Yakub Tri Handoko, Th. M.

 

Dalam bagian ini Paulus memberikan respon yang sedikit berbeda dengan di bagian sebelumnya. Di ayat 1-5 dia menjelaskan posisi para rasul sebagai pelayan Tuhan yang akan dihakimi Tuhan di akhir jaman (karena itu jemaat Korintus tidak berhak menghakimi para rasul); di ayat 6-7 dia memaparkan bahwa segala sesuatu yang dimiliki oleh jemaat Korintus adalah anugerah Allah (karena itu jemaat Korintus tidak boleh memegahkan diri seolah-olah tidak pernah menerima itu); di ayat 8-9 dia mengarahkan pembahasan pada kesombongan jemaat Korintus (ayat 8) dan kerendahan para rasul (ayat 9).

Kesombongan jemaat Korintus (ayat 8)

Walaupun para penafsir sudah sepakat bahwa ucapan Paulus di ayat ini adaah sebuah ironi (sindiran), namun mereka masih berdebat tentang penyebab atau jenis kesombongan jemaat Korintus. Sebagian menganggap bahwa kesombongan ini dipicu oleh konsep eskhatologis (akhir jaman) yang salah. Menurut mereka, jemaat Korintus memiliki konsep bahwa akhir jaman sudah terjadi pada jaman mereka dan mereka sudah memerintah dalam kerajaan mesianis, karena itu mereka bertindak seolah-sebagai raja. Sebagian penafsir yang lain meyakini bahwa kesombongan jemaat Korintus tetap berkaitan dengan konsep hikmat duniawi yang salah.

Di antara dua dugaan di atas, yang terakhir tampaknya lebih dapat diterima. Disharmoni antara Paulus dan jemaat Korintus di pasal 4 masih terkait dengan pasal 1-3, sehingga sangat beralasan jika kita menafsirkan kesombongan jemaat Korintus dalam terang pasal 1-3. Dalam konteks sosial waktu itu, ungkapan ”kenyang”, ”kaya” maupun ”raja” sering dipakai untuk menggambarkan kesombongan. Secara khusus dalam konteks filsafat Stoa waktu itu, orang yang berhikmat dianggap sebagai raja. Di samping itu, jawaban Paulus di 4:9-13 yang lebih banyak menjelaskan kerendahan para rasul sebagai konsekuensi dari hidup menurut salib sangat kontras dengan kesombongan jemaat Korintus yang didasarkan pada hikmat. Dengan kata lain, ayat 8 menggambarkan kehidupan berdasarkan hikmat dunia, sedangkan ayat 9-13 berdasarkan hikmat salib.

Ungkapan pertama yang dipakai Paulus adalah ”kamu telah menjadi kenyang” (ayat 8a).

Dalam teks asli, kata ”telah” diletakkan paling depan sebagai bentuk penekanan (ASV/RSV/NRSV/NIV mengikuti susunan kalimat Yunani yang ada dengan cara meletakkan kata ”already” di awal kalimat). Kata ”kenyang” (korennumi) secara hurufiah berarti ”memiliki semua yang diinginkan” (NIV/NRSV ”already you have all you want”). Karena yang didinginkan seringkali dalam konteks makanan (band. Kis 27:38), maka ungkapan ini diartikan ”kenyang”. Bukan sekedar kenyang, tetapi sangat keyang.

Ketika Paulus mengatakan bahwa jemaat Korintus telah kenyang, dia sebenarnya sedang menegur mereka melalui ironi. Mereka memang dalam arti tertentu telah kenyang, karena mereka telah minum dari Roh yang memberi mereka berbagai karunia (12:13). Di sisi lain mereka sebenarnya tidak benar-benar kenyang! Mereka hanya mengkonsumsi susu, karena mereka belum siap menerima makanan keras (3:2).

Ungkapan kedua adalah ”kamu telah menjadi kaya” (ayat 8b). Sama seperti sebelumnya, kata ”telah” juga diletakkan di depan sebagai penekanan. Dalam arti tertentu jemaat Korintus memang kaya secara rohani. Mereka memiliki banyak karunia rohani (1:5; pasal 12). Bagaimanapun, mereka sebenarnya tidak kaya, karena semua pemberian itu adalah kasih karunia Allah (1:4) yang diberikan di dalam Yesus (1:5). Hanya di dalam Yesuslah mereka mendapatkan itu, sehingga ketika mereka mulai berpaut pada hikmat dunia tetapi masih merasa diri kaya, hal ini merupakan sebuah ironi.

Ungkapan terakhir adalah ”kamu telah menjadi raja” (ayat 8c). Secara hurufiah ”menjadi raja” (basileuo) dapat diterjemahkan ”telah memerintah” (ASV ”ye have come to reign”). Ungkapan ”kaya” dengan tepat melukiskan kesombongan jemaat Korintus dalam berbagai sisi. Sama seperti seorang raja yang memiliki kedudukan tertinggi, mereka juga menganggap diri lebih daripada Paulus. Sama seperti seorang raja yang memiliki kebebasan untuk melakukan apapun (Kaisar Caligula, ”aku bebas melakkan apapun kepada siapapun”), demikian pula jemaat Korintus memiliki semboyan ”segala sesuatu halal bagiku [6:12; 10:23; lit. ”aku memiliki kebebasan dalam segala sesuatu”]. Sama seperti orang berhikmat waktu itu yang seringkali disamakan dengan raja, jemaat Korintus pun merasa diri berhikmat dan layak untuk menganggap diri sebagai raja.

Gambaran tentang kesombongan jemaat Korintus di atas ternyata masih belum cukup. Mereka bukan hanya menganggap diri hebat, tetapi mereka juga merasa bahwa ”kehebatan” tersebut mereka miliki tanpa bantuan para rasul. Kepada mereka Paulus menyindir ”tanpa kami [choris hemon] kamu telah menjadi raja”. Dalam teks asli frase ”tanpa kami” diletakkan di depan sebagai penekanan. Walaupun LAI:TB memilih susunan kalimat yang sama, namun penekanan ini tetap tidak terlihat dengan jelas. Sebaliknya, NIV yang meletakkan frase ”tanpa kami” di akhir kalimat justru berhasil mengekspresikan penekanan yang ada (”you have become kings — and that without us!”).

Para penafsir meyakini bahwa frase tersebut bukan sekedar menunjukkan bahwa jemaat Korintus telah melupakan jasa Paulus, tetapi mereka juga tidak mau menyertakan Paulus dalam pemerintahan mereka. Maksudnya, dalam budaya kuno seorang yang menjadi raja biasanya akan memberikan posisi atau jabatan tertentu kepada para pendukungnya, sehingga dengan demikian mereka turut memerintah bersama dia. Jemaat Korintus telah menganggap diri sebagai raja, tetapi mereka tidak mau memberi posisi yang tinggi kepada Paulus yang sudah berjasa dala pertumbuhan rohani mereka. Karena itulah Paulus di bagian akhir ayat 8 menyindir, ”ah, alangkah baiknya jika benar demikian….sehingga kamipun turut menjadi raja dengan kamu”.

Kerendahan para rasul (ayat 9)

Berbeda dengan sikap jemaat Korintus yang menyombongkan diri (ayat 8), Paulus justru menampilkan kerendahan para rasul (ayat 9). Semua ini dilakukan Paulus mencapai dua tujuan sekaligs. Yang pertama, dia ingin menyindir kesombongan jemaat dan menunjukkan bahwa kesombongan itu adalah sesuatu yang tidak logis. Kalau jemaat Korintus bisa menjadi seperti sekarang karena jasa para rasul dan para rasul sendiri adalah orang-orang yang rendah, maka tidak ada alasan bagi jemaat untuk sombong. ”Kehebatan” mereka tidak lain adalah hasil pekerjaan para rasul yang ”sangat rendah”. Dengan kata lain, jemaat Korintus telah melupakan darimana, oleh siapa dan bagaimana keadaan mereka dahulu. Jika mereka memahami hal ini tentu mereka tidak akan memegahkan diri.

Tujuan kedua yang ingin dicapai Paulus adalah memberikan teladan tentang hidup yang berdasarkan hikmat salib. Sebelumnya Paulus sudah menjelaskan cara kerja Allah yang sangat kontras dengan dunia, yaitu Allah memakai orang-orang yang rendah menurut dunia ini supaya mereka tidak sombong dan sekaligus supaya orang-orang yang tinggi menurut ukuran dunia ini direndahkan (1:25-29). Dengan menekankan kerendahan dan kelemahan para rasul, Paulus sekai lagi mengingatkan jemaat Korintus bahwa Allah tetap berkenan memakai orang-orang yang rendah menurut dunia ini. Ini adalah hidup berdasarkan salib: salib dianggap kebodohan, tetapi itu justru adalah hikmat Allah; salib dianggap sebagai batu sandungan, tetapi itu justru merupakan kekuatan Allah (1:23-24).

Lebih jauh, keteladan hidup yang ditampilkan Paulus di ayat 9 sesuai dengan teladan yang sudah diberikan Yesus Kristus sendiri. Kristus mau berkorban demi orang lain. Dia yang kaya telah menjadi miskin supaya kita menjadi kaya (2Kor 8:9). Demikian pula dengan Paulus. Dia mengambarkan para rasul dalam pelayanan ”sebagai orang yang miskin namun telah memperkaya banyak orang” (2Kor 6:10). Semua kerendahan dan penghinaan yang diterima para rasul ini dipakai Allah untuk membuat orang-orang lain dimuliakan di dalam Kristus. Jemaat Korintus seharusnya menyadari hal ini, sehingga tidak memegahkan diri lagi. Sebaliknya, mereka harus belajar merendahkan diri demi kepentingan orang lain.

Sekalipun keadaan para rasul sangat rendah menurut ukuran dunia, namun Paulus tidak mengeluhkan hal itu. Dia bahkan meyakini bahwa Allah yang telah menentukan hal itu bagi mereka (ayat 9). Allah berdaulat secara mutlak untuk mengatur jalan hidup setiap orang, termasuk para rasul. Paulus sendiri dari awal pertobatan dan pelayanannya sudah mengetahui bahwa pelayanannya akan diwarnai dengan penderitaan yang begitu banyak, seperti yang dikatakan Tuhan kepada Ananias yang dipaki untuk menyembuhkan Paulus, “Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya, betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh karena nama-Ku” (Kis 9:16).

Bagaimana cara Paulus menggambarkan kerendahan para rasul? Di ayat 9b para rasul diberi tempat yang paling rendah. Dalam teks asli kata “tempat yang paling rendah” secara hurufiah berarti ”yang paling akhir” (ASV/NASB/RSV/NRSV “last of all”; KJV “last”). Jika dilihat dari konteks yang ada, Paulus tampaknya sedang merujuk pada momen kekalahan dalam sebuah peperangan. Ketika suatu bangsa kalah, maka pemimpin dan penduduknya yang masih hidup akan diangkut sebagai tawanan dalam sebuah iring-iringan yang sangat panjang. Di akhir dari rombongan ini biasanya diletakkan para tawanan yang nanti akan dihukum mati dengan cara diadu dengan para algojo atau binatang buas di arena serta menjadi tontonan bagi banyak orang. Gambaran ini cocok dengan beberapa petunjuk yang ada di dalam teks, misalnya “yang paling akhir”, “telah dijatuhi hukuman mati” dan “menjadi tontonan”. Penerjemah NIV dengan tepat mengartikan “yang paling akhir” sebagai “di bagian akhir sebuah prosesi”.

Penyebutan “malaikat-malaikat” sebagai penonton mungkin dimaksudkan Paulus untuk memberi gambaran tentang sebuah peperangan rohani yang bersifat kosmik (berhubungan dengan seluruh ciptaan). Apa yang dialami para rasul adalah dalam konteks peperangan ini. Bagi Paulus, posisi terkahir dalam peperangan bukanlah kekalahan. Dunia mungkin akan memandang seperti itu, tetapi dari perspektif Allah para rasul justru “selalu berada di jalan kemenangan-Nya” (2Kor 2:14).  #

Leave a Reply