KONSEP YANG SALAH TENTANG PEMIMPIN DAN GEREJA

 

Seperti sudah dijelaskan di depan, perselisihan dalam jemaat Korintus di 1:10-4:21 merupakan masalah yang sangat kompleks. Bentuk perselisihan yang muncul memang mudah untuk dilihat, yaitu favoritisme pemimpin (1:10-17). Walaupun demikian, akar masalah yang sesungguhnya jauh lebih berbahaya. Mereka telah dipengaruhi oleh konsep hikmat yang duniawi sehingga menjadi sombong: mereka memandang injil sebagai kebodohan, begitu pula dengan Paulus sebagai pemberitanya. Menghadapi situasi seperti ini Paulus mengajarkan dengan tegas bahwa injil memang kebodohan bagi dunia, tetapi kebodohan itulah yang telah membuat orang-orang berhikmat terlihat bodoh (1:18-25). Kondisi jemaat Korintus pada saat pertama kali menerima injil juga didominasi oleh orang-orang bodoh menurut dunia, namun di situlah kita justru melihat kekuatan dari kebodohan injil: orang yang bodoh bisa mengerti, sedangkan yang berhikmat justru dipermalukan (1:26-31). Cara pemberitaan Paulus yang terlihat bodoh (jika dilihat dari ukuran retorika dan filsafat dunia waktu itu) turut mempertegas kekuatan injil: walaupun isi dan cara yang dipakai tampak bodoh tetapi hasilnya sangat luar biasa (2:1-5). Semua ini terjadi karena Roh yang memberi pengertian kepada manusia; tanpa karya Roh Kudus tidak mungkin manusia mampu memahami injil sebagai hikmat Allah (2:6-16).

Setelah menguraikan akar masalah dan memberikan jawaban sebagaimana diterangkan di atas (1:18-2:16), Paulus lalu memberikan teguran (3:1-4). Ia menunjukkan bahwa iri hati, perselisihan dan favoritisme pemimpin merupakan bukti bahwa mereka tidak hidup seperti orang yang memiliki Roh. Selanjutnya ia mengajarkan cara pandang yang benar tentang para pemimpin rohani dan juga hakekat gereja (3:5-17). Pembahasan seperti ini memberitahu kita bahwa akar masalah bukan hanya terletak pada isu seputar hikmat duniawi, tetapi juga konsep yang salah terhadap para pemimpin rohani maupun hakekat gereja yang sebenarnya. Jika jemaat memahami dua hal ini dengan tepat, maka perselisihan tidak seharusnya terjadi.

Alur pemikiran Paulus di 3:5-17 dapat ditelusuri dengan mudah melalui perpindahan metafora yang ia pakai. Di 3:5-9 ia menggambarkan gereja sebagai ladang milik Allah. Sang Pemilik ladang memiliki para pelayan dengan tugas yang berbeda-beda. Ada yang diberi tugas untuk menanam atau menyiram. Keduanya bukanlah bagian yang penting dari ladang itu. Yang paling penting adalah Allah yang memberi pertumbuhan dan memiliki ladang. Jadi, tindakan mengagung-agungkan pelayan (seolah-olah para pelayan begitu penting) merupakan tindakan yang bodoh. Betapa ironisnya! Jemaat Korintus memandang karya Allah di dalam injil sebagai kebodohan, sebaliknya mereka malah mengagungkan karya para pelayan yang tidak penting.

Metafora selanjutnya adalah gereja sebagai bangunan (3:10-15). Ibarat sebuah rumah, gereja perlu memiliki pondasi dan itu adalah Kristus yang disalibkan. Setelah itu para tukang harus memilih bahan yang terbaik untuk membangun di atas pondasi yang kokoh itu. Kualitas bahan yang dipilih suatu saat nanti akan mengalami pengujian. Apakah rumah ini akan bertahan pada waktu kebakaran atau akan hangus terbakar? Semua dipengaruhi oleh bahan apa yang dipakai untuk membangun.

Dari metafora gereja sebagai rumah, Paulus secara mulus berpindah pada satu pokok pikiran lain yang tidak kalah penting: gereja adalah bait Allah (3:16-17). Gereja berbeda dengan perkumpulan-perkumpulan lain karena di dalamnya ada Roh Allah. Oleh sebab itu siapa saja yang berani membinasakan bait Allah ini, maka ia sendiri akan dibinasakan.

 

PARA PEMIMPIN HANYALAH PELAYAN

1KORINTUS 3:5-9

 

5 Jadi, apakah Apolos? Apakah Paulus? Pelayan-pelayan Tuhan yang olehnya kamu menjadi percaya, masing-masing menurut jalan yang diberikan Tuhan kepadanya. 6Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. 7 Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan.      8 Baik yang menanam maupun yang menyiram adalah sama; dan masing-masing akan menerima upahnya sesuai dengan pekerjaannya sendiri. 9 Karena kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah.

 

Perpindahan dari 3:1-4 ke 3:5-9 berjalan dengan lancar. Hal ini terlihat dari beberapa petunjuk yang tersedia. Kata sambung oun (LAI:TB “jadi”; NIV “after all”; KJV/NASB/RSV/ESV “then”) menunjukkan bahwa dua bagian tersebut saling berkaitan. Paulus mengakhiri 3:1-4 dengan pertanyaan retoris, begitu pula ia menggunakan pertanyaan retoris untuk memulai 3:5-9. Nama Paulus dan Apolos muncul di akhir 3:1-4 dan awal 3:5-9.

Setelah memberikan teguran di 3:1-4 Paulus sekarang menjelaskan persepsi yang benar tentang gereja dan para pemimpinnya. Penjelasan ini merupakan kebutuhan yang mendesak karena jemaat Korintus bukan hanya salah memahami injil (1:18-2:16) dan kerohanian yang sejati (3:1-4), tetapi mereka pun memiliki pandangan yang salah tentang gereja beserta orang-orang yang dipercaya Allah untuk mengurusi gereja (3:5-17). Mereka membanggakan pemimpin seolah-olah para pemimpin adalah penentu kerohanian jemaat dan pemilik gereja. Konsep seperti ini akan dikoreksi oleh Paulus melalui sebuah metafora dari bidang pertanian (3:5-9).

Melalui metafora di 3:5-9 Paulus ingin mengajarkan keutamaan Allah di atas semua pemimpin. Semua pemimpin adalah milik Allah (3:9). Tugas mereka yang berbeda-beda berasal dari penentuan Allah (3:5). Kesuksesan mereka bergantung pada Allah (3:7).

3:5    Apolos dan Paulus adalah pelayanan              Allah menentukan tugas masing-masing

3:6    Paulus menanam, Apolos menyiram               Allah yang memberi pertumbuhan

3:7    Penanam dan penyiram tidak penting            Allah adalah yang terpenting

3:8    Penanam dan penyiram adalah sama              Allah akan memberi upah kepada mereka

Keutamaan Allah ini merupakan koreksi terhadap sikap jemaat. Mereka membanggakan para pemimpin seolah-olah para pemimpin begitu penting, padahal tidak demikian. Mereka menganggap diri milik pemimpin tertentu, padahal Allah yang Empunya semua jemaat. Mereka membandingkan para pemimpin seolah-olah mereka saling berkompetisi dan tidak memiliki kesamaan apapun, padahal para pekerja bahu-membahu menghasilkan panen bagi Allah. Mereka mencari perbedaan para pemimpin pada kemampuan retorika mereka, padahal perbedaan itu ditentukan oleh ketetapan Allah sendiri. Mereka berusaha memberikan penilaian kepada para pemimpin – yang satu direndahkan, yang satu diagungkan – padahal yang berhak memberi upah kepada para pekerja adalah Allah.

Alur pemikiran Paulus di 3:5-9 sangat mudah untuk diikuti. Ia pertama-tama menegaskan bahwa para pemimpin hanyalah para pelayan yang dipekerjakan Tuhan dengan tugas khusus sesuai kapasitas masing-masing (3:5). Paulus diberi tugas menanam dan Apolos menyiram, namun yang paling penting adalah Allah yang memberi pertumbuhan (3:7-8) dan memiliki ladang serta para pelayan (3:9).

 

5          Melalui pertanyaan retoris di ayat ini Paulus ingin menjelaskan siapa (lebih tepat “apakah”, lihat RSV/NASB/NIV/ESV “what is…) sesungguhnya para pemimpin itu. Walaupun nama yang disebut hanyalah Paulus dan Apolos, tetapi prinsip yang diajarkan tetap berlaku untuk semua pemimpin rohani. Siapakah/apakah para pemimpin itu?

Pertama, pemimpin adalah pelayan (diakonoi, 3:5a). Konsep pemimpin sebagai pelayan bukanlah sesuatu yang baru. Konsep ini sudah diajarkan Yesus ketika Ia menjelaskan keunikan kepemimpinan Kristen dibandingkan dengan kepemimpinan duniawi. Dalam kepemimpinan Kristen, yang terbesar adalah mereka yang melayani (Mar 10:41-45; Luk 22:25-27). Sama seperti Yesus datang bukan untuk dilayani tetapi untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya bagi banyak orang (Mat 20:28//Mar 10:45), demikian pula setiap pemimpin Kristen harus memiliki konsep seperti ini. Dari sini tampak bahwa salib bukan hanya inti injil dan cara kerja Allah yang berkontradiksi dengan dunia, namun salib sekaligus memberikan model dasar dalam pelayanan. Salib menampilkan pola kepemimpinan yang berbeda dengan konsep orang-orang Korintus tentang pemimpin. Jika pemimpin hanyalah pelayan, maka mereka tidak bisa dijadikan kepala suatu kelompok. Mereka tidak pantas menerima itu. Favoritisme pemimpin yang dilakukan jemaat Korintus menunjukkan bahwa mereka telah bertindak bodoh dengan cara menjadikan pelayan sebagai pemimpin.

Kedua, pemimpin adalah instrumen (3:5b). Di bagian ini Paulus mengatakan “para pelayan yang olehnya kamu telah menjadi percaya”. Terjemahan LAI:TB “olehnya” di sini kurang tepat. Terjemahan ini menyiratkan kesan bahwa iman jemaat ditentukan oleh para pemimpin. Berdasarkan kata sambung dia yang dipakai, kita seharusnya menerjemahkan “melaluinya” (semua versi Inggris memakai “through”). Kata “melaluinya” menunjukkan bahwa para pemimpin merupakan instrumen, bukan penentu keselamatan. Iman kepada Tuhan Yesus selalu adalah hasil pekerjaan Allah (2:10; 13:3). Oleh karena itu, jemaat tidak sepantasnya beriman kepada atau di dalam para pemimpin.

Ketiga, pemimpin memiliki tugas masing-masing (3:5c). Bagian ini secara hurufiah berarti “sebagaimana Tuhan telah memberi kepada masing-masing”. Terjemahan seperti ini tidak begitu jelas. Apa yang telah diberikan oleh Tuhan? Siapakah yang dimaksud dengan “masing-masing”? Ketidakjelasan kalimat di atas telah mendorong munculnya beragam terjemahan. Terjemahan KJV memberi kesan bahwa yang diberikan adalah keselamatan dan yang dimaksud “masing-masing” adalah setiap jemaat Korintus (as the Lord gave to every man). NASB menganggap yang diberikan adalah kesempatan, sedangkan yang menerima kesempatan itu bisa pelayan bisa jemaat (as the Lord gave opportunity to each one). NIV menjelaskan bahwa Tuhan telah memberikan tugas kepada masing-masing pelayan (as the Lord has assigned to each his task). ESV & RSV mengikuti jalur yang diambil NIV (as the Lord assigned to each). Terjemahan LAI:TB “menurut jalan yang diberikan Tuhan kepadanya” tidak terlalu jelas. Dari semua alternatif terjemahan ini, yang lebih sesuai dengan konteks adalah NIV, ESV dan RSV, karena di 3:6-7 Paulus nanti akan menjelaskan perbedaan tugas antara dirinya dengan Apolos.

Pemakaian sebutan ho kurios (“Tuhan”) di ayat 5c harus dipahami sebagai rujukan pada Yesus Kristus. Hal ini sejalan pemunculan ho kurios secara absolut (tanpa keterangan apapun) yang hampir semuanya menunjuk pada Yesus Kristus. Jika perbedaan tugas antara Paulus dan Apolos memang ditentukan oleh Tuhan, maka perbedaan itu tidak semestinya dijadikan sumber perselisihan. Semua tergantung pada Tuhan yang memberi tugas tersebut.

6          Perbedaan tugas antara Paulus dan Apolos (3:5c) diungkapkan melalui metafora dunia pertanian (3:6), walaupun jenis ladang yang dimaksud tidak terlalu jelas (ladang anggur atau gandum atau lainnya?). Paulus menanam, sedangkan Apolos yang menyiram. Posisi Paulus sebagai penanam dan Apolos sebagai penyiram didasarkan pada kronologi pelayanan mereka di Korintus. Paulus lebih dahulu melayani di sana (Kis 18:1-21), kemudian Apolos melanjutkan setelah kepergian Paulus (Kis 18:27-19:1). Dengan demikian Paulus memang lebih pantas digambarkan sebagai penanam dan Apolos sebagai penyiram.

Penyebutan Apolos sebagai penyiram oleh Paulus merupakan hal yang menarik. Apolos bukan termasuk tim misi Paulus. Paulus sendiri sangat memegang prinsip penginjilan untuk tidak memasuki daerah kerja orang lain (2Kor 10:12-16; Rom 15:18-21). Ketika ia mengakui Apolos sebagai penyiram, maka hal itu mengungkapkan pandangan Paulus bahwa pemilik ladang bukanlah para pelayan. Ladang adalah milik Allah dan para pelayan bekerja bagi Allah, karena itu siapa saja yang bekerja di satu ladang adalah rekan sekerja yang diatur Allah.

Melalui gambaran penanam – penyiram Paulus ingin menekankan beberapa hal: (1) tanpa salah satu maka pekerjaan yang lain akan sia-sia. Benih yang ditanam memerlukan siraman air. Begitu pula siraman air tidak akan menghasilkan buah jika tidak ada benih yang ditanam; (2) permusuhan antara penanam dan penyiram dalam satu ladang merupakan hal yang aneh. Keduanya tidak mungkin saling menjatuhkan. Sebaliknya, mereka saling melengkapi. Begitu pula pelayanan Paulus dan Apolos di Korintus.

Walaupun Paulus dan Apolos sudah melakukan pekerjaan mereka, tetapi itu tidak menjamin bahwa panen akan segera diperoleh. Benih yang ditanam dan disiram harus bertumbuh terus-menerus. Pertumbuhan ini di luar kapasitas penanam maupun penyiram. Allah yang memberi pertumbuhan. Kebenaran ini akan semakin jelas apabila dikaitkan dengan pola bercocok tanam kuno yang mempercayai bahwa keberhasilan pertanian ditentukan oleh iklim atau dewa/Allah yang dipercayai sebagai pengatur pertanian. Benih yang ditanam didapat dari Allah (2Kor 9:10 “Ia yang menyediakan benih bagi penabur”), air untuk disiramkan berasal dari hujan yang diberikan Allah (Kis 14:17).

Tense imperfect yang dipakai untuk kata “memberi pertumbuhan” di 3:6 menyiratkan tindakan yang terus-menerus di masa lampau. Tense ini berbeda dengan yang dipakai untuk kata “menanam” atau “menyiram” di ayat yang sama. Perbedaan tense seperti ini menunjukkan bahwa sekalipun Paulus selesai menanam dan Apolos selesai menyiram tetapi Allah terus-menerus memberi pertumbuhan. Jadi, keutamaan Tuhan dibandingkan dengan para pelayan-Nya bukan hanya terletak pada tindakan yang menentukan pertumbuhan, tetapi juga kontinuitas dari tindakan itu.

7          Apakah yang menanam, menyiram dan memberi pertumbuhan sama pentingnya? Ayat ini memberi jawaban yang tegas. Baik penanam maupun penyiram sama-sama tidak penting (bukan “sama-sama penting”). Yang penting hanya satu, yaitu Allah yang memberi pertumbuhan. Jadi, perbedaan antara pekerja dan Allah bukan hanya terletak pada perbedaan tugas dan kontinuitas pekerjaan (3:6), namun juga nilai pentingnya.

Dengan menyatakan bahwa semua pekerja tidak ada yang penting (apalagi lebih penting daripada pekerja lain), Paulus kembali mempertegas pertanyaan retoris di 3:5 “apakah pemimpin itu?” Mereka bukan siapa-siapa; mereka hanyalah orang-orang yang tidak penting. Keberadaan jemaat Korintus berhutang pada Allah semata-mata yang memberikan Roh Kudus dalam hati mereka sehingga mereka bisa bertobat (2:6-16).

8          Paulus tidak hanya menjelaskan perbedaan tugas para pelayan. Dia juga menerangkan kesatuan yang mereka miliki. Kesatuan ini diungkapkan di ayat 8a yang secara hurufiah berbunyi “yang menanam dan menyiram adalah satu”. Apa yang dimaksud dengan “satu” di sini? Satu dalam hal apa? Sebagian versi memilih untuk mempertahankan terjemahan hurufiah ini (KJV/NASB), sedangkan yang lain berusaha memberi penjelasan. RSV memahami kesatuan di ayat 8a sebagai kesejajaran (“are equal”). NEB memberi terjemahan “satu tim”. NIV dan NRSV memilih “satu tujuan”. Terjemahan terakhir ini tampaknya lebih bisa diterima. Paulus tidak sedang memusingkan kesetaraannya dengan Apolos. Mereka sama-sama tidak ada yang penting (3:7).

Tujuan yang sama dalam konteks pertanian pasti merujuk pada hasil panen. Sekalipun mereka memiliki tugas yang berlainan tetapi tujuan mereka hanya satu. Kata “satu” (hen) di ayat 8 tidak hanya menyiratkan kesatuan antara Paulus dan Apostolos dalam hal tujuan, tetapi juga fokus pelayanan yang tunggal. Keduanya tidak memiliki tujuan lain dalam pelayanan, selain satu tujuan yang diinginkan Allah, yaitu pertumbuhan jemaat.

Kesatuan di atas seharusnya cukup untuk menjadi alar pemersatu. Jemaat tidak boleh terlalu menekankan perbedaan di antara para pemimpin; bukan karena perbedaan itu diatur Tuhan (ayat 5b), tetapi juga karena ada kesatuan tujuan (ayat 8a). Para pemimpin tidak boleh diagungkan, karena tujuan mereka bukan mencari pendukung, melainkan pertumbuhan rohani jemaat. Baik Paulus maupun Apolos sama-sama bekerja untuk kepentingan mereka.

Kalau ayat 8a lebih menekankan kesatuan para pekerja, ayat 8b lebih menyorot perbedaan di antara mereka. Pada bagian ini Paulus ingin mengajarkan bahwa para pelayan sudah memiliki tuan sendiri yang akan memberi mereka upah. Mereka tidak membutuhkan upah dari jemaat dalam bentuk pujian maupun pengagungan (bdk. Mat 6:1, 5, 16). Upah yang akan diterima ini tidak ditentukan berdasarkan kesuksesan, tetapi pekerjaan masing-masing pelayan. Konsep seperti ini diajarkan berkali-kali dalam PB (Mat 16:27; Rom 2:6; 2Kor 11:15; 2Tim 4:14; 1Pet 1:17; Why 2:23; 20:12-13; 22:12).

Melalui pernyataan ini Paulus ingin menegaskan bahwa yang berhak menilai para pekerja adalah Tuan yang mempekerjakan mereka. Ladang tidak mungkin menilai para pekerja (3:3, 5a). Penilaian terhadap para pelayan tidak ditentukan oleh penerimaan orang lain atau suka/tidaknya jemaat terhadap para pelayan tersebut. Di akhir jaman Tuhan akan menilai pekerjaan masing-masing pelayan sesuai kualitas pekerjaan mereka (3:10-15). Pekerja yang bersungguh-sungguh akan memperoleh puji-pujian dari Allah (4:5c), bukan dari manusia.

9          Kata sambung “karena” di awal ini mengindikasikan bahwa ayat 9 merupakan alasan dari semua yang sudah dijelaskan di ayat 5-8. Ada tiga frase dalam bagian ini: “kami adalah kawan sekerja Allah, kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah”. Sesuai kalimat Yunani yang ada, kata “Allah” di masing-masing frase mendapat penekanan dengan cara diletakkan di bagian awal (lit. “milik Allah kami adalah kawan sekerja, milik Allah kamu adalah ladang, milik Allah bangunan”).

Frase pertama telah menimbulkan beragam pendapat (3:9a). Apakah kata “Allah” di bagian tersebut berarti “milik Allah” (ASV/NIV/RSV/NASB) atau “dengan Allah” (KJV)? Alternatif pertama tampaknya lebih masuk akal: (1) Dua kata “Allah” yang lain di ayat ini semuanya menyiratkan kepemilikan: kamu adalah ladang milik Allah, bangunan milik Allah; (2) Kalau Paulus ingin mengatakan bahwa Paulus dan Apolos adalah kawan sekerja bersama Allah, maka dia akan memakai struktur kalimat “kami dan Allah adalah kawan sekerja”, bukan “kami adalah kawan sekerja Allah”; (3) Konteks justru menekankan perbedaan posisi antara para pelayan dan Allah. Allah jauh lebih penting daripada para pelayan (3:6-7). Dalam konteks seperti ini tidak mungkin Paulus menekankan posisi para pemimpin sebagai kawan sekerja bersama Allah; (4) di pasal 3:22-23 Paulus menutup semua diskusi dari pasal 1-3 dengan penegasan bahwa segala sesuatu adalah milik Allah.

Penggunaan kata “kawan sekerja” (synergos) untuk Paulus dan Apolos menyiratkan konsep pelayanan yang komprehensif. Kata synergos biasanya dipakai Paulus untuk orang-orang yang melayani bersama dia dalam satu tim atau sedang berada bersama dia (1Tes 3:2; 2Kor 1:24; 8:23; Flp 2:25; 4:3; Kol 4:11; Flm 24). Dari penggunaan kata synergos untuk Apolos terlihat bahwa kawan sekerja tidak dibatasi pada kesamaan gereja yang mengutus (Apolos tampaknya tidak diutus oleh gereja Antiokhia), bukan pula kesamaan tim. Kawan sekerja tidak harus sedang berada bersama-sama atau bekerja pada waktu yang sama dalam suatu pekerjaan ilahi. Yang menjadi penentu apakah para pekerja merupakan rekan kerja adalah Allah. Selama mereka memiliki tujuan ilahi yang sama, maka mereka adalah kawan sekerja.

Frase berikutnya adalah “kamu adalah ladang Allah” (3:9b). Konsep tentang umat Allah sebagai ladang atau tanaman Allah muncul beberapa kali dalam Alkitab (Kel 15:17; Bil 24:5-6; Yes 5:1-2, 7; 61:13; Yer 2:21; Am 9:15). Kata “ladang” (geōrgion) di 3:9b merujuk pada tanah yang sedang diolah, bukan tanah yang sudah siap/baik untuk ditanam maupun padang rumput. Pemilihan kata ini sangat mungkin dimaksudkan sebagai teguran halus kepada jemaat Korintus supaya mereka tidak sombong. Mereka adalah tanah yang masih perlu diolah lagi.

Frase terakhir (“kamu adalah bangunan Allah”, 3:9c) sedikit keluar dari metafora di 3:5-9b. Frase ini dimaksudkan sebagai transisi ke metafora berikutnya (3:10-17) yang membahas gereja dalam konteks bangunan. Istilah “bangunan” (oikodomē) di 3:9c dipahami para penafsir sebagai bangunan yang sedang dalam proses. Sama seperti geōrgion yang masih dalam proses pengolahan, demikian pula oikodomē masih belum berbentuk bangunan yang utuh. Makna oikodomē seperti ini dukung oleh konteks 3:10-15 yang menggambarkan proses pembangunan. Di samping itu, kata oikodomē di tempat lain memang dipakai Paulus untuk merujuk pada proses membangun (14:3, 5, 12, 26).

 

APLIKASI

Favoritisme pemimpin yang dilakukan jemaat Korintus mengungkapkan konsep yang salah tentang para pemimpin. Di satu sisi, sikap jemaat ini merendahkan para pemimpin, karena mereka hanya dimanfaatkan oleh jemaat Korintus demi kepentingan jemaat sendiri. Di sisi lain, sikap ini mengagungkan pemimpin, karena mereka sebenarnya hanyalah para pelayan belaka yang tidak layak menerima penghormatan seperti itu. Situasi ini memang sedikit membingungkan dan tidak konsisten. Ladang ingin mengagungkan pekerja sambil melupakan peranan penting dari pemilik. Ladang ingin menjadikan para pekerja sebagai raja. Pada saat yang sama, ladang sendiri berusaha meletakkan diri di atas para pekerja dengan cara memanfaatkan mereka dan menilai kualitas pekerjaan mereka. Begitulah yang terjadi dengan jemaat Korintus yang tidak memiliki pandangan yang Alkitabiah tentang para pelayan.

Hal yang sama sering kita jumpai dalam gereja-gereja modern. Walaupun secara teoritis (slogan) kita mengetahui bahwa Kristus adalah Kepala dan Pemilik Gereja, tetapi pengakuan ini tidak tercermin dalam model pelayanan yang ada. Mereka yang memegang pengaruh atau kekuasaan di gereja berlomba memenangkan hati orang lain, bahkan dengan cara-cara yang tidak terpuji. Tidak sedikit yang memberi pesan tersirat kepada jemaat tentang betapa pentingnya mereka bagi keberlangsungan pelayanan.

Para pemimpin seharusnya berlomba untuk melayani, bukan mencari pujian dari manusia. Melayani tidak berarti meniadakan kepemimpinan. Melayani tidak sama dengan menjilat banyak orang. Melayani berkaitan dengan perspektif dan tindakan. Kita memimpin dengan cara melayani. Kita memimpin mereka untuk berfokus pada Kristus, Sang Pemimpin Agung.

 

 

 

 

 

Leave a Reply