Yakub Tri Handoko, Th.M.

Bagian ini masih membahas tentang dosa percabulan yang terjadi di dalam jemaat (5:1) dan bagaimana jemaat telah salah menyikapi hal itu (5:2). Kesalahan sikap mereka mungkin berkaitan dengan problem lain, yaitu kesalahpahaman terhadap surat yang ditulis Paulus sebelumnya (5:9). Mereka beranggapan bahwa Paulus melarang mereka bergaul dengan orang-orang cabul di luar jemaat, tetapi orang cabul di dalam jemaat harus tetap diterima sebagai saudara (bdk. 5:11 “yang sekalipun menyebut dirinya saudara”). Kita sulit memahami mengapa kesalahpahaman seperti ini bisa terjadi, karena kita tidak mengetahui isi surat yang dimaksud oleh Paulus.

Para penafsir umumnya berpendapat bahwa problem utama bukan sekedar kesalahpahaman, tetapi kesengajaan untuk memanipulasi isi surat Paulus. Fenomena seperti ini bukannya tidak mungkin terjadi (2Tes 2:2; 2Pet 3:16). Sebagian jemaat Korintus yang sombong (4:8) dan menyerang kerasulan Paulus (9:3) melakukan ini dengan tujuan supaya nasehat Paulus terlihat sebagai sesuatu yang ekstrim dan bodoh. Jika benar Paulus melarang jemaat bergaul dengan orang cabul di luar jemaat, maka mereka tidak mungkin bisa hidup di kota Korintus yang dipenuhi percabulan. Karena itu Paulus mengoreksi serangan ini dengan mengatakan, “karena jika demikian maka kamu harus meninggalkan dunia ini” (5:10b).

Untuk mengatas masalah di atas, Paulus menyinggung tentang suratnya yang terdahulu (5:9) dan menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi (5:10-11). Dia tidak melarang jemaat bergaul dengan orang-orang cabul di luar jemaat (5:10), namun hanya yang di dalam jemaat (5:11). Selanjutnya dia memberikan alasan bagi pembedaan sikap di atas (5:12-13). Mereka yang berada di dalam jemaat berada di bawah wewenang gereja, namun mereka yang di luar jemaat berada di bawah wewenang Allah.

Isi surat yang terdahulu (5:9)

Dari ayat ini kita mengetahui bahwa tidak semua surat Paulus masuk ke dalam kanon. Beberapa penafsir mencoba berspekulasi bahwa surat yang dimaksud Paulus di bagian ini adalah 2Korintus 6:14-7:1 yang akhirnya oleh seorang editor digabungkan dengan surat 2Korintus. Walaupun upaya ini menarik dan memang ada beberapa kesamaan antara dua 2Korintus 6:14-7:1 dengan konteks 1Korintus, namun perbedaan yang ada jauh lebih mendasar. 1Korintus 5:1-13 berbicara tentang orang cabul di dalam gereja, sedangkan 2Korintus 6:14-7:1 tentang mereka yang di luar gereja. Di samping itu, kata “percabulan” tidak muncul sama sekali dalam 2Korintus 6:14-7:1. Kita lebih baik melihat surat Paulus yang hilang ini sebagai sesuatu yang mungkin saja terjadi dalam dunia kuno yang tidak mengenal fotocopy dan hanya menngandalkan salinan tangan saja. Surat Paulus untuk jemaat Laodikia (Kol 4:16) juga tidak masuk ke dalam kanon. Surat-surat ini mungkin hilang (atas penentuan Tuhan tentu saja) atau memang tidak diterima secara luas oleh kekristenan awal sebagai firman Tuhan. Kita perlu mengingat bahwa yang diilhamkan terutama adalah tulisannya (2Tim 3:16), bukan penulisnya. Kalau suatu surat diilhamkan Allah, maka penulisnya pada waktu itu juga pasti diilhami Roh Kudus. Hal ini tidak berarti bahwa semua perkataan atau tulisan seorang rasul pasti firman Allah dan tidak mungkin salah. Hanya yang akhirnya diterima dalam kanon yang kita yakini sebagai firman Allah yang tidak Dalam surat ini Paulus melarang mereka bergaul (sunanamignumi) dengan orang-orang cabul (5:9). Apa batasan dari “bergaul” di sini? Kata ini hanya muncul empat kali dalam Alkitab (1Kor 5:9, 11; 2Tes 3:14; Hos 7:8, LXX). Berdasarkan Hosea 7:8, kata ini mengandung arti “mencampurkan diri”. Dengan demikian kita bisa menafsirkan batasan “bergaul” dalam arti “tidak kehilangan identitas diri”. Kita boleh berteman dengan orang berdosa, tetapi jangan sampai identitas kita bercampur dengan mereka.

Penjelasan terhadap kesalahpahaman (5:10-11)

Paulus mula-mula menjelaskan apa yang bukan dia maksudkan dengan perintah di 5:9. Dia tidak melarang jemaat bergaul dengan orang-orang cabul pada umumnya di dunia ini (5:10). Dia sendiri bergaul dengan siapa saja. Dia bahkan mau menjadi segala-galanya bagi semua supaya injil dapat diberitakan dan diterima (9:19-22). Dia juga tidak melarang jemaat untuk memenuhi undangan makan dari orang kafir (10:27).

Pernyataan Paulus di atas tidak berarti bahwa kita boleh bergaul dengan orang-orang dunia tanpa batas. Dia sedang membicarakan tentang orang-orang cabul di dunia pada umumnya. Kita tetap harus menjaga agar pergaulan yang buruk tidak merusak kebiasaan yang baik (15:33). Kita juga tidak boleh menjadi pasangan yang tidak sepadan dengan orang tidak percaya yang akhirnya menyebabkan hidup kita tercemari dengan kekafiran (2Kor 6:14-15).

Selain orang cabul, Paulus juga menyebutkan beberapa tiga jenis orang berdosa lain (5:10b, bdk. 5:11b; 6:9-10). Pertama, orang tamak. Terjemahan LAI:TB “orang kikir” tampaknya tidak tepat. Kata pleonekths memiliki arti “tamak” (NIV/RSV) atau “iri hati” (ASV/KJV/NASB). Kedua, perampas. Paulus tampaknya tidak sedang membicarakan ketamakan yang biasa-biasa saja, tetapi yang sangat buruk. Kata pleonekths digabungkan dengan kata “penipu” (LAI:TB/NIV/NASB). Terjemahan ini juga kurang tegas. Kata arpax memiliki makna memeras (ASV/KJV) atau merampok (RSV). Kata arpax sering dipakai untuk serigala yang menerkam mangsanya (Kej 49:27; Mat 7:15). Di Lukas 18:11 kata ini dengan tepat diterjemahkan “perampok”. Ketiga, penyembah berhala. Topik tentang bahaya penyembahan berhala akan dibahas tersendiri oleh Paulus di 1Korintus 8-10. Dalam bagian ini dia hanya menyinggung tentang hal ini. Di Kolose 3:5 Paulus menyamakan berbagai jenis dosa dengan penyembahan berhala.

Dengan menyebutkan beragam orang berdosa di sini Paulus bermaksud mengajarkan bahwa semua dosa adalah serius. Orang-orang yang melakukan hal ini tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah (6:9-10). Dengan demikian disiplin gereja tidak hanya terbatas pada mereka yang melakukan percabulan. Pendeknya, yang paling penting bukan jenis dosa, tetapi pengaruh negatif yang ditimbulkan bagi gereja (5:1, 6) dan sikap kompromi terhadap dosa itu (5:2).

Di bagian akhir 1Korintus 5:10 Paulus menerangkan bahwa jika kesalahpahaman jemaat Korintus terhadap suratnya adalah hal yang tidak masuk akal. Jika jemaat tidak boleh bergaul dengan siapa saja yang berbuat dosa, maka mereka tidak mungkin bisa hidup di dalam dunia ini. Hal ini sesuai dengan isi doa Yesus sebelum Dia disalibkan. Dia tidak minta supaya murid-murid-Nya diambil dari dunia, tetapi supaya dilindungi dari yang jahat (Yoh 17:15-16). Kekristenan bukanlah agama yang mengisolasi diri dari dunia. Pada jaman dulu gereja pernah melakukan kesaahan ini. Orang-orang yang “rohani” memilih untuk tinggal di gua-gua atau biara-biara dengan tujuan menghindari dunia. Akibatnya, kemerosotan dan kegelapan dunia menjadi semakin parah karena tidak ada garam dan terang di dalamnya.

Setelah menjelaskan apa yang bukan dia maksud (5:10), Paulus sekarang menerangkan apa yang sungguh-sungguh dia maksudkan (5:11). Dia melarang jemaat bergaul dengan orang-orang berdosa di dalam jemaat. Kali ini dia menambahkan dua jenis orang berdosa yang baru, yaitu pemfitnah (loidoros) dan pemabuk (mequsos). Kata loidoros hanya muncul di surat 1Korintus (5:11; 6:10). Kata ini sebenarnya memiliki arti lebih daripada sekedar pemfitnah. Kata ini merujuk pada orang yang suka mengeluarkan umpatan, cacian maupun kata-kata kasar (ASV/KJV/NASB/RSV).

Kata mequsos (“pemabuk”) atau meqh (“kemabukan”) seringkali dikaitkan dengan pesta pora (Luk 21:34; Rom 13:13; Gal 5:21; 1Pet 4:3). Tidak semua orang yang meminum anggur layak dikategorikan sebagai mequsos. Jika demikian maka semua orang Yahudi adalah mequsos, karena anggur yang dipakai dalam perjamuan ibadah mereka bukanlah sekedar jus buah yang biasa kita minum, namun fermentasi buah yang bisa membuat orang mabuk jika dikonsumsi terlalu banyak (bdk. 1Kor 11:21). Mequsos yang dimaksud Paulus adalah orang yang suka meminum anggur sampai mabuk (Ef 5:18). Dia sendiri menasehati Timotius untuk meminum anggur sedikit agar pencernaannya membaik (1Tim 5:23).

Sekilas larangan untuk bergaul dengan sesama orang Kristen yang berdosa tampak sangat berlebihan dan mustahil bisa dilakukan. Bukankah semua orang di gereja adalah orang berdosa? Kebingungan seperti ini akan segera sirna jika kita memahami konteks larangan Paulus. Dia sedang membicarakan tentang orang yang terus-menerus berkubang dalam dosa dan orang tersebut tidak merasa diri berdosa, malah dia bangga dengan dosa itu. Selain itu, dosa yang dilakukan orang tersebut berpotensi merusak reputasi gereja sebagai roti yang tidak beragi. Orang-orang seperti ini memang sudah selayaknya dikucilkan. 2Tesalonika 3:14 “Jika ada orang yang tidak mau mendengarkan apa yang kami katakan dalam surat ini, tandailah dia dan jangan bergaul dengan dia, supaya ia menjadi malu”.

Di akhir 1Korintus 5:11 Paulus memberikan penjelasan detil tentang batasan “jangan bergaul”. Larangan ini mencakup makan bersama. Yang dimaksud di sini bukanlah makan dalam arti biasa. Kita sebaiknya memahami makan di sini dalam konteks ibadah. Orang-orang Kristen memang terbiasa menggabungkan ibadah dan perjamuan (Kis 2:42, 46; 1Kor 11:20-22). Keduanya sama-sama rohani. Konteks 1Korintus 5:1-13 juga mendukung dugaan ini: frase “dari tengah-tengah kamu” (5:2, 13); disiplin gereja dalam konteks ibadah (5:3-5); rujukan pada Perjamuan Roti Tidak Beragi dan Paskah (5:6-8).

Aplikasi dari sikap Paulus di sini bagi gereja modern adalah melarang orang berdosa mengikuti ibadah di gereja dan segala bentuk persekutuan di dalamnya. Bagaimanapun hal ini tidak berarti bahwa orang itu dilarang ibadah di rumahnya dalam kelompok kecil (dengan para penatua). Kita tetap harus mengasihi orang berdosa ini dan terus-menerus menegur dia dengan kasih sebagai seorang saudara seiman (2Tes 3:15).

Alasan (5:12-13)

Seandainya surat Paulus berhenti di pasal 5:11, maka kita pasti bertanya-tanya mengapa ada dua sikap berbeda terhadap orang berdosadi luar dan di dalam jemaat. Apa alasan Paulus membedakan hal ini? Bukankah dua-duanya sama-sama pendosa? Ayat 12-13 akan memberikan jawab terhadap pertanyaan ini.

Jika kita perhatikan dengan cermat, maka kita akan melihat bahwa ayat 12-13 ditulis dalam struktur A  B   A’   B’: ayat 12a dan 13a tentang orang berdosa di luar jemaat, sedangkan ayat 12b dan 13b tentang mereka yang di dalam jemaat. Ada dua hal yang ingin disampaikan Paulus dalam bagian ini. Pertama, gereja tidak memiliki hak atau wewenang untuk menghakimi orang di luar jemaat (5:12a). Gereja memang akan menghakimi dunia (6:2), tetapi bukan sekarang. Penghakiman terhadap dunia terletak di tangan Allah (12a). Allah bisa menghukum orang berdosa secara langsung (Rom 1:18) maupun melalui pemerintah (Rom 13:1-7). Gereja hanya berhak menyuarakan kebenaran dan mendorong pemerintah mengurangi kemerosotan moral. Gereja juga harus memberitakan injil, karena hanya injil yang menjadi obat sesungguhnya bagi penyakit masyarakat. Jika orang-orang dunia tetap tidak mau mendengarkan kebenaran, kita tidak boleh main hakim sendiri untuk menghukum mereka, misalnya merusak usaha-usaha orang lain yang dianggap menjurus pada dosa tertentu.

Kedua, gereja memiliki wewenang penghakiman atas jemaat (12b). Wewenang ini bukanlah wewenang secara legal (hukum), tetapi spiritual. Kita melakukan pendisiplinan dengan kuasa dan atas nama Tuhan Yesus (5:3-5). Wewenang ini mencakup pengusiran orang berdosa dari tengah-tengah jemaat (5:13b). Ungkapan “usirlah orang yang melakukan kejahatan dari tengah-tengah kamu” dikutip Paulus dari Ulangan 17:7. Hal ini menunjukkan bahwa disiplin gereja bukanlah penemuan baru yang dilakukan oleh gereja mula-mula. Disiplin gereja adalah ketetapan ilahi yang otoritasnya bersumber dari firman Tuhan, bukan dari jabatan penatua atau hamba Tuhan. Gereja harus menggunakan wewenang ini dengan tegas dan bijak sehingga kemurnian gereja sebagai roti yang tidak beragi tetap terjaga.

Sebagian dari kita mungkin mengalami kesulitan mengharmonisasikan sikap Paulus di sini dengan larangan Alkitab di bagian lain untuk tidak manghakimi sesama kita (Mat 7:1-5). Paulus sendiri mengatakan tidak mau menghakimi (4:3) maupun dihakimi (4:5). Solusi bagi persoalan ini dapat ditemukan dalam konteks masing-masing teks tersebut. Penghakiman di Matius 7:1-5 dan 1Korintus 4:3-5 berhubungan dengan sikap hati terhadap orang lain, sedangkan 1Korintus 5:1-13 berkaitan dengan hukuman atas seseorang. Penghakiman di Matius 7:1-5 maupun 1Korintus 4:3-5 juga bersifat pribadi dan tidak resmi mewakili seluruh jemaat. Penghakiman seperti ini jelas seringkali mengabaikan objektivitas fakta melalui para saksi dan cenderung hanya untuk melampiaskan emosi sendiri. Disiplin gereja bukan seperti itu. Disiplin harus melalui banyak saksi (Ul 17:7; Mat 18:15-17) dan wajib menjadi keputusan bersama seluruh jemaat (1Kor 5:3-5).

Leave a Reply