini, tidak mungkin Paulus memaksudkan susu di 3:2a sebagai dasar kekristenan, sedangkan makanan keras adalah doktrin-doktrin lain yang lebih mendalam. Jika ia memaksudkan seperti ini, maka ia justru akan membuka peluang bagi orang-orang Korintus untuk menganggap diri sebagai orang yang sudah berada di tahap lanjutan. Kita perlu meggarisbawahi bahwa Paulus tidak sedang membagi orang Kristen menjadi dua bagian: bayi rohani yang membutuhkan doktrin dasar dan orang dewasa yang memerlukan doktrin lanjutan.

Sesuai analisa konteks yang teliti kita sebaiknya memahami pernyataan Paulus di 3:2a sebagai sebuah sindiran. Teks ini dapat diterjemahkan secara bebas sebagai berikut: “aku memberi kalian susu, bukan makanan keras, [seperti yang kalian tuduhkan], karena kalian belum siap menerima [injil sebagai makanan keras]”. Bagi Paulus, injil adalah susu dan makanan keras sekaligus. Sebagai susu injil adalah kabar baik yang menyelamatkan; sebagai makanan keras injil adalah dasar dari semua kehidupan Kristiani. Orang percaya tidak cukup hanya menerima injil (apalagi secara intelektual semata-mata!), namun kehidupan mereka harus terus bertumbuh di atas dasar injil. Susu seharusnya menjadi makanan dasar yang akhirnya membuat seseorang mampu untuk mencerna makanan keras. Jika seseorang menolak susu (injil), bagaimana ia mampu menerima makanan keras (pertumbuhan rohani)?

Ungkapan “kamu belum dapat menerima” di bagian akhir 3:2a mempertegas satu hal: persoalan utama bukan terletak pada Paulus, tetapi pada mereka. Paulus tidak dapat (dunamai, 3:1) karena mereka tidak dapat (dunamai, 3:2a). Paulus sebenarnya sudah memberikan makanan yang mereka perlukan, tetapi mereka menganggap makanan itu tidak diperlukan dan mencari makanan lain yang sebenarnya tidak perlu (bahkan meracuni). Sama seperti mereka menganggap salib sebagai kebodohan (padahal bagi orang rohani salib adalah hikmat Allah), demikian pula mereka memandang injil sebagai susu (padahal bagi orang dewasa salib tetap sebagai makanan keras yang sangat mereka butuhkan). Pendeknya, yang perlu mereka ubah bukanlah “menu makanan”, melainkan “perspektif mereka terhadap makanan yang diberikan Paulus”.

2b-3a   Situasi ini tidak banyak berubah. Keadaan “bayi rohani” ini bukan hanya terjadi dulu, tetapi sampai Paulus menulis surat ini. Ayat 2b “kamu dulu tidak dapat menerima (imperfect tense, lampau)…sekarang pun kamu belum dapat menerima (present tense, kini). Mereka tetap sebagai manusia yang bersifat daging (3:3a). Kali ini Paulus memakai kata sarkikos, bukan sarkinos (3:1). LAI:TB memberi terjemahan yang sama untuk dua kata, yaitu “manusia duniawi”. Walaupun kata sarkinos dan sarkikos ini memiliki akar kata yang sama (dari kata sarx = daging), namun arti dua kata tersebut sedikit berbeda. Kalau sarkinos di 3:1 lebih menunjuk pada orang yang dikuasai kedagingan, maka sarkikos di 3:3 lebih mengarah pada orang yang cara pandangnya hanya tertuju pada hal-hal yang jasmani dan sementara. Makna ini didapat dari pemunculan kata sarkikos di surat-surat Paulus yang seringkali dikontraskan dengan hal-hal yang bersifat kekal. Roma 15:27 “bangsa-bangsa lain telah beroleh bagian dalam harta rohani orang Yahudi, maka wajiblah juga bangsa-bangsa lain itu melayani orang Yahudi dengan harta duniawi (sarkikos) mereka”. 1Korintus 9:11 “jika kami telah menaburkan benih rohani bagi kamu, berlebih-lebihank kalau kami menuai hasil duniawi (sarkikos) dari pada kamu?”. 2Korintus 10:4a “karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi (sarkikos), melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah”. Sebutan sarkikos memang tepat diterapkan untuk orang yang suka berselisih, karena kita seringkali (selalu?) berselisih karena hal-hal yang sebenarnya tidak kekal, misalnya harga diri, uang, jabatan, dsb.

3b-4     Paulus tidak hanya menegur mereka. Dia juga menyebut dua hal yang membuktikan bahwa mereka memang tidak rohani. Di ayat 3b Paulus mengatakan bahwa mereka memiliki “iri hati” (zēlos) dan perselisihan (eris)”. Dua kata ini sering muncul bersamaan dalam Alkitab (Rom 13:13; 2Kor 12:20; Gal 5:20; bdk. Yak 3:14-15). Fenomena ini menyiratkan bahwa keduanya memang sangat berkaitan erat (perselisihan muncul karena iri hati). Zēlos dan eris merupakan bukti tingkah laku yang bersifat daging, karena dua hal ini termasuk perbuatan-perbuatan daging (Gal 5:20) dan tindakan-tindakan kegelapan yang harus dijauhi orang Kristen (Rom 13:13-14).

Mereka yang melakukan dua hal tersebut bukan hanya disebut sarkikoi (“manusia duniawi”), tetapi juga “hidup secara manusiawi” (3:3b). Para penafsir umumnya memandang frase “hidup secara manusiawi” sebagai penjelasan atau sinonim dari “manusia duniawi” (kata sambung “dan” yang memisahkan dua frase ini dimengerti sebagai “yaitu”). Ayat 3b “…bahwa kamu manusia duniawi, yaitu hidup secara manusiawi?”. Kata Yunani “hidup” (peripateō) secara hurufiah berarti “berjalan”, namun kata ini sudah menjadi istilah umum untuk “hidup” (7:17). Sebagai orang yang memiliki Roh Allah (2:12), jemaat Korintus seharusnya “berjalan menurut Roh” (Rom 8:4, peripateō kata pneuma), tetapi mereka telah gagal. Mereka justru berjalan menurut manusia (peripateō kata anthrōpon, LAI:TB “hidup secara manusiawi”). KJV/NIV/NASB “hidup/berjalan seperti manusia saja (mere men)”. RSV “bertingkah laku seperti manusia biasa (ordinary men)”. NRSV bertingkah laku mengikuti kecenderungan manusia (behaving according to human incinations)”. Inti yang ingin disampaikan Paulus melalui sebutan ini adalah bahwa mereka berpusat pada diri mereka sendiri. Mereka sama seperti orang-orang lain yang hidupnya tidak dipimpin oleh Roh Kudus.

Hal ini jelas merupakan sebuah ironi. Manusia biasa – tidak peduli betapa pintar dan hebatnya dia – tidak mungkin mau dan mampu memahami perkara-perkara rohani (2:14); anehnya, jemaat Korintus yang sudah menerima Roh (2:12) justru hidup seperti manusia biasa. Jemaat Allah yang ada di Korintus (1:2) ternyata tidak berbeda dengan manusia biasa yang ada di Korintus.

Di ayat 4 Paulus memberi bukti lain tentang keduniawian jemaat Korintus, yaitu favoritisme terhadap pemimpin (bdk. 1:10-12). Kali ini ia hanya menyebut namanya dan Apolos (3:4), karena dua orang inilah yang melayani di Korintus cukup lama. Hal ini terlihat dari 3:5-9 yang hanya menyinggung Paulus sebagai penanam dan Apolos sebagai penyiram.

Memberi penghormatan lebih kepada seorang pemimpin rohani tidak selalu salah (bdk. 1Timotius 5:17). Kasus dalam jemaat Korintus, bagaimanapun, berbeda. Mereka tidak hanya lebih menghormati seseorang dibanding dengan yang lain. Mereka telah memanfaatkan nama para pemimpin untuk memuaskan iri hati mereka. Mereka memilih pemimpin tertentu yang sesuai keinginan mereka sekaligus menyerang pemimpin yang lain. Mereka menyombongkan seorang pemimpin di atas pemimpin lain lain (bdk. 4:6b).

Teguran di 3:4b adalah “kamu manusia duniawi yang bukan rohani” (LAI:TB). Dalam Teks Yunani teguran yang dipakai adalah “bukankah kalian manusia?” (ouk anthrōpoi este;). Semua versi Inggris dengan tepat memberi tambahan “hanya” atau “saja” pada frase ini, karena melalui frase ini Paulus memang ingin menunjukkan bahwa jemaat Korintus yang berselisih tidak lebih baik daripada manusia biasa saja yang tidak memiliki Roh Allah.

Siapa saja yang terlibat dalam perselisihan tetap dianggap salah dan perlu ditegur, terlepas dari sumber masalah dan siapa yang memulai perselisihan. Paulus lebih melihat hati dan pikiran mereka yang dikuasai oleh iri hati dan pola pikir duniawi. Dua pihak yang berselisih pasti sama-sama menyumbang kesalahan. Jika hanya satu pihak yang salah, maka yang ada bukan perselisihan, melainkan pengampunan, pengertian dan kerelaan berkorban bagi orang lain. Siapa pun salah, termasuk mereka yang termasuk golongan Paulus. Paulus tidak mencari keuntungan pribadi di tengah situasi yang ada.

APLIKASI

Perselisihan dalam jemaat Korintus didorong oleh konsep yang salah tentang injil dan kerohanian. Setiap orang percaya sebenarnya adalah orang rohani, karena Roh Kudus ada dalam hati mereka dan memampukan mereka untuk mempercayai injil. Bagaimanapun, karya Roh tidak berhenti sampai di situ. Roh yang mempertobatkan orang berdosa adalah Roh yang sama yang memimpin hidup mereka selanjutnya. Hanya melalui ketaatan pada pimpinan Roh maka jemaat Korintus bisa terus memiliki perspektif yang benar tentang injil dan hidup berpadanan dengan injil itu. Hanya dengan berjalan menurut Roh maka mereka akan bertambah dewasa secara rohani. Hanya dengan pimpinan Roh maka mereka tidak akan dikuasai oleh kedagingan dan fokus hidup yang semata-mata tertuju pada kesementaraan. Mereka akan tampil beda dengan orang-orang lain yang “hanya manusia saja”. Kenyataanya? Mereka gagal!

Dengan cara yang sama, 1Korintus 3:1-4 berbicara secara langsung dan jelas kepada orang-orang Kristen jaman sekarang. Ibarat olah raga tinju, teks ini adalah pukulan keras yang membuat kita K.O. dan dipermalukan di depan umum. Begitulah sebagian besar dari kita sekarang. Kita lebih mengutamakan kepentingan dan ambisi pribadi daripada kepekaan terhadap pimpinan Roh. Pengampunan, kerendahhatian, kelemahlembutan dan kerelaan berkorban bagi orang lain kita nilai sebagai bentuk kelemahan. Kita lebih banyak berpikir seperti dunia: kehormatan diri, objek perhatian, keuntungan, keberanian (yang salah) adalah hal-hal yang mendominasi hidup kita. Menggalang kekuatan di dalam pelayanan supaya kedudukan dan pengaruh kita aman adalah permainan yang kita sukai. Kita sering berkata tajam terhadap para politikus yang mengejar kekuasaan belaka, tetapi kita ternyata menjadikan gereja sebagai arena politik duniawi dan kita sendiri telah menjadi politikus yang kotor; bahkan lebih kotor. Kita siap mengorbankan kebenaran dan status kita sebagai orang rohani demi mengejar hal-hal yang tidak rohani.

 

Leave a Reply